Di beli untuk dinikahi dan disakiti adalah jalan hidup seorang gadis cantik bernama Lovita. Di usianya yang masih remaja, Rumah bordil adalah tempatnya mengadu nasib. Uang sebanyak tiga milyar yang dibayarkan lelaki tampan itu untuk menikahinya semakin membuat Lovi merasa bahwa dunia ini kejam. Semua kesengsaraannya dimulai saat perusahaan Ayahnya bangkrut. ia bisa tinggal di rumah bordil dan menjadi budak Berry untuk mencari uang karena keegoisan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
morn sick
Lovi keluar dari kamar mandi lalu menatap jam dinding. Seharusnya ia sudah turun untuk melakukan pekerjaan paginya di mansion. Namun gejala mual-mual yang di alaminya tidak kunjung berhenti. Kakinya melangkah ke arah ranjang lalu duduk di sana dalam diam seraya mengusap perutnya yang masih bergejolak.
Sejak tadi Lovi keluar masuk kamar mandi hanya untuk menuntaskan rasa mualnya itu. Tapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya.
Netta memasuki kamar Lovi tiba-tiba hingga Lovi tersentak. Perempuan itu menatap alat tes kehamilan yang dibawa oleh Netta.
"Nona harus memakai ini. Aku yakin dugaanku benar,"
Lovi enggan menerima alat yang diberikan oleh Netta itu. Hingga Netta yang harus menarik tangan Lovi lalu meletakkan Test pack itu di telapak tangan Lovi dan membimbing Lovi untuk bangkit.
"Segera lakukan, Nona,"
Melihat kerutan di dahi Lovi yang menatapnya aneh, Netta sadar kalau Ia terlalu bersemangat.
"Aduh maafkan aku, Nona. Aku tidak sabar melihat hasilnya," Ujar Netta seraya meringis dan mengusap tengkuknya.
Lovi menggigit bibir bawahnya bimbang akan memeriksanya atau tidak. Lovi pun memiliki firasat yang sama dengan Netta. Semua yang terjadi pada dirinya memang terasa seperti sesuatu yang biasa di alami oleh para wanita hamil?
Lovi berucap dengan sangat pelan,
"Aku takut, Netta."
"Apa yang Nona takutkan? Bila memang hasilnya positif berarti itu yang terbaik menurut Tuhan untuk Nona jalani,"
"Setelah itu apa yang harus aku lakukan?"
Mendengar itu, Netta terkekeh lalu mengusap bahu Nonanya.
"Nona memiliki Suami. Tidak ada alasan untuk Nona menjadi takut dan khawatir. Nona hanya perlu mengatakannya pada Tuan Devan,"
Lovi menggeleng. Netta tidak mengerti serumit apa pernikahannya.
"Tidak semudah itu, Netta. Aku rasa kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahan kami,"
"Ya, Aku mengerti semuanya dan aku berharap dengan adanya keturunan bisa menjadikan pernikahan kalian lebih baik,"
"Tuan akan mengusirku,"
Netta meyakinkan perempuan itu. Ia merangkum wajah Lovi dan berujar dengan tegas,
"Aku yakin Tuan tidak sejahat itu. Bila memang ucapan Nona benar terjadi, Maka Nona harus meninggalkannya lalu melupakan semua hal yang berkaitan dengan Tuan!"
Netta mengangguk seraya melirik alat tes kehamilan itu. Mengisyaratkan Lovi untuk memeriksakannya sekarang.
Netta menghela napas lega saat akhirnya Lovi memasuki kamar mandi untuk memastikan semuanya.
Lovi melakukan semua instruksi yang terdapat di kemasan alat tersebut dengan baik. Hingga beberapa menit kemudian Ia menangis saat melihat hasilnya.
Lovi langsung keluar dari kamar mandi dan memeluk Netta.
"Apa yang membuatmu menangis, Nona?"
Netta menerima alat tes kehamilan itu dari Lovi dan tersenyum sumringah.
"Nona harus menjaganya dengan baik,"
Masih dengan air matanya, Lovi menggeleng bingung. Ia tidak menyangka akan secepat ini memiliki anak.
"Lalu apa yang akan terjadi kedepannya? Aku takut, Netta. Aku takut Tuan tidak bisa menerima kehadirannya,"
"Tuan akan bahagia bila mendengar ini. Aku yakin,"
Wajah Lovi menjadi panik. Ia menyentuh bahu Netta lalu menatapnya dengan memohon.
"Tidak boleh ada yang tahu tentang hal ini. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini dengan baik,"
"Nona, Tuan harus tahu kalau sebentar lagi Ia akan memiliki anak,"
"Aku akan memberi tahunya tapi bukan sekarang,"
Lovi duduk di tepi ranjang. Semuanya sudah ia putuskan. Ia yakin kalau ada waktu yang lebih tepat untuk membuat Devan mengetahui kehadiran anak mereka.
Perempuan itu kembali memandang Netta. Berharap Netta bisa memahaminya. Tidak mudah untuk menyampaikannya pada Devan. Banyaknya bayangan tentang reaksi Devan ketika mengetahui itu, membuat Lovi khawatir. Ia belum siap bila pada akhirnya Devan tidak bisa menerima kehadiran malaikat kecil mereka.
Netta tersenyum menenangkan. Bila Lovi menginginkan hal itu, maka Netta akan melakukannya. Lagipula Ia tidak memiliki hak apapun untuk membuka rahasia ini.
"Ya, Nona. Aku akan..."
Dentuman pintu kamar Lovi yang dibuka secara paksa membuat kedua perempuan itu sontak menoleh. Raut pucat sudah terpatri di wajah Lovi.
"Kamu hamil?"
************
Jengjengjeng bersambung dl ah. jgn lupa like,coment, vote,fav nya yaaaa. makazeehh😅
ceritanya kagak nyambung
lari sana lari sini
gak nyambung juga
biking pusing sy bacanya