Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Chapter 4
Sore itu, matahari di SMA Garuda lagi terik-teriknya, tapi lapangan basket justru penuh sesak. Suara decit sepatu di lantai semen dan bunyi pantulan bola jadi latar belakang teriakan histeris siswi-siswi yang sengaja nggak pulang demi nonton latihan tim basket sekolah. Dan tentu saja, bintang utamanya adalah Lian.
Lian lari ke sana kemari dengan jersey tanpa lengan yang pamerin otot lengannya yang berkeringat. Setiap kali dia masukin bola ke ring, dia bakal sengaja narik bagian bawah jerseynya buat ngelap keringat di dahi—aksi yang sukses bikin tribun mini di pinggir lapangan heboh.
Mori sebenarnya nggak mau ada di sana. Dia lagi nunggu jemputan di koridor yang emang nghadap langsung ke lapangan. Dia lagi baca buku novel sambil dengerin lagu lewat earphone, tapi suara jeritan cewek-cewek itu bener-bener nembus pertahanan noise-canceling-nya.
"Gila, Lian keren banget hari ini!" seru Jessica yang duduk di samping Mori, sambil sesekali motoin Lian pake HP-nya. "Mor, liat deh, itu teknik layup-nya gila banget!"
Mori nutup bukunya dengan bunyi plak yang lumayan keras. Dia nengok ke lapangan dengan muka yang udah ditekuk. "Apaan sih? Dia cuma lari-lari ngejar bola, Jes. Semua pemain basket juga gitu."
"Ih, beda! Lian itu auranya... duh, nggak kuat gue," timpal Alissa yang juga ikutan gabung.
Mori cuma bisa geleng-geleng kepala. Di matanya, yang dia liat bukan atlet keren, tapi seekor merak yang lagi pamer bulu biar dapet pujian.
Munculnya Alina
Tiba-tiba, permainan berhenti buat istirahat sejenak. Lian jalan ke pinggir lapangan sambil minum air mineral yang langsung disodorin sama beberapa cewek sekaligus. Tapi, ada satu cewek yang paling menonjol. Namanya Alina.
Alina itu populer, cantik dengan gaya yang agak berani, dan dia emang udah lama disebut-sebut punya "hubungan spesial" sama Lian. Dia jalan ngedeketin Lian dengan percaya diri, bawa handuk kecil warna putih.
"Lian, capek ya?" suara Alina cukup manja, terdengar sampai ke tempat Mori duduk.
Lian cuma senyum tipis, senyum yang biasanya dipake buat bikin orang ngerasa spesial padahal dia lakuin itu ke semua cewek. Dia ngebiarin Alina ngelapin keringat di lehernya. Pemandangan itu bikin cewek-cewek lain di tribun panas, tapi Alina malah makin jadi.
Lian, entah gimana caranya, tau kalau Mori lagi merhatiin dari koridor. Dia pengen banget ngerusak ketenangan wajah Mori yang selalu kelihatan "suci" dan nggak terganggu itu. Dia pengen liat Mori cemburu, atau minimal ngerasa kesel.
Tiba-tiba, Alina jinjit dan... CHUP!
Alina mendaratin ciuman di pipi Lian yang masih basah karena keringat di depan semua orang.
Satu lapangan langsung heboh. Suara "Cieee!" dan jeritan patah hati kedengeran di mana-mana. Alina cuma senyum bangga sambil nempel di lengan Lian.
Lian? Bukannya malu atau nolak, dia malah kelihatan makin bangga. Dia nengok ke arah koridor, tepat ke arah mata Mori. Dengan senyum miring paling menyebalkan yang pernah ada, Lian perlahan mengangkat tangannya dan... mengacungkan jari tengah tepat ke arah Mori.
Reaksi yang Nggak Terduga
Jessica dan teman-temannya langsung melongo. "Hah? Itu Lian... dia ngacungin jari tengah ke kita? Atau ke lo, Mor?"
Mori diem sebentar. Dia ngeliat adegan "romantis" di pinggir lapangan itu, terus liat jari tengah Lian yang masih tegak mengarah ke dia. Bukannya nangis, marah, atau cemburu karena liat Lian dicium cewek lain, ekspresi wajah Mori justru berubah jadi sesuatu yang lebih parah.
Mori masang ekspresi seolah-olah dia baru aja ngeliat tumpukan sampah yang udah busuk seminggu di bawah terik matahari. Matanya menyipit penuh kejijikan, bibirnya melengkung ke bawah, dan dia bener-bener kayak orang yang mau muntah saat itu juga.
Ugh.
Mori nggak ngomong apa-apa. Dia cuma nutup mulutnya pake satu tangan, terus dia buang muka dengan gerakan yang sangat dramatis seolah-olah pemandangan Lian dan Alina itu bener-bener ngeracunin matanya.
"Najis," gumam Mori pelan, tapi cukup jelas buat temen-temennya denger.
Mori langsung berdiri, masukin bukunya ke tas dengan kasar, dan jalan ngejauh dari koridor itu tanpa nengok lagi. Dia bener-bener pergi dengan aura "gue nggak sudi liat lo" yang sangat kental.
Ego Lian yang Tergores (Lagi)
Lian yang tadinya ngerasa menang karena berhasil "pamer" depan Mori, langsung ngerasa senyumnya luntur. Dia ngeliat reaksi Mori. Dia nungguin reaksi marah atau setidaknya muka kesel, tapi yang dia dapet adalah muka "ingin muntah".
Itu jauh lebih nyakitin buat ego Lian daripada ditampar sekalipun.
"Lian? Kok bengong?" tanya Alina sambil narik-narik tangan Lian.
"Hm? Oh, nggak apa-apa," jawab Lian pendek. Dia ngelepasin tangan Alina pelan-pelan. Tiba-tiba rasa senengnya dicium Alina tadi ilang entah ke mana.
Jojo yang dari tadi ngeliatin dari jauh nyamperin Lian sambil ketawa kecil. "Li, gue rasa taktik lo salah sasaran deh. Bukannya baper, tuh anak baru malah kayak mau muntah beneran liat lo."
"Diem lo, Jo," desis Lian.
"Lagian lo juga aneh, pake acara ngacungin jari tengah segala. Makin red flag lah lo di mata dia. Mori itu tipikal cewek yang high standards, Li. Recehan kayak gini nggak bakal mempan."
Lian nggak jawab. Dia ngeliatin gerbang sekolah tempat Mori tadi pergi. Di kepalanya cuma ada satu hal: Kenapa dia nggak terpesona? Kenapa dia malah jijik?
Semakin Mori menunjukkan rasa tidak sukanya, semakin Lian merasa tertantang. Tapi kali ini, tantangannya mulai terasa berat. Lian sadar, dia bukan lagi berhadapan dengan cewek yang bisa dibeli dengan senyuman atau drama murah. Mori punya radar yang terlalu kuat, dan setiap langkah Lian justru makin ngebuktiin kalau semua peringatan di kepala Mori itu bener.
Malam Itu di Kamar Mori
Mori lagi bersihin mukanya di depan cermin. Kejadian di lapangan tadi masih kebayang-bayang, bukan karena dia suka, tapi karena dia ngerasa matanya butuh "dicuci".
"Sumpah, itu cowok sakit jiwa ya?" gumam Mori sendiri. "Bisa-bisanya bangga dicium di depan umum terus malah ngacungin jari tengah. Nggak ada keren-kerennya sama sekali."
Mori ngambil ponselnya, terus dia nge-block satu nomor asing yang tadi sempet kirim pesan "P" doang (dia yakin itu Lian dapet dari grup kelas).
"Nggak akan pernah, Lian. Nggak akan pernah gue masuk ke lubang yang sama kayak cewek-cewek itu," tegas Mori.
Dia narik selimut, nyoba buat tidur, tapi di dalem hatinya dia tau... besok di sekolah, Lian pasti bakal bikin ulah yang lebih gila lagi. Dan Mori harus siapin "obat mual" yang lebih banyak buat ngadepin cowok red flag itu.