Shafira adalah, seorang perempuan yang berusia 25 tahun dan sudah menikah dengan seorang pria berkepribadian keras bernama Erick. Selama menikah, ia kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Namun, perempuan itu selalu sabar menghadapi kekasaran dari pria yang dinikahinya itu.
Sikap kejam Erick tidak di situ saja, ia tega selingkuh dengan rekan kerja yang merupakan cinta pertamanya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Namun, suatu hari hal naas terjadi saat perselingkuhan itu akhirnya terbongkar.
Akankah Shafira bisa mempertahankan pernikahan mereka setelah semua yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
“Shafira! Kamu sengaja melakukannya, kan? Apa kamu kurang puas? Aku sudah cape dari pagi menyiapkan sarapan untuk kalian, tapi ini balasanmu?” kata Wulan panik.
Shafira sedikit terkejut, ia tidak menyangka kalau isi gelas berwarna biru yang diminum Wulan ternyata berisi air teh yang masih panas. Percikan airnya ada yang memercik kebagian tangannya hingga ia bisa merasakannya juga.
Sebenarnya Shafira hendak melangkah mendekati Wulan, dengan maksud memamerkan kartu debit yang diberikan Erick padanya. Namun, langkahnya sedikit terburu-buru hingga menabrak kursi yang di duduki madunya itu. Tanpa ia rencanakan, kejadian itu telah membalaskan dendamnya, satu persatu.
“Uupss! Maafkan aku, Wulan! Sungguh aku tidak sengaja!” kata Shafira sambil menutup mulut.
“Shafira! Apa kamu baik-baik saja?” tanya Erick yang dengan segera menghampiri Shafira dan menelisikkan pandangan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Sayang! Aku nggak sengaja tadi, kamu nggak marah sama aku, kan? Tapi kasihan Wulan, dia kepanasan, soalnya air tehnya masih panas!” kata Shafira sedikit memanja.
Erick menoleh pada Wulan, “Wulan, kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya datar dan sedikit acuh.
Wulan mengangguk dan berkata, “Ya, aku baik-baik saja, jangan kuatir!”
Wulan menahan kesalnya setengah mati, karena Erick tidak melakukan apa pun lagi padanya dan lebih perhatian pada Shafira. Ia pikir Shafira sengaja ingin dinilai sebagai wanita jahat oleh suaminya. Namun, ternyata perkiraannya meleset, karena Erick tidak menganggap perbuatan Shafira sebagai kesalahan, tapi justru memperlihatkan kepedulian.
“Sayang, apa kamu tidak kuatir pada Wulan, dia tersiram air panas!” kata Shafira, yang antusias meyakinkan Erick yang tidak peduli kepada madunya. Ia tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa.
“Sudah, biarkan saja. Ayo! Kita sarapan, setelah itu, aku akan pergi mengantar kamu ke mana pun!”
“Oh, baiklah!” kata Shafira seraya kembali melirik madunya.
Lalu, sepasang suami istri pun mulai makan nasi goreng, dengan irisan telur dadar buatan Wulan.
Wulan beranjak dari meja makan dan mengambil kotak obat untuk mengobati lukanya. Meskipun, lukanya tidak seberapa, tetapi tetap saja terasa panas hingga ia memberikan salep, yang memberikan efek lembab dan dingin di kulitnya. Dalam hati Ia terus menggerutu kepada Shafira, dan mendoakan keburukan baginya. Aksinya baru berlangsung satu hari, tetapi sangat menyebalkan dan sepertinya, ia tidak akan kuat kalau berlangsung lebih lama lagi.
Setelah Shafira Dan Erick selesai menikmati sarapan yang dibuat oleh Wulan, mereka berjalan beriringan menuju tempat di mana mobil Erick terparkir. Pria itu memegang tangan Shafira seolah enggan melepaskannya. Semua kejadian itu terlihat dengan jelas di mata Wulan, membuatnya semakin geram.
Begitu melihat mobil Erick keluar dari halaman, Wulan langsung menghubungi seseorang. Ia meminta orang yang memberikan jasa pelayanan kebersihan, untuk membereskan semua kekacauan yang dibuat Shafira sebelum sarapan. Sementara itu ia memilih untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya. Ternyata, bersandiwara berpura-pura baik, sekaligus memasak untuk orang lain itu sangat melelahkan.
Akhirnya, ia tahu apa yang dirasakan Shafira dulu, saat ia terus menerus mengerjainya bersama ibu mertuanya juga.
Sementara itu di dalam mobil, Erick terus-menerus melirik ke arah Shafira yang duduk dengan tenang di sampingnya. Ia merasakan aura yang berbeda dari wanita itu dan semakin merasakan jatuh cinta.
“Kamu mau bertemu dengan siapa hari ini?” tanya Erick menunjukkan perhatian untuk ke sekian kalinya pada Safira.
“Sudah kubilang, aku hanya mau jalan-jalan saja!” jawab Shafira seadanya, ia kembali ke sifatnya semula, karena tidak ada Wulan di antara mereka.
Kalau saja Erick tidak memaksa, ia enggan pergi berdua saja. Apalagi, ia sedang berakting untuk memanas-manasi Wulan dan membalaskan sakit hatinya. Oleh karena itu ia mau diantar pria itu ke mana saja dengan terpaksa.
“Apa ada seorang yang bisa menemanimu? Kamu baru saja sembuh dari sakit. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu!”
“Ya ... aku berjanji bertemu di cafe Beebear dengannya, sebelum pergi ke mall kota!”
“Baiklah aku akan mengantarmu ke sana!” kata Erick, seraya kembali fokus ke jalan raya.
“Kenapa kamu sekarang begitu perhatian padaku? Erick, kamu tidak perlu merasa bersalah atas hilangnya calon bayi kita meski itu sepadan! Dan aku sebenarnya bersikap baik padamu hanya di depan Wulan, untuk menyakitinya! Jadi, kalau kamu mau membenciku dan marah, silakan benci saja,” Shafira berkata penuh dengan ketenangan. Ia tahu, Erick masih sangat mencintai Wulan dan tidak suka Shafira bersikap buruk saat sarapan.
“Dan kalau kamu mau memukulku, silakan saja, aku sudah terbiasa dengan itu! Kamu tidak perlu berpura-pura ... kalau perlu panggil juga Mama, untuk menyakitiku agar kalian semua puas!” katanya lagi.
Erick merasakan perbedaan atmosfer di sekitarnya yang sangat kentara, tapi ia tidak menahan amarahnya sekuat tenaga. Ia menganggap sikap ketus Shafira adalah, karena kesalahannya juga. Jadi, ia menerimanya dengan lapang dada dan, tidak akan kembali memarahi Shafira seperti dulu.
“Shafira, bukankah aku sudah minta maaf padamu tentang masa lalu kita? Apa kamu belum bisa memaafkan aku, Wulan, juga Mama? Apa yang bisa aku lakukan agar kamu bisa maafkan kami semua atas kesalahan yang sama?”
Shafira diam saja, ia tidak mengira jika Erick akan berkata selembut itu padanya. Seharusnya Erick tahu, luka hati tak bisa disembuhkan dengan cepat, tak sama seperti luka di tubuhnya.
“Kalian tidak perlu repot-repot minta maaf padaku, aku sadar kalau aku tidak diharapkan hadir di antara kalian!”
Erick menghela napas berat.
“Oh, ya! Siapa temanmu yang akan membantu berbelanja, bolehkah aku berkenalan dengannya?” katanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nanti saja, aku akan perkenalkannya padamu!” ujar Shafira dan Erick tidak memaksa.
“Shafira ... maafkan aku yang belum tahu banyak tentang dirimu, keluargamu, dan juga teman-temanmu, aku akan memperbaikinya mulai dari sekarang!”
Shafira sedikit gelisah karena ia tidak berjanji dengan seorang teman perempuan seperti yang dikatakannya pada Erick. Namun, sebenarnya ia berjanji dengan pengacara yang akan dikenalkan Riyan padanya, yang akan datang tepat jam 09.00. Oleh karena itu ia terpaksa berbohong agar rencananya tidak terbongkar.
Namun, Shafira bersyukur ketika Erick menghentikan kendaraannya di depan kafe itu, ada seorang perempuan yang kebetulan masuk secara bersamaan. Ia segera turun dari mobil, sambil tersenyum pada suaminya yang akan segera ia lepaskan itu.
“Nah, itu dia sudah datang!” katanya sambil menunjuk wanita yang baru saja masuk itu.
“Ya, aku lihat!” Erick berkata setelah melirik ke arah wanita yang sama.
“Kamu telepon saja aku kalau mau pulang, nanti biar aku yang menjemputmu!” katanya lagi dari jendela mobilnya sambil melihat ke arah Shafira yang baru saja turun setelah membuka pintu.
Shafira melambaikan tangan pada suaminya dan berteriak, “Tidak perlu!”
Ia melangkah memasuki kafe setelah mobil Erick berlalu dan mulai menghubungi Essan, sesuai nomor telepon yang diberikan Riyan. Mereka sudah saling berkirim pesan tadi sebelum sarapan.
“Hallo! Pak, Essan? Saya sudah ada di kafe yang Anda katakan tadi!” kata Shafira langsung pada intinya, begitu telepon sudah tersambung.
Tak lama kemudian Shafira kembali menutup telepon setelah mendapatkan jawaban kalau pria itu tengah dalam perjalanan. Ia memilih duduk di salah satu meja dan memesan secangkir kopi tanpa gula. Ia hampir menghabiskan separuhnya ketika seorang pria tampan dan matang berjalan mendekatinya.
“Bu Shafira?” tanyanya sambil melepas kaca mata hitamnya.
Shafira berdiri dan mengulurkan tangannya, “Ya, saya!” katanya seraya tersenyum simpul.
Essan tercengang dan mengulurkan tangan, menyambut jabat erat dari Shafira. Lalu, duduk di hadapannya.
sungguh mantap sekali ✌️ 🌹🌹🌹
terus berkarya dan sehat selalu 😘😘
syabas kak thor