Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Demi menyelamatkan panti asuhan yang akan di gusur, Fatimah rela menikah dengan pria setengah baya berusia 50 tahun. Tetapi laki - laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Kenapa ? dan ada rahasia apa di balik pernikahannya....
Lalu bagaimana reaksi Glenn Wijaya Liem yang melihat Ayahnya sendiri menikahi wanita yang diam-diam ia cintai sejak tiga tahun yang lalu.... kuy ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baik-baik saja ?
Glenn baru tiba di bandara bersama David. "Bro sepertinya ada masalah." David terkejut ketika baru mendapat notifikasi dari Mira.
"Apa ?"
"Sepertinya Fatimah yang akan menemui tuan Victor." ucap David dengan ragu karena ia takut akan reaksi sepupunya itu.
"Apa loe yakin ?" sentak Glenn, ia menghentikan langkahnya.
"Mira baru saja mengirim pesan." David menunjukkan pesan singkat dari Mira di ponselnya.
"Astaga kenapa dia membahayakan dirinya sendiri, dia tidak tahu bagaimana tuan Victor si hidung belang itu." gerutu Glenn.
"Apa dia tidak tahu kalau malam ini Kita pulang ?" ucapnya lagi.
"Sorry bro, gue hanya bilang untuk mengulur waktu."
"Shit." gumam Glenn sembari mengepalkan tangannya.
Kemudian mereka bergegas pergi ke Club xx di mana Fatimah dan tuan Victor bertemu.
Club xx
"Jadi bagaimana tuan, apa anda tertarik berinvestasi dengan proyek kami. Saya yakin anda tidak akan kecewa dengan hasilnya, bahkan semakin besar anda berinvestasi maka keuntungan yang anda dapat juga semakin besar....bla....bla...." Fatimah mencoba menjelaskan pada tuan Viktor berharap laki-laki paruh baya itu tertarik bekerja sama dengan perusahaannya.
Tuan Victor sama sekali tidak focus dengan apa yang Fatimah jelaskan, ia sedari tadi nampak mengagumi kecantikan Fatimah, dari kulit putihnya, senyumnya bahkan bibir ranumnya tak luput dari pengawasannya. Meski Fatimah berpakaian tertutup tapi pesonanya membuat setiap laki-laki betah menatapnya, sampai pintu di ketuk kembali ia baru tersadar.
"Ini Nona air mineralnya." asisten tuan Viktor menaruh botol air mineral dan gelas di meja tepat di depannya Fatimah.
"Minumlah dulu Nona, setelah itu kita bicara lagi !!" perintah tuan Victor dengan ramah.
Fatimah segera mengambil botol air mineral tersebut, ketika akan membukanya ia melihat segel botol telah terbuka tapi ia tidak mau berburuk sangka mungkin ini sudah peraturan di tempat ini.
Setelah membuka tutup botol, ia segera menuangkan ke dalam gelas dan langsung meminumnya.
Tuan Victor yang sedari tadi memperhatikan Fatimah nampak tersenyum menyeringai, kemudian ia bermain mata lagi pada asistennya agar meninggalkan ruangan tersebut.
"Kenapa panas sekali." batin Fatimah, ia melihat pendingin ruangan yang masih menyala seperti sebelumnya, tapi ia merasakan panas di badannya.
"Nona jadi bagaimana bisa kita lanjutkan lagi ?" tanya tuan Victor sembari pindah duduk di sebelah Fatimah, matanya terus mengawasi Fatimah seperti seekor harimau yang sedang mengincar mangsanya.
Fatimah yang merasa di dekati oleh laki-laki paruh baya itu, ia segera menggeser duduknya. Kepalanya terasa pening sedangkan tubuhnya begitu terasa panas.
"Ada apa dengan ku, Ya Allah lindungi aku." Fatimah terus beristighfar dalam hati ketika merasa keanehan pada tubuhnya bahkan ia melihat laki-laki tua itu mulai mendekatinya lagi.
"Tuan anda mau apa ?" Fatimah bangkit dari duduknya tapi laki-laki tersebut justru menarik tangannya hingga ia terjatuh di atas sofa.
"Bagaimana kalau kita bersenang-senang malam ini, tidak hanya investasi yang ku berikan padamu. Aku akan memberikanmu banyak uang." rayu pria setengah baya itu.
"Saya wanita baik-baik tuan, saya kesini hanya untuk bekerja." Fatimah mencoba untuk memberontak dari kungkungan laki-laki itu lalu ia berdiri menjauh.
"Tidak ada wanita baik-baik yang datang kesini Nona, aku tahu kamu adalah wanita yang di kirim oleh tuan Candra untukku." tuan Victor berjalan mendekati Fatimah yang sedang berusaha untuk membuka pintu yang terkunci dari luar.
"Anda salah paham tuan, saya adalah wakil direktur di perusahaan Wijaya Corp tuan." Fatimah masih mencoba untuk membuka pintu tapi kini ia tiba-tiba merasa tak bertenaga dan badannya sangat terasa gerah.
"Sebenarnya apa yang mereka masukkan dalam minumanku tadi, aku tak pernah merasa seperti ini." gumam Fatimah frustrasi.
Tuan Victor langsung menarik hijab yang menutupi kepala Fatimah lalu membuangnya hingga rambut Fatimah tergerai begitu indah dan itu membuat laki-laki itu semakin bernapsu.
"Menurutlah cantik, sebentar lagi aku akan memberikan kenikmatan padamu." tuan Victor mencoba untuk mencium Fatimah tapi ia terkejut ketika pintu tersebut di dobrak dari luar.
"Bangs*t, akan ku habisi kamu !!" hardik Glenn lalu memukul tuan Victor secara membabi buta hingga pria tua itu tersungkur ke lantai.
"Berani kamu memukulku, aku tidak akan sudi berinvestasi di proyekmu." ancam tuan Victor dengan mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Persetan dengan proyek itu." Glenn menendang lagi tuan Victor, tidak hanya sekali tendangan tapi beberapa kali hingga laki-laki itu hampir pingsan.
"Bro, kamu bisa membunuhnya." David mencoba melerai Glenn yang sudah dipenuhi amarah.
"Lepaskan, aku akan menghabisinya !!" Glenn menghempaskan tangan David.
"Glenn cukup, ku mohon." Fatimah yang sudah tak berdaya di lantai karena pengaruh obat yang di minumannya tadi ia mencoba untuk meraih kaki Glenn dengan tangannya.
Merasa ada sentuhan di kakinya Glenn segera berbalik badan, ia tersentak ketika melihat Fatimah tanpa mengenakan hijabnya.
"Apa kamu baik-baik saja, tidak ada yang terluka ?" Glenn menangkup wajah Fatimah, memastikan kalau gadisnya itu baik-baik saja kemudian ia memeluknya dengan erat.
"Dav, segera bawa baj*ngan itu ke kantor polisi dan amankan cctv !!" perintah Glenn lalu ia membopong Fatimah keluar dari tempat terkutuk itu.
Glenn segera melajukan mobilnya meninggalkan David yang akan sibuk dengan urusannya.
"Fatimah, kamu nggak apa-apa. Ada apa dengan mu ?" Glenn nampak khawatir ketika melihat Fatimah yang begitu gelisah.
"Panas, aku merasa kepanasan." Fatimah merasa begitu gelisah, ia sudah melepaskan beberapa kancing bajunya.
"Shit." gerutu Glenn, ia tahu betul obat apa yang sudah Fatimah minum.
Glenn yang tadinya mau mengajak Fatimah pulang, kini ia mengurungkan niatnya karena melihat keadaan Fatimah yang tidak mungkin ia bawa pulang karena akan membuat heboh seisi rumahnya.
Glenn memutar balik mobilnya, ia akan membawa Fatimah ke salah satu hotel miliknya. Sesampainya di hotel, Glenn segera merapikan pakaian Fatimah yang sudah berantakan. Kemudian ia keluar dari mobilnya dan segera membawa Fatimah ke kamar vvip yang biasa ia tempati.
"Panas Glenn." Fatimah merintih merasa tidak tahan dengan keadaannya sekarang.
Sesampainya di kamar hotel, Glenn langsung membawa Fatimah ke dalam bathup dan mengguyurnya dengan air dingin untuk meredakan efek obat perangsang yang sudah dia minum.
Glenn nampak menelan salivanya sendiri ketika melihat pakaian Fatimah yang mulai basah hingga menampakkan sesuatu di dalamnya.
"Panas Glenn." ucap Fatimah meski tubuhnya sudah terendam air dingin.
"Shit, berapa banyak obat yang mereka masukkan." gerutu Glenn.
"Aku tidak mungkin melakukannya. Fatimah pasti akan membenciku nanti, akhhh Shit." gerutu Glenn frustrasi, ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.