NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

SUV hitam di belakang mereka akhirnya kehilangan kendali setelah Naura berhasil melubangi ban kirinya. Kendaraan itu terguling, menciptakan barikade api di tengah jalan proyek yang sunyi. Arkan tidak mengurangi kecepatan, ia terus memacu mobilnya menjauh dari zona panas tersebut.

"Kita ke Safehouse Sektor 7. Hanya lima menit dari sini," ujar Arkan tegas, matanya masih waspada memantau spion.

"Enggak. Belok kiri di persimpangan depan," potong Naura dingin. Ia sedang sibuk mengisi ulang magasin pistolnya dengan gerakan mekanis yang sempurna.

Arkan mengerutkan kening. "Gue punya protokol, Naura. Safehouse gue punya tim medis dan dukungan taktis lengkap. Lo terancam, dan tugas gue adalah mengamankan aset di bawah otoritas Unit-X."

Naura menoleh, menatap Arkan dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Aset? Itu masalahnya, Arkan. Gue bukan barang milik organisasi lo. Gue nggak tahu siapa yang lebih berbahaya buat gue sekarang: Black Ledger yang mau bunuh gue, atau Unit-X yang mau 'mengurung' gue demi informasi."

"Gue baru saja menyelamatkan nyawa lo!" suara Arkan meninggi, rahangnya mengeras karena frustrasi.

"Dan gue baru saja melindungi mobil mahal lo dari kehancuran total," balas Naura cepat.

 "Dengar, Arkan. Gue nggak akan masuk ke kandang singa yang nggak gue kenal. Kalau lo memang dikirim buat jaga gue, maka lo harus ikut aturan gue. Kita ke markas gue, atau gue loncat dari mobil ini sekarang juga."

Arkan melirik spedometer yang menunjukkan angka 120 km/jam. "Jangan gila, Naura!"

"Lo tahu gue nggak pernah main-main sama kata-kata gue," Naura meletakkan tangannya di tuas pintu, matanya menantang Arkan tanpa ragu.

Hening sejenak di dalam kabin mobil yang berbau mesiu itu. Arkan tahu Naura adalah tipe orang yang lebih memilih hancur daripada kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Jika ia memaksa membawa Naura ke Sektor 7, ia hanya akan mendapatkan musuh, bukan sekutu.

Arkan mengumpat pelan, lalu membanting setir ke kiri dengan kasar, membuat ban mobil berdecit protes. "Ke mana?"

Naura kembali bersandar di kursinya, senyum tipis kemenangan tersungging di bibirnya. "Terus sampai area pergudangan tua di pelabuhan. Blok C nomor 14."

Setelah melewati rute yang berliku-liku untuk memastikan tidak ada ekor yang mengikuti, mereka sampai di sebuah bangunan yang tampak seperti bengkel kapal terbengkalai. Arkan memarkirkan mobilnya di balik tumpukan kontainer.

Naura turun dan berjalan menuju sebuah pintu besi berkarat. Ia menempelkan telapak tangannya pada sebuah pemindai tersembunyi di balik pipa air. Pintu itu terbuka dengan suara hidrolik yang halus, menyingkapkan interior yang sangat kontras dengan tampilan luarnya.

Di dalamnya terdapat laboratorium mini dengan deretan layar komputer canggih, peralatan forensik digital, dan sebuah meja besar yang dipenuhi denah kota.

"Selamat datang di dunia gue yang sebenarnya, Arkan," ucap Naura sambil melempar pistolnya ke atas meja. "Bukan sebagai siswi ceria, bukan sebagai 'adik' Najam, tapi sebagai orang yang sebenarnya lo cari."

Arkan melangkah masuk, matanya memindai ruangan itu dengan teliti. Ia menyadari satu hal: teknologi di sini jauh lebih personal dan terfokus daripada yang ada di Sektor 7.

"Jadi," Arkan bersedekap, berdiri di tengah ruangan dengan aura dominannya. "Sekarang gue sudah di sini. Apa rencana lo selanjutnya? Karena Black Ledger nggak akan berhenti sampai mereka dapet apa yang mereka mau."

Naura menyalakan salah satu layar besar, menampilkan data enkripsi yang berkedip merah. "Rencana gue adalah menyerang balik sebelum mereka tahu siapa yang sebenarnya mereka hadapi. Dan karena lo sudah terlanjur basah ikut campur..." Naura berbalik, menatap Arkan dengan intens. "...lo mau jadi rekan kerja, atau cuma mau jadi penonton?"

Arkan terdiam, mempertimbangkan konsekuensi melanggar protokol organisasinya demi bekerja sama secara independen dengan Naura.

......................

Naura menatap Arkan dengan sisa-sisa kemarahan yang masih membekas di matanya. Namun, sebelum ia sempat melontarkan protes lebih jauh, pintu baja di ujung ruangan terbuka otomatis. Seorang pria paruh baya dengan setelan abu-abu gelap berdiri di sana. Dia adalah Komandan Malik, atasan tertinggi di markas Naura.

"Masuk, kalian berdua," suara Malik berat dan tidak menerima penolakan.

Di dalam ruangan yang kedap suara itu, Malik duduk di balik meja kaca besar. Ia menatap Naura, lalu beralih ke Arkan, memberikan anggukan hormat yang jarang ia berikan pada orang asing.

"Naura, aku tahu kau tidak suka privasimu diusik," buka Malik tanpa basa-basi. "Tapi situasi dengan Black Ledger sudah di luar kendali kita. Mereka bukan lagi sekadar musuh biasa, mereka adalah organisasi sekutu yang berkhianat. Dan mereka tahu semua protokol keamanan kita."

Naura menyilangkan tangan di dada. "Aku bisa menangani mereka sendiri, Komandan. Aku punya sistem, aku punya senjata, dan aku punya Najam. Aku tidak butuh pengawas dari unit lain."

Malik menggeleng perlahan. "Ini bukan soal kemampuanmu, tapi soal cakupan. Unit-X: Sector 7, tempat Arkan bernaung, memiliki akses ke satelit yang tidak kita miliki. Arkan bukan dikirim untuk mengajarimu cara bertarung, Naura. Dia dikirim sebagai jembatan perlindungan antara dua organisasi."

Malik kemudian menatap Arkan. "Agen Arkan, tugasmu tetap sama. Jaga Naura dari faksi mana pun yang mencoba mengambil alih datanya. Dia adalah prioritas utama."

"Siap, Komandan," jawab Arkan tegas.

"Tunggu!" sela Naura, matanya berkilat tajam. "Aku menolak. Aku tidak mau bayang-bayang Unit-X mengikuti setiap langkahku di sekolah atau di sini. Ini markas pribadiku!"

Malik berdiri, memberikan aura intimidasi yang membuat ruangan itu terasa lebih sempit. "Ini bukan diskusi, Naura. Ini perintah operasional. Jika kau menolak, aku akan membekukan aksesmu ke seluruh peladen pusat dan menarikmu dari lapangan demi keselamatanmu sendiri. Pilihannya bekerja sama dengan Arkan, atau berhenti menjadi agen."

Naura terdiam, rahangnya mengeras. Ia tahu Malik tidak pernah menggertak. Dengan perasaan dongkol yang meluap, ia hanya bisa membuang muka.

Begitu pintu ruangan Malik tertutup di belakang mereka, Naura langsung berbalik dan menunjuk dada Arkan dengan jarinya.

"Dengar ya, 'Agen Terhormat'," desis Naura.

"Hanya karena Komandan Malik bilang lo pelindung gue, bukan berarti lo bisa ngatur hidup gue. Di sekolah, lo tetap Arkan yang kaku, dan gue tetap Naura. Jangan berani-berani ikut campur kalau gue nggak minta."

Arkan menangkap jari Naura dengan gerakan cepat, menahannya di udara. Wajahnya tetap tenang, bahkan cenderung datar.

"Gue nggak tertarik sama drama sekolah lo, Naura," balas Arkan rendah. "Tapi Komandan lo benar. Lo terlalu berharga buat dibiarkan mati karena ego lo sendiri. Jadi, simpan kemarahan lo buat Black Ledger. Mulai sekarang, ke mana pun lo pergi, gue ada di sana."

Naura menarik tangannya dengan kasar. "Gue benci ini."

"Gue juga," sahut Arkan sambil memakai kembali jaketnya. "Tapi teknik menyusun strategi agar kita berdua tetap hidup itu jauh lebih mahal daripada sekadar rasa suka atau benci. Ayo jalan, kita harus kembali ke sekolah sebelum jam pelajaran terakhir selesai, atau kecurigaan teman-teman lo bakal jadi masalah baru."

Naura menghentakkan kakinya kesal, namun ia berjalan mendahului Arkan menuju mobil. Arkan menatap punggung gadis itu sejenak, menyadari bahwa menjaga Naura akan jauh lebih sulit daripada menghadapi satu kompi tentara bayaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!