Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Sama, Tidak Ada Yang Berubah
Seandainya Azalea tidak nyeletuk punya pacar, mungkin akan jadi lain ceritanya. Mungkin udara pagi itu akan terasa lebih ringan, mungkin tatapan-tatapan akan lebih berani, atau mungkin Hagia tidak perlu sesekali menelan ludah ketika nama Azalea disebut. Namun kenyataannya sudah terucap dan tidak bisa ditarik kembali. Lantas apakah sekarang antara Azalea dan Hagia berubah menjadi sangat asing? Jawabannya tidak.
Semuanya masih berjalan seperti kemarin-kemarin. Hagia tetap Hagia yang ramah dan welcome, yang akrab tanpa berlebihan, yang tahu kapan harus hadir penuh dan kapan harus menarik diri saat situasi menuntutnya membagi waktu dengan hal lain. Tidak ada sikap dingin, tidak ada jarak yang dibentangkan.
Pagi menjelang siang itu, Hagia sedang bersama Cong dan juga Lastri. Mereka duduk santai diluar, membiarkan udara desa membelai. Diskusi mereka ringan saja, meloncat dari topik satu ke topik lain diselingi tawa kecil dan celetukan yang kadang tidak penting, tapi justru itulah yang membuat suasana hidup. Di tangan Hagia, gitar akustik bertengger nyaman. Jemarinya memetik senar dengan pola sederhana, sementara bibirnya menggumamkan nyanyian pelan. Sepertinya itu lagu yang ia belum selesai diciptakan. Liriknya belum utuh, nadanya masih mencari-cari.
Tangan boleh sibuk memetik gitar, tapi mata Hagia tidak bisa bohong. Dikit-dikit pandangannya melirik ke arah pintu kamar Azalea yang masih tertutup. Sekilas saja, cepat, seakan-akan takut ketahuan. Lalu kembali lagi ke gitar, ke Cong, ke Lastri. Namun setelah beberapa kali melakukan itu, Hagia akhirnya menyerah.
"Lastri, Azalea udah bangun belum, sih? Dari tadi nggak kelihatan."
Lastri hendak menjawab, tapi sebelum kata-kata keluar, senyum lebar sudah lebih dulu mengembang di wajahnya. Cong pun langsung paham, saling pandang sebentar, lalu berseru hampir bersamaan.
"Ciyeeee…"
"Dih, kok malah ciyeee…" protes Hagia sembari cengar-cengir.
"Ketua lagi kesemsem kayaknya," seru Cong sambil tertawa, membuat Lastri ikut terkekeh tanpa niat berhenti.
Lastri akhirnya menjawab juga, "Sudah bangun. Bahkan sudah keluyuran dari matahari belum nongol."
"Keluyuran ke mana? Ngapain aja?"
"Ciyeeee!!!"
Hagia mendesaah pelan, tapi tetap tersenyum. Padahal menurutnya ia hanya bertanya biasa. Azalea tinggal di tempat yang sama, dan dia cuma ingin tahu aktivitasnya. Namun entah kenapa setiap pertanyaan yang melibatkan nama Azalea, selalu terdengar berbeda di telinga orang lain. Dalam hati Hagia sampai kepikiran absurd, ingin rasanya pasang CCTV saja, mantau Azalea diam-diam alih-alih terus-terusan nanya dan jadi bulan-bulanan begini.
"Tadi tuh Azalea pergi ke dapur umum, terus dia lihat-lihat bahan sama bumbu persediaan di sana. Lucu deh, aku gemes sama dia karena--"
Belum sempat Lastri menyelesaikan kalimatnya, sosok yang sedang mereka bicarakan muncul dari arah belakang. Azalea berjalan santai, di tangannya ada sebuah paper bag cokelat dengan tali kecil. Wajahnya segar, rambutnya diikat sederhana. Ketika Azalea menyapa mereka, Lastri dan Cong langsung paham situasi. Tanpa aba-aba, keduanya berdiri.
"Eh, aku mau ke dapur sebentar," kata Lastri.
"Iya, aku juga," sambung Cong cepat.
Dalam hitungan detik, tinggalah Hagia dan Azalea berdua.
Azalea tersenyum lalu langsung bicara. "Kak Hagia, aku ada hadiah buat kakak."
"Hadiah?" alisnya terangkat. "Dalam rangka apa? Ulang tahun masih lama, kan."
"Ngasih hadiah kan nggak harus nunggu ulang tahun. Kapan aja, seniat kita."
Jawaban itu sederhana, tapi terasa berbeda di hati Hagia. Laki-laki itu mengucapkan terima kasih sambil menerima paper bag tersebut. Azalea menjawab sama-sama, lalu menambahkan, "Buka sekarang aja, Kak. Langsung pakai."
Hagia sempat terdiam. Biasanya orang yang memberi hadiah padanya akan pergi dengan wajah malu-malu, memberi ruang bagi penerima untuk membuka sendiri. Tapi Azalea tidak. Ia memaksa untuk dibuka sekarang juga di hadapannya.
Hagia akhirnya membuka paper bag itu. Di dalamnya ada sebuah kotak jam tangan. Ketika dibuka, terlihat jam tangan dengan desain mewah. Azalea langsung memperhatikan dengan seksama. Matanya menelusuri detail jam itu, takut tidak sesuai, takut talinya kepanjangan atau kependekan, takut ada detail yang terlewat. Kalau-kalau tidak sesuai, nanti ia gerak cepat menukarnya.
Tanpa banyak kata, Azalea maju selangkah. "Sini, Kak," katanya. Ia mengambil jam itu dan dengan hati-hati memakaikannya ke pergelangan tangan Hagia.
Bukan maksud caper, kali ini betulan sungguhan. Azalea benar-benar fokus. Tangannya sibuk mengaitkan pengunci, memastikan semuanya pas. Sementara itu Hagia justru kehilangan fokusnya sendiri. Ia menatap Azalea dengan senyum dan juga tatapan yang penuh arti. Ada sesuatu di caranya Azalea serius, di caranya menunduk dan berkonsentrasi, yang membuat Hagia ingin waktu berhenti sejenak.
Tatapan itu akhirnya bertabrakan lantaran Azalea mendongak. Dalam sepersekian detik, Hagia langsung mengalihkan pandangan ke jam tangan di pergelangan tangannya.
"Terima kasih," katanya lagi.
Azalea tersenyum. "Terima kasihnya cukup sekali aja. Hadiahnya cuma satu."
Hagia tertawa kecil. "Yang ini terima kasih karena sudah memakaikannya."
Azalea terkekeh, lalu hendak berkata sesuatu tapi belum sempat Hagia mengajak Azalea keluar, ponsel Azalea berdering. Nama ayahnya muncul di layar. Azalea mengangkat telepon itu dan menjauh beberapa langkah, sikapnya berubah sedikit lebih tertutup, seperti menerima telepon dari seseorang yang sangat spesial. Seolah percakapan itu hanya untuk mereka berdua, tidak boleh didengar orang lain.
Hagia memandangi punggung Azalea yang menjauh.
Sementara itu di ujung sana,
"Mbak Suci, liatin opo to, Mbak?"
Suci tersentak. Ia langsung menoleh ke arah Siska yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Eh, nggak apa-apa, Mbak Siska. Tadi aku lagi nyari-nyari sapu, mau bersihin aula sana."
Siska menerima jawaban itu tanpa curiga. Ia menunjuk ke arah gudang kecil. "Sapu masih di tempat biasanya, Mbak."
Suci mengangguk. "Oh, iya. Terimakasih." Ia segera pergi.
.
.
Bersambung.