NovelToon NovelToon
Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:176.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ukhfira

Ketika Allah lebih mencintai suaminya, Filzah Banafsha harus kuat menjadi orang tua tunggal bagi putrinya, Zaura. Tujuh tahun lamanya Filzah tinggal bersama mertuanya, dan dia merasa sangat merepotkan mereke berdua. Akhirnya Filzah memilih untuk hijrah ke Jakarta bersama dengan sang putri tercinta. Filzah memulai kehidupan barunya di Jakarta dengan seribu ujian, dari ia harus berjuang membantung tulang untuk mencari rezeki sampai ia terluka batinnya karena tidak sanggup melihat putrinya yang membutuhkan sosok Ayah dalam kehidupannya. Akankah kehidupan Filzah jauh lebih bahagia di tanah perantauan???
atau justru sebaliknya?
Penasaran???
Yuk Hayuk langsung dibacaaaa🤗

~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~

*Teruntuk kawan readers jangan lupa hargai cerita ini dengan vote dan komen ya🤗. Percayalah VOTE dan KOMEN kalian adalah tanda bukti "suka" kalian kepada cerita ini sekaligus menambah semangat Ukhfira dalam merangkai cerita ini sampai nanti waktunya tamat*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ukhfira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34. Musibah Besar

Assalaamu 'alaikum Readers

Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah

Vote dan komenmu jangan lupa

🌹🌹🌹

Sudah dua hari Hilyah belum bisa beraktivitas seperti semula. Ia masih merasa lemas tak bertenaga, jika dipaksa beranjak pun kepalanya seperti berputar-putar.

Karena Hilyah masih kurang sehat maka untuk sementara waktu Filzah yang menyiapkan sarapan pagi ini, itu pun dengan cara memaksa karena Azlan amat protektif kepadanya, alasannya takut istri dan buah hatinya kelelahan dan nanti malah berujung fatal. 

Filzah memasuki kamar Hilyah dengan membawa nampan berisi semangkok bubur dan segelas air.

"Mama sarapan dulu ya, Filzah bawakan bubur untuk Mama." Usai sarapan pagi bersama suami dan putrinya Filzah menemui Hilyah untuk mengantarkan bubur menu sarapannya pagi ini.

Dengan lembut Filzah membantu Hilyah bersandar di kepala ranjang. Lalu ia menyuapkannya juga.

"Azlan sudah berangkat kerja ya?" Tanya Hilyah disela-sela ia mengunyah.

Sebelum Filzah menjawab pertanyaannya, yang ditanya malah memunculkan dirinya bersama Zaura dengan disusul Ergin, Grizelle dan Selin yang masuk ke dalam kamar Hilyah.

"Mama bagaimana keadaannya?, masih lemas ya Ma?" Tanya Azlan dengan mengkawatirkan kondisi terkini sang Mama yang masih belum ada kemajuan.

"Alhamdulillah sudah agak mendingan dari pada kemarin Azlan, nanti juga setelah obatnya habis in syaa Allah Mama akan membaik."

"Aamiin."

"Kamu mau berangkat kerja ya?, ya sudah sana berangkat, takutnya nanti malah terlambat." Ucap Hilyah menyuruh Azlan untuk segera berangkat.

"Iya Ma ini Azlan mau berangkat kerja dan mau mengantarkan Zaura ke sekolahnya, Zaura ayo pamit dulu sama Oma."

Zaura meraih tangan Hilyah dan menciumnya. "Oma, Zaura berangkat ke sekolah dulu ya, Oma cepat sembuh ya supaya nanti bisa menemani Zaura mengerjakan tugas sekolah lagi."

Hilyah tersenyum seraya mengelus lembut pipi Zaura. "Iya, Zaura semangat belajarnya ya, in syaa Allah Oma akan sembuh asal Zaura bantu doa juga ya supaya Oma cepat sembuh."

Zaura mengangguk patuh. "Iya Oma, in syaa Allah Zaura akan selalu mendoakan Oma, semoga Oma sehat selalu dan selalu dilindungi oleh Allah."

"Aamiin." Hilyah mengaminkannya.

Usai Azlan dan Zaura berpamitan kini giliran Ergin dan Selin namun mereka hanya berpamitan dengan kata-kata bukan dengan ciuman hormat di tangan Hilyah.

"Mama aku sama Grizelle juga pergi dulu ya, Mama cepat sembuh ya Ma."

Hilyah menjawabnya dengan  anggukan kepalanya yang lirih.

"Aku juga pergi dulu Ma." Timpal Selin ikut berpamitan.

"Lho!" Pekik Azlan terkejut.

Seakan mengetahui bahwa Azlan akan mengomentari dirinya, buru-buru Selin menyambungkan kembali ucapannya.

"Aku pergi untuk menjemput Pembantu di rumah temanku, katanya di rumahnya dia sudah kebanyakan Lembantu, jadi rencananya dia mau berbaik hati untuk memberikan satu Pembantunya buat aku, buat bekerja di rumah kita, supaya Mama nggak sampai sakit lagi untuk mengurusi pekerjaan rumah. Baik kan aku?!" Ujarnya dengan membanggakan diri.

Azlan bergeming. Ia tidak jadi beradu mulut di pagi hari dengan Kakak iparnya yang selalu membuat hatinya mendidih karena perangainya yang di luar batas kata baik.

Kini kedua pasang Ayah dan Anak saling berlalu meninggalkan Filzah dan Hilyah di kamar Hilyah serta Selin juga ikut keluar karena ia akan pergi juga.

Filzah kembali menyuapkan sesendok bubur kepada Hilyah namun Hilyah menolaknya karena ia merasa sudah kenyang. Dan Filzah membantunya untuk meneguk satu gelas air serta menelan satu butir obat agar cepat pulih kembali. In syaa Allah.

"Kalau begitu Mama istirahat ya, Filzah mau keluar dulu supaya nggak ganggu waktu istirahat Mama, dan kalau Mama butuh sesuatu Mama panggil Filzah saja ya Ma, in syaa Allah Filzah akan segera datang."

Hilyah mengangguk patuh atas instruksi yang diberikan oleh Filzah. Ia pun memejamkan kedua matanya untuk beristirahat dan Filzah membantunya merapatkan selimut tebalnya.

Setelah keluar dari kamar Mama mertuanya Filzah menuju dapur untuk menaruh mangkok yang kotor sementara setengah gelas airnya sengaja ia tinggalkan karena takutnya Mama mertuanya butuh air.

"Ya Allah piring kotornya banyak sekali." Filzah meringis ketika melihat tumpukan piring kotor di wastafel.

Tanpa berlama-lama lagi Filzah langsung mencuci semua piring. Rasanya ia sudah gatal melihat cucian piring yang bertumpuk. Namun sebelum itu ia memperhatikan keadaan sekitar, dan alhamdulillah aman tidak ada siapa-siapa.

Filzah menikmati sekali mencuci piringnya. Bahkan ia sama sekali tidak merasa terbebani mungkin ini yang dinamakan kebiasaan sehingga jika tidak dijalani terasa ada yang kurang dan jika dijalani terasa senang sekali.

"Alhamdulillah akhirnya aku bisa mencuci piring juga, setelah berbulan-bulan nggak menyentuh piring-piring kotor ini." Ucapnya dengan riang.

Bukan hanya piring kotor yang Filzah cuci, bahkan ia membersihkan selurut sudut ruangan di rumahnya. Mungkin ini yang dinamakan mencari kesempatan dalam kelengahan. Mumpung tidak ada orang di rumahnya terkhusus tidak ada Azlan yang berkeliaran di rumah sehingga Filzah dengan sesuka hati membersihkan apa-apa yang menurutnya kotor dan kurang rapi.

Filzah mengusap keringatnya yang meluruh. "Alhamdulillah akhirnya selesai juga, sekarang waktunya sholat dhuha dulu setelah itu ke kamarnya Mama untuk menemani Mama istirahat."

"Nak, terima kasih ya karena kamu nggak rewel di dalam sana." Filzah mengelus lembut perutnya seakan ia sedang membelai buah hatinya yang kedua. "Kamu hebat Nak, kamu kuat sekali meskipun tadi Bunda sedang mengurusi pekerjaan rumah, semoga kamu baik-baik saja ya Nak."

Usai berkomunikasi dengan sang buah hati, Filzah pun melangkahkan kakinya dengan penuh kehati-hatian karena ia sadar bahwa saat ini ia sedang mengandung buah hatinya yang kedua.

🌹🌹🌹

Kedua mata Hilyah perlahan terbuka. Ia menoleh ke arah gelas yang sudah kosong. Airnya sudah ia tenggak tadi saat ia terbangun untuk yang pertama kalinya dan saat ini ia terbangun kembali karena merasa tenggorokannya kering dan butuh untuk dibasahi.

"Airnya sudah habis, aku harus mengambilnya sendiri."

Pelan-pelan Hilyah mencoba beranjak dari posisi tidurnya. Kepalanya masih terasa berputar-putar namun tidak separah tadi mungkin karena obatnya mulai bekerja dengan baik.

Hilyah berhasil keluar dari kamarnya. Namun dengan berjalan tertatih-tatih dan sempoyongan. Tangan satunya sibuk memegangi dinding yang dijadikan sebagai pegangan dan tangan yang lainnya memegangi kepalanya yang berdenyut.

Hilyah sudah berada di atas tangga yang tingginya berkisar kurang lebih empat meter. ia memegang erat pegangan tangganya karena tiba-tiba ia merasa kepalanya bertambah pusing dan pandangan matanya juga mulai mengabur.

Pelan-pelan Hilyah mencoba menginjaki anak tangga pertama. Namun injakan kakinya melebihi anak tangga pertama.

"Ahhhhh"

Kaki Hilyah tergelincir dan tubuhnya langsung terjatuh berguling-guling di deretan beberapa anak tangga. Tubuhnya terlunglai lemas tak berdaya saat tiba di lantai bawah.

"MAMA" Teriak Selin sampai matanya terbelalak.

Selin langsung berlari menghampiri Hilyah disusul seorang perempuan paruh baya dengan berpenampilan layaknya Asisten rumah tangga. 

Filzah membuka matanya. Ia terbangun dari terlelapnya di hamparan sajadah dengan berbalutan mukenah.

"Mama." Pekik Filzah teringat Hilyah.

Dengan cepat Filzah melepas mukenahnya dan langsung keluar dari kamarnya. Dan amat terkejutnya Filzah ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri Mama mertuanya tergeletak tak berdaya di lantai bawah dengan bersimbah darah di bagian kepalanya.

Filzah turun dengan cepat namun penuh kehati-hatian. Sesampainya di bawah Filzah langsung menghampiri Mama mertuanya dengan air mata yang bercucuran.

"Mama, Mama bangun Ma, Mama bangun." Filzah mengguncang-guncangkan tubuh Hilyah dengan isak tangis yang mulai santer terdengar.

"Mama bangun Ma, Mama masih hidup kan?" Selin ikut panik melihat Hilyah nyaris tak bergerak.

"Mbak ayo bawa Mama ke rumah sakit Mbak, aku takut terjadi apa-apa sama Mama."  

"Kamu telepon ambulans sekarang juga!" Sarkas Selin keras. Kedua matanya berkilat mengerikan ke arah Filzah.

Filzah tidak lantas mempermasalahkannya, ia justru bergegas untuk menelpon ambulans agar Hilyah segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

Ya Allah

ada apa dengan Hilyah???

😢😢😢

Hilyah terjatuh dari tangga

Dan bagaimana keadaannya

😖😖😖

Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Hilyah yaaa

Dan semoga juga tidak terjadi apa-apa dengan Filzah

karena Filzah panik dan cemas sekali melihat kondisi Hilyah

Mau tau kelanjutannya???

Mau tau nggak???

Mauuuu???

Lets scroll

And stay tuned

🤗🤗🤗

Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

1
Raudatul zahra
dulu, Fahril ninggalin Filzah waktu Filzah hamil Zaura.. sekarang, Filzah ninggalin Azlan, waktu hamil anak mereka😭😭😭
Raudatul zahra
geregetan banget sama Selin dan Azlan yaa Allah 😤😤😤😤
Raudatul zahra
Azlaan nyebelin !!!!!!!! ini kedua kalinya loh Azlan kayak gini sama Filzah.. gampang banget siih Azlan kemakan hasutan Selin !!! kesel aku sama Azlan iiiiikkkhhhh !!!!!
Raudatul zahra
kalo mata Selin udah kayak gitu,, alamat Filzah lagi yg disalahin pasti
Raudatul zahra
aku nggak suka Azlan ngelarang Filzah ngelakuin kerjaan rumah tapi malah ngebiarin mama nya ..
apalagi waktu Filzah nyapu rumah itu, eh Azlan datang² ngerebut sapu malah minta mama nya yg nyelesein.. bukan dia
Raudatul zahra
boleh nggak siiih greget sama Seliiiinn ??? kalau aja Selin itu kerupuk, sudah ku kunyah² sampek lunak..
Raudatul zahra
ooooowwwww jadi Selin ini kayaknya takut kalau harta mertuanya kebagi yaa.. jadi dia nggak dapat banyak sama anaknya
Raudatul zahra
Alhamdulillaah🥰🥰🥰
Raudatul zahra
kayaknya Filzah hamil dehh
Raudatul zahra
geraammm nya aku sama Seliiinnn😤😤😤
Raudatul zahra
Luar biasa
Raudatul zahra
romantis 🥰🥰
lebih romantis lagi kalau azlan bisa menjaga harga diri anak dan istri nya didepan selin & ergin
Raudatul zahra
aku masih deg² an dengan sikap selin dan suami nya terhadap filzaah
Raudatul zahra
iyaa niih,, ikut dag-dig-dug juga mereka mau balik ke Jakarta lagi.. semoga musibah sebelumnya secepatnya terkuak ya thor kebenaran nya
Raudatul zahra
aaaaaaaahhh 🥰🥰🥰🥰 gumush syekali
Raudatul zahra
baru kali ini aku nemu novel yg diselipin kutipan hadits nya.. maasya Allaah.. keren thoorr.. semoga menjadi nilai dakwah yaa
Raudatul zahra
semoga setelah ini Azlan bisa lebih menghargai Filzah dan melindungi nya
Raudatul zahra
bin Jasir Muzaffar dong thoorr
Raudatul zahra
kaaaan... kaaaaann.. kangen kaaaann.. ditinggal anak istri nya kaaaann...
Raudatul zahra
Azlan😭😭😭😭nggak seharusnya kamu begitu dengan istri mu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!