NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Detik berikutnya, mereka bertiga sudah berada di atap gedung perpustakaan pusat yang sepi. Ira langsung jatuh terduduk, napasnya memburu, wajahnya pucat pasi seperti mayat.

​"Ira! Kamu nggak apa-apa?!" tanya Jelita cemas sambil memeluk sahabatnya.

​Dinda, meski kakinya lemas, tetap saja nyeletuk. "Gila... Mas Gama tadi keren banget, tapi Arjuna... dia tadi ngeri banget pas matahkan tangan hantu itu. Ra, kamu hampir jadi koleksi museum gaib tadi!"

​Ira menatap Jelita dengan mata berkaca-kaca. "Jel... aku beneran takut. Dia tahu namaku... dia sebut namaku..."

Arjuna berdiri memunggungi mereka, menatap ke arah kepulan asap di gedung sana dengan tatapan dingin. Ia menyadari bahwa keberadaan Jelita dan sahabat-sahabatnya kini telah mengundang predator-predator alam gaib yang ingin menggulingkan takhtanya.

​"Ira ketakutan, Arjuna... Lalu mereka mengira itu bencana alam," bisik Jelita sambil menunjuk ke arah kerumunan mahasiswa yang berlarian di bawah sana.

Arjuna berbalik, matanya kembali melunak saat menatap Jelita, namun ia segera beralih menatap Ira yang masih syok.

​"Mahesa telah menandaimu, Irawati. Mawar hitam itu bukan sekadar hiasan, itu adalah 'segel pelacak'. Selama kau memegangnya atau aromanya melekat padamu, dia bisa menarikmu masuk ke alam bayang-bayang kapan saja," ucap Arjuna dengan nada serius.

​"Apa?! Terus aku harus gimana?!" Ira berteriak frustrasi. "Aku nggak mau jadi tawanan hantu jahat itu!"

Arjuna melambaikan tangannya di depan wajah Ira. Seketika, rasa takut yang menghimpit dada Ira sedikit mereda. Arjuna kemudian memanggil kembali Gama yang baru saja selesai membereskan sisa-sisa energi Mahesa di kelas tadi.

​Gama muncul dengan napas yang sedikit tidak beraturan, zirahnya tampak sedikit retak di bagian bahu.

​"Gama, mulai detik ini, tugas utamamu terbagi dua," perintah Arjuna. "Kau tetap menjaga Ratuku, tapi kau harus memberikan 'bayangan' perlindungan pada gadis ini," Arjuna menunjuk Ira.

​Dinda yang tadinya tegang, mendadak matanya berbinar. "Wah! Berarti Mas Gama bakal jagain Ira juga? Terus aku gimana? Aku nggak dijagain?"

​Gama melirik Dinda dengan tatapan datarnya. "Kau sudah punya kristal itu, Manusia Berisik. Selama kau tidak berhenti bicara, makhluk halus manapun tidak akan berani mendekat karena pusing mendengar suaramu."

​"Ih! Mas Gama jahat!" seru Dinda, meski dalam hati ia senang karena Gama masih mau meresponsnya.

​Arjuna kemudian mendekati Ira dan memberikan sebuah gelang anyaman benang hitam yang tampak sederhana namun memancarkan wangi cendana yang kuat. "Pakai ini. Ini akan menyamarkan aromamu dari Mahesa. Dan ingat, mulai sekarang, kalian bertiga jangan pernah terpisah satu inci pun jika hari sudah mulai gelap."

"Berarti kita harus selalu bersama!"

"Tepat sekali, Ratuku," sahut Arjuna, suaranya terdengar mutlak tak terbantahkan. "Dunia ini tidak lagi aman bagi kalian secara terpisah. Mahesa adalah serigala yang mengincar titik terlemah. Jika kalian bersama, energi perlindunganku dan kehadiran Gama akan saling menguatkan."

​Ira menatap gelang benang hitam di tangannya, lalu menatap Jelita dan Dinda bergantian. Kehidupannya yang normal dan logis seolah baru saja meledak berkeping-keping. "Jadi... ini artinya kita harus roommate setiap malam? Di rumah siapa?"

​Dinda langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan penuh semangat, seolah baru saja memenangkan undian. "Rumah Jelita! Jelas rumah Jelita! Di sana ada 'akses' langsung ke Pangeran Arjuna, dan Mas Gama pasti bakal sering mampir kalau kita kumpul semua. Lagi pula, rumah Jelita kan luas!"

Jelita mengangguk setuju, meski ia membayangkan betapa riuhnya kamarnya nanti. "Ibu dan Ayah pasti tidak keberatan kalau kalian menginap. Aku akan bilang kita sedang ada proyek besar kampus yang harus diselesaikan bersama dalam beberapa minggu ke depan."

​Arjuna melipat tangannya di dada, matanya berkilat tipis. "Keputusan yang bagus. Namun ingat, Irawati... jangan pernah melepaskan gelang itu, bahkan saat kau mandi. Dan untukmu, Dinda... jangan biarkan kristal itu jauh dari jangkauan tanganmu."

​Gama, yang berdiri di balik bayangan pilar perpustakaan, mengangguk singkat ke arah Ira. "Aku akan berada di bayanganmu. Kau tidak akan melihatku, tapi kau akan merasakanku jika bahaya mendekat."

Suara sirine ambulans dan mobil polisi mulai terdengar dari arah fakultas seni. Mahasiswa-mahasiswa di bawah sana masih berkerumun, dan suasana kampus menjadi kacau balau karena gedung yang dianggap tidak stabil.

​"Kita harus pergi dari sini sebelum ada yang menyadari kita berada di atap perpustakaan," ucap Ira, naluri logisnya mulai kembali bekerja. "Kalau kita tertangkap di sini saat gedung fakultas seni hancur, kita akan jadi tersangka utama."

​Arjuna tersenyum sinis. "Manusia dan hukum mereka yang rumit... Baiklah. Aku akan mengirim kalian langsung ke depan gerbang rumah Jelita. Bersiaplah."

Dalam satu kedipan mata, angin kencang menerjang wajah mereka. Bau buku-buku tua perpustakaan berganti menjadi aroma melati dari halaman depan rumah Jelita. Mereka bertiga berdiri mematung di depan pagar, masih dengan napas terengah-engah.

​"Oke... ini benar-benar gila," gumam Dinda sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena perpindahan dimensi. "Tapi hey! Setidaknya kita pulang lebih cepat dan nggak perlu bayar ojek!"

​Jelita menoleh ke arah sahabat-sahabatnya, matanya terlihat serius. "Mulai malam ini, hidup kita benar-benar berubah. Kita bukan hanya sahabat kuliah lagi, tapi kita adalah... target."

​Ira menggenggam tangan Jelita dan Dinda. "Target atau bukan, kita hadapi ini sama-sama. Tapi tolong, Jel... bilang ke Arjuna, jangan biarkan hantu Mahesa itu muncul di mimpiku."

Tiba-tiba, dari arah dalam rumah, Ibu Diana keluar dengan wajah panik. "Jelita! Kalian sudah pulang? Kalian dengar berita? Kampus kalian kena gempa! Ibu baru saja mau menelepon!"

"Iya bu! Mungkin cuaca hari ini sedang tidak baik, makanya ada bencana di fakultas kami." Kilah Jelita.

"Jadi Begitu! untung kalian tidak apa-apa." khawatir Diana.

Tiba-tiba Jelita menatap Diana dengan wajah yang seolah meminta izin.

"Bu! Apakah teman-teman Jelita boleh menginap untuk sementara disini." Tanya Jelita.

"Tentu saja boleh nak! Ya sudah mari masuk dan kalian istirahat, ibu akan siapkan makan malam untuk kalian! kebetulan hari ini ayah pulang dari luar kota." Ujar lembut Diana.

Mendengar jawaban lembut dari ibunya, Jelita seolah bisa bernapas lega. Ia menoleh ke arah Ira dan Dinda yang masih tampak sedikit pucat, memberikan kode bahwa mereka aman untuk saat ini.

Lalu Diana mengajak Jelita dan kedua sahabatnya memasuki kediaman mereka.

1
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
Greta Ela🦋🌺
Apa2an sih ini hantu. Sadarlah woi kalian ini beda dunia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!