Dipa dan Gilang membuat resah tetua di keluarganya, karena sampai sekarang masih berstatus jomblo. Mereka pun berinisiatif untuk mencarikan jodoh yang tepat untuk keduanya.
Ternyata perjalanan mencarikan jodoh untuk kedua pria itu tidak semudah membalik telapak tangan.Butuh trik khusus dan rencana matang agar keduanya bisa mendapatkan jodoh sesuai keinginan masing-masing.
Seperti apakah jodoh yang akan menjadi pendamping hidup mereka? Sanggupkah calon jodoh mereka menghadapi tingkah keduanya yang ajaib dan terkadang membuat malu sampai ke ubun-ubun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas.. Panas.. Panas.. Hati ini
Baru lima menit Bianca duduk di ruang tengah, dia sudah gatal dan tak enak diam. Matanya melihat pada pintu kamar Jarvis yang tertutup. Hujan-hujan begini memang lebih enak tiduran di kasur sambil bergelung di bawah selimut.
Bianca bangun dari duduknya. Untuk mengusir kebosanan, dia memilih untuk melihat-lihat isi rumah Jarvis. Dia berjalan menuju ruang tamu. Pandangannya tertuju pada foto yang tergantung di dinding.
Terdapat empat pigura yang tergantung di dinding. Pigura pertama adalah foto Jarvis bersama keluarganya. Di sana Jarvis berfoto bersama dengan kedua orang tua dan ketiga adiknya. Pigura kedua sampai keempat adalah foto saat Jarvis lulus kuliah. Mulai dari S1, S2 dan S3.
Bianca berdiri di depan pigura Jarvis mengenakan toga dengan didampingi Meta dan Ridho. Itu adalah foto saat Jarvis diwisuda setelah menyelesaikan program doktornya.
"Umur pak Jarvis sekarang 31 tahun. Foto wisuda ini diambil lima tahun yang lalu. Oh My God, dia udah lulus S3 pas umur 26 tahun. Tuh orang emang hobinya belajar sama sekolah ya. Pantes aja kalau masih jomblo sampai sekarang," gumam Bianca pelan.
"Saya jomblo karena pilihan, bukan takdir."
"Astaghfirullah."
Bianca mengelus dada sambil mengucapkan istighfar ketika tiba-tiba mendengar suara Jarvis dari arah belakangnya. Dosen pembimbingnya ini memang persis mahkluk astral. Datangnya tidak diketahui dan sialnya selalu muncul di saat yang tidak tepat.
"Bapak katanya mau tidur."
"Saya mau ambil minum,haus. Perasaan juga ngga enak tadi. Tahunya ada yang ngomongin saya."
"Bukan ngomongin pak, cuma menganalisis. Hehehe.."
Bianca terpaksa melemparkan cengirannya. Berharap dengan melihat cengirannya, Jarvis sedikit melunak dan tidak mempermasalahkan apa yang dikatakannya tadi.
Jarvis segera menuju dapur. Dia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air putih. Sejenak dia melihat pada Bianca. Pria itu lupa kalau belum memberikan minuman pada tamunya.
"Kamu mau minum apa?"
"Eh.. Ngga usah repot-repot pak."
"Ck.. Klise. Mau kopi atau coklat?"
"Ehm.. Coklat aja deh."
Jarvis mengambil kotak berisi serbuk coklat. Sang mama selalu menyediakan serbuk coklat agar anaknya itu tidak terlalu sering meminum kopi. Dia juga mengambil coklat batangan dan susu cair dari kulkas. Jarvis memotong-motong sedikit coklat batangan. Lalu memasukkannya ke dalam panci. Pria itu menambahkan serbuk coklat dan susu cair lalu memanaskannya. Setelah mendidih, dituangkan ke dalam dua buah cangkir.
Harum aroma coklat langsung menerpa indra penciuman Bianca ketika Jarvis mendekat dengan dua cangkir coklat di tangannya. Keduanya duduk di ruang tengah.
"Ehm.. coklatnya harum banget."
Bianca segera mencicipi minuman yang dibuatkan Jarvis untuknya. Gadis itu langsung mengangkat jempolnya untuk memuji rasa coklat buatan dosen pembimbingnya ini.
"Enak pak coklatnya."
"Ya pasti enak. Kan kamu tinggal minum, gratis juga."
"Ish.. mulut bapak tuh ngga pernah enak kalau ngomong. Manisin dikit kenapa pak? Sayang tuh, kan mukanya bapak udah ganteng."
Refleks Jarvis melihat pada Bianca. Gadis itu langsung menutup mulutnya ketika sadar kalau dirinya sudah memuji dosen jutek tersebut.
"Jadi kamu mengakui kegantengan saya?"
"Namanya laki-laki, ya pasti ganteng. Emangnya bapak mau saya bilang cantik?"
"Ngeles terus kaya bajaj."
Bianca memilih menikmati coklatnya. Dia sungguh malu sudah keceplosan mengatakan Jarvis ganteng. Sementara Jarvis tersenyum tipis mendengar Bianca mengakui ketampanannya.
"Kamu udah punya pacar?"
"Belum. Males pacaran. Kalau ada yang sreg langsung nikah aja."
"Bagus.Lebih baik langsung menikah daripada pacaran. Cuma nambah dosa aja."
"Bapak sendiri kenapa belum nikah?"
"Belum nemu yang cocok."
"Belum nemu atau belum move on dari cewek yang ketemu di toko buku?"
PLETAK!
Sebuah sentilan mendarat di kening Bianca. Gadis itu mengusap keningnya yang terasa panas. Tanpa sadar bibirnya maju beberapa senti sambil menggembungkan pipinya. Jarvis langsung tertawa melihat Bianca yang di matanya seperti ikan buntal.
"Hahaha... Kamu kalau kaya gini persis kaya Nyonya Puff."
"Nyonya Puff siapa?"
"Itu guru nyetirnya Spongebob, hahaha.."
Wajah Bianca bertambah masam mendengar jawaban Jarvis. Menyamakan dirinya seperti Nyonya Puff, sama saja menyebutnya seperti ikan buntal.Namun dibalik kekesalannya, dia sempat terpana melihat wajah Jarvis yang semakin terlihat tampan ketika sedang tertawa. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran yang sempat hinggap di kepalanya.
Perbincangan keduanya terhenti ketika mendengar suara orang mengucapkan salam. Ternyata Naufal yang datang. Pria itu diminta Meta ke rumah sang kakak untuk membawakan makanan.
"Bang.. Ini ada kiriman makanan dari mama. Eh ada Bian."
"Hai.. Naufal ya?"
"Wah masih ingat namaku."
Naufal langsung membawa makanannya ke meja makan. Jarvis segera menghampiri adiknya. Dia memindahkan makanan ke dalam mangkok dan piring. Perutnya memang sudah lapar.
"Kamu juga masih ingat namaku."
Bianca ikut mendekati meja makan. Dia ingin membantu Jarvis memindahkan makanan.
"Pasti ingat dong. Nama cewek cantik kaya kamu gampang diingat."
Sebuah senyuman diberikan Bianca sebagai jawaban atas pujian Naufal. Mata Jarvis mendelik pada sang adik. Sadar kalau sang kakak melihatnya dengan tatapan keki, Naufal semakin menjadi-jadi.
"Kamu udah punya pacar?"
"Belum."
"Aku juga belum. Siapa tahu kita jodoh."
"Sejak kapan kamu jadi tukang gombal?" sela Jarvis.
"Sejak ketemu Bian, hahaha.."
Wajah Bianca bersemu merah mendengarnya. Hal tersebut semakin membuat Jarvis kesal. Naufal seakan tidak peduli melihat kekesalan sang kakak. Dia terus melanjutkan aksinya.
"Makan bareng kita yuk. Kamu pasti lapar kan? Maklum bang Jarvis kan emang suka buat orang menderita."
"Tadinya ngga lapar, tapi pas lihat makanan ini jadi lapar. Faktor kamu yang bawa kali ya."
Diam-diam Bianca melirik pada Jarvis ketika mengatakan itu. Dia ingin melihat reaksi Jarvis. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, tapi wajahnya nampak gusar. Entah mengapa Bianca senang saja melihat Jarvis kesal seperti itu.
Semua makanan sudah tersaji di meja. Naufal memasukkan nasi yang juga dibawakan oleh Meta ke dalam piring.
"Cukup?" tanya Naufal pada Bianca.
"Cukup kok. Makasih."
"Sama-sama. Apa sih yang ngga buat gadis cantik seperti kamu."
"Ehem!!"
Tiba-tiba saja Jarvis kehilangan selera makan melihat keakraban Bianca dan Naufal. Tanpa mempedulikan perasaan Jarvis, Naufal terus berbincang dengan Bianca. Sesekali terdengar tawa Bianca ketika mendengar celotehan konyol Naufal.
Karakter Naufal memang berbeda dengan Jarvis. Naufal berkepribadian hangat, ramah dan banyak bicara. Berbanding terbalik dengan Jarvis yang irit bicara dan sering berwajah masam.
"Bi.. Kamu kapan selesai kuliah?"
"Tanyanya ke pak Jarvis, jangan ke aku."
"Saya cuma pembimbing kamu. Yang menentukan kamu cepat selesai atau ngga, ya kamu sendiri," sambar Jarvis.
"Makanya Abang jangan sadis-sadis kalau pas bimbingan. Biar Bian cepat lulus."
Tak ada tanggapan dari Jarvis. Dia meneruskan makannya sambil menunjukkan wajah masam. Dalam hati Naufal tertawa terbahak. Dia sudah mendengar rencana sang mama untuk menjodohkan Bianca dan kakaknya. Karenanya dia sengaja bersikap manis pada Bianca untuk membuat kakaknya kesal.
"Bi.. sekarang kan bukan di kampus,kamu jangan manggil bapak sama dia."
"Terus manggil apa?"
"Abang, mas atau sayang juga boleh."
Uhuk.. Uhuk..
Bianca langsung terbatuk. Jarvis memberikan minuman pada Bianca untuk meredakan batuknya.
"Abang suka ngga sama Bian?"
"Ck.. Kamu ngomong apaan sih."
"Kalau Abang ngga suka,bagus dong. berarti aku bisa dekatin dia. Bi.. kalau kamu udah lulus,aku boleh ngelamar kamu ngga?"
Uhuk.. Uhuk..
Kini giliran Jarvis yang terbatuk. Dia menyambar gelas di dekatnya lalu membasahi kerongkongannya sementara matanya menatap tajam pada sang adik.
"Kalau kamu sukanya cowok kaya gimana?" lanjut Naufal yang masih senang menggoda Jarvis.
"Aku belum mikirin buat saat ini."
Tiba-tiba saja Bianca merasa canggung dengan situasi sekarang. Bukan karena Naufal yang terus menggodanya, tapi melihat Jarvis yang nampak kesal membuat dirinya tak enak. Gadis itu memilih mengalihkan pembicaraan pada hal lain.
"Bi.. Kamu mau nginep di sini atau pulang?" tanya Naufal setengah jam setelah mereka selesai makan.
"Pulang dong, masa nginep di sini."
"Ayo saya antar pulang," ujar Jarvis.
"Abang masih sakit,biar aku yang antar Bian."
🌵🌵🌵
Nah loh, Bian jadi rebutan😂
tetap semangat dan terus berkarya 😘