Alana Pattinson harus menelan pil pahit, setelah lulus strata dua, perusahaan yang didirikan ayahnya mendadak bangkrut, terlilit hutang.
Mencari pekerjaan di luar tidaklah mudah, apalagi dengan gaji tinggi untuk membiayai rumah sakit ayah serta hidup kedua adiknya.
Alana terpaksa menerima tawaran menikah dari pria tua kaya raya, yang menjamin perusahaan ayahnya bangkit kembali, tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Namun tidak seindah yang dibayangkan, karena sosok lain datang dan mengganggu kehidupan Alana. Bahkan berani melawan untuk mengambil kedudukan Alana.
Lewis Jansen tidak terima pada kenyataan, bahwa ayahnya menyerahkan posisi pimpinan utama perusahaan kepada ibu tirinya yang masih sangat muda. Segala upaya dia lakukan demi merebut semua haknya.
Ikuti terus kisahnya hanya di Noveltoon
Trap My Stepmother
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Mengikuti Debby
Sore hari sepulang bekerja, Alana duduk sendiri di halte bus. Tentu setelah memastikan semua dalam keadaan sepi. Dia tidak mau pegawainya menaruh rasa curiga karena melihatnya bersama Lewis.
Mobil biru milik Lewis Jansen berhenti tepat di depan Alana, terbuka. Pria itu menyambut ibu sambungnya sangat ramah, bagian belakang mobil dipenuhi bunga mawar. Tentu saja perbuatan Lewis.
“Pakai sabuk pengaman, Alana.” Lewis membantu wanitanya, lalu mengambil kesempatan, mencium rakus bibir dengan perona merah mudah itu. “Manis. Sekarang kita ke mana?” tanya Lewis menciumi wajah dan rambut Alana yang selalu memabukkan.
Namun Alana menjawab sangat tegas, lantaran melihat mobil Debby Jansen tiba-tiba melintas begitu cepat. “Ikuti Tante Debby. Aku curiga, dia mau ke mana?” Alana tak memedulikan riak kecewa di wajah putra sambungnya.
“Sekarang Lew, sebelum kita kehilangan jejak.” Alana melotot tajam dan memaksa.
“Ok, pegangan. Aku ngebut.”
Mobil biru itu melaju cepat membuntuti Debby Jansen. Menjaga jarak aman, karena kendaraan ini sangat mencolok tentu saja orang tahu pemiliknya adalah Lewis Jansen.
Debby berhenti di salah satu mini market, membuat Lewis dan Alana memiliki kesempatan untuk menukar mobil. Ya pria itu membayar mahal kepada pemilik SUV putih yang ditemuinya.
**
Alana dan Lewis setia mengamati Debby, wanita itu masuk ke dalam rumah mewah. Gerbang tinggi pun menutup, terputus sudah penyelidikan Alana. Tapi dia tidak kehilangan akal. Alana turun, dengan dalih sedang mencari rumah untuk dibeli, bertanya kepada beberapa orang.
Menggali informasi, siapa pemilik rumah tersebut. Hasil mencengangkan diperoleh Alana. Secepat kilat dia kembali memasuki mobil. Membuka MacBook-nya, mencari tahu tentang sang pemilik rumah.
“Apa yang kamu dapatkan Alana? Serahkan kepadaku!” Lewis mengambil alih benda itu dan menunggu Alana mengatakan sesuatu.
“Rumah itu milik pimpinan badan pertanahan Lew. Salah satu petingginya. Cobalah baca beberapa artikel.” Perintah Alana, dia mencurigai sesuatu. Karena Debby dikenal memiliki koneksi yang luas, apalagi dengan posisinya sebagai Direktur Operasional JSN Group.
Alana dan Lewis melahap banyak informasi dari Google, namun hanya catatan baik yang diperoleh. Keduanya setia menunggu hingga dua jam lamanya, setelah itu mobil Debby kembali keluar dan menuju rumah sakit tempat James mendapat perawatan.
Tidak ada satu orang pun yang menaruh kecurigaan. Karena menurut pengawal, Debby Jansen hanya mengobrol di dalam, sekedar basa basi. Membahasa pekerjaan sebab banyak map yang dibawanya.
“Kenapa perasaanku tidak enak ya Lew. Tapi kita tidak bisa mengetahui tujuan Tante Debby memasuki rumah petinggi badan pertahanan.” Alana terus saja berpikir, otaknya mencari jawaban, mencoba menghubungkan dengan semua bukti dan rencana Debby yang berhasil dikumpulkan.
“Dia licik Alana, manusia berkepala dua. Posisinya sekarang juga tidak akan bisa diganti sebelum dirinya masuk ke kuburan. Dia dan Patricia sama-sama penjilat yang pandai.” Lewis Jansen ingat sekali kakeknya sengat menyayangi Debby melebihi James. Padahal asal usul wanita itu saja tidak jelas.
“Kita pulang ke rumah. Mengawasi Debby dari dekat, tenanglah dia tidak akan mencelakai James. Banyak petugas kemanan di sana. Suamimu itu tetap hidup Alana.” Ucapnya Lewis penuh penekanan, tentu cemburu. Pria ini yakin Alana mengkhawatirkan James.
“Ya kau benar Lew, aku takut Tuan James ... terjadi sesuatu, tapi kau benar, kamarnya saja memiliki tingkat keamanan yang tinggi.” Alana mengangguk, dia mengikuti ajakan Lewis yang membawanya pulang ke rumah.
**
Tiba di kediaman Jansen, Alana turun lebih dulu meninggalkan Lewis. Tentu saja menghilangkan rasa curiga dari semua pelayan dan pekerja di rumah ini.
Mata coklat karamel Alana membola karena penampilan Patricia hari ini sangat berbeda. Gadis itu terlihat sangat cantik lebih dari biasanya. Menggunakan pakaian yang tidak tertutup sempurna.
“Kenapa Tante, lihat-lihat? Iri ya?” Patricia tertawa lepas, mengibaskan tangan sebagai tanda mengusir keberadaan Alana, karena akan mengacaukan rencananya menggoda kakak sepupu.
“Pakaianmu aneh. Kamu tidak takut masuk angin? Anak kecil sebaiknya memakai jaket tebal dan tidur di kamar, bukan berkeliaran menggunakan baju yang tidak jelas seperti itu.” Balas Alana sangat pedas, tidak menyukai Patricia yang dewasa sebelum waktunya.
“Tante Alana, ingat ya. Kamu itu benalu di rumah ini, jadi sadar diri jangan ikut campur apapun yang aku lakukan, paham Alana?” Patricia jengah selalu menerima nasihat panjang lebar, gadis ini mendorong Alana hingga menabrak dinding.
“Ini akibatnya karena menghalangi jalan.” Patricia melangkah keluar, mencari keberadaan Lewis Jansen.
“Ish, di mana sih? Aku lihat mobilnya masuk tapi kenapa lama?” Patricia sengaja menunggu tepat di depan pintu garasi, bolak-balik, sesekali menatap ke dalam.
BRUK
“Aw … sakit, kamu tidak punya mata ya?” suara Patricia melengking kuat.
Setelah menyadari bahwa pria yang menabraknya adalah Lewis Jansen. Gadis ini pura-pura kesakitan.
“Sakit kak, tolong. Gendong aku ke kamar bisa kan? Sakit.” Keluh Patricia, air matanya pun bercucuran.
Namun sikapnya yang acuh dan sedingin es di kutub selatan tidak bisa luluh dengan akting adik sepupunya. “Apa yang sakit?” Lewis jongkok memindai penampilan gadis kecil di depannya ini.
“YES, aku yakin kakak tergoda. Dia kan pria normal, masa iya tidak tertarik sedikitpun?” hati Patricia bersorak senang. Menunggu tangan Lewis meraih tubuhnya.
“Kaki aku sakit kak.” Isak tangis Patricia menyakiti telinga Lewis.
Bukan perhatian atau bantuan melainkan jawaban tak terduga keluar dari bibir Tuan Muda Jansen.
“Kalau kedua kakimu sakit, gunakan kedua tangan untuk masuk ke dalam. Pakai otak untuk berpikir, bukan seperti itu Patricia? Kau bahkan tidak layak menyandang nama keluarga Jansen, otakmu terlalu bodoh.” Sarkas Lewis luar biasa langsung menusuk ke dalam jantung Patricia.
“Lewis.” Lirih gadis itu, kali ini menangis sungguhan bukan air mata palsu.
Sedangkan Lewis berdiri, kakinya melangkah masuk ke dalam rumah. Malas menanggapi tingkah Patricia yang sangat menjijikan.
Tiba-tiba Lewis menoleh dan berkata, “Jangan sampai tangisanmu itu terdengar olehku. Kalau sampai terjadi, siap-siap semua fasilitas, ku ambil semuanya, termasuk uang jajan. Paham Nona!”
Ancaman Lewis ini sukses membuat Patricia bungkam dan berdiri tegak dengan kakinya. Gagal sudah rencana untuk menarik perhatian kakak sepupu.
Sedangkan Alana tertawa puas sebab putra sambungnya benar-benar sosok yang sangat kejam dan keterlaluan. Semula Alana cemburu, takut Lewis tergoda dan menyentuh keponakan dari suaminya itu.
Alana bersembunyi dibalik dinding, tepat sekali dugaannya, bahwa Patricia merubah penampilan demi mencuri perhatian Lewis, sayangnya gagal sudah.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya masuk ke kamar.” Lewis memergoki Alana yang menutup mulut karena tindakan konyol Patricia.
“Tidak, bukan apa-apa. Kamu lama, ada masalah?” basa-basi Alana mengulum bibir menutupi tawanya.
“Alana, aku tidak bodoh dan bukan anak kecil. Kamu cemburu, benarkan? Sengaja mengintip dari sini.” Kali ini Lewis membuat pipi Alana bersemu merah, memang benar apa yang dikatakan putra sambungnya.
“Malam ini tidurlah denganku, aku tunggu di kamar.” Lewis mencium kilat bibir tebal Alana, kemudian pergi menaiki anak tangga dan menghilang di balik pintu.
TBC
***
berikan like dan komentar
kalau suka dengan alurnya boleh gift dan vote ya kaka terima kasih 🙏😉
besok ya 🙏
semangat kak nulisnya 💪🏻🥰