Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Cara ekspress.
Suara Rama yang tegas membuat telinga Meranti terasa berdenging. Sejenak Ranti terdiam lalu suaranya menjadi lemah. "Tapii... aku cuma butuh kamu, Rama. Anakku butuh Ayah."
Bang Rama kembali tersenyum, lebih pahit dari sebelumnya. "Anakmu itu bukan anakku, Ranti dan kamu sendiri tau hal itu." Ada tekanan tersendiri dalam hatinya tapi ia tidak tergoda. "Sekarang sudah ada yang kucintai. Jangan ganggu lagi kehidupanku."
Tanpa menunggu jawaban, Bang Rama mematikan telepon. Dia menghela nafas panjang, rasanya bongkahan batu besar terlepas dari dada. Dulu, kehidupan nya dengan Meranti memang pernah indah, tapi sekarang, hatinya sudah penuh dengan Dinda. Terlebih malam panjang tadi, mengetahui dirinya lah pria pertama yang menyentuh Dinda tentunya membuatnya sadar bahwa dirinya harus bertanggung jawab atas segala tindakannya.
:
Setelah mematikan telepon Meranti tadi, Bang Rama langsung mencari Dinda yang sedang membersihkan kamar. Hatinya berdebar kencang, Dirinya ingin minta maaf atas apa yang terjadi malam tadi, meskipun mereka berdua mungkin sama-sama mau, tapi dirinya merasa harus bertanggung jawab dengan cara yang benar.
"Dek...." panggilnya lembut.
Dinda berhenti membersihkan, wajahnya sedikit memerah ketika melihat Rama. "Ada apa, Bang?"
Bang Rama mendekat, lalu duduk di sisi ranjang. Dia memegang tangannya dengan lembut. "Tentang malam tadi... Abang minta maaf, ya. Sudah seharusnya Abang lebih bertanggung jawab, nggak seharusnya melakukan itu sebelum semua dokumen dirimu beres." Matanya menatap langsung ke arah mata Dinda. "Tapi Abang jujur, Abang serius sama kamu. Dan karena Abang yang pertama menyentuhmu, Abang janji akan lebih menekan atasan agar kamu segera resmi dalam hukum militer menjadi istri Abang."
Dinda terharu mendengarnya, yang jelas kini sosok Letnan Rama begitu kental merasuki hati dan pikirannya.
"Jangan nangis, do'akan saja semua usaha Abang untuk 'menghalalkanmu' segera di kabulkan.
Saat mereka sedang serius, terdengar suara benda jatuh.
braaakkkk..
Suaranya terdengar dari arah dapur, diikuti dengan bunyi muntah yang jelas. Bang Arben yang baru saja memarkir motor dan memantau info dari ponselnya langsung turun dan berlari ke arah kamar mandi.
"Dira..!! Sayang, kamu kenapa dek? Tadi nggak apa-apa, kan??" Tanya Arben dengan nada khawatir, sambil menepuk punggung Dira yang sedang membungkuk di depan wastafel.
Dira keluar dari kamar mandi, wajahnya pucat dan berkeringat. "Dira nggak tau, Bang... sejak tadi pagi mual terus, bahkan mau minum air aja susah."
Bang Rama dan Dinda yang mendengarnya segera menyusul untuk melihat keributan apa yang terjadi.
Bang Arben seakan paham apa yang terjadi. Ia menarik Dira ke dalam pelukannya. "Sudah telat ya, dek?" Tanyanya berbisik lembut.
Dira mengangguk. Bang Arben pun tersenyum mendengarnya. "Alhamdulillah. Istirahat ya, sayang."
Bang Rama ternganga, meskipun ucap sahabatnya itu lirih tapi Bang Rama masih bisa mendengarnya.
"Busyeeett.. Jebol, Ben????" Tanya Bang Rama.
"Ccckk.. Macam kau nggak jebol aja." Celetuk Bang Arben.
Entah perasaan Bang Rama yang campur aduk atau memang dirinya yang tidak mendengar tapi ia terus melihat Dira dengan ekspresi wajah cemas dan ngeri.
"Kalau parah langsung ke rumah sakit saja, Ben. Takut dehidrasi, jadi hyperemesis." Kata Bang Rama.
"Sok tau lu."
"Kamu lupa apa bagaimana??? Ibuku, bidan." Jawab Bang Rama.
"Ya tapi kamu juga nggak pernah menangani pasien hamil, kan?????" Ujar Bang Arben.
"Waahh.. Menghina. Sini biar Dira ku periksa."
Seketika mata Bang Arben dan Dinda menatapnya.
"Yaaa.. Kalau kalian percaya sih."
"Kau acak-acak saja si Dinda. Dira biar ku bongkar sendiri." Bang Arben sampai emosi melihat Bang Rama dengan wajah tanpa dosa.
Dinda langsung berjalan menuju kamar.
"Dek, pelan jalannya, sayang..!!" Bang Rama mengikuti langkah Dinda.
'Duuhh.. jangan sampai berantakan nih, sudah kuhitung pas nih. Mudah-mudahan bulan depan goal. Jalur resmi tidak bisa, kita trabas saja jalur prestasi. Cepat datang nak..!! Bantu Papa..!!'
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara