Erina, gadis pekerja keras yang selalu mengedepankan gaya. Dia dijodohkan dengan seorang pengusaha sukses. Namun, apa jadinya jika sang pengusaha mempunyai pujaan hati lainnya?
Mampu kah, Erina menjalin rumah tangga dengan tantangan meluluhkan hati suaminya, agar hanya melihat dirinya seorang?
Yuk ikuti kisahnya!
Terimakasih ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Usir
"Maaf taz, tapi kenapa?" tanya Nova, yang kebetulan memang sengaja menguping pembicaraan Clara dengan Uzair.
"Karena disini, ada aku. Aku dan dia bukan mahram. Sehingga, bisa saja itu menjadi fitnah, untuk kami berdua." jelas Uzair melirik Nova sekilas.
Nova bergeming mendengar alasan yang di lontarkan oleh Uzair. Namun, senyum sinis langsung terbentuk di bibirnya. Memperjelas garis-garis halus disekitar matanya.
"Bagaimana, jika Ustad menikahi anakku saja. Toh, ustad belum punya calon sendiri." ujar Nova penuh harap.
"Maaf bu, lebih baik suruh anak ibu untuk pindah. Atau jika memang ibu keberatan. Maka, sekalian saja ibu pindah dari sini. Sebab alasan dulu kami menampung mu pun karena kasihan." ujar Ima yang tidak sengaja mendengar permintaan konyol dari Nova.
Karen kebetulan, mereka bicara di depan kamar Ima.
Nova memutar mata malas kala mendengar Ima yang ikut nimbrung, pembicaraannya dengan Uzair.
"Itu lebih baik." sambung Uzair, seolah-olah diselamatkan oleh Ima.
Uzair langsung mengelus pucuk kepala Ima, seolah berterimakasih, tanpa mengeluarkan kata.
"Tak sopan." cibir Nova saat Ima pun, kembali memasuki kamarnya.
Diluar, Clara mematung saat mendengar penolakan dari Uzair. Bahkan harga dirinya jatuh di hadapan lelaki itu.
Clara akui, Uzair memiliki pesona yang luar biasa. Walaupun tidak sama kaya dengan Ervin, setidaknya Clara masih bisa berfoya-foya jika berhasil menjadi istri Uzair.
"Ini pasti gara-gara perempuan sialan itu." umpat Clara menuduh Ima.
"Bagaimana ini Bu?" tanya Clara, saat Nova menyusulnya keluar.
"Ibu juga tidak menyangka, jika nak Uzair akan menolakmu. Bahkan, Ima malah menyuruh ibu untuk ikut keluar dari sini. Bagaimana ini?" tanya Nova cemas.
"Tenang saja bu, biar aku mengurusnya nanti malam. Karena aku yakin, ustad pun akan tergoda dengan rayuan ku. Toh, banyak pimpinan-pimpinan pesantren yang mencabuli muridnya. Dan, aku rasa, Uzair juga mudah tergoda. Apalagi, aku yang menggodanya." sinis Clara.
"Karena tidak ada seekor kucing, yang menolak ikan." batin Clara.
Bukannya melarang, Nova malah setuju dengan usulan anaknya. Dia berpikir apa yang Clara katakan, ada benarnya juga.
Buktinya, dia dulu bisa menggaet beberapa pria sekaligus, untuk memuaskan nafsunya.
Di tempat lain, Irfan membatalkan pertunangannya dengan Celine. Dia merasa di rugikan saat kontrak dengan omset, miliyaran nya di batalkan oleh sepihak oleh perusahaan pak Akri.
Celine yang tidak terima langsung meraung, memohon agar Irfan membatalkan niatnya.
Karena selain cinta. Dia juga gak mau menanggung malu, karena Celine sudah memamerkan pada teman-temannya, kalau nanti saat hari pernikahan tiba, dia akan melakukan resepsi semeriah mungkin.
"Jika kamu mundur dari pertunangan kita. Maka aku juga mundur dari dunia ini." isak Celine dengan mata yang memerah.
Irfan sedikit tersentak dengan ancaman dari Celine. Namun, kembali dia teringat tentang kerugian besar yang menimpa perusahaannya.
"Aku tidak bohong Irfan ... Aku gak mau pernikahan kita batal." teriak Celine menggelegar.
"Kalo begitu, minta maaf atau bila perlu, sujud lah di kaki Bu Erina. Kembali kan, nama baikku di depan Bu Suci. Rebut kembali kontrakku yang sudah di batalkan. Kamu bisa? Gak kan?" beruntun Irfan tanpa membalikan badannya.
"Minta maaf sama Erina? Kenapa aku yang selalu mengalah? Dia, dia yang bersalah padaku. Bahkan sekarang, dia merenggut kamu dari kehidupan ku. Dia, dia yang seharusnya minta maaf padaku." racau Celine. Namun sayang, Irfan sudah menghilang di balik pintu kontrakan mewahnya.
"Aku harus buat perhitungan sama Erina. Dia juga harus menanggung akibat dari perbuatannya." gumam Celine bangkit.
Namun, saat Celine membuka pintu. Tiga orang lelaki berbadan kekar malah menariknya. Mereka dengan cepat membungkam Celine dengan sapu tangan yang sudah di bubuhkan obat bius.
Salah satu lelaki itu langsung membawa Celine ke dalam mobil. Sedangkan dua diantaranya masuk ke dalam. Untuk mengecek situasi di sana. Karena mereka takut jika ada cctv ataupun lainnya.
Beruntung, rumah Celine tidak ada cctv. Begitu juga dengan halaman depan beberapa tetangga yang sudah di cek sebelumnya.
Tak lupa mereka menutup mata dan membungkam mulut Celine agar tidak berisik. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah.
Dua jam kemudian Celine terbangun dari pingsannya. Dia menggeliat. Namun, langsung sadar saat tubuhnya berasa kaku, akibat terikat di sebuah kursi.
Sepi, itulah hal pertama yang di lihat Celine. Tidak ada siapapun disana. Hanya ada dia berserta sebuah kursi di depannya.
Seorang lelaki penuh wibawa memasuki ruangan itu. Langkahnya tegap, tatapannya dingin seakan-akan ingin menusuk, apa saja yang dilihatnya.
Dia adalah Noah. Dan langsung duduk di kursi yang berada di depan Celine. Tak lupa, dia membuka mulut wanita di hadapannya.
"Tolong ..." hal pertama yang keluar dari mulut Celine.
Noah tertawa mendengar teriakan Celine.
Tawanya, menambahkan aura mencekam bagi Celine.
"Si-siapa kamu? Apa mau mu? Kenapa kamu membawaku kesini?" ujar Celine dengan terbata-bata.
Noah memilih diam. Namun, dia memperlihatkan lembaran-lembaran foto masa lalu Celine. Yang saat itu, bisa dikatakan wajah Celine tidak secantik sekarang.
Celine tercekat, saat orang lain tahu tentang masa lalunya. Padahal, sebisa mungkin dia sudah menguburnya di masa lalu.
"Bagaimana? Ini wajah aslimu kan? Bisa dikatakan si gadis buruk rupa. Begitu juga dengan hatinya." sinis Noah.
"Siapa kamu? Ka-kamu mendapatkannya dari mana?" tanya Celine.
"Aku adalah malaikat maut mu." lirih Noah.
"Ma-maksud mu?"
Noah tersenyum sinis. Dan melangkah pergi meninggalkan Celine yang terus saja berteriak meminta kejelasan.
...🍁🍁🍁...
Uzair berada di ruang tengah dengan sebuah laptop di depannya. Dia sedang mengecek beberapa email yang masuk.
Clara yang melihat itu, tersenyum menang. Apalagi, Uzair mematikan lampu dan hanya membiarkan cahaya remang-remang, yang masuk dari ruangan lain.
Clara datang dengan segelas susu di tangannya. Tak lup dia memakai dress dengan belahan yang sampai ujung pahanya. Tak lupa, punggung belakangnya terekspose dengan indah.
Clara juga menyanggul rambutnya, agar leher jenjangnya bisa di nikmati oleh Uzair. Serta make-up flowes yang menambah kecantikan untuk wajahnya.
"Ini susunya." ujar Clara.
"Terimakasih." balas Uzair tanpa melirik sedikit pun ke arah Clara.
Uzair tahu Clara belum keluar dari rumahnya. Itu semua atas permintaan Nova, supaya memberikan waktu untuk Clara satu malam lagi.
Clara langsung berdiri, dan memijit bahu Uzair. Berharap Uzair tersentuh dan juga berterimakasih.
Namun, harapan tinggal lah, harapan. Bukannya berterimakasih, Uzair malah tersentak dan menghempaskan tangan Clara.
Dan semakin terkejut saat melihat penampilan Clara. Dia sampai berteriak yang membuat Ima ikut berlari kesana.
Ima langsung beristigfar kala melihat penampilan Clara. Sedangkan Uzair memilih membelakangi Clara.
"Bawa dia dan ibunya keluar dari sini Ima." perintah Uzair.