NovelToon NovelToon
Ku Balas Pengkhianatanmu Dengan Bismillah

Ku Balas Pengkhianatanmu Dengan Bismillah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.


Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...


Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Rena Muncul Kembali

   Pagi-pagi sekali Zahra sudah keluar diantar oleh Genta, ia sekalian berangkat kerja..!

   Setelah sampai Genta menurunkan Zahra dan Zahra mencium tangan Genta..!!

  "Hati-hati ya mas di jalan" ucap Zahra sambil tersenyum

   "Ya sayang terima kasih, kamu juga semoga sukses" ucap Genta sebelum melajukan mobilnya

   Setelah melihat suaminya pergi, Zahra pun melangkah masuk ke gedung pusat konvensi..

   Di pusat kota dengan langkah tenang, bangunan besar itu dipenuhi orang-orang berpakaian rapi, sebagian membawa map, sebagian lain menenteng laptop..

   Suasana profesional yang dulu pernah begitu akrab, lalu lama ia tinggalkan, kini kembali menyapanya.

  Ia duduk di barisan tengah, tidak terlalu depan, tidak bersembunyi di belakang, posisi yang membuatnya bisa mendengar dengan jelas, tapi juga mengamati dengan bebas.

   Seminar keuangan syariah itu membahas banyak hal transparansi, akuntabilitas, dan etika dalam pengelolaan dana..

   Zahra mencatat dengan serius, tangannya lincah, pikirannya tajam, dunia ini terasa asing, namun anehnya membangkitkan bagian dirinya yang lama tertidur..

   Saat sesi diskusi dibuka, seorang pria berdiri dari barisan depan, posturnya tegap, tapi tidak mencolok, kemejanya sederhana, tidak mahal, nada suaranya tenang dan jelas..!!

   "Saya Fadhil Pratama, konsultan audit independen, saya ingin menambahkan satu poin soal transparansi laporan, khususnya di sektor UMKM yang sering dianggap kecil tapi berisiko tinggi.” ucapnya

    Zahra mengangkat kepala, cara bicara pria itu berbeda, tidak menggurui, tidak mencari sorotan...

    Ia berbicara seperlunya, dengan data yang cukup, lalu duduk kembali tanpa menunggu tepuk tangan.

   Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Zahra mendengar seseorang berbicara dengan kejernihan tanpa agenda tersembunyi, tanpa kepentingan pribadi yang terasa di balik kata-katanya..

   Usai seminar, Wulan menarik lengan Zahra dengan wajah antusias..

   "Aku kenal dia, Fadhil sering diminta jadi auditor kasus-kasus sensitif, reputasinya bersih, banyak yang segan sama dia karena dia nggak bisa ditekan.” bisik nya

    Zahra hanya mengangguk, ia tidak mudah terkesan tapi ia menghargai kejujuran yang terasa..

   Saat mereka hendak pergi, Fadhil mendekat dengan jarak yang sopan, tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh.

   “Anda Zahra, kan?” tanyanya ramah..

   “Saya sering mendengar cerita-cerita tentang Anda, setiap anda presentasi sangat bagus dan jelas" ucap Fadhil sambil tersenyum ramah

   Zahra tersenyum singkat.

“Terima kasih.”

   “Kalau tidak keberatan, perusahaan saya sedang mencari konsultan pendamping untuk klien UMKM besar, profesional, tanpa campur urusan pribadi.” lanjut Fadhil

    Kalimat terakhir itu membuat Zahra menatapnya lebih lama.

    "Tanpa campur urusan pribadi"

   Kalimat yang terdengar sederhana, tapi bagi Zahra terasa seperti napas lega setelah lama tenggelam..

   “Aku tertarik, selama pekerjaan itu jelas dan profesional" jawab Zahra

   Fadhil mengangguk mantap.

"Justru itu prinsip kami.”

   Tidak ada rayuan, tidak ada janji manis, hanya kesepakatan profesional yang bersih.

  "Besok jam sembilan saya tunggu anda di kantor" ucap Fadhil

   "Baik pak Fadhil" ucap Zahra cepat

 Disisi lain Bu Ratna mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomor Rena dan menghubungi nya, percakapan diantara mereka terjadi, terdengar Bu Ratna meminta Rena untuk menemui nya disebuah restoran

    Lalu Bu Ratna menutup panggilan telepon dengan Rena sambil menyandarkan punggungnya ke kursi..

   Sudut bibirnya terangkat perlahan, membentuk senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke mata..

    "Anak itu memang tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya menunggu pintu dibuka kembali.” gumamnya pelan

   Sore harinya, Bu Ratna memilih sebuah kafe kecil di pinggir kota, tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi...

   Tempat yang cukup netral untuk percakapan yang tidak ingin didengar orang lain.

   Rena datang mengenakan jaket hitam dan kacamata besar, wajahnya terlihat lebih kurus, lebih keras dibanding terakhir kali Bu Ratna melihatnya, ia duduk tanpa senyum, menatap Bu Ratna dengan mata penuh curiga.

   “Langsung saja, Mak, Rena tidak punya banyak waktu.” ucap Rena dingin

   Bu Ratna tersenyum lembut, seolah tak tersinggung.

   “Kamu masih sama, selalu lugas. Itu yang Mak suka dari kamu.”

   Rena menyilangkan tangan.

 “Kalau hanya untuk nostalgia, Rena pergi.”

    Bu Ratna menghela napas panjang, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit.

   “Mak tidak akan memanggilmu kalau tidak ada hal penting.”

   Rena terdiam.

    "Genta... Kamu masih memikirkannya, kan?” lanjut Bu Ratna pelan

   Tatapan Rena bergetar sesaat sebelum kembali dingin.

“Itu masa lalu.”

   “Kalau benar masa lalu, kamu tidak akan datang.” kata Bu Ratna tenang

   Keheningan menyelimuti mereka beberapa detik.

   “Sekarang Genta sudah kembali lagi dengan istrinya" ucap Rena akhirnya..

   Buu Ratna mengangguk.

Dan kamu tahu sendiri… pernikahan yang dibangun terlalu cepat, sering kali rapuh.”

   Rena menatapnya tajam.

“Mak mau Rena jadi apa? Perusak rumah tangga lagi?”

   Bu Ratna menggeleng pelan..

“Tidak. Ibu hanya ingin kamu mengambil kembali apa yang menurutmu pernah berarti.”

   Rena tertawa kecil tanpa humor.

“Mak tahu Zahra itu seperti apa? Dia polos. Lurus, Genta bahagia dengannya.”

   “Bahagia? Atau hanya nyaman?” Bu Ratna tersenyum tipis

   Rena terdiam, tangannya mengepal di bawah meja.

   Bu Ratna lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, suaranya direndahkan..

   “Mak tidak memintamu merebut, Mak hanya ingin Zahra tahu… bahwa ia tidak sendirian di hati suaminya.”

   Rena mengangkat wajah.

“Membuatnya cemburu.”

   Bu Ratna mengangguk.

 “Cemburu adalah celah dari sana, segalanya bisa runtuh sendiri seperti dulu"

   Rena menarik napas panjang, wajahnya menunjukkan pergulatan batin.

“Dan Rena dapat apa?”

   Bu Ratna tersenyum puas..

“Kepuasan dan mungkin… kesempatan kedua untuk menjadi istri Genta"

   Rena terdiam lama, lalu perlahan, sudut bibirnya ikut terangkat, bukan senyum bahagia melainkan senyum penuh perhitungan.

    "Mak memang tidak pernah berubah, selalu tahu cara menekan titik lemah orang.” ucap Rena

   Bu Ratna mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Rena, rencana yang lebih halus dan lebih rapi.

    Awalnya Rena memejamkan mata, seolah menimbang, lalu ia membuka mata dan mengangguk pelan.

   “Baik, Rena ikut.” katanya

   Bu Ratna bersandar kembali ke kursinya, senyum puas kini tak lagi ia sembunyikan..

    “Bagus, permainan baru saja dimulai.” ucapnya dalam hati

***

Malam nya, hujan turun tipis di kota, Genta pulang lebih awal dari biasanya, Zahra terkejut melihat suaminya sudah duduk di ruang tamu, lampu redup, wajahnya terlihat lelah.

“Kamu kenapa?” tanya Zahra lembut sambil meletakkan tasnya.

Genta menghela napas, lalu meraih tangan Zahra.

“Aku capek… dan aku ingin dekat sama kamu.”

Zahra tersenyum kecil, ia duduk di samping Genta, menyandarkan kepala di bahu suaminya, kehangatan sederhana itu menenangkan.

"Kita jarang seperti ini sekarang” ucap Zahra pelan.

Genta menoleh, menatap wajah istrinya, ada sesuatu yang dalam di tatapannya, campuran rindu, lelah, dan kebutuhan akan ketenangan.

"Karena itu aku ingin malam ini hanya untuk kita,” katanya lirih.

Zahra mengangguk tanpa banyak bicara, mereka masuk ke kamar dengan langkah pelan...

Lampu dimatikan, hanya cahaya redup dari luar jendela yang tersisa, tidak ada kata-kata berlebihan, tidak ada janji.

Hanya dua orang yang saling mencari pelukan kehangatan..!

Genta langsung memeluk Zahra lebih erat dari biasanya, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah rumahnya...

Zahra menutup mata, merasa aman dalam dekapan suaminya tanpa tahu bahwa badai sedang disiapkan diam-diam di luar sana.

***

Di tempat lain, Rena berdiri di depan cermin kamarnya, ia menatap bayangannya sendiri lama..

“Sekali ini saja, aku ingin menang.” gumamnya

Dan di rumah megah Bu Ratna, perempuan itu tersenyum puas sambil menyesap teh hangat..!

“Rena akan melakukan apa saja demi mendapatkan cintanya Genta kembali dan sisanya aku hanya perlu menunggu” bisiknya dalam hati sambil tersenyum miring

___Bersambung___

1
Anonymous
sebaiknya cepat dimasukkan ke rumah sakit hewan
Anonymous
akhirnya sidang yang berlarut larut berakhir juga
Anonymous
dan ternyata ego+cemburu mu menutup mata mu dan kembali ke ketek emak ya genta..
Anonymous
segera berakhir ya sidang nya
Queen_Fisya08: ya kak gak lama lagi dan Bu Ratna pun akan kena batunya 🙏
total 1 replies
Umi Asijah
lanjut
rian Away
SEMUA NYA AKAN BERHENTI KETIKA KAU MENGHILANG TUA BANGKA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!