NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Tersiksa

Pembalasan Istri Tersiksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Menantu Pria/matrilokal / Penyesalan Suami / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: BI STORY

MONSTER KEJAM itulah yang Rahayu pikirkan tentang Andika, suaminya yang tampan namun red flag habis-habisan, tukang pukul kasar, dan ahli sandiwara. Ketika maut hampir saja merenggut nyawa Rahayu di sebuah puncak, Rahayu diselamatkan oleh seseorang yang akan membantunya membalas orang-orang yang selama ini menginjak-injak dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Main Nyelonong Aja

Lampu kristal di ruang tengah telah dipadamkan, menyisakan keremangan yang mencekam di koridor mansion itu. Di kamar tamu yang dingin, Rahayu berbaring telentang. Meski matanya tertutup rapat, indranya yang lain bekerja sepuluh kali lipat lebih tajam sejak kecelakaan itu.

Ia bisa mendengar deru angin yang menghantam jendela, detak jam dinding di ruang jauh, dan kini suara gesekan kain yang sangat halus di balik pintu kamarnya.

​Di luar pintu, Andika berdiri mematung. Harga dirinya terluka hebat, namun rasa penasaran yang gelap merayap di dadanya.

Ia ingin melihat seperti apa rupa "wanita badas" itu saat ia kehilangan kewaspadaannya di dalam tidur.

Apakah ia masih tampak mengancam, atau kembali menjadi Rahayu yang rapuh?

​Dengan gerakan yang sangat perlahan, Andika memutar knop pintu. Klik. Suara itu hampir tak terdengar oleh telinga manusia normal. Ia sedikit mendorong pintu, menciptakan celah kecil untuk mengintip ke dalam.

​Rahayu tampak tenang di balik selimut, wajahnya damai dalam kegelapan. Andika menahan napas, matanya menyipit mencoba menangkap gerak-gerik istrinya.

Ia merasa menang karena bisa masuk tanpa ketahuan. Namun, tepat saat ia hendak memajukan kepalanya lebih dekat ke celah pintu...

​"Udah puas nontonnya, Mas?"

​Suara Rahayu yang jernih dan dingin membelah kesunyian malam.

​Andika tersentak hebat. Tubuhnya menegang, jantungnya berdegup kencang karena kaget yang luar biasa. Secara refleks, ia mencoba mundur dengan terburu-buru, namun koordinasi tubuhnya kacau dalam kegelapan.

​BRAK!

​"Agh!" Andika mengerang tertahan. Karena gerakan mundurnya yang terlalu tiba-tiba, keningnya menghantam pinggiran pintu kayu yang solid dengan keras.

​Rahayu perlahan bangkit dari tempat tidur, duduk tegak dengan presisi yang menakutkan seolah ia bisa melihat posisi Andika dengan jelas. Ia menyunggingkan senyum tipis yang mematikan.

​"Kupingku adalah mata aku sekarang, Mas Andika," ujar Rahayu sambil mengusap ujung tongkatnya yang tersandar di samping tempat tidur.

"Suara napasmu yang memburu itu terdengar seperti suara kereta api di kupingku. Sangat berisik."

​Andika memegang keningnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia merasa bodoh, terhina, dan tertangkap basah seperti pencuri amatir.

​"Jangan kegeeran yey! Aku cuma mau mastiin kamu gak nyuri sesuatu dari rumah ini sebelum tidur!" bentak Andika, mencoba menutupi rasa malunya dengan nada kasar, meski suaranya sedikit gemetar.

​"Kalau mau masuk, masuk aja. Pintu ini gak aku kunci," balas Rahayu tenang, suaranya tetap datar.

"Tapi lain kali hati-hati dengan kepalamu. Sayang banget alau wajah kebanggaan keluarga Rahardjo harus memar hanya karena gagal ngintip istri sendiri, heheheh."

​Andika mendengus kasar, wajahnya merah padam karena malu. Ia membanting pintu itu dari luar hingga menimbulkan dentuman keras yang bergema di seluruh mansion.

​Di dalam kamar, Rahayu kembali merebahkan tubuhnya. Ia tahu, ini baru permulaan. Andika mungkin memegang kunci rumah ini, tapi ia baru saja menyadari bahwa ia tidak lagi memegang kendali atas wanita yang ada di dalamnya.

KEESOKAN HARINYA

​Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden tidak memberikan perbedaan berarti bagi Rahayu. Baginya, pagi hari hanyalah transisi suhu dari dingin yang membeku menjadi kehangatan yang perlahan menyentuh kulitnya.

​Rahayu bangkit, meraba dinding untuk menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket dan ia butuh kesegaran air untuk menjernihkan pikirannya setelah konfrontasi semalam.

Namun, saat ia memutar keran shower, hanya terdengar suara batuk dari pipa yang kering. Tak ada setetes air pun yang keluar.

​"Sengaja?" gumam Rahayu sinis. Ia menduga Andika mungkin sedang melakukan sabotase kecil-kecilan sebagai balasan atas insiden "kening membentur pintu" semalam.

​Tanpa menyerah, Rahayu meraih tongkatnya. Ada satu kamar mandi utama di ujung koridor lantai satu yang biasanya memiliki tekanan air paling stabil. Dengan langkah mantap namun waspada, ia menyusuri lorong yang sunyi.

​Di dalam kamar mandi utama, uap hangat memenuhi ruangan. Andika sedang berdiri di shower membiarkan rasa nyeri di keningnya yang kini berwarna kebiruan terbasuh air hangat. Ia merasa tenang di sini. Setidaknya di balik pintu yang terkunci, ia tidak perlu berurusan dengan lidah tajam Rahayu.

​Cklek.

​Pintu terbuka. Andika membeku. Ia yakin sudah mengunci pintunya, namun mungkin karena rasa kantuk dan emosi semalam, ia lupa memutar kunci dengan sempurna.

​Rahayu melangkah masuk dengan tenang. Ketukan tongkatnya di atas lantai marmer bergema.

​"Siapa di sana?" Andika bertanya dengan nada panik, suaranya naik satu oktav. Ia segera menyambar handuk kecil untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, meski ia masih berdiri di balik dinding kaca shower yang transparan.

​Rahayu menghentikan langkahnya. Ia memiringkan kepala, telinganya menangkap suara percikan air yang menghantam kulit dan aroma sabun maskulin yang kuat.

​"Oh, Mas Andika?" tanya Rahayu santai.

"Shower di kamarku mati. Aku mau pakai yang di sini."

​"Keluar! Rahayu, keluar sekarang juga! Kamu... kamu nggak lihat aku lagi apa?!" bentak Andika, wajahnya yang kemarin merah karena malu kini berubah jadi merah padam karena campur aduk antara marah dan canggung.

​Rahayu justru terkekeh kecil. Ia tidak bergerak mundur, malah menyandarkan tongkatnya ke dinding dengan santai.

​"Kenapa harus keluar? Mas lupa?" Rahayu melangkah selangkah lebih dekat ke arah sumber suara, membuat Andika refleks mundur hingga punggungnya menempel pada keramik dingin.

​"Mataku nggak berfungsi, Mas. Mau kamu telanjang bulat atau pakai kostum sirkus sekalipun, di depanku semuanya cuma kegelapan yang sama," lanjut Rahayu dengan nada datar tanpa beban.

"Jadi nggak usah histeris begitu. Bagiku, kamu cuma suara air dan bau sabun yang terlalu menyengat."

​Andika terpaku. Logikanya membenarkan ucapan Rahayu, tapi harga dirinya sebagai laki-laki merasa dicurangi. Ia melihat Rahayu mulai meraba area wastafel dengan tenang, seolah-olah kehadirannya yang tanpa busana di sana tidak lebih penting dari sebotol sampo.

​"Tapi tetap aja ini privasi! Keluar sekarang atau aku..."

​"Atau apa? Mau lari keluar sambil teriak?" potong Rahayu, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang mematikan.

"Silakan lanjut mandinya. Aku cuma mau cuci muka dan sikat gigi di wastafel ini. Anggap saja aku perabotan di sini, seperti aku menganggapmu cuma patung pancuran yang berisik."

​Andika hanya bisa terdiam dengan napas memburu, memegangi handuknya erat-erat di balik kaca, sementara istrinya yang buta itu dengan tenang memulai ritual paginya, menghancurkan sisa-sisa wibawa Andika tanpa perlu melihatnya sama sekali.

Andika buru-buru keluar dari dalam kamar mandi utama. Rahayu baginya selalu saja bikin kesal. Andika punya rencana baru. Andika ingin mengerjai Rahayu saat sarapan pagi bentar lagi. Andika lalu berganti pakaian.

BERSAMBUNG

1
Anonymous
sialan kamu santi
Sunaryati
Ayu tidak akan oleh ulash licik dan balas dendam kamu Santi
Anonymous
semoga kejahatan Santi segera terbongkar dan kembali mendekam di penjara untuk selama-lamanya
Anonymous
makin kesini makin seru, salah satu novel yg seru di nt 😍
Anonymous
hahaha rasakan kamu santi
Anonymous
Santi ketar ketir
Anonymous
kurang ajar kamu Santi dasar penjahat. semoga kamu segera mendapatkan pembalasan yg setimpal
Anonymous
sialan kamu Santi dasar iblis jahat
Anonymous
rasakan kamu Santi, gak semudah itu kamu bisa mencelakai si cantik ayu
Anonymous
ayu kamu harus lebih waspada ya cantik
Annida Annida
lanjut
Sunaryati
Kau hanya mempercepat kematian kamu Santi, Andika bodoh mau saja diperdaya Santi, hanya akan ditinggalkan di hutan
Anonymous
hati-hati ayu
Sunaryati
Nikmatilah buah kekejaman kalian demi harta yang bukan miliknya
Nora Elvina
bagus
Sunaryati
Akhirnya semua orang yang menyakiti kamu memetik karmanya bahagialah Rahayu
Sunaryati
Keserakahan harta membuat Bu Citra hiang perikemanusiaan dan sekarang menghancurkan dirinya.
Anonymous
bagus ayu, akhirnya semua dendam kamu telah terbalaskan
Ma Em
Bagus Ayu beri hukuman yg sangat mengenaskan agar mereka mengingat waktu Ayu disiksa dan lecehkan begitu juga dgn Bu Citra sebagai otak kejahatan nya buat Bu Citra hukuman yg sangat mengerikan .
Anonymous
rasakan orang-orang jahat yg dulu jahat sama Ayu, kalian sedang menuai apa yg kalian lakukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!