NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Pelajaran Pertama

Su Mei mengizinkan mereka tinggal di gubuk kecil bekas gudang di belakang rumahnya, cukup jauh dari pandangan warga desa yang sebagian besar sudah lama mengenalnya sebagai wanita tua penyendiri yang jarang menerima tamu.

"Kita tidak punya banyak waktu untuk pelajaran yang santai," Su Mei berkata pada pagi pertama, duduk di bangku kayu sambil mengamati Ji Ming yang berlatih membentuk kekuatan jiwa di telapak tangannya. "Han Lie bukan satu-satunya yang akan mencarimu. Kalau sekte benar-benar menaikkan bayaran, akan ada lebih banyak pemburu tertarik, dan cepat atau lambat mereka akan menemukan jejak ke sini juga."

"Berapa lama yang kau butuhkan untuk menguasai dasar-dasarnya dulu?" Ji Ming bertanya, mencoba mengulangi gerakan tangan yang diajarkan—menyalurkan kekuatan jiwa bukan dengan memaksa, tapi dengan membiarkannya mengalir seperti air menemukan celahnya sendiri.

"Bertahun-tahun, biasanya." Su Mei tersenyum tipis melihat wajah Ji Ming yang sedikit pucat mendengarnya. "Tapi kau punya sesuatu yang jarang kutemui bahkan di masa jayanya sekte kami dulu—Meridian Kosong sejati, bukan sekadar meridian lemah yang disalahartikan. Itu berarti tak ada qi asing yang menghambat aliran kekuatan jiwamu. Kau bisa belajar lebih cepat dari kebanyakan orang, kalau kau cukup disiplin."

Hari-hari berikutnya berlalu dalam rutinitas yang melelahkan namun memuaskan. Pagi hari, Ji Ming berlatih merasakan dan mengalirkan kekuatan jiwa tanpa bantuan wadah apa pun—latihan paling dasar namun paling penting, kata Su Mei, karena tanpa fondasi ini, boneka secanggih apa pun hanya akan jadi kayu mati.

Siang hari, ia belajar teknik mengukir dari Su Mei sendiri—bukan sekadar membentuk kayu, tapi memahami "bahasa" yang membuat sebuah wadah bisa menerima dan menyimpan fragmen jiwa dengan aman, tanpa merusak keduanya.

"Setiap ukiran punya makna," Su Mei menjelaskan sambil menunjukkan pola-pola halus di permukaan sepotong kayu tua. "Garis lurus untuk kekuatan, lengkung untuk kelenturan, titik-titik kecil ini—" ia menunjuk sederet titik yang membentuk pola menyerupai mata, "—untuk kesadaran. Tanpa pola kesadaran yang benar, boneka hanya akan jadi senjata tanpa jiwa sungguhan, bergerak tapi tak pernah benar-benar 'hidup' seperti Xiao Mu."

Sore hari, Yun Xia mengambil alih, melatih dasar-dasar pertahanan diri fisik—karena, seperti yang ia tegaskan berkali-kali, "Kekuatan jiwa butuh waktu untuk disalurkan. Kalau kau tak bisa bertahan hidup selama beberapa detik itu, sehebat apa pun boneka yang bisa kau buat tak akan berguna."

Xiao Yu, boneka burung kecil ciptaan Ji Ming sendiri, tumbuh semakin lincah setiap hari—meski masih jauh dari kemampuan Xiao Mu, ia mulai bisa terbang mengitari desa untuk mengintai, menyampaikan apa yang ia "lihat" pada Ji Ming melalui ikatan jiwa yang semakin kuat di antara mereka.

Pada malam kelima, saat Ji Ming duduk sendirian di luar gubuk, mencoba mengukir wadah kedua yang lebih rumit dari sekadar burung kecil, Su Mei duduk di sampingnya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang.

"Kau sudah pikirkan mau jadi apa dengan semua ini?" Su Mei bertanya. "Bukan sekadar bertahan hidup. Tapi ke depannya."

Ji Ming terdiam sejenak, tangannya berhenti mengukir. "Aku tidak tahu. Delapan belas tahun, aku hanya diajarkan aku tak berguna untuk apa pun. Sekarang tiba-tiba aku punya sesuatu yang... penting, katanya. Tapi aku belum tahu ingin melakukan apa dengannya."

"Itu wajar." Su Mei tersenyum, senyum yang penuh pengalaman hidup panjang. "Tapi biar kuberi satu nasihat—jangan biarkan kemarahan pada mereka yang menghinamu jadi satu-satunya alasan kau maju. Kemarahan bisa jadi bahan bakar yang baik di awal, tapi ia akan membakarmu habis kalau itu satu-satunya yang kau punya. Guru Chen, mentormu, kehilangan segalanya karena melindungi murid-muridnya, bukan karena membenci yang menghancurkan sektenya. Itulah yang membuat seninya layak diwariskan."

Kata-kata itu mengendap dalam diri Ji Ming lama setelah Su Mei akhirnya masuk untuk beristirahat, dan untuk pertama kalinya, ia mulai memikirkan bukan hanya bagaimana bertahan dari kejaran sekte dan pemburu bayaran, tapi apa yang ingin ia bangun setelah semua ini berakhir.

Ia baru saja hendak masuk ke gubuk ketika Xiao Yu, yang sedang terbang berpatroli seperti biasa, kembali dengan kecepatan yang tidak biasa, sayap kayunya berdenting panik saat mendarat di bahunya.

Melalui ikatan jiwa yang masih rapuh namun cukup untuk menyampaikan kesan mendasar, Ji Ming merasakan apa yang baru saja dilihat burung kecil itu di perbatasan desa—bukan satu sosok, tapi setidaknya lima, bergerak dalam formasi rapi khas kultivator terlatih, dan di depan mereka, berjalan dengan langkah yang sudah sangat ia kenali: Han Lie, lengannya sudah sembuh, dan kali ini ia tidak datang sendirian.

"Yun Xia," Ji Ming berbisik cepat, berlari masuk membangunkan yang lain. "Mereka datang. Lebih banyak dari sebelumnya."

Di dalam rumah, Su Mei sudah berdiri, wajahnya yang tua kini dipenuhi ketegasan yang belum pernah Ji Ming lihat sebelumnya—ketegasan seseorang yang sudah lama menunggu saat ini, siap atau tidak siap.

"Sudah waktunya," katanya, meraih sebuah kotak kayu tua dari balik rak, tangannya tak lagi gemetar seperti saat pertama membukanya di hadapan mereka lima hari lalu. "Bersiaplah, Nak. Pelajaran teori sudah cukup. Sekarang waktunya membuktikan apa yang sudah kau pelajari."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!