kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Sang Panglima
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Delta masuk dengan langkah lebar, mengabaikan protokol istana yang mengharuskan setiap orang masuk dengan tenang di hadapan Ratu. Ia langsung menuju sisi ranjang, menatap Penyihir Petir dengan sorot mata menuntut. Kegelisahannya sudah mencapai puncaknya setelah ditinggal sendirian di menara.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Delta tanpa basa-basi. "Dia baru saja membuka mata, bukan? Aku melihat gerakannya dari pintu."
Penyihir Petir meletakkan botol kosong di atas meja samping tempat tidur. Ia tidak suka dengan cara Delta masuk ke ruangan itu seolah-olah sedang memimpin barisan militer. "Dia memang sempat sadar sesaat, tapi tubuhnya masih menolak untuk bangkit sepenuhnya. Luka-luka sihir yang ia terima jauh lebih dalam daripada yang terlihat oleh mata telanjang."
Delta mendengus, ia membungkuk untuk melihat lebih dekat ke wajah Ratu Layla. "Kita tidak punya waktu untuk proses penyembuhan yang lambat. Aku butuh info yang pasti, Penasehat. Kapan dia bisa bicara? Kapan dia bisa memimpin lagi? Atlas membutuhkan suaranya untuk meredam kekacauan yang mulai tumbuh di barisan bawah."
Penyihir Petir menatap Delta dengan tatapan dingin. "Kau bertanya seolah-olah nyawa manusia adalah mesin yang bisa diperbaiki dalam hitungan jam, Delta. Sihir yang menyerangnya berasal dari kegelapan yang belum pernah kita temui. Ramuanku hanya bisa menjaga jantungnya tetap berdetak, tapi untuk memulihkan kekuatannya... itu di luar kendaliku."
"Jadi kau tidak tahu?" kejar Delta dengan suara yang sedikit meninggi. "Kau adalah penasehat dan penyihir terhebat di kerajaan ini, dan kau memberitahuku bahwa kau tidak tahu kapan ratumu sendiri akan sembuh?"
"Ilmu pengetahuan memiliki batas, begitu juga dengan sihir," jawab Penyihir Petir dengan tenang namun tajam. "Bisa besok, bisa bulan depan, atau mungkin dia tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Kondisinya sangat labil. Setiap paksaan untuk membangunkannya secara paksa hanya akan merusak jiwanya secara permanen. Jika kau benar-benar setia pada kerajaan ini, kau akan membiarkannya beristirahat."
Ketidakpastian itu membuat Delta semakin frustrasi.Ia mengepalkan tangannya di balik punggung, mencoba menahan amarah yang mendidih.
Delta tidak menyerah. Ia melangkah mendekati Penyihir Petir, suaranya kini merendah, hampir seperti bisikan yang penuh ancaman. "Dengarkan aku, Penasehat. Tanpa pasukan Arkhne, kita hanyalah mangsa empuk. Jika kau tidak mau membantuku meracik sihir untuk melemahkan Ratu Arkhne, setidaknya berikan restumu di hadapan para menteri agar aku bisa membawa sisa Minotaur ke sana. Kita butuh kemenangan untuk mengangkat moral atlas."
Penyihir Petir menghela napas panjang, merasa lelah dengan sifat keras kepala sang panglima. Ia menatap Ratu Layla yang terbaring lemas, lalu kembali menatap Delta. Sebuah ide licik muncul di kepalanya untuk membungkam Delta sekali dan untuk selamanya.
"Kau begitu yakin dengan rencanamu, Delta? Kau merasa bahwa kau tahu apa yang terbaik untuk kerajaan ini lebih dari siapapun?" Penyihir Petir tersenyum tipis yang terlihat menyeramkan. "Baiklah. Jika kau begitu ingin mendapatkan izin, jangan tanyakan padaku. Cobalah tanyakan langsung pada ratumu. Dia ada di depanmu. Jika dia setuju, aku tidak akan menghalangimu lagi. Mungkin dia akan menyukai ambisimu, atau mungkin... dia akan menunjukkan padamu apa arti kekejaman yang sebenarnya meski dalam kondisi lemas."
Delta terdiam sejenak. Ia melihat ke arah Ratu Layla. Dengan perlahan dan penuh rasa hormat yang dipaksakan, Delta berlutut di samping ranjang. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ratu Layla, memastikan suaranya hanya bisa didengar oleh wanita itu.
"Ratuku," bisik Delta, suaranya bergetar oleh campuran antara ambisi dan rasa takut. "Atlas sedang dalam bahaya. Pasukan kita hancur. Izinkan aku pergi ke wilayah Arkhne. Aku akan membawakanmu pasukan baru yang tak tertandingi. Aku akan menghancurkan mereka dan menyerahkan kekuasaan mereka di bawah kakimu. Katakan sesuatu, Ratuku... berikan aku perintahmu."
Ratu Layla menggerakkan kepalanya sedikit. Matanya terbuka sedikit lebih lebar dari sebelumnya, menatap langsung ke arah Delta. Untuk sesaat, Delta merasa seolah-olah Ratu telah kembali sepenuhnya. Namun, yang keluar dari bibir sang ratu bukanlah perintah perang atau persetujuan."Pergi dari hadapanku... kau... menjijikkan."
Delta tersentak. Wajahnya memerah karena malu dan terkejut. Ratu Layla kembali memejamkan matanya, seolah-olah berbicara dengan Delta adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan di dunia ini. Sang Panglima berdiri dengan canggung, merasa seperti prajurit rendahan yang baru saja diludahi oleh tuannya.
Penyihir Petir, yang sejak tadi mengamati dari sudut ruangan, tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia mulai tertawa. Awalnya hanya suara terkekeh kecil, namun lama-kelamaan menjadi tawa terbahak-bahak yang menggema di seluruh kamar yang luas itu.
"Apa yang kau tertawakan?!" bentak Delta, tangannya refleks memegang hulu pedangnya.
"Kau!" sahut Penyihir Petir di sela-sela tawanya. "Kau pikir dengan kesetiaan butamu itu, dia akan menganggap mu pahlawan? Dia adalah Layla! Dia tidak butuh penyelamat, dia hanya butuh pelayan yang patuh. Dan kau, dengan segala ambisimu untuk menjadi penakluk Arkhne, baru saja diusir seperti anjing kurap oleh seorang wanita yang bahkan tidak bisa duduk tegak."
Delta mencoba menjelaskan, suaranya terbata-bata. "Aku hanya mencoba... aku ingin Atlas kembali kuat! Dia sedang tidak sadar sepenuhnya, dia tidak tahu apa yang dia katakan!"
Penyihir Petir berhenti tertawa, namun senyum mengejek masih tersisa di wajahnya. "Dia tahu persis apa yang dia katakan, Delta. Dia melihatmu bukan sebagai panglima yang hebat, tapi sebagai pengingat akan kekalahannya. Setiap kali dia melihatmu, dia melihat kegagalannya sendiri di medan perang. Pergilah, Panglima. Tidurlah dan mimpikan pasukan laba-labamu itu sendirian."
Delta meninggalkan kamar Ratu dengan perasaan hancur yang lebih dalam daripada luka fisiknya. Ia berjalan menyusuri koridor istana yang kini terasa sangat asing baginya. Para penjaga yang ia lewati tampak seperti bayangan yang menghakimi setiap langkahnya. Tawa Penyihir Petir masih terngiang-ngiang di telinganya, menusuk harga dirinya yang selama ini ia jaga dengan nyawa.
Sesampainya di kamarnya sendiri, Delta tidak melepas baju besinya dengan rapi. Ia melemparkan sarung pedangnya ke lantai dan menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Kamar panglima itu dihiasi dengan berbagai piala kemenangan dan senjata dari musuh-musuh yang pernah ia kalahkan, namun semua itu kini terasa seperti sampah yang tidak berguna.
Ia menatap langit-langit kamar, mencoba mencari celah dalam rencana atau takdirnya. Namun, kelelahan yang luar biasa akhirnya menariknya ke bawah. Matanya mulai memberat. Di dalam pikirannya yang mulai kabur, ia masih membayangkan hutan gelap tempat koloni Arkhne berada, dan bagaimana ia akan membuktikan kepada Ratu Layla dan Penyihir Petir bahwa mereka salah. Namun untuk saat ini, sang Panglima Atlas yang perkasa itu hanya bisa menyerah pada kegelapan tidur, membiarkan tubuhnya yang remuk beristirahat di tengah kehancuran kerajaan yang ia cintai. Di luar, angin malam Atlas berhembus kencang, membawa aroma badai yang akan segera datang.