aku tidak tahu apakah pernikahanku akan berjalan sempurna atau tidak...
aku juga tidak tahu apakah aku mampu melewati pernikahan ini hingga akhir atau tidak...
hanya Tuhanlah yang tahu akhir kisah cinta pernikahanku ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan
Terlihat Malik berlarian kecil ke arah Alishba Rayaz.
Malik menenteng sekotak bungkusan di tangannya ketika dia menghampiri istri Sulaiman itu.
"Alishba...", panggilnya dengan nafas terengah-engah.
"Rupanya kamu Malik, kapan datang ?" tanya Alishba sembari tersenyum manis.
"Baru saja, aku datang kesini, dan aku baru sampai", sahut Malik.
"Oh, iya", kata Alishba seraya tertawa renyah.
"Aku punya sesuatu untukmu, kau tahukan kalau aku pernah bercerita padamu bahwa ibuku sangat suka kue buatan toko Hemeti", ucap Malik.
"Ya, aku masih mengingatnya ceritamu itu", kata Alishba.
"Nah, hari ini aku kebetulan membawakanmu sekotak kue dari toko Hemeti dan aku sengaja memesan kue dengan bahan-bahan khusus sesuai idemu dulu", ucap Malik.
Malik mengangkat sekotak bungkusan di tangannya kepada Alishba Rayaz, dia tersenyum simpul ketika memperlihatkan bungkusan itu.
"Aku meminta pada penjual kue di toko Hemeti, untuk membuatkanku kue dengan bahan khusus sebagai bahan eksperimen pertama yang nantinya kue pesananku ini akan aku pesan lagi buat ibuku", lanjutnya serius.
"Dan kamu bermaksud menjadikanku sebagai obyek pertama kalinya, untuk mencicipi kue berbahan khusus ini", kata Alishba seraya melirik ke arah kotak kue yang masih terbungkus plastik itu.
"Tepat sekali !" sahut Malik dengan penuh semangatnya lalu tersenyum lebar.
"Kalau begitu, aku terima kue ini, dan kuucapkan terimakasih atas pemberiannya, Malik", kata Alishba.
"Sama-sama...", sahut Malik dengan anggukkan kepala ringan.
"Terimakasih sekali lagi kuucapkan", kata Alishba kemudian meraih bungkusan berisi kotak kue dari tangan Malik seraya tersenyum manis.
"Apa kamu akan mencobanya ?" tanya Malik.
"Oh ?!" ucap Alishba tersentak kaget seraya memperhatikan bungkusan di tangannya.
"Ya, kalau kamu mau mencicipi kue itu, setidaknya kamu bisa membagikan kue berbahan khusus itu kepadaku", kata Malik malu-malu.
Alishba langsung memahami maksud dari ucapan Malik kemudian tertawa pelan.
"Baiklah, kita cicipi rasa kue berbahan khusus ini bersama-sama, kupikir kue ini buatku semua, Malik", kata Alishba.
"Yah, memang, tapi aku ingin sekali mencoba rasa kue ini sebagai pertimbangannya maka aku memberikan kue berbahan khusus ini kepadamu", ucap Malik.
"Supaya aku bersedia membagikan kue ini denganmu dan mengutarakan pendapatku dari rasa kue khusus ini kan, Malik", kata Alishba.
"Ya, seperti itulah kira-kira maksud dari ucapanku", sahut Malik seraya menggaruk-garuk kepalanya.
"Ayo, kita coba rasa kue ini bersama-sama !" ajak Alishba.
"Dimana kita akan mencicipi kue rasa baru ini, Alishba ?" tanya Malik seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling koridor panjang yang sepi.
Hampir tidak tersedia ruangan buat duduk disekitar jalan koridor, hanya ada dua kursi dengan satu meja di bawah lukisan yang ada di sudut jalan koridor ini.
Alishba turut memperhatikan area koridor yang sepi, pandangan matanya tertuju tepat kepada dua kursi dengan satu meja itu.
"Kita duduk disana saja !" kata Alishba.
Alishba mengarahkan jari telunjuknya ke arah dua kursi kayu berukuran sedang dengan satu meja ditengah-tengah kursi.
"Mmm, baiklah..., kita duduk disana saja, Alishba", sahut Malik setuju.
"Mari kita kesana", kata Alishba dengan tersenyum manis.
"Jangan menunda waktu lagi, dan kita habiskan saja kue rasa baru ini, Alishba", ucap Malik penuh semangat.
"Ya, Malik", sahut Alishba.
Alishba hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah meja kayu ditengah-tengah dua kursi.
Tiba-tiba suara menghentikan laju langkah kaki Alishba saat dia dan Malik akan melanjutkan langkah mereka.
"Kalian akan pergi kemana ?" terdengar suara dari arah belakang berkata.
Sontak perhatian Alishba teralihkan ke arah suara yang menyapanya dan Malik.
Telah berdiri sosok laki-laki yang mendominasi Alishba selama ini, seorang pria tampan dengan garis wajah tegasnya yang selalu mengintimidasi dirinya sejak Alishba Rayaz menikahi seorang keturunan konglomerat dari keluarga Harmam.
"Sulaiman, kenapa kamu ada disini ?" tanya Alishba agak heran.
"Kenapa katamu, Alishba ?" sahut Sulaiman dengan sorot mata dingin.
"Ya, jika kamu tidak keberatan karena aku bertanya hal ini kepadamu", kata Alishba.
"Aku berada disini sebab ini adalah rumah tinggalku, dan sah-sah saja buatku, mau kemana saja yang aku inginkan", ucap Sulaiman.
Sulaiman lantas menyorot tajam ke arah Malik, sahabat karibnya yang dia hormati.
"Dan kau, kenapa disini ?" tanya Sulaiman kepada Malik dengan nada dingin.
"A-aku hanya berkunjung kemari, kebetulan saja kami menjadi dekat karena satu hobi yang sama", sahut Malik.
"Sejak kapan kalian memiliki kesamaan hobi, kupikir kamu tidak terlalu suka mengurusi kehidupan pribadi seseorang, Malik", kata Sulaiman dingin.
"Kami kebetulan bertemu di toko Hemeti secara tidak sengaja dan kebetulan juga, kami menggemari rasa kue-kue dari toko Hemeti", sahut Alishba menyela pembicaraan.
Sulaiman semakin menatap dingin ke arah Malik, lesung pipinya terlihat jelas membekas.
Malik segera tanggap dengan reaksi Sulaiman yang terlihat menaruh rasa cemburu pada dirinya karena dekat dengan Alishba Rayaz, istri Sulaiman.
Namun Malik bukannya meredakan situasi panas ini, tapi dia justru memilih membangkitkan rasa cemburu di hati Sulaiman semakin kian bertambah kepada dirinya.
"Yah, wajar saja jika kami menjadi dekat karena kesamaan hobi makanan dan toko yang kami kunjungi juga sama", kata Malik.
Malik dengan sengaja merangkul pundak Alishba sehingga membuat ekspresi wajah Sulaiman berubah keruh.
"Tidak suka kami dekat dan menjadi teman baik ?" tanya Malik.
Sulaiman menggemeretakkan gerahamnya saat Malik secara sengaja merangkul istrinya dengan membuat kesal dirinya.
"Tidak suka, katamu ? Haruskah pertanyaan mu itu memerlukan jawaban dariku, Malik ?" sahut Sulaiman.
Sulaiman menghela nafas panjang seraya mendongak ke atas kemudian menatap kembali kepada Malik beserta Alishba.
"Menyingkirlah darinya, Malik ! Lepaskan dia dan pergilah dari sini karena suasana hatiku sedang tidak enak saat ini !" perintah Sulaiman.
"Kau sedang tidak enak hati atau tidak enak badan sebenarnya, kurasa tidak masalah kalau kami hanya bercakap-cakap sembari menikmati kue dari toko Hemeti", kata Malik.
"Aku sudah katakan bahwa aku tidak terlalu suka kue manis atau apalah itu karena saat ini, aku sedang tidak senang saja", sahut Sulaiman.
"Kebetulan aku baru saja membeli sekotak kue manis berbahan khusus yang ingin aku bagi bersama Alishba pada hari ini, tapi sayangnya, kamu keburu datang, Sulaiman", sambung Malik.
Malik semakin dengan sengaja menggoda Sulaiman yang terlihat kesal sejak kedatangannya tadi.
"Ayolah, sobat ! Mari kita cicipi kue dari toko Hemeti ini ! Sekalian kita saling bersilahturahmi setelah lama tidak bertemu !" ajak Malik.
"Kubilang lepaskan dia, Malik !" sahut Sulaiman dengan suara tingginya.
Malik terdiam seraya menatap ke arah Sulaiman yang terlihat marah.
Untuk menghindari kemarahan Sulaiman semakin menjadi-jadi maka Malik memutuskan mengalah saja, dia segera melepaskan rangkulan tangannya pada pundak Alishba Rayaz.
Malik berjalan menjauh dari sisi Alishba sembari menundukkan pandangannya.
"Pergilah kembali ke kamarmu, Alishba !" pinta Sulaiman seraya merendahkan pandangannya.
Alishba melihat ekspresi wajah Sulaiman yang berubah lain dari biasanya langsung memahami jika suaminya itu sedang didera rasa cemburu.
"Tapi aku masih ingin menemui ibu kepala pelayan karena aku akan memberitahukan maksudku kepadanya", sahut Alishba.
"Biar aku yang memberitahukan keinginanmu itu pada kepala pelayan, dan segeralah kembali ke kamarmu sekarang, Alishba", kata Sulaiman.
"Mmm... ?!" gumam Alishba hendak melanjutkan ucapannya.
Namun Sulaiman langsung mencegah Alishba berbicara lagi.
"Jangan membantah lagi, segeralah kembalilah ke kamar tidurmu karena aku akan menyusulmu setelah ini, Alishba !" kata Sulaiman.
Alishba tidak ingin berdebat lagi dengan Sulaiman, dia memilih mengalah kepada suaminya dan berjalan kembali ke arah kamar tidurnya.
"Tunggu !"
Tiba-tiba Sulaiman memanggilnya lagi sehingga Alishba terpaksa menghentikan langkah kakinya.
"Kemarikan kotak kue itu, biar Malik yang memakannya sendiri kue berbahan khusus itu, Alishba !" kata Sulaiman.
Dengan cepatnya, Alishba meninggalkan Sulaiman tanpa mendengarkan lagi perintah suaminya itu dan membawa pergi sekotak kue pemberian Malik menuju kembali ke kamar tidurnya sehingga membuat Sulaiman diam tertegun, saat laki-laki terhormat itu melihat Alishba berlalu pergi dari hadapannya tanpa memperdulikan ucapannya.