Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.
Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.
Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.
Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Ketika Masa Lalu Mulai Mendekat
Rumah itu masih terasa asing.
Bukan karena sepi, melainkan karena terlalu baru untuk disebut pulang.
Elvara masuk perlahan, langkahnya teredam, tubuh kecil di pelukannya terlelap tanpa sadar. Rava tertidur sejak di mobil, kepalanya bersandar di bahunya, napasnya teratur, hangat.
Ia menahan diri untuk tidak bergerak terlalu cepat.
Kamar anak itu masih beraroma cat baru. Ranjang kecil dengan seprai polos. Mainan belum sepenuhnya tertata. Elvara membaringkan Rava dengan hati-hati, seolah bocah itu terbuat dari sesuatu yang rapuh dan berharga.
Sepatu dilepas. Selimut ditarik. Tangannya mengusap rambut gelap itu pelan.
“Tidur yang nyenyak,” bisiknya.
Rava bergeser sedikit, mendengus kecil, lalu kembali diam.
Elvara berdiri beberapa detik di sana. Memandangi wajah itu. Wajah yang, entah sejak kapan, membuat dunianya berputar dengan cara yang tidak pernah ia rencanakan.
Nama itu kembali muncul.
Raska.
Bukan karena ia lupa.
Justru karena ia tak pernah benar-benar berani mengingat.
"Aku tahu ke mana harus mencarimu."
Apartemen itu masih ada di kepalanya. Sunyi. Penuh jejak yang belum sempat dihapus.
Yang belum siap adalah hatinya.
Enam tahun bukan waktu yang bisa dijelaskan dengan satu kalimat. Apalagi dengan satu nama kecil yang tertidur di belakang pintu ini.
"Apakah aku sanggup berdiri di hadapanmu… sambil membawa kebenaran ini?"
Raska tampan. Berhasil. Dunia mudah menerimanya.
"Mungkin sekarang ia sudah memilih orang lain."
Pikiran itu seharusnya biasa.
Namun dadanya mengencang.
Bukan karena cemburu. Melainkan karena satu kesadaran yang terlambat datang—
"Ternyata aku belum pernah benar-benar pergi."
Elvara menoleh kembali ke arah Rava. Mengusap rambut bocah itu sekali lagi, lebih lama.
“Sebentar lagi,” gumamnya tanpa suara. Entah untuk siapa.
Di rumah baru yang masih asing itu, Elvara berdiri di antara dua masa, yang belum ia tinggalkan sepenuhnya, dan yang belum sepenuhnya berani ia datangi.
Dan di luar sana, tanpa ia tahu, seseorang juga sedang menyiapkan dirinya untuk sebuah kemungkinan yang sama-sama menakutkan.
***
Pagi datang pelan di rumah itu.
Aroma roti panggang dan telur hangat memenuhi dapur kecil. Cahaya matahari menyelinap lewat jendela, jatuh di meja makan tempat tiga orang duduk berhadapan.
Rava duduk di kursinya, kaki kecilnya bergoyang-goyang, sendok di tangan. Elvara di seberangnya, Elda di samping, secangkir kopi belum tersentuh.
“Mommy,” suara Rava tiba-tiba ceria, mulutnya masih penuh. “Semalam ku bertemu a soldier.”
Sendok Elvara berhenti di udara.
Elda menoleh perlahan.
“Seorang tentara?” Elvara mengulang. Suaranya tenang. Terlalu tenang.
Rava mengangguk cepat. “Yes! Dia tinggi. Handsome.” Ia terkikik kecil. “Pakai baju tentara. Very cool.”
Ia mengunyah lagi, lalu menatap Elvara dengan mata berbinar.
“He looks like me. A little. Mirip aku dikit.”
Udara di meja makan seperti menegang.
Elvara menggenggam sendoknya lebih erat. Logam itu dingin di telapak tangannya.
"Anak orang kaya seperti itu… mana mungkin jadi prajurit," batinnya cepat, nyaris refleks.
"Dan kalaupun prajurit, bukan kapten."
Elda menyipitkan mata, berusaha tetap bernapas normal.
"Prajurit?
Yang disebut di pesta semalam?
Tidak masuk akal. Usianya baru dua puluh tiga. Pangkat kapten bukan mainan."
Rava tidak menangkap kekakuan itu. Ia menyesap susu, lalu melanjutkan dengan polos,
“Baunya harum. Like… home.”
Ia berhenti sejenak, berpikir. "Dan dia tersenyum, tapi tidak terlalu lebar. Like this.”
Rava menirukan senyum tipis, canggung, tapi manis.
Jari Elvara bergetar sepersekian detik.
Nama itu tidak disebut. Tapi rasanya… terlalu jelas.
Rava menoleh ke Elvara, mata beningnya penuh rasa ingin tahu.
“Mommy,” katanya ringan, seolah bertanya hal paling wajar di dunia,
“Is papa also a soldier? Papa juga tentara?”
Pertanyaan itu jatuh, tepat di tengah meja.
Elvara terdiam.
Tidak ada jawaban yang siap. Ia menatap piringnya, lalu wajah Rava. "Aku tidak tahu," pikirnya jujur.
Yang ia tahu, pria itu dibesarkan dalam dunia bisnis. Jas. Rapat. Angka.
Bukan seragam. Bukan medan.
“Papa…” Elvara menghela napas pelan, memilih kata dengan hati-hati.
“Papa punya pekerjaan lain, Sayang.”
Rava mengernyit. “Business?” tebaknya polos.
“Mungkin,” jawab Elvara. Satu kata. Aman.
Elda akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar ringan, terlalu ringan untuk seseorang yang pikirannya berlari kencang.
“Kamu ngobrol lama sama soldier itu?”
Rava menggeleng. “No. Cuma sebentar.”
Ia tersenyum lebar, polos, tanpa beban.
“But I like him. Sangat suka.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Elvara mengencang.
Elda menunduk, menyesap kopi yang kini terasa pahit. "Kalau itu dia…" pikirnya, lalu menghentikan kalimat itu sebelum selesai. Terlalu berbahaya.
Elvara menegakkan punggung, memaksa diri kembali hadir.
“Habiskan sarapannya,” katanya lembut pada Rava.
Rava mengangguk patuh, kembali makan, seolah tidak baru saja menjatuhkan bom kecil di meja itu.
Di antara bunyi sendok dan piring, Elvara dan Elda saling bertukar pandang singkat.
Tidak ada kata.
Tapi keduanya tahu, semalam tidak sesederhana yang mereka kira.
Dan satu pertemuan singkat, dengan seorang prajurit asing, baru saja menggoyahkan sesuatu yang selama ini mereka jaga rapat.
***
Pagi itu ruang kerja kecil di lantai atas apartemen Raska terasa lebih sempit dari biasanya. Sunyi, tapi tegang.
Bukan karena ukurannya.
Melainkan karena udara di dalamnya dipenuhi sesuatu yang tak terucap.
Cahaya matahari baru menyusup lewat jendela ketika pintu terbuka nyaris bersamaan. Asep masuk paling depan, wajahnya kusut, mata merah, beberapa kancing kemeja bagian atas terbuka. Di belakangnya Vicky santai seperti biasa, satu tangan di saku. Gayus terakhir, rapi, tablet di tangan, ekspresi datar seperti laporan cuaca.
Raska berdiri dari balik meja.
“Laporan,” katanya singkat.
Asep langsung meledak sebelum duduk.
“Kapten, demi Tuhan, gue nggak tidur semalaman,” katanya tanpa basa-basi, nada setengah bangga setengah mengeluh. “Serius. Semalaman. Kopi tiga gelas. Mata rasanya kayak mau copot.”
Ia menjatuhkan diri ke kursi. “Kalau ini nggak urgent, gue minta cuti tiga hari.”
Vicky bersandar di kursi, kemeja setengah dikancing, wajahnya santai seperti biasa. “Drama sekali hidup lo, Sep. Dia tidur kok. Dua puluh menit. Tiga kali. Buktinya online tapi di panggil kagak nyaut.”
Asep melotot. “Itu namanya mati suri.”
Raska berdiri di dekat jendela.
Kemejanya rapi. Postur tegap. Rahangnya mengeras. Matanya tertuju lurus ke mereka.
“Langsung,” katanya singkat.
Gayus mendorong kacamatanya naik, membuka tablet. “Secara teknis, yang kami cari bukan satu perempuan. Tapi jejak enam tahun kehidupan seseorang. Itu kompleks.”
Gayus maju setengah langkah, profesional.
“Kami lacak identitas Elvara dari beberapa titik. Data kependudukan, rekam kerja, dan jejak properti. Valid.”
Ia menggeser tablet, menampilkan peta dan foto.
"Tinggal di rumah sewaan kawasan tenang, bukan apartemen. Baru ditempati beberapa hari. Bersama seorang perempuan dewasa. Kami duga ibunya, dan seorang anak laki-laki.”
Raska tidak bergerak. Namun jari-jarinya mengepal perlahan.
“Tempat kerja?” tanyanya cepat.
“Rumah sakit swasta,” jawab Gayus tenang. “Dokter umum. Mulai aktif beberapa hari terakhir.”
Vicky bersiul pelan. “Dokter. Single mom. Anak pintar. Paket lengkap.”
Tatapan Raska menajam.
Vicky mengangkat tangan. “Oke, oke. Salah forum.”
Asep menyela, tak sabar. “Dan dia nggak sendirian, Kapten. Ini bagian yang bikin gue melek sampe subuh.”
Raska menoleh.
“Di rumah sakit itu,” kata Asep serius, “ada dokter asing. Nama Adrian. Warga negara Amerika. Masuk bareng Elvara."
Raska menegang.
Ada jeda sepersekian detik. Terlalu singkat untuk disebut reaksi, terlalu jelas untuk disebut kebetulan.
Vicky mengangkat alis. “Tampan. Tinggi. Tipikal yang bikin ibu-ibu perawat lupa jadwal.”
Tangan Raska mengepal erat. “Seberapa dekat?” suaranya rendah.
...🔸🔸🔸...
...“Kadang, yang paling berbahaya bukan pertemuan, melainkan ingatan yang kembali hidup.”...
...“Ia tidak menyebut nama itu....
...Tapi jantungnya tahu, siapa yang sedang mendekat.”...
...“Seberapa dekat?...
...Pertanyaan itu bukan tentang jarak,...
...melainkan tentang kehilangan.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Jovi abaikan Raska - tetap bicara tentang yang dialami Raska ketika Elvara melahirkan.
Raska menyuruh Jovi berhenti bicara. Jovi mana mau berhenti 😁.
Elvara kaget kan mendengarnya. Segitunya lho suamimu itu Vara.
Benar Adrian, seperti itu.
Jovi semakin menjadi ha haaaa....
Jadi ingat Bianto - tak ada celah untuk menggagalkan pernikahan Raska dengan Elvara.
Bisa jadi berhadapan dengan Prakosa - orang yang menjaga keselamatan Elvara dan keluarganya.
Raska dan Jovi mendapat pujian dari Prakoso.
Raska berterima kasih pada Jovi.
Adrian berterima kasih pada Raska dan Jovi. Raska tak menjabat tangan Adrian ??
Elvara berterima kasih pada Jovi. Jovi malah melenceng menjawabnya - kena tegur Raska .
Malah nambah bicara map hitam nih Jovi /Facepalm/. Raska menstop Jovi yang banyak bicara. tapi Jovi masih ingin bicara sama Elvara /Facepalm/
😄😄😄😄😄😄😄
Kerja bagus Elvara, kerja bagus Adrian - kedua dokter ini bisa ajah bergerak melawan tanpa suara.
Jovi dan Raska langsung bergerak cepat - habisi musuh tak bersisa.
Naluri bawah sadar seorang anak terkoneksi atas apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Rava bisa tidur tenang ketika di tempat yang berbeda, kedua orang tuanya sudah aman.