Xin Lian, seorang dukun terkenal yang sebenarnya hanya bisa melihat hantu, hidup mewah dengan kebohongannya. Namun, hidupnya berubah saat seorang hantu jatuh cinta padanya dan mengikutinya. Setelah mati konyol, Xin Lian terbangun di dunia kuno, terpaksa berpura-pura menjadi dukun untuk bertahan hidup.
Kebohongannya terbongkar saat Pangeran Ketiga, seorang jenderal dingin, menangkapnya atas tuduhan penipuan. Namun, Pangeran Ketiga dikelilingi hantu-hantu gelap dan hanya bisa tidur nyenyak jika dekat dengan Xin Lian.
Terjebak dalam intrik istana, rahasia masa lalu, dan perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka, Xin Lian harus mencari cara untuk bertahan hidup, menjaga rahasianya, dan menghadapi dunia yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah dia bayangkan.
"Bukan hanya kebohongan yang bisa membunuh—tapi juga kebenaran yang kau ungkap."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seojinni_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Malam Yang Panjang
Suasana di dalam pondok terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena angin malam yang menyelinap melalui celah jendela, tapi karena keheningan aneh yang menggantung di udara.
Xin Lian dan Tianlan berdiri di depan ranjang yang sama, seperti biasa. Seharusnya ini bukan masalah besar—mereka sudah sering tidur bersama dalam perjalanan ini. Namun malam ini… ada sesuatu yang berbeda.
Xin Lian melirik Tianlan dengan ekor matanya. Pria itu tetap sama—dingin, teguh, tak tergoyahkan. Namun setelah percakapan tadi dengan Bai Xue, berbagi ranjang dengannya tiba-tiba terasa lebih… berbahaya.
"Kultivasi ganda… penyatuan energi… membangun koneksi yang lebih dalam…"
Xin Lian mengerjap cepat, lalu menggeleng. Tidak! Tidak! Tidak boleh berpikir ke arah sana!
Dengan gerakan setengah kaku, ia naik ke ranjang, lalu berbaring di sisi yang lebih jauh dari Tianlan. Biasanya, dia langsung meringkuk nyaman di sebelah pria itu, menyandarkan kepalanya di dada Tianlan, atau setidaknya menyentuh lengannya. Tapi kali ini…
Dia menarik selimut, membungkus dirinya rapat-rapat seperti kepompong.
Tianlan, yang sudah berbaring dengan santai, meliriknya sekilas. "Kenapa kau begitu kaku?" tanyanya datar.
Xin Lian berdeham. "Aku hanya… dingin. Selimut ini sangat nyaman."
Tianlan menaikkan sebelah alis. "Kau selalu tidur dengan memelukku, tapi sekarang kau tiba-tiba menggulung diri seperti itu?"
Xin Lian tersedak udara sendiri. Dasar pria dingin! Sejak kapan dia memperhatikan hal seperti ini?!
"Aku… aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru," jawabnya cepat.
Tianlan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Xin Lian dengan ekspresi yang sulit ditebak. Detik demi detik berlalu dalam keheningan.
Lalu…
Tanpa peringatan, Tianlan menarik pergelangan tangannya dan dengan mudah menyeretnya lebih dekat.
Xin Lian nyaris menjerit. "Apa yang kau lakukan?!?!"
Tianlan menatapnya dengan datar. "Kau terlalu jauh."
"Lho?! Lho?! Memangnya kenapa kalau aku jauh?!"
"Kau akan gelisah sepanjang malam dan akhirnya memelukku juga."
Xin Lian membeku. Bajingan ini!!
Tianlan, masih dengan ekspresi tanpa dosa, menepuk bahunya pelan. "Tidurlah."
Xin Lian ingin memberontak, tapi tubuhnya sudah berada dalam posisi yang familier—berbaring di dada Tianlan, mendengarkan detak jantungnya yang stabil. Hanya saja, kali ini, pikirannya berantakan.
Detak jantung Tianlan terdengar sangat… dekat.
Napasnya terasa hangat di puncak kepalanya.
Lalu, suara Bai Xue terngiang di kepalanya.
"Kau dan pria itu terikat kutukan hidup mati."
Xin Lian menutup matanya rapat-rapat. Sialan.
Malam ini akan sangat panjang.
***
Hening.
Hanya suara napas mereka yang terdengar samar di ruangan. Api lentera di sudut kamar bergetar pelan, memantulkan cahaya redup ke dinding kayu yang dingin.
Xin Lian tidak bisa tidur. Sial. Biasanya, dia langsung terlelap begitu menyandarkan kepalanya ke dada Tianlan. Tapi sekarang?
Kultivasi ganda.
Kutukan hidup mati.
Membangun koneksi yang lebih dalam.
Bai Xue, kau tua bangka, kenapa harus mengatakan hal-hal aneh sebelum tidur?!
Xin Lian menggeliat pelan, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman tanpa harus terlalu dekat dengan Tianlan. Tapi seberapa jauh pun dia berusaha menjauh, pria itu tetap seperti magnet.
Tianlan, yang matanya masih terpejam, tiba-tiba bersuara, "Kau gelisah."
Xin Lian langsung membeku. "A-aku tidak gelisah."
Tianlan akhirnya membuka matanya, menatapnya dengan tenang. "Lian."
Xin Lian menelan ludah. "Apa?"
Tatapan Tianlan tetap datar, tapi ada sesuatu di sana—seperti… pemahaman. Seolah dia tahu persis apa yang berkecamuk dalam kepalanya.
"Kau berpikir tentang perkataan Bai Xue."
Xin Lian hampir tersedak. "Aku tidak!"
Tianlan tidak menjawab, hanya menatapnya lebih lama.
Diam-diam, Xin Lian panik. Sial, dia pasti tahu! Pria ini mungkin pendiam, tapi dia bukan bodoh!
"Aku hanya…" Xin Lian berdehem, berusaha mempertahankan martabatnya. "Aku hanya merasa… suasana di sini terlalu sepi!"
Tianlan menatapnya sejenak sebelum mengangguk pelan. "Aku mengerti."
Xin Lian sedikit lega. Bagus, dia percaya—
Tianlan tiba-tiba menariknya lebih dekat.
Xin Lian membelalak. "Tianlan!?"
"Agar kau tidak merasa kesepian," katanya, datar seperti biasa.
Xin Lian hampir meledak. Bajingan ini!
Sekarang, wajah mereka hanya berjarak beberapa jari. Napas Tianlan terasa hangat di pipinya, detak jantungnya stabil, tapi kehadirannya begitu mendominasi.
Xin Lian bisa merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sial. Sial. Sial.
"Eh… Tianlan, kau tahu, aku baik-baik saja kok. Tidak perlu—"
"Apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanyanya tiba-tiba.
Xin Lian terdiam.
Ia membuka mulut, hendak menjawab, tapi kata-kata seakan menguap dari pikirannya.
Tidak nyaman?
Jika dia berkata 'iya', maka Tianlan mungkin akan menjauh.
Tapi… jika dia berkata 'tidak'…
Berarti dia mengakui kalau dia nyaman dipeluk seperti ini?!
Xin Lian buru-buru mengalihkan pandangannya, wajahnya semakin panas. "Aku… aku hanya belum mengantuk!"
Tianlan menatapnya sejenak, lalu tanpa peringatan, dia menutup matanya kembali. "Baiklah."
Xin Lian terdiam.
Tunggu, dia langsung tidur begitu saja?!
Sementara dia masih berjuang dengan pikirannya yang berantakan, pria ini bisa tidur dengan damai?!
Brengsek.
Xin Lian menggembungkan pipinya, merasa kalah dalam pertempuran ini. Akhirnya, dia hanya bisa mendesah pelan, menyerah pada nasibnya sendiri.
Dengan hati-hati, dia merilekskan tubuhnya, membiarkan kepalanya bersandar di dada Tianlan seperti biasa.
Tianlan mungkin sudah terlelap, tapi Xin Lian masih terjaga, pikirannya melayang-layang dalam kebingungan.
Malam ini benar-benar terasa terlalu panjang.