Arsen Winston, seorang lelaki berhati beku, menyimpan sisi kelam di balik ketampanan yang memukau. Ia bagaikan musim dingin yang mematikan bunga—dingin, keras, dan tanpa belas kasih. Pernikahan yang menjeratnya bukanlah pilihan hati, melainkan takdir yang mengikat dengan rantai yang tak terlihat.
Amey Agatha, gadis berparas jelita dengan jiwa secerah mentari pagi, tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang kini menjadi pendamping hidupnya bukanlah sosok penuh kasih yang ia bayangkan. Di balik senyum Arsen yang memikat, tersembunyi tabiat yang tajam dan menyakitkan, seperti duri yang melukai tanpa terlihat.
Takdir kejam menyingkap rahasia yang tak terduga—calon suami yang ia nantikan telah tiada, digantikan oleh sosok kembar bernama Arsen. Maka, Amey harus belajar menerima kenyataan pahit, berjalan di sisi seorang pria yang wajahnya serupa, tetapi jiwanya asing dan menakutkan.
.
.
©Copyright by Stivani, Agustus 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Perdana
Gedung pencakar langit yang menjulang hampir melambung awan putih terlihat sangat ramai. Hari itu merupakan hari besar dan bersejarah bagi WS Group. Di mana Perusahaan induk WS Group telah resmi dipindah alihkan ke Indonesia.
Para karyawan kantor mengadakan penyambutan untuk kedatangan dewan direksi petinggi perusahaan dari mantan perusahaan induk WS Group yang ada di New York.
Kulit putih bertubuh tinggi itulah ciri-ciri karyawan yang dipindah tugaskan ke Indonesia. Mereka semua
di juluki mesin raksasa karena selain cakap mereka juga memiliki postur tubuh yang begitu tinggi dari karyawan-karyawan orang Indonesia.
Michael memang sengaja mendatangkan beberapa anak buahnya dari mantan perusahaan induk yang telaten dalam bekerja. Mereka semua merupakan orang-orang kepercayaan Arsen. Atas kerja kerja keras mereka sehingga membawa WS Group dalam puncak kesuksesan. Tentunya di bawah pengawasan presdir WS Group, Arsen Winston.
Beberapa patah kata dari Arsen menjadi pembuka atas acara peresmian sekaligus menjadi pesta penyambutan itu. Tak lupa juga sang istri yang ikut menghadiri acara itu. Mereka tampak serasi di pandangan publik. Amey dan Arka sangat pintar melakoni peran mereka.
Setelah selesai menyampaikan kata sambutan singkat, Arsen menuju keluar ruangan. Ia terlihat gelisah. Amey memperhatikan perilaku suaminya yang sedari tadi mondar-mandir sembari memegang dagunya. Raut Arsen memancarkan ekspresi pias.
"Ars, ada apa denganmu?" tanya Amey.
Arsen menghentikan langkahnya. Ia menatap Amey yang melemparkan pandangan bingung ke wajahnya. "Aku sedang menunggu Jayden," tutur Arsen.
"Memangnya Jay ke mana?"
"Justru itu, aku sudah menghubunginya namun tidak ada jawaban. Kalau Kai sih ada urusan dengan koleganya. Dia berangkat ke Jepang, tapi sebentar malam dia sudah tiba di Jakarta," jelas Arsen.
"Terus Jay?"
"Jayden tidak ada kabar dari kemarin."
"Apa dia tahu jika hari ini adalah hari peresmian WS Group induk di Jakarta?"
"Hmm, aku sudah memberitahunya. Dia juga bukan tipe orang yang melupakan acara penting seperti ini. Tapi entah kenapa dia tidak bisa dihubungi."
"Mungkin Jay lagi sibuk, Ars." Amey mencoba menenangkan Arsen yang terlihat gelisah.
"Jika Jay tidak datang maka, hubungan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan Quan Lien Group akan rusak."
"Apa tuan Liang sudang ada di sini?"
"Hmm, dia tiba tadi malam. Dia nginap di hotel Paradise."
"Ohya?"
Arsen mengangguk.
Liang Gie merupakan presdir di perusahaan Quan Lien Group yang berasal dari Taiwan. Sudah setahun Perusahaan Quan Lien bekerja sama dengan perusahaan mobil milik Jayden.
Presdir Quan Lien mengadakan janji dengan CEO perusahaan mobil yang tak lain adalah Jayden untuk bertemu di acara peresmian perusahaan induk WS Group yang baru saja dipindah alihkan di negera Zamrud Khatuliswa.
Siapa yang dapat menyangka jika Jayden terlalu tergila-gila dengan Nensi sehingga ia lebih memilih untuk pergi bertemu dengan Nensi karena itu merupakan pertemuan perdana bagi mereka.
Sedangkan di gedung WS Group seorang pria yang merupakan pemimpinnya, sedang kawatir jika Jayden tidak muncul di acara itu. Jika itu terjadi maka, Quan Lien Group akan memutuskan kerja sama dengan perusahaan Jayden, dan itu dapat mengakibatkan pecahnya hubungan baik antara Tuan Liang dan Arsen.
Dampak dari ketidak-profesionalan Jayden akan berakibat buruk bagi WS Group. Mengapa? Karena Liang Gie juga merupakan penanam saham di perusahaan yang di kepalai oleh Arsen. Jika Quan Lien menarik sahamnya, maka Si Pria gila kerja itu tidak akan memaafkan perilaku sahabatnya itu.
"Arsen sebaiknya kau kembali ke acara, aku melihat Tuan George mencarimu," tutur Amey.
"Hmm, kau benar." Arsen mengiyakan ucapan Amey dan segera masuk ke dalam.
Ia membuka lengannya untuk digandeng Amey. Keduanya masuk ke dalam untuk bertemu kolega Arsen yang sedari tadi mencarinya.
***
Matahari yang sudah berada di atas kepala tidak membuat pria bule itu lelah menunggu kedatangan sosok Nensi yang ditunggu-tunggunya. Jayden dan Nenek Soffy berjanji akan bertemu tepat pukul sembilan pagi. Tapi nyatanya Jay sudah menunggu selama hampir tiga jam namun Nensi tidak kunjung datang.
Jayden menatap jam tangannya yang hampir menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Sudah berapa gelas jus yang dihabiskan pria itu hanya untuk menghilangkan kegabutannya menunggu sang Nensi.
Tepukan yang cukup keras mendarat dibahu Jayden. Reflek Jay menghadapkan wajahnya ke arah belakang, melihat siapa yang menepuk pundaknya. Jayden melonjak kaget saat melihat Soffy yang tengah berdiri sembari melemparkan senyuman lebar yang membuat Jay tidak bergeming dari tempat duduknya dengan mulut menganga.
"Hay Handsome. Maaf membuatmu menunggu," tutur Soffy membuka kacamata hitamnya dengan kedipan mata yang centil.
"G--grandma, ke-kenapa ada di sini?" ucap Jayden gelagapan.
"Ya ketemu kamulah, ganteng!" mencolek dagu Jayden.
Jay terperanjat. Ia terlihat gila saat bertemu dengan Soffy. Pasalnya ia belum tahu jika Nensi dan Soffy adalah orang yang sama. Jay mencoba menenangkan diri. Ia menarik napasnya panjang dan membuangnya secara perlahan.
"Pasti kamu sudah lama menunggu ya? Hmm, maafkan aku. Aku kebingungan mencari sepatu hak tinggiku. Dan juga aku sedikit merias diri agar kau tidak ilfil melihat wajahku," tutur Soffy malu-malu.
"Maaf Grandma, aku sebenarnya tidak sedang menunggumu. Aku ... Aku sedang menunggu seseorang," ucap Jay ragu-ragu.
"Siapa lagi yang ingin bertemu denganmu?"
"Teman saya Grandma, namanya Nensi," jawab Jay lirih.
Seketika Soffy berpikir, siapa lagi gadis bernama Nensi itu yang berani bertemu dengan lelaki milik Soffy. Nenek itu mengerutkan kening. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi masam.
Plakkkk!
"Kurangasem!" menepuk meja itu dengan sangat keras.
Jayden melonjak saat Soffy tiba-tiba naik pitam.
"Dasar menantu sialan! Apa Arsen yang memberitahumu nama Nensi itu, hah?"
"Loh, kok Nenek tahu? Apa Nenek juga mengenal Nensi?"
Soffy menggertakkan rahangnya. Ia mengepalkan tangan sembari membesarkan matanya menatap Jay yang menciut ketakutan di depannya.
"Hey bule! Kau tahu siapa Nensi?" tanya Soffy geram.
"Iya Nek, gadis cantik yang dikenalkan Arsen padaku." Jayden menjawab dengan polos, dan itu membuat tanduk Soffy keluar.
"Nensi itu kepanjangan dari Nenek Sihir! Dan menantu tengik itu yang selalu memanggilku dengan sebutan itu! Dan kau mengira aku ...?"
Jayden lagi-lagi terperanjat bukan kepalang. Ia sangat kaget saat mengetahui kebenaran, ternyata Nensi itu adalah Soffy. Ekspetasi seminggu yang tergambar dalam imajinasi Jayden mengenai Nensi adalah wanita cantik semi-semi Korea, buyar begitu saja!
Ohh GOSHH! Selamatkan aku dari singa yang mengamuk ini! Arsen sialan! Dia berhasil mengerjaiku. Ternyata Nensi adalah Nenek Sihir! ucap Jay dalam hati.
Jay menatap kembali jam tangannya, penantiannya selama tiga jam zonk! Ia rela-rela membatalkan pertemuan dengan koleganya hanya untuk bertemu dengan gadis impian yang ternyata adalah wanita yang selama ini dihindarinya karena kecentilan yang kebangetan.
Ekspetasi tidak sesuai dengan realita. Gambar Nensi yang seksi dan membahana badai menggelagar itu seketika hancur berkeping-keping dalam benaknya.
"Cecunguk sialan! Awas saja jika bertemu denganku, akan ku kuliti menantu gilaku itu!" gemam Soffy yang memerah menahan emosi.
"Nek, permisi sebentar, aku harus ke toilet," pamit Jayden.
"Tidak bisa! Kau akan kabur. Kau kira aku tidak tahu, hah?" tersenyum licik, membuat Jay ketakutan menatap wajah Soffy.
Benar-benar menyeramkam, pantas saja Arsen menamainya Nensi. Tapi sumpah Arsen memang keterlaluan mengerjaiku. Aduhh, bagaimana caranya agar aku bisa keluar hidup-hidup dari Singa Betina ini?
Jay mencari alasan agar ia bisa lolos dari genggaman Soffy. "Nek, aku sudah menunggu selama tiga jam, dan aku butuh buang air kecil. Sudah tiga gelas minuman yang aku habiskan, dan itu membuat aku ingin ke toilet."
Soffy melihat ketiga gelas kosong yang berbaris rapi di atas meja. Ia pun mengiyakan Jay untuk ke toilet. "Baikalah."
Jay bernapas legah saat Soffy mengiyakannya. Jay beranjak dari duduknya dan dengan langkah yang cepat menuju ke toilet. Tapi tiba-tiba ia berlari menuju pintu keluar, Soffy melihat Jay telah kabur. "Hey Sayang! Kembalilah padaku? Mau ke mana kau? Hey... Mayyy Braderrrr! Oy ... Bule sialan!" teriak Soffy lantang, membuat orang-orang meliriknya dengan tatapan aneh.
"Ngapain menatapku seperti itu, hah? Pengen ditabok?" melepas sepatunya dan hendak melemparkan pada para pelanggan itu.
To be continued ...
**LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘
Jangan pelit-pelit jempol yaaa kakak-kakak 🤗🤗 Vote juga biar karya ini bisa masuk rengking wkwkw ngarep banget aku 😆 mustahil 😌**