(Revisi)
Demi menggagalkan rencana jahat ibu tirinya, Zahira terpaksa mendaftarkan diri pada sebuah aplikasi biro jodoh, dimana dirinya akan menjadi Pengantin Pesanan.
"Aku tidak menyangka pengantin pria nya mirip Tarzan"-- Zahira Malika Maheswari.
"Kenapa fotomu beda dengan wajah aslimu. Jawab aku, Nona Zahira!"-- Louis Abraham Smith.
Bagaimana jadinya jika keduanya terikat kontrak pernikahan, hingga terkuat rahasia Louis yang dapat menghancurkan kontrak pernikahan keduanya.
Yuk simak kisahnya hanya di cerita Pengantin Pesanan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Pengantin Pesanan
Sementara di tempat lain....
Jenos sudah dibekuk polisi dan menjadi tahanan di kantor kepolisian setelah berhasil diamankan oleh para detektif Louis. Kasusnya selama ini mulai mencuak dengan berbagai kejahatan yang pernah dilakukannya, kemungkinan besar Jenos akan mendapatkan hukuman berat bahkan bisa saja hukuman mati.
Delisa dan Nyonya Victoria yang juga masih membekuk dalam sel tahanan merasa memiliki angin segar melihat Jenos juga di tahan dan berada pada sel tahanan pria.
Ibu dan anak itu hanya mampu mengandalkan pengacaranya, berharap kasusnya cepat selesai dan mereka tidak dijatuhi vonis berat oleh hakim dan jaksa penuntut.
Apalagi kasus mereka sedang berjalan, kemungkinan besar sidang perdana mereka akan dilakukan Minggu depan.
Tidak hanya itu, beberapa pengacara hebat sudah dipersiapkan oleh tuan Emir untuk membebaskan Jenos alias anak buahnya. Bahkan dia menangguhkan penahanannya dengan membayar mahal pihak aparat yang bisa diajak bekerjasama.
"Bagaimana?" tanya tuan Emir kepada anak buahnya.
"Maaf tuan muda, kami sudah menawarkan pada pengacara itu. Tapi, tawaran kami ditolak mentah-mentah." ucap pria tinggi berpakaian lengkap.
Bughhhh
Satu bogem mentah mendarat sempurna di wajah pria malang itu.
"Bodoh, harusnya kamu mencari tahu terlebih dahulu kelemahannya sebelum menawarkannya bekerja sama. Beginilah jadinya, kita tidak bisa memanfaatkannya. Sebaiknya sogok saja jaksa Heru untuk menghentikan kasus ini, datangi langsung kediamannya dengan membawa hadiah mewah untuknya dan katakan padanya bahwa itu bentuk ucapan terima kasih ku." ucap tuan Emir dengan amarah sambil memberikan pelajaran kepada anak buahnya.
"Baik tuan, saya janji tidak akan pernah mengulang kesalahan seperti ini." ucap Pria bernama Niko sambil membungkukkan setengah badannya.
"Ini terakhir kalinya, aku tidak mau lagi ada kesalahan sedikitpun. Pergilah, sebelum kesabaran ku habis." ucap tuan Emir dengan tegasnya membuat ketiga anak buahnya langsung membungkuk hormat dan bergegas pergi.
🍁🍁🍁🍁
Suara alarm ponsel Zahira berbunyi nyaring, membuat Louis terbangun sambil mengerjapkan matanya, lalu mengulurkan tangannya mematikan cepat alarm dari ponsel Zahira.
Louis terkejut melihat kamarnya tampak berantakan, beberapa pakaian berserakan di lantai, dia lalu menatap sosok istrinya yang masih tertidur pulas.
Seketika Louis baru menyadarinya saat berusaha mengingat kembali kejadian semalam. Hingga senyuman tipis terukir di wajah tampannya.
Apalagi pagi ini, hal pertama yang dia lihat adalah wajah cantik Zahira yang sedang tertidur pulas di dekatnya.
Louis langsung tertawa kecil sambil mengusap rambutnya ke belakang. Berarti semalam dia benar-benar bercinta dengan Zahira. Semua itu berawal gara-gara minuman yang diminumnya dicampurkan obat perangsang.
Cukup lama Louis memandangi wajah cantik Zahira. Dia lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap lembut wajah mulus Zahira, lalu usapannya berpindah pada punggung Zahira yang polos. Namun aksinya itu sama sekali tak membangunkan istrinya.
"Terima kasih sayang, maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu mu" bisik Louis di telinga Zahira, lalu mendaratkan ciuman di kening istrinya.
Setelah sekian lama menunggu waktu yang tepat untuk melakukan malam pertama, akhirnya Louis dan Zahira resmi melakukannya, mengingat kondisi Louis dalam pengaruh obat tak mungkin juga menunda-nundanya lagi. Yang jelas mereka masing-masing menunaikan kewajibannya sebagai suami istri.
Louis bergegas turun dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Zahira mulai mengerjapkan matanya sambil meraba-raba disampingnya, namun tidak menemukan sosok pria yang sudah berstatus sebagai suaminya.
Zahira memilih mengubah posisinya dan ia kembali meringis kesakitan merasakan bagian intinya terasa perih, ditambah tubuhnya benar-benar remuk akibat perbuatan suaminya semalam.
Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, Zahira kembali berpura-pura tidur. Dia merasa canggung hanya sekedar bertemu dengan Louis pagi ini.
Louis melirik sekilas kearah tempat tidur sebelum masuk ke ruang ganti untuk mengenakan pakaiannya. Tak berselang lama, Louis sudah rapi dengan pakaian santainya.
Karena Zahira masih tertidur, Louis memutuskan ke dapur untuk membuat sarapan. Saat menuruni anak tangga terakhir, dia dikejutkan dengan kemunculan orang kepercayaannya.
"Ada apa?" tanya Louis dengan tatapan dingin.
"Mohon maaf tuan, saya hanya ingin memberitahukan kepada anda bahwa anak cabang perusahaan di kota xxx mengalami masalah. Tapi tuan tenang saja, saya sedang berusaha menyelidikinya dan kecurigaan kita selama ini terhadap orang-orang yang sudah kita tandai cepat atau lambat akan terungkap." jelas Sean memberitahu tuan mudanya.
"Ya sudah, urus masalah ini Sean. Kalau sudah genting, sebaiknya kita kembali berkunjung ke kantor cabang untuk memastikan kembali kecurigaan kita terhadap orang-orang yang memiliki jabatan penting di perusahaan." ucap Louis dengan santainya.
"Baik tuan, sebisa mungkin kita pantau dari jarak jauh, mengingat mereka cukup pandai memanipulasi data. Jangan sampai rencana kita gagal." ucap Sean berpendapat.
"Hemm, aku tunggu kabar selanjutnya" ucap Louis sebelum melangkah ke dapur.
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu, tuan" ucap Sean dan Louis hanya mengangguk menanggapi ucapannya.
Louis bergegas ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan pagi untuk dia dan istrinya. Namun saat tiba di ruang makan makanan sudah tersaji di atas meja.
"Siapa yang memasak semua ini?" tanya Louis pada dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak memiliki pelayan ataupun asisten rumah tangga di kediamannya.
"Saya tuan muda" sahut sosok wanita setengah baya sambil membawa nampan berisi potongan buah semangka.
"Bi Dijah" ucap Louis terkejut melihat pelayan di kediaman orang tuanya mendadak berkeliaran di mansionnya.
"Iya tuan, saya diutus Nyonya Retha untuk menjadi pelayan disini, sambil bantu-bantu istri tuan" jelas Bi Dijah.
"Ooh. Kenapa Oma tidak mengabari ku sebelumnya bahwa akan mengutus bibi bekerja disini" ucap Louis sambil berpikir.
"Mungkin nyonya lupa tuan muda" ucap Bi Dijah tersenyum.
"Ya sudah, bibi lanjutin kembali saja pekerjaannya " ucap Louis.
"Baik tuan muda" sahut Bi Dijah dan bergegas ke dapur untuk mencuci peralatan masak yang kotor.
Louis memutuskan sarapan di kamar. Dia membawa sebagian makanan ke kamarnya. Saat memasuki kamarnya dia sudah tak melihat lagi Zahira meringkuk di atas tempat tidur, sepertinya sang istri sedang berada di kamar mandi, mengingat terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Sambil menunggu Zahira, Louis lalu menelpon ibunya untuk menanyakan kondisi ayahnya. Saking asyiknya menelpon, Louis tak menyadari Zahira sudah duduk di sampingnya. Namun indra penciumannya mampu mengendus aroma sampo sosok wanita yang sedang duduk di sampingnya.
Louis pun mengalihkan pandangannya dan tersenyum melihat wajah cantik Zahira tampak berseri-seri plus merona pagi ini.
"Sudah dulu ma, nanti aku telpon lagi" ucap Louis tanpa mengalihkan pandangannya dari seseorang yang sudah memenuhi hati dan pikirannya.
"Selamat pagi sayang" ucap Louis dengan tatapan hangatnya sambil mengelus lembut pipi Zahira.
"Emm pagi. Siapa yang menyiapkan semua ini, Louis?" tanya Zahira dengan kening berkerut.
"Bi Dijah, pelayan di rumah orang tuaku. Oma yang mengutusnya untuk bekerja di sini mulai hari ini." jelas Louis memberitahunya tanpa ada yang ditutupinya.
"Ooh, aku pikir kau yang menyiapkan semua ini" ucap Zahira sambil menepuk pundaknya.
"Tadinya begitu, cuma Bi Dijah sudah menyiapkan sarapan untuk kita, batal kan jadinya" ucap Louis tertawa kecil membuat Zahira kembali memukul pelan pundaknya.
Louis begitu gemas melihat tingkah Zahira, dia pun langsung memeluk tubuh istrinya.
"Sayang, jangan menggodaku pagi-pagi. Apa kau tidak ingin kejadian semalam terulang kembali" ucap Louis menyeringai dan sengaja menggoda istrinya. Alhasil membuat wajah Zahira memerah dan kembali mendaratkan satu pukulan di pundaknya.
Louis hanya mampu tergelak tawa, hingga akhirnya mereka sarapan bersama setelah melewati drama kecil pagi ini.
"Minggu depan jadwal persidangan pertama ibu tirimu. Kau harus datang menghadirinya sebagai korban" ucap Louis memberitahu setelah mereka selesai sarapan. Zahira hanya mengangguk sambil menghela nafas berat.
*
*
*
Bersambung.....