NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pintu lift itu kini tertutup dengan dentingan yang terdengar lembut, begitu lampu indikator bergerak turun, Dareen pria yang sedari tadi terus diam sembari menahan kekesalan itu harus limbung.

Tubuhnya yang jangkung itu mendadak kehilangan keseimbangan hingga Dareen harus bertumpu pada dinding lift yang dingin, napasnya memburu, seolah terdapat malaikat maut yang akan mengambil nyawanya, dasi yang semula rapi itu kini sudah longgar.

Jax, pria itu menatap sang tuan dengan hati-hati, bibirnya berkerut, "Tuan Anda tidak apa-apa?" Tanyanya dengan sigap, mencoba memegang lengan Dareen.

Dengan kasar Dareen menepis jemari Jax, ​"Jangan sentuh aku!" Bentaknya dengan suara yang bergema di ruang sempit lift, serak dan penuh tekanan.

Merenggut dasi hingga simpulnya rusak, Dareen meraup oksigen dengan rakus, "Oksigen di gedung Algio ini, kenapa sedikit sekali? Jax, apa pria itu sengaja menyedot udara di sini agar aku mati lemas?"

Lihat sekarang, pria berwajah tampan dengan aura dominasi itu mulai melantur tak jelas, berkata Algio menyedot oksigen? Bukankah itu sebuah alasan yang sama sekali tak masuk akal?

Sedangkan Jax hanya mampu mengerutkan kening linglung sekaligus heran, "Tuan, ada apa? Apakah Anda merasa seperti sakit hati? Jantung terasa di remas?"

Anggap saja selain menjadi asisten, Jax juga memiliki ganda profesi sebagai dokter, mungkin ia besok juga akan menjadi dukun, sama seperti Max, asisten Bryan yang memiliki lebih dari satu profesi.

Netra Dareen kini langsung melirik sinis Jax, wajahnya sudah memerah madam, "Kau ingin berkata bahwa aku cemburu begitu? Bajingan kau Jax! Apa kau tak menginginkan bonus akhir bulanmu, huh?"

"Tidak Tuan, tidak. Mana mungkin saya tidak menginginkan bonus akhir bulan saya." Jax berdecak kecil, bibirnya sudah membelot tak semangat, mengapa harus membawa-bawa bonus akhir bulan?

Boss sialan! Sudahlah memiliki sifat paranoid, suka mengancam! Jika saja Jax memiliki keberanian, ia ingin berteriak begitu kencang jika sang tuan sangat menyebalkan.

"Maka diam! Bibirmu itu perlu dikunci, kau sungguh cerewet, ganti gender sana! Kau lebih baik shopping dari pada menjadi asistenku!" Teriak Dareen tak senang.

Jax hanya meneguk ludah kasar, dalam hati menurutnya Dareen lah yang cerewet, bukan dirinya sendiri. Tunggu-tunggu? Apa mungkin penyakit paranoid Dareen akan kembali kumat?

"Apa anda membutuhkan obat, Tuan? Saya pikir paranoid Anda akan kambuh." Jax berseru sangat pelan dan berhati-hati, takut apabila tuannya itu mengamuk.

Dan benar saja, pendengaran Dareen yang begitu tajam langsung mendeteksi, sorot netra tajamnya semakin dingin, bahkan tangan itu sudah mengepal seperti siap memberi bogeman mentah.

"Ka-u! Apa yang kau katakan tadi heh!?" Dareen melotot, sekarang wajahnya sudah seperti malaikat pencabut nyawa.

Spontan Jax menggelengkan kepalanya takut bukan main, bahkan pria itu sampai mundur dua langkah menjauhi tubuh sang tuan, demi Tuhan ekspresi Dareen membuatnya ketar-ketir sendiri.

Tak ingin membuat nyawa serta gajinya terancam, Jax lebih memilih diam tak ingin berkata-kata lagi cicilan mobil bmwnya belum lunas, ia masih harus bersabar menghadapi sifat paranoid Dareen.

Ketika lift terbuka, Dareen langsung keluar, menuju mobilnya yang terpakir di luar pintu utama perusahaan, kening pria itu reflek mengerut, kedua tangannya berkecak pinggang tiba-tiba.

"Jax." Panggil Dareen pelan.

Mendengar namanya dipanggil, Jax menutup mata sejenak bibirnya tertarik membentuk senyuman, "Saya di sini, Tuan." Jawabnya.

Tebak, apalagi yang salah di mata sang tuan kali ini?

"Mobil dinasku jelek sekali! Lihat warnanya yang sudah memudar itu! Menjijikkan, aku akan naik taksi." Ketus Dareen langsung pergi begitu saja.

Jax mengerjabkan netranya panik, apakah ia harus mengizinkan? Atau menolak? Namun melihat Dareen yang sudah minggat begitu saja membuat Jax menghela nafas, pria itu akhirnya memilih mengikuti taksi sang tuan menggunakan mobil dinas perusahaan.

"Tuan, mengapa jika paranoid anda kambuh begitu menyusahkan? Nyonya Afnan, anda sudah berhasil, sayang sekali Tuan Dareen enggan mengakui." Keluh Jax di dalam mobil.

Begitu sampai di kantor pusat maskapainya sendiri, Dareen masuk begitu saja tanpa membayar jasa taksi, hampir saja akan terjadi percekcokan sebab pria itu merasa bahwa ia tak perlu membayar untung saja Jax datang tepat waktu.

"Sir, mohon maafkan Tuan saya, beliau memang sedang dalam perasaan yang kurang baik." Jax menundukan kepala, meringis sembari memberikan uang.

"Ambil kembalian ini sebagai permintaan maaf, Sir."

Driver itu hanya mengangguk, "Rupa tampan, kekayaan fantasis, namun kurang akal!" Sindirnya langsung, dan pergi begitu saja.

Dengan berlarian bagai orang yang tengah dikejar preman, Jax langsung masuk ke dalam perusahaan mengikuti langkah sang tuan yang terlihat begitu lebar, suasana perusahaan kini langsung berubah menjadi suram begitu saja.

"Selamat siang, Tuan Dareen." Sapa salah satu pegawai.

Dareen tanpa menoleh, berkata, "Berisik!"

​Pria itu kini berjalan melewati lorong departemen operasional, seorang manajer muda mendekat dengan map di tangan, bermaksud menunjukkan laporan bulanan.

​"Tuan mohon maaf, ini laporan penggunaan bahan bakar untuk rute domestik-" Pria tampan itu sudah berusaha tetap sopan, dengan senyuman profesional.

​Dareen berhenti, menyambar map itu, dan membacanya hanya selama tiga detik sebelum melemparkannya ke lantai hingga kertas-kertasnya berhamburan.

​"Apa-apaan ini?! Kau sebut ini laporan? Font yang digunakan terlalu kecil, apa kau tengah mencoba menyembunyikan kerugian perusahaan di balik tulisan kerdil ini?!" Teriak Dareen menggema.

​"Tapi Tuan, ini standar-" Belum selesai pegawai itu berucap, Dareen sudah langsung menyambar begitu saja.

​"Jangan membantah, benar-benar tidak kompeten! Kau dipecat! Keluar sekarang juga sebelum aku memanggil keamanan!" Tandas final Dareen.

​Reflek pegawai itu terpaku, wajahnya memucat, sementara para staf lain langsung menunduk dalam, pura-pura sibuk meski tangan mereka gemetar di atas keyboard.

Dareen terus berjalan menuju ruangannya, namun langkahnya terhenti di meja bendaharanya, Velly. Melihat sebuah vas bunga kecil di sana membuatnya tiba-tiba ingin mengamuk.

​"Siapa yang mengizinkan benda ini ada di sini?" Tanya Dareen dengan suara rendah yang mengancam.

​"Itu hanya untuk penyegar suasana, Tuan." Jawab Velly gugup sebab entah mengapa ia merasa bahwa mood tuannya itu memburuk.

​"Penyegar? Kau pikir ini taman bermain? Kantor ini tempat bekerja, bukan tempat bersantai dengan bunga-bunga! Semua staf di lantai ini, potong gaji sepuluh persen selama tiga bulan karena membiarkan suasana kantor menjadi tidak profesional! Dan kau!"

Dareen menunjuk Velly kejam, "Kemasi barangmu, saya tidak butuh orang yang lebih peduli pada estetika bunga daripada efisiensi kerja!"

​Dalam waktu kurang dari satu jam, kantor yang semula tenang itu berubah menjadi sebuah neraka, jika saja pegawai melakukan kesalahan kecil saja mungkin akan dipotong gaji, paling parah dipecat.

Begitu masuk ke ruang kerjanya yang luas, Dareen membanting pintu hingga suara dentumannya terdengar ke seluruh lantai, ia melemparkan tas kerjanya ke atas sofa kulit, lalu mulai mondar-mandir seperti singa yang terluka.

​"Algio tidak kompeten, benar!"

Dareen masih mencoba meyakinkan hatinya bahwa kemarahannya adalah demi profesionalisme, bukan karena rasa panas yang membakar dadanya setiap kali mengingat tangan Algio menyentuh bahu Afnan.

​Pria itu duduk di kursinya, namun setiap sudut ruangan itu mengingatkannya pada aroma parfum Afnan yang tadi sempat menyerang indranya, lantas ia meraih telepon internal.

​"Jax! Masuk!"

​Jax masuk dengan wajah lelah yang sangat jelas, "Ya, Tuan? Siapa lagi yang ingin Anda pecat? Tukang parkir di depan?"

​"Jangan menyindirku!" Dareen memukul meja.

"Cari tahu sejak kapan wanita itu bekerja untuk Algio. Dan pastikan semua aksesnya ke gedung ini diblokir. aku tidak mau melihat orang tidak kompeten berkeliaran di sini!"

​"Tuan, secara hukum dia adalah rekan bisnis Anda sekarang, jika Anda memblokirnya, kerja sama turbin itu batal dan kita rugi jutaan dolar."

Dareen merenggut, pria itu akhirnya memilih diam demi mempertahankan kewarasannya, ia secara mengerjakan laporan yang sempat tertunda, tak ingin berpikir lebih jauh lagi.

1
uby
aku mampierr, ayuks kalo berminat mampir juga silahkan gapapa baca yang penting like🥰😘
uby
Bales nan
uby
mokon do wkwk
Maemanah
good job afnan...bikin Daren prustasi thor ...lanjut thor 👍👍👍♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!