Full Remake, New Edition 🔥🔥
Ini adalah perjalanan Iramura Tenzo, seorang pejuang yang dipanggil ke dunia baru sebagai seorang pahlawan untuk mengalahkan raja iblis.
Namun, dia gugur dalam suatu insiden yang memilukan dan dinyatakan sebagai pahlawan yang gugur sebelum selesai melaksanakan tugasnya.
Akan tetapi dia tidak sepenuhnya gugur.
Bertahun-tahun kemudian, ia kembali muncul, menginjak kembali daratan dengan membawa banyak misteri melebihi pedang dan sihir.
Ia memulai lagi perjalanan baru dengan sebuah identitas baru mengarungi daratan sekali lagi.
Akankah kali ini dia masih memegang sumpahnya sebagai seorang pahlawan atau mempunyai tujuan lain?
Ini adalah kisah tentang jatuhnya seorang pahlawan, bangkitnya seorang legenda, dan perang yang akan mengguncang dunia.
Cerita epik akan ditulis kembali dan dituangkan ke dalam kisah ini. Saksikan Petualangan dari Iramura Tenzo menuju ke jalur puncak dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyu Kusuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Essence Of Life
Di dalam gua yang remang-remang, Ramez duduk bersila dengan dada telanjang, napasnya berhembus pelan. Di belakangnya, Tenzo berdiri, tatapannya tajam meneliti punggung pemuda itu. Di kejauhan, Lestinar mengamati mereka dengan penasaran, mencoba menebak apa yang akan terjadi.
"Aku akan membuka kemampuanmu."
Suara Tenzo datar, namun ada beban berat dalam setiap katanya.
"Setelah pelatihan mental sebelumnya, mentalmu sudah cukup kuat untuk proses ini. Tapi ingat…"
Ia menatap punggung Ramez dengan sorot tajam.
"Jika kau kehilangan kendali, kau akan kehilangan seluruh kekuatanmu—atau lebih buruk, kau akan mati."
Udara seketika menjadi lebih dingin.
Ramez menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.
"Baiklah… aku akan bertahan sebisa mungkin."
Sebelum berpindah ke pelatih berikutnya, sesuai dengan janji yah Tenzo berikan, ia akan membantu Ramez untuk membuka potensi tersembunyinya. Hal itu dia sebut sebagai Essence Of Life.
Jadi sekarang lah waktu yang tepat untuk melakukan. Ramez telah melakukan pelatihannya dan sekarang sudah membuahkan hasil. Kini mentalnya sudah meningkat cukup bagus dan menuruti dia, ini sudah cukup untuk mencoba mengecek potensi tersembunyinya.
Tanpa membuang waktu, Tenzo mengulurkan tangannya. Jemarinya menyentuh punggung Ramez, lalu dengan satu gerakan cepat, ia melukai jarinya sendiri. Darah menetes, lalu ia mulai melukis. Pola sihir mulai terukir di kulit Ramez, membentuk lingkaran rumit dengan garis-garis bercahaya.
Saat Tenzo menekan kedua tangannya ke punggung Ramez, lingkaran itu bersinar lebih terang, mengeluarkan kilatan cahaya emas yang berdenyut seperti jantung yang berdetak.
Ramez menggertakkan giginya, tubuhnya terasa panas seperti terbakar dari dalam. Bersamaan dengan cahaya itu, kesadaran Tenzo mulai terhisap.
Dunia di sekelilingnya berubah.
Saat ia membuka mata, ia sudah berdiri di tempat yang asing.
Gelap.
Kakinya terendam dalam air hitam pekat, menciptakan riak kecil setiap kali ia melangkah. Di kejauhan, patung-patung besar menjulang, tak terhitung jumlahnya. Patung-patung itu berbentuk ras rubah hitam, dengan ekspresi kosong, seolah menjadi saksi bisu di dunia ini.
"Dimana aku…?"
Tenzo melangkah mendekati salah satu patung.
Saat ia menyentuhnya, ia merasakan tekstur kasar batu—namun ada sesuatu yang aneh. Retakan-retakan halus menyebar di seluruh permukaannya, dan dari dalamnya, keluar cahaya samar berwarna keemasan.
"Ini… retakannya cukup banyak…"
Ia beralih ke patung lain, lalu matanya tertumbuk pada satu patung yang familiar.
Patung yang memiliki wajah Ramez.
Patung itu memiliki banyak retakan besar, bahkan beberapa bagian sudah berlubang, memperlihatkan cahaya berdenyut di dalamnya.
Tenzo menyipitkan mata.
"Essence of Life-nya… sudah sangat rapuh."
Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh—
Sesuatu muncul di belakangnya.
Sebuah bola mata raksasa perlahan terbuka di kegelapan, menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh keingintahuan.
Cahaya merah menyala dari irisnya, berputar perlahan seperti pusaran yang bisa menelan segalanya.
Udara berubah berat.
Tenzo merasakan tekanan luar biasa, seolah dirinya sedang diperhatikan oleh sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih tua darinya.
Lalu, suara berat dan menggema terdengar.
"Hohoho… Ini tidak terduga. Seorang manusia datang ke tempat ini."
Suaranya bergema di setiap sudut, seakan berasal dari dalam kegelapan itu sendiri.
Tenzo seketika berbalik, matanya bertemu langsung dengan tatapan monster itu.
Sebuah mata raksasa yang mengintai dari kedalaman alam bawah sadar Ramez. Sorotnya bukan hanya mengancam, tapi juga penuh rasa ingin tahu—seperti seorang pemangsa yang menemukan mangsa baru yang menarik.
Namun, Tenzo tetap tenang.
Ia menatap balik mata itu, ekspresinya tetap dingin dan penuh perhitungan.
"Siapa kau?"
Suasana semakin menegang. Di hadapan Tenzo, sesuatu yang lebih besar dari sekadar Essence of Life mulai terbangun. Sesuatu yang selama ini bersembunyi di dalam diri Ramez. Sekarang, ia menyadari kehadiran Tenzo.
Suara tawa bergema di sekeliling Tenzo, menggetarkan udara dengan nada berat dan penuh keagungan.
"Hahaha."
Sosok misterius itu berbicara, suaranya dalam, menggema seperti berasal dari kedalaman kegelapan itu sendiri.
"Bertanya siapa aku tanpa memperkenalkan dirimu terlebih dahulu… dan di tempat kekuasaanku pula? Betapa tidak sopannya kamu."
Begitu kata-kata itu terucap, udara mendadak berubah.
Tekanan luar biasa muncul, menyelimuti tempat itu dengan kekuatan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata biasa.
Tenzo merasakan dadanya ditekan, seolah ada tangan tak kasat mata yang berusaha menghancurkannya.
Air hitam di sekelilingnya bergejolak, berputar dalam pusaran yang makin liar. Patung-patung yang berjajar di sekitarnya ikut bergetar, beberapa bahkan mulai retak karena tekanan yang luar biasa.
Namun, di tengah badai kekuatan itu, Tenzo tetap berdiri tegak.
Matanya menajam, napasnya tetap stabil.
Dia tidak akan mundur.
Perlahan, ia melepaskan auranya sendiri.
Seketika, dua kekuatan bertabrakan, menciptakan bentrokan yang mengguncang ruang bawah sadar ini. Udara berdesir seperti badai, riak air mengamuk seperti lautan dalam topan. Suasananya berubah kacau, seakan berbagai bencana berkumpul menjadi satu.
Entitas itu menyipitkan mata.
"Menarik…" katanya.
"Kamu mampu bertahan dari auraku… dan bahkan sampai membalasnya. Aku terkesan. Rupanya, kamu bukan manusia biasa."
Perlahan, tekanan dari entitas itu menghilang, mereda layaknya gelombang yang kembali tenang. Melihat itu, Tenzo juga menarik kembali auranya, membiarkan atmosfer kembali stabil.
Ia menatap lurus ke mata raksasa itu, lalu sedikit menundukkan kepala.
"Maaf jika aku kurang sopan sebelumnya," katanya.
"Namaku Iramura Tenzo. Aku berasal dari dunia luar dan saat ini sedang mencoba memasuki alam bawah sadar muridku."
Hening sejenak.
Kemudian, sosok itu tertawa lagi, tapi kali ini nadanya lebih ringan.
"Hahaha. Nah, kurasa begitu lebih baik. Teruskan sikapmu yang sopan itu."
Sebuah bayangan mulai muncul dari dalam kegelapan. Sosok itu perlahan mengambil bentuk fisik, menampakkan rangka besar berbulu gelap dengan mata berkilauan seperti bara api.
Sosok itu menatap Tenzo, ekspresinya penuh kewibawaan dan kesadaran akan kekuatannya sendiri.
"Namaku adalah Zerath."
"Aku adalah penguasa alam bawah sadar ini."
"Seperti yang kau lihat, semua patung di sini adalah bentuk Essence of Life dari ras kami yang ada di dunia luar."
"Dan tentu saja, kau pasti sudah melihat patung muridmu."
"Itulah inti kehidupannya."
Tenzo mengamati patung-patung itu lagi.
Mereka berdiri diam, kosong, seolah tidak memiliki kehidupan sama sekali.
Namun…
Di antara ratusan patung itu, hanya satu yang memiliki retakan bercahaya terang.
Patung Ramez.
Cahayanya berdenyut perlahan, seperti jantung yang berdetak, memancarkan energi yang berbeda dari yang lain.
Tenzo menyipitkan mata.
"Dari yang kulihat…" katanya, "hanya sedikit patung di sini yang memiliki retakan bercahaya seperti milik muridku."
"Apa maksudnya?"
Hening sejenak.
Lalu, Zerath tersenyum tipis, seolah ia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.
"Pertanyaan yang bagus," katanya.
"Aku sendiri baru pertama kali melihat cahaya sekuat itu selama ratusan tahun terakhir."
"Setiap patung di sini melambangkan perkembangan mereka di dunia luar. Sebenarnya, mereka semua adalah cahaya."
"Namun, mereka masih tertutup oleh kerak batu."
Tenzo mengangguk pelan, menyimak setiap kata dengan serius.
"Jika mereka berkembang dan semakin kuat," lanjut Zerath, "maka kerak batu itu akan retak dan memperlihatkan jati diri mereka yang sebenarnya. Cahaya terang itulah yang mewakili kekuatan sejati mereka."
"Seiring dengan itu, kekuatan mereka pun akan bertambah pesat."
Mata Tenzo sedikit menyipit.
"Jadi, dulunya ada banyak patung yang bercahaya?"
"Benar," jawab Zerath.
"Dulu, ruangan ini pernah dipenuhi cahaya dari para keturunan kami yang berkembang pesat."
"Namun, seiring waktu berjalan, cahaya mereka memudar."
"Patung-patung yang dulu bercahaya kini hanya menjadi batu biasa."
"Dan sekarang, hanya muridmu yang menunjukkan cahaya terang itu."
"Menarik, bukan?"
Tenzo terdiam sejenak.
Ia menatap patung Ramez, menyadari betapa uniknya situasi ini. Ramez bukan hanya berbakat… tapi ada sesuatu dalam dirinya yang lebih dari sekadar bakat biasa.
Lalu, Zerath memandang Tenzo dengan mata yang penuh makna.
"Kurasa…" katanya, "pelatihanmu membuahkan hasil yang besar."
"Mungkin, dia bisa menjadi penerusku di masa depan."
Tenzo kini memahami esensi dari patung-patung ini.
Mereka adalah inti kehidupan yang tersegel, kekuatan sejati mereka terperangkap di dalam cangkang batu yang membatasi potensi mereka di dunia luar. Mereka butuh pelatihan ekstrem—tekanan yang cukup besar—agar kerak itu retak dan membuka kekuatan sejati mereka. Namun, kata-kata Zerath tadi menggelitik pikirannya.
"Menjadi penerusku."
Tenzo menatapnya tajam.
"Maksud dari penerus itu apa?" tanyanya.
Sosok raksasa itu menarik napas panjang, suaranya bergema dalam kegelapan.
"Menjadi penggantikulah."
"Aku sudah terlalu lama di sini… Memantau mereka yang tidak berkembang sedikit pun."
"Tapi sekarang, aku melihat satu yang berbeda—satu yang bisa membawa harapan baru."
"Aku ingin mempercayakan peranku kepadanya."
Tenzo mengernyit, mengolah kata-kata itu.
"Apa itu berarti muridku harus tinggal di sini dan mengawasi mereka seperti yang kau lakukan?"
Jika benar begitu… maka Ramez akan terperangkap di alam ini, jauh dari dunia luar, jauh dari pertempuran yang seharusnya ia jalani.
Namun, Zerath hanya tertawa—keras dan bergema, nyaris meruntuhkan dinding realitas di sekitar mereka.
"Hahaha!"
"Tidak seperti itu, Tenzo."
"Aku tidak meminta dia tinggal di sini."
"Yang kumaksud adalah, aku tidak bisa lagi menjangkau dunia luar."
"Saat ini, aku hanya bisa mengawasi dari dalam."
"Jadi, dengan keberadaannya, aku bisa menyampaikan pengaruhku ke dunia luar melalui dirinya."
Tenzo terdiam sejenak.
Ia memandang patung Ramez, kemudian mengambil keputusan.
"Heh… begitu ya."
Tanpa ragu, Tenzo melangkah maju. Tangannya terulur, menempelkan telapak tangannya ke dada patung Ramez. Jika ini adalah Essence of Life Ramez, maka…
"Yang perlu kulakukan hanyalah mengacaukannya—menggetarkan inti itu hingga cangkangnya retak."
Tenzo memejamkan mata, menyalurkan energinya.
Tiba-tiba—patung itu mulai melayang. Aura hitam kebiruan mengelilinginya, menciptakan pusaran energi yang liar. Retakan pertama muncul—sebuah celah kecil yang bersinar terang di dada patung itu.
Lalu…
KRIIAKH!
Retakan itu menyebar dengan cepat, seperti kaca yang mulai pecah. Batu-batu yang menutupi inti kehidupan Ramez mulai runtuh satu per satu, mengungkap cahaya yang semakin terang.
Gelombang energi mulai terasa, seperti badai kekuatan yang baru saja dibangkitkan.
Di sisi lain, Zerath menatap adegan itu dengan keterkejutan yang nyata.
"Dia… Dia benar-benar bisa melakukannya?"
Ia tidak menyangka bahwa Tenzo mampu memanipulasi Essence of Life orang lain.
Itu adalah ranah yang seharusnya hanya bisa dicapai oleh para dewa.
Namun…
[Aku tidak merasakan jejak dewa pada dirinya…]
[Jadi… siapa sebenarnya dia?]
[Sudah berapa lama aku terisolasi di sini hingga aku tidak sadar bahwa dunia luar telah berkembang sejauh ini?]
Cahaya dari patung Ramez semakin terang. Namun, Tenzo tidak berencana menghancurkan seluruh cangkangnya sekaligus.
Jika ia memaksakan semuanya dalam satu waktu… Mungkin tubuh Ramez di dunia nyata tidak akan mampu menahan dampaknya. Jadi, ia hanya membuka sebagian—cukup untuk membebaskan sebagian besar potensinya, tapi tetap meninggalkan batas yang bisa ditempa melalui latihan.
Aura patung itu berdenyut perlahan.
Sebuah awal baru telah dimulai.
"Sudah cukup."
Tenzo melepaskan tangannya, membiarkan energi itu stabil. Ia lalu berbalik, menatap Zerath untuk terakhir kalinya.
"Yah… Kalau begitu aku akan pamit dulu."
"Mungkin suatu hari nanti, aku akan mampir lagi untuk mengeceknya."
"Kita bisa berbincang lebih banyak lain kali."
Dan dengan itu—Tenzo menghilang.
Sebuah Cahaya di Dalam Kegelapan Kini, suasana berubah menjadi sunyi, namun kali ini berbeda. Di tengah kegelapan yang sunyi, ada satu cahaya yang kini bersinar lebih terang dari sebelumnya. Itu adalah patung Essence of Life milik Ramez.
Zerath menatapnya dalam diam.
Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda... Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama ratusan tahun terakhir.
Sebuah harapan.
Matanya kembali menatap ke tempat di mana Tenzo menghilang, lalu ia bergumam pelan…
"Suatu saat nanti… kita akan bertemu di luar sana."
"Aku ingin tahu… siapa sebenarnya kau, Iramura Tenzo."