Kisah dua orang Indigo
Lachlan Lexington de Luca memiliki kekuatan di luar Nurul para sepupunya ... L biasa dipanggil, memiliki sixth sense yang bisa berkomunikasi dengan hantu. Kali ini liburan L ke Jakarta menjadi berbeda karena dia harus membantu empat hantu gentayangan untuk bisa ke alam baka... Dengan syarat harus berbuat baik baru bisa dipertimbangkan masuk surga atau neraka. Di perjalanan membantu, L bertemu dengan seorang gadis yang takut hantu tapi punya kemampuan yg sama dengan L.
Nareswari adalah seorang gadis berprofesi sebagai konsultan gizi di rumah sakit tapi dia juga punya kemampuan bisa melihat hantu. Nareswari super takut dengan mereka sampai dirinya bertemu dengan Lachlan yang memiliki kemapuan sama. Keduanya membantu empat hantu yang rusuh minta kembali ke habitatnya... Eh alamnya. Bagaimana ceritanya? Menyambut Halloween... FYI ini horor unfaedah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nguping
"Pak Kapolda... Apakah ada polisi bernama Charles Sumbi?" tanya Hoshi ke Kapolda.
Tentu saja Kapolda dan Ajudannya tampak bingung. "Ada apa pak Quinn? Apakah ada masalah?" tanya Ajudan Kapolda itu.
"Tidak. Hanya saja pak Bagas atau Pak Dewa Hadiyanto ingin bersilahturahmi..." seringai Hoshi.
Kapolda dan Ajudannya menatap Bagas.
"Persoalan pribadi pak, bukan urusan dinas" senyum Bagas. "Biar nanti Dewa yang bersilahturahmi."
Kedua orang berseragam coklat di hadapan Hoshi dan Bagas masih bingung dengan jawaban Komisaris Bank Arta Jaya itu. Kaivan memilih diam saja karena tahu itu urusannya Oom Dewanya.
***
Ruang Sel Polda
"Jadi ini yang namanya Khadijah?" tanya Lachlan ke Sagara yang masih terbengong bengong melihat gadis yang ditaksirnya berdiri di belakang Nareswari.
"Halo Mbak Dijah, perkenalkan namaku Raiden Park, hobi merusak barang ... Dan aku melakukannya tanpa sengaja ..." Raiden mengulurkan tangannya ke gadis blasteran Arab Jawa itu.
"Khadijah Al Khafi ... Kamu umur berapa?" tanya Khadijah yang melihat remaja ini bongsor tapi wajahnya masih macam anak SMP.
"14 tahun... Oh, aku bisa komunikasi dengan hantu..." seringai Raiden.
"Dendeeeeenngggg !" tegur Lachlan, Nareswari dan Sagara yang tentu saja membuat polisi yang berjaga dan napi disana semakin merinding.
"Lho serius. Tadi malam aku suruh tuh mbak Kunti ke sel sebelah gara-gara menghina keluarga aku..." jawab Raiden polos. "Aku baru mau 14 tahun by the way."
"Hah?" Khadijah menatap bingung ke Sagara.
"Jangan didengarkan. Bisakah kamu agak kemari... " Sagara berdiri dan berjalan menjauhi keluarganya.
"Nonik... Disini?" bisik Raiden.
"Apa kak Dendeng?" ucap Nonik bahagia. "Nonik suruh nguping?"
"Kamu kok cerdas sih ... Tahu aja..." seringai Raiden.
"Nonik, kalau kamu nguping Sagara dan Khadijah, kak L kirim kamu pulang !" ancam Lachlan membuat Raiden dan Nonik menatap Lachlan sebal.
"Mas L nggak asyik !" gerutu Raiden sambil bersedekap.
"Iya, Kak L nggak asyik !" timpal Nonik.
Nareswari cekikikan mendengar percakapan ketiga... Eh dua orang dan satu hantu itu. Shohei memilih tidak mendengar apapun dan memilih ngemil potato chips.
***
"Kamu ngapain kemari?" tanya Sagara ke Khadijah.
"Aku dengar saat tadi malam tiba di Jakarta kalau kamu dipenjara karena mas L menembak orang... Apakah benar itu Danar, Gara?" tanya Khadijah yang tahu adik kelasnya sangat nakal. "Memang Danar berbuat apa, Gara?"
"Kamu ingat kan dua tahun lalu orang tua Danar meninggal di kebakaran pondok mereka? Danar lah pelakunya" jawab Sagara. "Jangan ditanya aku tahu dari siapa tapi itu kenyataannya."
"Lalu, bagaimana kamu bisa masuk sel?" tanya Khadijah.
"Aku mengkonfrontir Danar dengan memancing bahwa ada uang milik orang tuanya di bank keluarga aku. Kan pak Parman almarhum pegawai bank Arta Jaya. Danar datang tapi aku memintanya untuk menyerahkan diri, dia menolak dan menempelkan pisau di leherku hingga terluka terus mas L menembak dengan Glocknya peluru bius di sisi sini ..." Sagara menunjuk pinggangnya. "Dan setelahnya, kami ditahan deh..."
Khadijah melihat leher Sagara yang ditutup perban. "Siapa yang mengobati?"
"Mbak Kay, pacarnya Mas Alsaki. Dia dokter" jawab Sagara. "Kamu kok tahu aku disini?"
"Kamu kan terkenal Gara. Karena kamu anak Dewa Hadiyanto... Jadi ramai berita soal kamu dan saudara-saudara kamu dan aku tahu kamu disini juga dari berita. Aku hanya ingin tahu, kamu baik-baik saja." Khadijah tersenyum manis ke Sagara.
"Terimakasih Dijah. Kedatangan kamu membuat aku se... Tunggu ... Kenapa aku merinding?" Sagara langsung menoleh ke belakang dan melihat keempat orang di sana langsung pura-pura sedang main kartu. "Brengseeekkk kalian ! Aku tendang kalian semua ke Timbuktu! Kecuali mbak Nyes !"
Khadijah menatap Sagara bingung. "Ada apa Gara?"
"Dasar keluarga minus akhlak !" umpat Sagara. "Nonik ! Mbak Ningsih ! Jangan mau disuruh nguping sama dua durjana itu !"
Terdengar suara cekikikan membuat Khadijah reflek memegang tangan Sagara karena kaget sedangkan para napi disana hanya bisa pasrah mendapatkan teman satu ruangan di luar prediksi BMKG.
"Apa maksudmu Gara?" tanya Khadijah yang baru merasakan merinding.
"Kamu tahu film seri Ghost Whisperer? Nah, tuh berdua macam gitu !" ucap Sagara galak ke arah Raiden dan Lachlan yang hanya memasang wajah polos.
"Hah ? Masa sih?" tanya Khadijah. "Jadi tadi yang Raiden bilang itu beneran kejadian?"
"Benar kak ! Tadi malam ada mbak Kunti disini..." seru para Napi di sel sebelah.
Khadijah melongo. "Gara, saudramu ajaib..."
"Memang !" balas Sagara yang kemudian baru sadar kalau Khadijah menggenggam tangannya. Khadijah yang menyadari dia memegang tangan Sagara, buru-buru melepaskan genggamannya namun Sagara menggenggamnya kembali. "Aku senang kamu kemari..."
Pipi Khadijah memerah.
"Woi ! Di sel kok malah sok mesra ! Bikin para jomblowan nelangsa cumiii !" celetuk Raiden.
"Iya tuh bocah !" timpal Jampang.
"Eh pak Kingkong... Udah nggak nantangin pak ?" seringai Raiden.
"Ini lagi golek molo ( cari penyakit )" keluh Lachlan sambil menepuk jidatnya.
***
Ruang Meeting Polda Metro Jaya.
Charles Sumbi masuk ke dalam ruang pertemuan itu dan terkejut melihat ada ajudan Kapolda bersama dengan Dewa Hadiyanto. Sendirian.
"Pak Dewa, Aiptu Charles Sumbi. Silahkan waktu kami persilahkan. " Ajudan Kapolda itu pun keluar dari ruang pertemuan meninggalkan Dewa bersama Charles.
"So, anda yang bernama Charles Sumbi. Ada perlu apa dengan saya hingga mengatakan pada anak saya untuk membalas dendam? Sekarang saya disini. Silahkan anda konfrontir saya dan saya akan beberkan semua buktinya. Dan kalau anda masih tidak percaya, anda sama saja dengan ipar anda. Bebal bin Bebelen !" ucap Dewa judes.
Charles Sumbi hanya menatap Dewa Hadiyanto penuh kebencian.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️