NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Keluarga / Dijodohkan Orang Tua / Dark Romance / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

Ia datang membawa cinta yang dipinjamkan dalam kehidupan Aira Maheswari.

cukup hangat untuk dipercaya, cukup palsu untuk menghancurkan.
Keluarga Aira runtuh, ekonomi hampir patah, dan jiwanya perlahan kehilangan arah.

Ketika dendam menunaikan tugasnya dan ia ditinggalkan di titik paling sunyi,
Hingga seorang lelaki yang mencintainya sejak bangku SMP akhirnya mengetuk pintu terakhir.

Ia datang bukan untuk melukai,
melainkan menyelamatkan.

Di antara dendam yang menyamar sebagai cinta
dan cinta yang setia menunggu dalam diam,
pintu mana yang akan Aira pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Malam turun pelan di rumah sakit.

Lampu kamar Aira diredupkan. Suara langkah perawat semakin jarang. Ibunya tertidur di kursi, kepalanya bersandar ke dinding.

Aira tidak bisa tidur.

Matanya terbuka, menatap langit-langit putih yang terasa terlalu dekat. Kalimat Langit berulang di kepalanya, seperti suara yang tidak mau pergi.

“Jangan percaya orang yang datang ke hidup kamu pas kamu paling jatuh.”

Aira menoleh ke arah pintu.

Kartik tidak masuk lagi ke ruang rawat Aira semenjak kejadian tadi.

Ia hanya meninggalkan pesan singkat di ponsel Aira.

Kartik:

Saya di luar. Kalau butuh apa pun, bilang.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada pembelaan.

Dan justru itu yang membuat dada Aira semakin sesak.

Kenapa kamu diam saja?

Kenapa kamu nggak marah?

Kenapa kamu nggak bilang apa pun untuk membela diri?

Air mata Aira jatuh tanpa suara.

Ia ingin percaya Kartik.

Tapi pikirannya terlalu lelah untuk menyusun logika, Yang tersisa hanya perasaan, dan perasaan itu sedang rapuh.

...####...

Pagi berikutnya, Langit kembali.

Kali ini tidak datang dengan tangan kosong.

Ia datang membawa buah. Mengenakan jaket yang menutupi sebagian lukanya, tapi tetap menyisakan perban di tangan.

“Aku boleh masuk?” tanyanya pelan.

Aira menatap ibunya. Ibunya ragu, tapi Aira mengangguk kecil.

Langit masuk dengan langkah hati-hati.

Tidak mendekat. Tidak menyentuh.

“Aku nggak akan lama,” katanya. “Aku cuma mau jelasin satu hal.”

Aira diam.

Langit menghela napas. “Aku tahu kamu bingung. Kalau aku di posisi kamu, aku juga bakal ragu.”

Ia duduk di kursi, menjaga jarak.

“Aira… aku memang cemburu. Aku memang takut kehilangan kamu. Tapi aku nggak pernah bohong soal ini.”

Ia mengeluarkan ponsel. Membuka galeri.

Ada foto lorong rumah sakit. Ada jam. Ada tanggal, dua hari lalu.

Ada foto luka di tangan nya.

“Aku nggak ngarang,” katanya lirih. “Aku datang. Aku nunggu. Tapi dia nggak izinin aku masuk.”

Aira menelan ludah.

“Kamu tahu yang paling nyakitin apa?” lanjut Langit, suaranya bergetar.

“Bukan lukanya. Tapi caranya dia lihat aku… kayak aku ini ancaman.”

Aira terdiam.

“Kamu selalu bilang Kartik itu baik,” lanjut Langit. “Dan mungkin iya… ke kamu. Tapi orang bisa baik ke satu orang, dan kejam ke yang lain.”

Kalimat itu jatuh tepat di celah pertahanan Aira.

Ia teringat wajah Kartik yang selalu tenang.

Terlalu tenang.

“Aku nggak bilang dia jahat,” kata Langit cepat. “Aku cuma bilang… dia punya perasaan yang lebih dari yang kamu kira.”

Aira memejamkan mata.

“Aku nggak mau kamu terjebak,” Langit berbisik. “Aku takut kamu salah percaya.”

Sunyi.

Ibunya Aira berdiri. “Aira capek. Kita lanjut lain kali.”

Langit mengangguk. Ia berdiri, lalu menatap Aira lama.

“Aku masih di sini,” katanya pelan. “Kalau kamu butuh aku.”

langit pergi dengan wajah kemenangan

...####...

Siang hari, Kartik datang.

Ia membawa dokumen. Wajahnya lelah, tapi rapi seperti biasa.

“Kamu lebih baik?” tanyanya.

Aira mengangguk singkat.

Kartik berdiri di ujung ranjang. Jarak yang sama seperti sebelumnya.

“Kamu marah sama saya?” tanyanya datar.

Pertanyaan itu membuat Aira terkejut.

“Kenapa kamu nggak berusaha jelasin?” suara Aira bergetar.“Kalau memang kamu nggak ngelakuin apa-apa… kenapa kamu diam?”

Kartik terdiam.

“Karena apa pun yang saya katakan sekarang,” jawabnya pelan, “akan terdengar seperti pembelaan.”

“Itu kan wajar!” suara Aira meninggi.

Kartik menatap Aira. Dalam. Lama.

“Kalau saya harus memilih,” katanya pelan, “saya lebih memilih kamu tenang… daripada saya terlihat benar.”

Kalimat itu tidak menenangkan Aira.

Justru sebaliknya.

“Jadi kamu ngaku?” tanya Aira lirih.

Kartik menggeleng. “Tidak.”

“Tapi kamu juga nggak menyangkal dengan keras.”

Kartik menghela napas. “Aira… saya tidak ingin menjadi orang yang memaksa kamu percaya.”

Air mata Aira jatuh.

“Berarti kamu memang punya perasaan itu,” katanya lirih. “Makanya kamu sengaja memanfaatkan keadaan keluarga aku. Makanya kamu marah ke Langit dan mintak langit jauhin aku?”

Kartik ingin bicara. Bibirnya terbuka sedikit.

Lalu tertutup lagi.

“Kalau itu yang kamu yakini,” katanya akhirnya, “saya tidak akan menyangkal perasaan saya.”

Kalimat itu

menjadi pukulan terakhir.

Bukan karena Kartik mengaku memiliki Aira.

Tapi karena ia mengaku mencintai… tanpa membela diri.

Aira membalikkan wajahnya.

“Pergi,” katanya pelan.

Kartik tidak bergerak.

“Pergi, Kartik,” ulang Aira. Suaranya pecah.

“Aku butuh ruang.”

Kartik mengangguk.

Ia berbalik.

Melangkah pergi tanpa menoleh.

Dan saat pintu tertutup, Aira menangis tersedu-sedu.

Di dalam kepalanya, satu kesimpulan terbentuk perlahan, menyakitkan, tapi terasa masuk akal bagi hati yang lelah.

Bahwa Langit memang kasar,

tapi jujur.

Dan Kartik…

terlalu tenang untuk sepenuhnya bersih.

Dan kepercayaan Aira, jatuh ke tangan yang salah.

Hari ini Aira pulang dari rumah sakit tidak terasa seperti pulang.

Langit berdiri di depan pintu mobil, seolah itu sudah menjadi tempatnya berdiri sejak lama. Wajahnya penuh perhatian, senyumnya tipis, senyum orang yang ingin terlihat sabar.

“Aku jemput,” katanya ringan. “Biar kamu nggak capek.”

Aira ragu sebentar. Tapi tubuhnya masih lemah. Kepalanya masih sering berdenyut.

“Iya,” akhirnya ia mengangguk.

Di dalam mobil, Langit tidak menyalakan musik.

Tidak bertanya terlalu banyak.

Ia hanya sesekali melirik, memastikan Aira duduk nyaman.

“Kamu harus istirahat,” katanya. “Jangan kebanyakan mikir.”

Aira mengangguk.

Dan tanpa sadar, sejak hari itu, keputusan-keputusan kecil berhenti menjadi milik Aira.

...####...

“Jangan ke kampus dulu.” “Dosenmu bisa ngerti.” “Kamu nggak perlu kerja dulu, fokus sembuh.” “Ngapain ketemu mereka? Kamu capek.”

Kalimat-kalimat itu tidak terdengar jahat.

Justru terdengar peduli.

Awalnya Aira mengangguk. Sekali. Dua kali.

Sampai suatu sore, Naya menelepon.

“Aira, kamu ke mana sih? Kamu nggak bales chat.”

Aira baru mau menjawab, ketika Langit mengambil ponselnya.

“Dia lagi istirahat,” kata Langit ramah ke telepon. “Nanti aku sampaikan.”

Klik.

Aira menatapnya. “Kenapa kamu ngerebut HP aku?”

Langit tersenyum. “Aku cuma bantu. Kamu kan capek.”

Kalimat itu membuat Aira tidak bisa marah.

Karena marah berarti tidak bersyukur.

Dan Aira, terlalu lelah untuk berdebat.

Kartik tidak lagi pernah pergi ke rumah Aira. Tidak lagi duduk lama di depan teras rumah Aira. Tidak lagi mengirim pesan.

Ia hanya melakukan hal-hal yang tidak terlihat sebagai kehadiran.

Tagihan listrik rumah Aira lunas. Obat ibunya selalu cukup. Ada uang belanja yang “entah dari mana”.

Jika Aira datang ke perusahaan, Kartik memastikan mereka tidak berada di ruangan yang sama terlalu lama.

“Pak Kartik minta file ini,” kata staf. Aira mengantarkan ke ruangan Kartik, Kartik menerima tanpa menatap terlalu lama.

“Terima kasih,” katanya singkat.

Dan itu saja.

Aira ingin bertanya. Ingin marah. Ingin mengatakan banyak hal.

Tapi setiap kali mereka berpapasan, ada dinding tak kasatmata yang membuat Aira berhenti melangkah.

...####...

Langit selalu tahu jadwal Aira, bahkan yang tidak ia ceritakan. Langit marah saat Aira terlambat membalas pesan, tapi sering tidak bisa dihubungi saat Aira mencarinya. Langit mulai menyindir Kartik dengan cara halus.

“Orang baik itu ninggalin kamu pas kamu butuh kan” katanya suatu malam.

Aira terdiam. “Kartik nggak ninggalin aku.”

Langit tertawa kecil. “Kalau dia nggak ninggalin, kenapa sekarang kamu sendirian?”

Kalimat itu menancap seperti belati, Kartik tidak pernah meninggalkan nya,tapi langit yang selalu meminta Aira untuk menjauhi Kartik, Aira sempat kecewa dengan Kartik, karena masalah di rumah sakit tapi lebih dari itu ia, memilih menjauh karena langit, dan langit membuat seakan hanya langit yang selalu ada untuk Aira

...####...

Namun malam ini, ibunya Aira bertanya

pelan, “Langit ke sini siang tadi ya?”

Aira mengernyit. “Enggak. emang Kenapa bu?”

“Ibu kira tadi dia. Ada yang ninggalin buah.”

Aira membuka kulkas. Buah itu ada.

Saat ia bertanya ke Langit, jawabannya terlalu cepat. “Oh iya. Aku sempat lewat. Tapi nggak mau ganggu.”

Kenapa dia bilang lewat, tapi tidak bilang mampir? Dan Kenapa ia selalu ada… tanpa pernah benar-benar terlihat?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul, lalu ditekan kembali oleh Aira sendiri.

"Aku cuma capek, pikiran ku terlalu sensitif, tidak mungkin itu Kartik" batin Aira

Sudah seminggu Aira kembali bekerja di perusahaan ayah nya, ya walaupun Aira cuman staf biasa, Aira selalu makan tepat waktu, istirahat dan tidur teratur, Ia tidak lagi memaksa diri terlihat kuat.

Kartik hanya memantau. Tidak menegur. Tidak memuji.

Tapi setiap laporan yang Aira susun, ia baca.

Setiap kesalahan kecil, ia perbaiki tanpa mempermalukan.

Dan Mungkin Aira tahu itu.

Suatu siang, mereka bertemu di lift.

“Suda saya bilang, saya enggak butuh bantuan anda pak kartik,” kata Aira tiba-tiba.

“pak?,” jawab Kartik.

“iya, perusahaan ini memang milik ayah saya, tapi sebelum saya pantas memimpin, anda adalah atasan saya, jadi memang sewajarnya saya memanggil anda dengan sebutan pak,” Aira tersenyum kecil.

Kartik menatap lantai yang menyala, ekspresi nya seperti biasa tentang, tapi hatinya terluka“ya, kamu benar” jawab kartik

Lift terbuka, Kartik meninggal Aira Tanpa menoleh atau pamit.

Aira berdiri sendiri, menatap pantulan dirinya di dinding lift. Senyumnya belum sepenuhnya pudar, tapi dadanya terasa kosong. Ada sesuatu yang bergetar di sana, bukan lega, bukan marah, lebih seperti kehilangan yang tidak diakui.

Ia menghela napas, lalu melangkah keluar.

Sejak hari itu, Aira menjadi versi dirinya yang berbeda saat berada di dekat Kartik.

Bukan dingin. Bukan juga kasar secara terang-terangan.

Ia memilih ketus.

Ketus yang sopan. Ketus yang rapi. Ketus yang menyisakan jarak, tapi cukup tajam untuk terasa.

“Aira, laporan bulan ini perlu direvisi di bagian arus kas,” kata Kartik suatu pagi di ruang rapat kecil. Suaranya tetap datar, profesional.

Aira membuka berkasnya perlahan. “Kenapa? Ada yang salah?” tanyanya, tanpa menatap.

“Bukan salah,” jawab Kartik. “Tapi kurang presisi.”

Aira tersenyum tipis. “Oh… atau mungkin Bapak terlalu perfeksionis? Wajar sih. Namanya juga orang yang terbiasa mengendalikan segalanya.”

Ruangan itu hening sesaat. Beberapa staf saling melirik, pura-pura sibuk dengan laptop.

Kartik tidak bereaksi cepat. Ia membaca ulang angka-angka di layar. “Kalau kamu merasa begitu, kita bisa bahas dengan data,” katanya akhirnya.

Aira mengangguk. “Tenang saja, Pak. Saya cuma staf. Tugas saya mengikuti arahan. Lagi pula, bukankah dari awal Bapak memang terbiasa mengatur hidup orang lain?”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi tepat.

Kartik mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu.

Tidak ada kemarahan di mata Kartik. Yang ada hanya sesuatu yang lebih melelahkan dari marah.

Ia mengangguk sekali. “Rapat selesai,” kata Kartik singkat. Semua karyawan keluar begitu juga dengan Aira meninggal Kartik sendirian, tangannya sibuk memainkan pena tapi pikirannya tetap berjalan mengiat semua perkataan Aira

"Aku tahu sejak kalimat pertamanya. Ini bukan tentang laporan. Ini tentang aku.

Aira tidak sedang mengoreksi pekerjaanku. Ia sedang menghukum perasaanku.

Dan aku membiarkannya.

Karena setiap kali ia bicara seperti itu, setidaknya ia masih bicara padaku. Lebih baik diserang, daripada diabaikan sepenuhnya"

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama.

Aira selalu punya cara untuk menyinggung, tanpa pernah menyebut nama, Tapi setiap kalimatnya seperti ditujukan untuk membuktikan satu hal, bahwa Kartik bukan orang yang sebersih yang terlihat.

“Pak Kartik,” kata Aira suatu sore, saat mereka sama-sama berdiri di pantry kantor. “Kadang saya mikir… orang yang paling berbahaya itu bukan yang terang-terangan jahat.”

Kartik menuang kopi, tangannya stabil.

“Lalu?”

“Yang berbahaya itu yang terlihat peduli,” lanjut Aira. “Datang pas orang lagi jatuh. Bikin orang merasa berutang budi.”

Kartik menutup termosnya perlahan. “Kamu bicara soal apa, Aira?”

Aira menatapnya. “Ah, bukan apa-apa. Cuma pikiran staf biasa.”

Ia berlalu sebelum Kartik sempat menjawab, hatinya hancur tapi Kartik sebisa mungkin menampakkan wajah tenang, tapi matanya tidak bisa berkompromi, matanya terlihat merah walau tak ada air mata.

Aira tidak tahu betapa setiap kalimatnya seperti membuka luka yang belum sempat mengering. Ia tidak tahu bahwa Kartik juga memiliki hati

“Aku tidak pernah ingin kamu berutang apa pun.” “Aku hanya ingin kamu aman.Aku hanya ingin tetap di dekatmu, tanpa harus memiliki.

Tapi aku tidak mengatakannya. Karena dulu, aku sudah memilih diam. Dan diam, ternyata punya harga yang mahal." ujar Kartik berbicara pada dirinya sendiri

Di luar kantor, hidup Aira semakin menyempit.

Bukan karena Langit melarang dengan suara keras. Tapi karena setiap keputusan kecil, selalu diiringi sugesti.

“Kamu yakin mau lembur?”

“Bukannya kamu masih gampang pusing?”

“Kamu nggak perlu buktiin apa-apa ke Kartik.”

Nama Kartik selalu disebut dengan nada yang sama, seolah ia bayangan yang harus dijauhi.

Aira tidak menyadarinya sebagai jerat. Ia menyebutnya perhatian.

Sampai suatu malam, ia pulang lebih larut karena revisi laporan. Langit menunggunya di teras.

“Kamu ke mana aja?” tanyanya, suaranya terdengar tenang, tapi matanya tajam.

“Kerja,” jawab Aira singkat.

“Kerja atau sama dia?”

Aira berhenti melangkah. “Kamu nggak berhak nanya kayak gitu.”

Langit tersenyum kecil. “Aku cuma khawatir.”

Kata itu lagi. Khawatir.

Dan anehnya, kata itu mulai terdengar seperti pagar.

Di kantor, Kartik semakin jarang terlihat di dekat Aira. Bukan karena ia menjauh. Tapi karena ia tahu, kehadirannya kini justru melukai.

Ia mengatur agar Aira melapor ke manajer saja, Memastikan bonusnya cair tepat waktu.memastikan kalau Aira bisa belajar tanpa kendala dan memastikan kalau Aira dan ibunya baik-baik saja.seperti biasa tanpa Aira perlu tau.

Kartik Duduk tegap seperti biasa di kursi kerjanya, bajunya tetap rapi walaupun sudah malam dan wajah nya datar, tapi pikirannya tak mau di ajak kerjasama ia hanya memikirkan Aira

Aku mencintainya dengan cara yang tidak terlihat. Dan ternyata, cinta yang tidak terlihat… mudah sekali disalahartikan.

Suatu hari, Aira dipanggil ke ruang direksi. Tente Desi tidak ada. Hanya Kartik, duduk dengan berkas-berkas.

“Ada apa, Pak?” tanya Aira, nadanya formal.

“Kita perlu bicara soal kamu,” kata Kartik.

Aira langsung menegakkan bahu. “Kalau soal kinerja, saya siap dikritik. Tapi kalau soal pribadi...”

“Ini soal promosi.”

Aira terdiam.

“Kamu layak naik posisi,” lanjut Kartik. “Bukan karena kamu anak pemilik perusahaan. Tapi karena kamu punya kemampuan dan dedikasi”

Aira tertawa kecil. “Oh, jadi sekarang Bapak mau kelihatan objektif?”

Kartik menghela napas. “Aira… ini bukan permainan.”

“Justru itu,” potong Aira. “Saya capek melihat anda yang selalu tampak baik”

“maksud kamu apa Aira?”

Aira menatapnya lurus. “maksud saya orang-orang kayak anda ini datang ke hidup saya pas saya lagi paling lemah, lalu mengambil kesempatan dan akan meminta imbalan untuk setiap bantuan.”

Ruangan itu sunyi.

Kartik berdiri. “Kalau kamu merasa saya seperti itu” katanya pelan, “saya tidak akan memaksa kamu menerima apa pun.”

Ia mendorong berkas itu menjauh.

“Keputusan ada di kamu.”

Aira menelan ludah. Ada bagian dari dirinya yang ingin berteriak, Kenapa Kartik selalu mengalah dan tenang? "Tolong sekali ini, lawan. Agar saya tidak harus merasa bahwa ini pilihan yang salah" batin Aira

Vo Kartik : Aku ingin mengatakan bahwa aku patah. Bahwa setiap hari aku pulang ke rumah yang terlalu sepi. Bahwa aku menatap ponsel berharap namanya muncul, meski aku tahu tidak akan. Aku lebih memilih terluka sendirian, daripada memenangkannya dengan cara yang salah.

Malam itu, Aira duduk sendiri di teras rumah. Berkas promosi terbuka di meja. Pikirannya kacau.

Langit datang tanpa aba-aba. “Kamu kelihatan capek,” katanya.

“Aku mau tidur,” jawab Aira.

Langit duduk di kursi samping meja. “Kamu masih mikirin dia, ya?”

Aira menoleh. “Kenapa kamu selalu ngomongin Kartik?”

Langit tersenyum tipis. “Karena aku tahu… dia masih di kepalamu.”

Kalimat itu membuat Aira gemetar. Bukan karena marah. Tapi karena mungkin… benar, tapi sejak kapan Kartik ada di pikiran nya.

Di tempat lain, Kartik berdiri di balkon apartemennya. Lampu kota menyala di bawah sana. Ia memegang ponsel, berharap ada sesuatu yang ia tunggu

VO Kartik

Aira tidak tahu bahwa aku sudah kehilangan. Bukan karena dia memilih orang lain. Tapi karena aku memilih diam… terlalu lama.

Aku tidak kalah oleh Langit. Aku tidak kalah karena caraku mencintai tapi aku kalah karena Aira melihat ku dengan kebencian

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Kartik mengakui pada dirinya sendiri:

Ia patah hati. Dan kali ini, ia tidak tahu bagaimana cara menyusunnya kembali.

Bersambung

1
Azha Nasgor
Lanjut thoor
Azha Nasgor
semngat thoor
Azha Nasgor
sangat baik
Aisyah
sangat bagus
Salman Akbar
lanjut Thorr
Zahra Putri utami
kok enggak berenti ujian Aira
Zahra Putri utami
Kasian Raka
Zahra Putri utami
Ya allah raka
Zahra Putri utami
kasian Aira
Zahra Putri utami
semangat thor
Zahra Putri utami
lanjut
Zahra Putri utami
Lanjut
Zahra Putri utami
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!