NovelToon NovelToon
A Fractured Family'S Hope

A Fractured Family'S Hope

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / Cerai / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Echaalov

Candy Selsha Bailey, seorang gadis cantik yang hidupnya tidak seindah namanya. Dari bayi sampai sekarang ia harus terus memakan obat-obatan agar bisa sembuh, punya tubuh yang sangat lemah, orang tua yang strict parents menjadikan hidupnya tidak bebas, nilai adalah hal yang harus ia pertahankan karena kalau tidak ia akan di marahi oleh ayahnya, masalah selalu datang menghampirinya membuat ia tidak tenang, rasa menyesal yang terus melingkupi relung hatinya membuat ia hidup dengan rasa bersalah, dan semenjak kejadian itu ia tidak pernah mempunyai teman yang benar-benar teman.

"Tuhan, kenapa hidup aku kayak gini? kenapa semua ini harus terjadi kepadaku? aku lelah Tuhan," ucapnya di ruangan yang sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echaalov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Hari yang mereka takutkan akhirnya tiba. Hari ini mereka ujian, terlihat raut tegang di wajah semua orang.

Mereka sedang menunggu pengawas tiba dengan wajah yang tegang dan otak yang bekerja keras mengingat semua materi yang sudah di pahami. Candy terlihat gelisah di bangkunya, Naysa menghampiri bangku Candy.

"Sesel kenapa kamu gelisah gitu? " tanya Naysa.

"Aku takut gak bisa," ucap Candy gelisah.

"Kamu pasti bisa Sel. Kamu kan udah belajar sangat rajin untuk ujian ini kamu pasti bisa mendapatkan nilai yang bagus," ucap Naysa menenangkan Candy.

"Tapi Nay kalau aku gak dapat nilai sempurna, aku pasti di kurung lagi di kamar," ucap Candy lesu.

"Tapi setidaknya kamu kan udah berusaha sebaik mungkin, tentang hasil itu kita serahkan kepada Allah. Itu kata kak Arga," ucap Naysa.

"Iya Sesel kamu jangan pesimis dulu," ujar Tania yang baru saja mendekati bangku Candy.

"Ucapan kalian buat aku tenang makasih ya," ucap Candy tersenyum menatap Tania dan Naysa.

"Iya sama-sama."

Pengawas datang mereka duduk di bangku masing-masing. Mereka berdoa terlebih dahulu lalu pengawas membagikan kertas ujian. Semua murid sudah mendapatkan kertas ujiannya.

"Silahkan kalian mengerjakan ujian waktunya sembilan puluh menit dari sekarang, jangan terburu-buru dan kerjakan dengan teliti. Jika terlihat ada yang menyontek ibu akan ambil kertas ujiannya dan tidak bisa mengikuti ujian," ucap Ibu pengawas menatap semua murid.

"Baik Bu," ucap mereka serentak.

Suasana menjadi hening karena para murid fokus dengan kertas ujian masing-masing. Candy tersenyum begitu melihat soal yang menurutnya mudah.

Enam puluh menit sudah berlalu, wajah semua murid terlihat gelisah dan murung ketika tidak tahu jawabannya.

Silvi melihat ke arah tangannya yang terdapat sebuah kertas. Ia akan membuat Candy tidak bisa mengikuti ujian. Silvi menatap ke kanan dan kiri takut ada yang melihat tindakannya. Silvi mengangkat tangannya, semua orang menatapnya begitupun Ibu pengawas.

"Kamu sudah selesai? " tanya Ibu pengawas.

"Bukan Bu, aku mau ke kamar mandi," ucap Silvi.

"Iya boleh silahkan."

Silvi pun berjalan menuju ke depan. Semua orang kembali fokus mengerjakan ujian. Silvi menatap ke kanan dan ke kiri lalu ketika ia berada tepat di samping meja Candy. Silvi menjatuhkan kertas itu. Setelah itu ia pergi keluar sambil tersenyum.

Beberapa menit kemudian Silvi kembali. Mereka masih fokus mengerjakan ujian sampai suara seseorang membuat mereka berhenti mengerjakannya.

"Bu, itu kertas apa? " tanya Dini menunjuk kertas yang berada di samping meja Candy.

Semua orang melihat ke sana, tatapan mereka tertuju kepada meja Candy. Ibu pengawas pun mendekati meja itu lalu mengambil kertas itu. Sebelum membukanya ia bertanya kepada Candy.

"Ini punya kamu? "

"Bukan Bu."

Ibu pengawas membuka gulungan kertas itu, dan benar saja kertas itu berisikan contekan. Ibu pengawas menatap Candy tajam.

"Kamu menyontek? "

"Enggak Bu, itu bukan kertas punya saya," ucap Candy panik di tuduh seperti ini. Padahal ini hari pertama tapi sudah ada masalah.

"Kalau bukan punya kamu punya siapa? "

"Saya gak tahu Bu," ujar Candy.

Bisik-bisikan mulai terdengar di sekitarnya.

"Baru tahu aku kalau Candy bisa ngelakuin itu."

"Gak nyangka ternyata nilainya yang bagus itu karena hasil menyontek."

"Katanya pinter tapi kok nyontek? "

"Iya dia pinter, pinter nyontek."

Semua orang berbisik-bisik tentangnya. Hatinya yang sedaritadi gelisah semakin gelisah. Sebisa mungkin ia mengontrol nafasnya.

"Diam semuanya," ujar Ibu pengawas.

"Ibu tanya lagi, ibu harap kamu jujur kalau tidak hukumannya berat. Kertas siapa ini? "

"Sudah saya bilang kertas itu bukan punya saya Bu," ucap Candy.

"Jadi kamu tidak mau mengaku? "

"Mengaku buat apa? Saya kan gak ngelakuin kesalahan," ucap Candy.

"Oh jadi begitu ikut ibu sekarang keluar," ibu pengawas menyeret Candy menuju keluar, namun terhenti ketika ada yang menghadangnya.

"Meskipun dia gak sepintar aku tapi permen pait gak akan ngelakuin hal itu Bu," ujar Azel.

"Iya Bu, Sesel gak akan pernah lakuin itu," ucap Naysa.

"Ini cuman kesalahpahaman Bu," sahut Tania.

"Benar Bu, selama ini ibu kan tahu meski bukan ujian Candy selalu aktif dan selalu mendapatkan nilai yang bagus," tutur Harrel.

"Sesel bukan orang seperti itu," timpal Gerald.

"Kenapa kalian begitu yakin Candy tidak melakukan itu. Apakah kalian tahu siapa pelaku sebenarnya? "

Mereka terdiam bingung mau menjawab apa. Karena mereka tidak tahu siapa pelaku sebenarnya. Tapi yang mereka yakini bahwa Candy tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Dan tidak masuk akal anak yang selalu aktif di kelas lalu selalu mendapatkan nilai yang bagus di ujian harian akan melakukan hal yang gak seperti dirinya, yaitu menyontek.

Candy terharu melihat teman-temannya yang membelanya. Ia merasa sangat tersentuh. Meski pada akhirnya ia harus di hukum karena tidak punya bukti. Lagian kenapa sih kertas itu kok bisa ada disini? Aneh sekali.

"Kenapa kalian diam tidak bisa menjawab kan? Kalau tidak bisa membawa bukti mending diam saja."

Mereka semua tertunduk malu ketika di marahi oleh Ibu pengawas. Apalagi semua orang menatap mereka.

"Kalau ada bukti ibu gak akan menyalahkan permen pait kan? "

"Iya saya tidak akan menyalahkan Candy jika terbukti bukan ia pelakunya," ujar Bu pengawas.

"Kalau begitu beri kami waktu sepuluh menit untuk mencari pelaku sebenarnya," ucap Anka yang sedari tadi diam.

Bu pengawas melihat jam tangannya kini waktu sudah berjalan 80 menit. Dan jika Anka ingin mencari pelakunya maka waktu sepuluh menit akan menjadi waktu yang tersisa sebelum beres ujian.

"Apa kamu sudah selesai mengerjakan ujian? " tanya Bu Pengawas. Ia tidak mau ada hal yang tidak di inginkan. Misalnya karena mereka mencari pelaku yang menyontek maka mereka meninggalkan ujiannya yang belum selesai atau asal mengisi saja. Bu pengawas tidak ingin itu terjadi.

"Sudah Bu," ucap Anka.

"Kalian? " tanya Bu pengawas kepada Tania, Naysa, Azel, Harrel dan Gerald.

"Sudah Bu," ucap mereka serentak.

"Kalau begitu silahkan kalian bisa mencari pelaku sebenarnya asal jangan menggangu teman kalian yang sedang mengerjakan ujian," ucap Bu Pengawas.

"Iya Bu," ucap mereka lagi serentak.

"Ka, gimana cara kita nyari pelakunya? " tanya Gerald.

"Apa kita harus tanya mereka satu persatu, tapi kalau di tanya mereka juga gak akan ngaku sih jadi percuma," tanya Harrel. Lagian siapa juga yang mau mengaku menjadi pelaku orang yang menyontek, kalau ada mereka pasti gila karena mengaku.

"Aku curiga sama mereka," ujar Naysa menatap Silvi, Tyra dan Dini.

"Iya aku juga sama, pasti di antara mereka ada pelakunya," ucap Tania menyetujui ucapan Naysa.

"Aku punya ide," semua orang menatap Anka.

1
Farldetenc
Ada karya menarik nih, IT’S MY DEVIAN, sudah End 😵 by farldetenc
Izin yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!