Pedang Langit adalah sebuah pedang yang ditempah dari logam terkuat dari tujuh semesta oleh Sin Sai Sebelum menjadi penguasa langit ribuan tahun yang lalu.
Sin Sai hanya manusia biasa yang memiliki kesaktian yang amat dahsyat. Ia sungguh manusia tak terkalahkan. Bahkan, para Dewa pun tidak dapat menandingi kehebatannya.
Karena kekuatan besar yang dimiliki oleh Sin Sai ketika itu, Dewan Langit kemudian bersepakat untuk mengangkat Sin Sai yang hanya manusia biasa menjadi Raja Langit demi melindungi Negeri Langit dari serangan Raja Naga Merah yang hendak menghancurkan Negeri Langit dan menguasai alam semesta.
Dewan Langit tidak sia-sia mengangkat Sin Sai menjadi raja di Negeri Langit. Sin Sai berhasil menghancurkan pasukan Raja Naga Merah ketika menyerang Negeri Langit.
Walaupun Sin Sai berhasil melindungi Negeri Langit, Keluarga Yong tidak rela jika harus menjadi bawahan seorang manusia biasa. Mereka kemudian berusaha menyingkirkan Sin Sai dan semua keturunannya dari Negeri Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IE Dyozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 34 - Kota Hidden II
Semua anggota Klan Fujiwara sebenarnya tunduk dan patuh terhadap kesepakatan tersebut. Hanya saja, anak
perempuan ketua Klan Fujiwara dinikahi oleh seorang pendekar Aliran Hitam dari Sekte Golok Angin, dan pendekar itulah yang menghasut Fujiwara Kenkai, sang ketua Klan Fujiwara untuk melakukan kudeta.
Setelah Klan Fujiwara berhasil merebut tahta kekaisaran dari tangan Klan Noguchi, mereka kemudian membantai semua orang dari Klan Noguchi dan para pendukungnya.
"Pangeran Noguchi, anda adalah satu-satunya yang tersisa dari Klan Noguchi. Dan anda adalah satu-satunya harapan rakyat Nogufuji," ungkap Ryusa.
“Tapi Tuan, kenapa Tuan Yorinaga memperlakukan aku sangat buruk dan menyebunyikan semua ini dari aku?” tanya Noguchi.
“Tuan Yorinaga adalah orang yang telah menyelamatkan anda, Pangeran. Aku rasa beliau punya alasan tersendiri kenapa melakukan hal demikian.”
Ryusa kemudian menceritakan bahwa, Kaisar Nogugato memiliki dua orang jenderal yang sangat ia percayai.
Kedua jenderal itu adalah, Jenderal Matsuno dan Jenderal Yorinaga. Ketika Kaisar Nogugato menyadari, bahwa sudah terlambat untuk mencegah kudeta yang akan dilakukan oleh Klan Fujiwara, ia kemudian memerintahkan Jenderal Matsuno untuk membawa pergi Prasasti Perjanjian. Ia tidak ingin Prasasti Perjanjian itu dihancurkan oleh Klan Fujiwara untuk menutupi kebenaran.
Kaisar Nogugato juga memerintahkan Jenderal Yorinaga untuk menjemput Noguchi yang ketika itu berada
di Desa Kupu-kupu bersama ibunya.
Ketika itu, meskipun Noguchi adalah anak kandung Kaisar Nogugato, ia tidak menjalani hidupnya di istana. Itu
karena Noguchi bukan satu-satunya anak kandung Kaisar Nogugato, melainkankan ada beberapa orang anak lainnya dari istri yang berbeda.
Ibu Noguchi hanyalah seorang gadis desa yang dinikahi oleh kaisar secara sembunyi-sembunyi. Hanya orang
kepercayaan Kaisar Nogugato saja yang mengetahui perihal hubungan mereka itu, termasuk Jenderal Yorinaga.
“Jangan-jangan, pembantaian yang terjadi di Desa Kupu-Kupu, ada hubungannya dengan diriku?” tanya Noguchi.
“Ia … beberapa bulan yang lalu, sebelum Dewa Sin Toga datang kesini, beredar isu yang entah darimana sumbernya, bahwa Kaisar Nogugato punya anak dari seorang perempuan di Desa Kupu-kupu. Isu itu membuat Kaisar Itamo murka dan segera memerintahkan Kelompok Iblis Gunung untuk mencari dan membunuh anak tersebut,” tutup Ryusa.
Bola mata Noguchi terlihat berkaca-kaca. Pemandangan di Desa Kupu-kupu beberapa waktu yang lalu kembali mengisi benaknya. Ia benar-benar tidak menyangka penyebab kematian warga desa adalah karena dirinya. Sambil membendung air matanya yang hampir tertumpah, Noguchi kemudian bertanya, “Lalu bagaimana dengan ibuku, apa ia masih hidup?”
“Entahlah, kami tidak pernah mendengar kabar ibu anda. Kalau anda ingin mengetahui tentangnya, mungkin anda bisa menanyakan hal itu pada Tuan Yorinaga jika anda bertemu dengannya nanti,” jawab Ryusa.
“Baiklah, kita sudahi dulu membahas masa lampau! Sekarang kita harus menyusun rencana!” Sin Toru yang
tadinya hanya diam menyimak percakapan antara Noguchi dan Ryusa, tiba-tiba angkat bicara.
“Ketua Sin, apa langkah kita selanjutnya?” tanya Ryusa.
“Begini, Pangeran tidak boleh meninggalkan tempat ini sebelum ia benar-benar siap. Aku akan menyuruh Tetua Sasaki untuk mengajarinya ilmu bela diri.” Sin Toru kemudian berdiri.
“Bagaimana dengan Firon, Ketua Sin?” tanya Ryusa.
“Hemm, Ryusa, bawa Firon ke Batu Sembilan!” ucap Sin Torusambil melangkah keluar dari ruangan.
“Kabuki, bawa Pangeran ke kamarnya untuk beristirahat! Besok bawa ia menemui Tetua Sasaki!” tegas Ryusa.
Mendengar perkataan Ryusa, Kabuki kemudian bangkit dan mengajak Noguchi untuk meninggalkan ruangan.
Noguchi bangkit dan melangkah mengikuti Kabuki. Saat berada di luar pintu, Noguchi tiba-tiba membalikkan
badan dan menyodorkan sesuatu ke arah Firon dan berkata, “Saudara Firon, ini aku kembalikan.”
“Kamu simpan saja! Cincin itu untukmu. Mungkin suatu saat kamu bisa menggunakannya,” jawab Firon sambil tersenyum ke arah sahabatnya itu.
“Baik, terima kasih.” Noguchi membalas senyuman Firon. Ia kemudian melanjutkan langkahnya dan menyusul Kabuki yang sudah agak jauh.
Melihat di ruangan itu tinggal mereka berdua, Ryusa kemudian mengajak Firon ke kediamannya untuk mengisi perut dan beristirahat.
**
Situasi istana menjadi tidak baik sejak adanya seorang pemuda yang mengaku bernama Noguchi di Gerbang Istana beberapa waktu yang lalu. Sang Kaisar tidak bisa tenang sebelum sang pemuda yang bernama Noguchi itu berhasil ia tangkap atau ia bunuh. Ia bahkan tak segan-segan melampiaskan amarahnya kepada semua pejabat istana tanpa terkecuali.
“Bagaimana kabar Tetua Yongdai?! Kenapa ia belum kembali?!” tanya Kaisar Itamo dengan nada yang amat keras.
“Maaf Yang Mulia, kami sementara menggali informasi tentangnya,” ucap Goemon ringkas. Ia tidak punya nyali untuk berbicara banyak di depan Kaisar Itamo yang sedang murka.
“Apa kalian tidak bisa bekerja dengan cepat, hahhh?” Kaisar Itamo benar-benar naik pitam. Ia tidak menyangka Kelompok Iblis Gunung yang selama ini selalu sukses menyelesaikan misi sesulit apapun, kini justru tidak mampu menuntaskan misinya dalam waktu singkat. Dan orang yang ia anggap bertanggungjawab atas kegagalan ini adalah Goemon.
“Yang Mulia, aku sudah mengirim beberapa orangku untuk menyusul mereka. Kalau tidak ada halangan, barangkali sebentar lagi orang yang aku utus itu akan tiba di sini untuk melaporkan temuannya” ucap Goemon terbata-bata.
Goemon yang baru menyadari sikap asli Kaisar Itamo hanya bisa mengerutkan dahi dan mengumpat dalam hati. Ia sedikit kecewa melihat sikap kaisar padanya. Ia baru sadar, walaupun ia adalah adik ipar sang kaisar,ternyata ia tetap diperlakukan sama dengan yang lainnya.
Tidak lama kemudian, seorang penjaga datang memberi laporan.
“Lapor Yang Mulia, anak buah Tuan Goemon meminta izin untuk masuk.”
Goemon tidak menanggapi laporan penjaga. Ia memilih bungkam dan menunggu Kaisar Itamo yang memberi izin.
“Biarkan ia masuk!” perintah Kaisar Itamo dengan nada yang agak rendah dari sebelumnya.
Empat orang pria dan tiga orang wanita berjalan pelan memasuki ruangan. Seseorang di antaranya yang berjalan paling di depan, menghampiri Kaisar Itamo yang sedang berdiri membelakangi mereka. Sambil memberi hormat orang itu kemudian berkata, “Kami Tujuh Pilar Golok Angin ingin memberi laporan, Yang Mulia.”
Kaisar Itamo tidak menanggapi. Ia tetap berdiri membelakangi orang itu.
Goemon yang mengetahui emosi Kaisar Itamo sedang tidak baik, lantas berkata, “Yatsu, sampaikan saja laporanmu!”
Yatsu kemudian menceritakan, bahwa ia sempat menemukan jejak Tetua Yongdai dan anggotanya, namun ia hanya bisa mencium jejaknya hingga di tepi Hutan Terlarang.
“Kami tidak berani memasuki hutan yang dipenuhi kabut tebal itu sebelum memberi laporan terlebih dahulu,” ucap Yatsu menutup laporannya.
“Kalian yakin Tetua Yongdai masuk ke hutan itu?” tanya Goemon.
“Ya Tuan,” jawab Yatsu.
Goemon kemudian menoleh ke arah Kaisar Itamo. Ia ingin melihat reaksinya setelah mendengar laporan Yatsu. Namun setelah beberapa saat berlalu dan Kaisar Itamo tidak bereaksi, Goemon kemudian memberi aba-aba terhadap anak buahnya untuk segera meninggalkan ruangan.
Tidak lama setelah Yatsu dan rekan-rekannya meninggalkan ruangan, barulah Kaisar Itamo membalikkan badan seraya berkata, “Aku memberimu waktu satu minggu. Jika kau tidak mampu membawa kepala anak itu ke hadapanku, maka kepala ketujuh anak buahmu itu yang akan menjadi gantinya.”
Goemon hanya bisa mengerutkan dahi dan berdecak kesal ketika Kaisar Itamo melangkah pergi seusai memberi ancaman kepada dirinya.