Di bumbui Cerita 21++
Tak kusangka aku bisa mencintaimu.
Semenjak kejadian yang menimpanya malam itu. Arana harus kehilangan kesuciannya yang telah Ia jaga selama 23 tahun.
Karna kejadian yang meningpanya malam itu Arana harus menerima kenyaatan pahit. Kekasih yang sangat Ia cintai pergi meninggalkannya begitu saja.
Arana di perkosa oleh seorang
pemuda yang tidak Ia kenal.
Apakah Arana bisa menemukan pemuda yang telah merampas kesuciannya?...
Dan apakah Arana bisa membalas cinta orang yang telah merampas semuanya darinya? ketika pemuda itu mengatakan Aku Mencintaimu Arana.
Ikutin terus ya Cerita Cinta Manisku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Mau Aku Peluk!
Arana yang melihat Steven tetap menutup kedua matanya merasa
sangat kesal, kesal karna merasa sangat lapar, namun Steven tidak
memperdulikannya.
Arana turun dari atas tempat tidur, lalu berjalan ke arah
kamar mandi untuk segara membersikan diri karna jujur saat ini semua
cacing-cacing dalam perutnya semuanya mulai demo minta jatah makan siang yang
telah di lewatkannya.
Arana membuka bajunya kemudian melemparnya kesembarang
tempat karna merasa sangat kesal,dan kekesalannya itu terlampiaskan oleh
bajunya.
Sementara Steven yang melihat wajah Arana berjalan masuk ke
dalam kamar mandi, dengan segara bangun dan mulai memesan makanan untuk Arana
makan, karna ia tidak ingin Arana kesal di saat seperti ini Steven ingin
melihat istrinya selalu terlihat ceria dan bahagia.
Steven mulai memesan makanan dan juga buah-buahan untuk
Arana makan dan tentu untuk dirinya juga, bahkan di saat Steven memesan makanan
kepada pelayan Hotel Steven berkata.
“Jika kamu bisa membawa semua pesananku sebelum tiga menit, aku
akan memberi tip yang besar untukmu karna telah membuat istriku makan di tepat
waktu.”
Itulah yang Steven katakan kepada pelayan Hotel tersebut,
pelayang Hotel yang menginginkan tip lebih itu dengan segera menyiapkan semua
yang di inginkan tamu yang menginap di hotelnya, dan bahkan sebelum waktu yang
Steven katakan kini semua makanan yang Steven pesan kini telah tersedia di atas
meja sopa yang ada di dalam kamar yang ia tempati menginap, dan sesuai dengan
janji yang Steven katakan ia memberi tip yang besar kepada pelayan hotel
tersebut.
Steven yang melihat makanan telah tertata rapi di atas meja,
tersenyum, lalu melihat ke arah pintu kamar mandi yang hampir terbuka.
Steven yang melihat itu, dengan segera berlari naik ke atas
tempat tidur lalu merebahkan dan menyelimuti tubuhnya seperti semula, sama
seperti Arana melihat sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandinya Arana membuka pintu
kamar mandi, lalu melihat ke arah Steven yang kini tengah membungkus tubuhnya
dengan selimut.
Arana ingin mengumpat, namun tiba-tiba matanya melihat ke
arah meja dan melihat banyak makanan tertata rapi di sana.
Wajah yang tadinya kesal kini berganti dengan senyuman manis
di bibirnya. Arana pun berkata.
“Stev, kamu yang menyediakan semua ini?” melihat ke arah
Steven yang tidak bergerak dari dalam balutan selimut “Stev, bangun, kita makan
bersama. Aku sudah sangat lapar ni” Arana mengambil buah lalu memakanya “Stev! Bangun!”
Arana berteriak pelan agar Steven segera bangun karna ia tau Steven pasti
pura-pura tidur.
Karna melihat semua yang telah di siapkannya, tidak mungkin
ia akan terlelap secepat itu, itulah yang terlintas dalam pikiran Arana saat
ini.
“Baiklah kalau kamu tidak mau bangun. Akan lebih baik kalau
kita kembali ke kota kita, karna percuma datang kemari kalau kamu hanya ingin
tidur saja.” Arana sedikit mengancam dan itu membuat Steven segera bangun dan
duduk di atas tempat tidur.
“Iya, istriku sayang, aku bangun.” Steven mengacak rambutnya
lalu turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju ke arah sopa dimana saat
ini Arana tengah duduk sambil memakan buah.
Namun sebelum ia sampai, Arana berkata. “Mandi dulu! Baru kita
makan.”
Steven yang mendengar ucapan Arana, tampa berkata sepatah
katapun berbalik badan masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersikan
dirinya.
Setelah selesai membersikan diri, Steven keluar dari dalam
kamar mandi, hanya menggunakan bokser kecil sambil mengerinkan rambutnya dengan
handuk yang ada di tangannya.
Arana yang melihat itu merasa sangat terkejut, karna
lagi-lagi Steven memperlihtkan bentuk tubuh Atletisnya, tubuh yang kekar dengan
begitu banyak roti sobekan di bagian
perutnya.
“Ah”terkejut sambil menutup matanya dengan kedua tangannya “Apa
yang kamu lakukan? Bisa ngak sih kalau kamu ingin berjalan ke arahku jangan
seperti itu, aku kan malu melihatnya.”
Arana masih menutup matanya ketika mengatakan itu, karna ia
merasa sangat malu dengan melihat bentuk tubuh Steven yang seperti itu.
Dan bisa di bayangkan bagaimana reaksi Arana, ketika melihat
ketampanan dan bentuk tubuh Steven yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya
pasti akan tergoda ingin menyentuhnya.
“Memangnya kenapa?” tampa memperdulikan teriakan Arana
Steven berjalan ke arah sopa dan dengan santainya ia duduk di sampin Arana
dalam ke adaan seperti itu, hanya bagian sensitipnya yang tertutup celana
bokser dan itu membuat Arana sedikit menjauh darinya.
“Kenapa sih! Sini donk duduk di sampinku kita makan bersama.”
Steven menarik lengan Arana agar ia mendekat lalu makan bersama.
“Aku akan makan di sampinmu setelah kamu melilitkan handuk
itu di pingganmu, aku kan merasa risi melihatmu hanya mengenakan celana
boksermu itu.” Arana jujur dengan apa yang tengah di rasakannya.
Dan itu membuat Steven tersenyum jail. “Kenapa? Kamu tergoda
ya?” tersenyum jail melihat ke arah Arana yang kini duduk di sampinnya.”
“Apaan sih.” Arana mencubit lengen Steven ketika mengatakan
itu.
“Ao, ao, Ara, hentikan, sakit.” Steven meringgis ketika
mendapat cubitan seperti itu “Benarkan kamu tergoda.” Tersenyum jail sambil
menunjuk wajah Arana yang kini mulai memerah “Tenan saja Ara. Milikku adalah
milikmu dan milikmu adalah milikku.”
Arana yang mendengar ucapan Steven mengatakan hal itu merasa
sedikit malu, dan bahkan Arana mulai berpikir kalau Steven mulai menerima
pernikahan ini, karna telihat dari caranya ia mengatakan itu kepadanya dan
semua sikap perhatian lembut yang Steven tunjukkan kepadanya. Ia mengatakan
itu dengan sangat serius.
“Apaan sih Stev, kalau bicara sukanya ngaco,makan cepat
karna aku ingin pergi jalan-jalan.” Arana sengaja mengatakan itu karna ia
menghindari tatapan mata Steven yang tidak biasa menurutnya.
Setelah selesai menikmati makan sore mereka, Steven dan
Arana keluar dari hotel dan mulai berjalan-jalan hanya berjalan kaki saja,
karna semua pemandangan yang di tempatiny saat ini sungguh sangat indah dan
memanjakan mata.
Saat ini Steven tidak berhenti mengambi gambar Arana yang
terus berpose indah di dahapannya di temani dengan pemandangan sekelilin yang
terlihat sangat indah. Karna Steven sengaja mengambil cameranya karna ia ingin
mengambil setiap gambar moment indah kebersamaannya bersama istrinya, bahkan
mereka berdua juga berpose bersama, bahkan Steven mengambil gambarnya bersama
dengan Arana dengan mencium pipi Arana dan Arana membulatkan matanya terkejut
ketika Steven melakukan itu padanya, sebuah potoh yang sangat lucu menurut
Steven.
Dan Aditya yang melihat kebahagian yang tengah Arana rasakan
bersama suaminya kembali merasa kesal, kesal yang tidak berujung menurutnya.
Karna merasa kesal, Aditya sampai mengajak Steven dan Arana
menginap di puncak gunung dekat pulau yang mereka tempati, gunung yang membuat
kita merasa nyaman ketika menikmati indahnya pemandangan sunset di saat senja
dan menimati suasana yang begitu sangat dingin di saat malam tiba.
Dan itu semua cocok untuk mereka berempat, pasangan bulan
madu, di puncak gunun menyediakan tenda untuk semua pasangan tenda yang
beraneka ragam warna dan di dalamnya terdapat tempar tidur yang empuk yang
cukup hanya sepasang bulan madu saja.
Itulah pulau Maladewa, pulau seribu keindahan yang bisa
membuat para turis asing merasa di manjakan ketika datang ke tempat romantis
tersebut, karna begitu banyak destinasi yang bisa di kunjungi dengan fasilitas
lengkap, kita hanya cukup menebalkan dompet untuk datang ke Maldives pulau
Maladewa.
Mereka berempat tiba di puncak gunung, menjelang senja. Dan bisa
lansung menikmati keindahan sunset di atas puncak.
Arana dan Steven selalu berpegangan tangan tidak sekalipun
Steven melepas penganngan tangannya dari tangan istrinya, karna ia mulai
melihat tatapan mata yang Aditya tunjukkan untuk istrinya dan Steven tidak
menyukai itu.
Steven mulai menyewa tenda untuk ia tempati menginap untuk
malam ini, begitupun dengan Aditya dan Michel. Setelah menikmati pemandangan
indah di sore hari, mereka masuk ke dalam tenda masing-masin karna hawa dingin
mulai mengelilingi puncak gunun tersebut.
Steven yang tidak menyangka kalau di puncak gunun ternyata
sangat dingin dan itu membuatnya selalu memeluk tubuh Arana, lain dengan Aditya
yang sudah mengetahui itu ia mengataka kepada Michel untuk membeli jaket tebal
untuk ia kenakan dan juga istrinya di atas puncak gunun.
“Ara, aku sangat kedinginan.” Steven melihat ke arah Arana
yang kini tengah memeluk lututnya, karna selimut untuk mereka gunakan untuk
tidur belum datang karna biasa pelayan di puncak gunun itu mengantarkan selimut
setelah para tamunya makan malam.
“Aku juga Stev.” Arana memeluk erat lututnya setelah
mengatakan itu.
Tampa berkata apapun Steven memeluk tubuh Arana dari
belakang dan itu membuat tubuh Arana seketika menghangat.
“Apa kamu merasa hangat?” melihat wajah Arana yang kini
tengah bersandar di dadanya.
“Hem, aku merasa hangat.” Arana membalas memeluk Steven
sambil melihat ke arah luar tenda, dan di depan tenda mereka Aditya juga tengah
memeluk tubuh istrinya di dalam tendanya.
Jarak antara tenda Steven dan tenda Aditya sangatlah dekat
mungkin tiga sampai empat langkah saja akan sampai dari tenda Arana dan steven.
Pembagian makanan dan minuman untuk menghangatkan tubuh kini
telah ada di dalam tenda masing, Steven yang melihat minuman yang di bawa
pelayan itu melihat ke arah Arana lalu berkata.
“Ara, apa aku boleh mengambil sebotol kaleng minuman itu?”
Steven meminta izin kepada Arana agar membeli minuman yang di bawa pelayan itu,
minuman yang bisa menhangatkan tubuh. Steven meminta izin karna ia takut Arana
tidak akan mengizinkannya dan sampai marah kepadanya, dan Steven tidak ingin
itu terjadi.
“Boleh.” Arana tersenyum hangat melihat ke arah Steven
ketika ia mengatakan itu,karna ia mengerti Steven membeli minuman itu karna ia
ingin menghangatkan tubuhnya yang begitu sangat kedinginan.
Steven mulai meminum minumannya, setelah selesai menikmati
makan malam romantis menurutnya, dengan Arana dan selimut pembagian untuk
masing-masing tenda juga sudah di bagikan.
Arana yang mendapat selimut dengan segera menyelimuti
seluruh tubuhnya yang terasa sangat begitu dingin.
“Biurrr, Stev, aku merasa sangat kedinginan.” Arana menyelimuti
seluruh tubuhnya dan tinggal wajahnya saja yang terlihat.
Steven yang mendengar ucapan Arana tersenyum,lalu berkata “Mau
aku peluk?” tersenyum melihat ke arah Arana yang kini tidak berhenti menggigil.
“Tidak perlu! Kamu itu cuman mau nyari kesempatan dalam
kesempitan saja.” Arana memperlihatkan wajah kesalnya lalu merebahkan tubuhnya
sambil menutupi seluruhnya tampa ada yang terlihat.
Steven melihat istrinya bertingkah konyol seperti itu
berkata “Kamu lucu banget deh Ra, aku merasa ingin segera memakanmu.” Ucap pelaan
Steven, namun masih bisa di dengar jelas oleh Arana.
“kamu bilang apa barusan?” Arana membuk selimut yang
menyelimuti wajahnya lalu melihat ke arah Steven yang kini tengah meneguk
minuman terakhirnya dari dalam gelas.
“Hem, aku hanya ingin mengatakan kalau aku sangat mengantuk”
Setelah mengatakan itu Steven menutup pintu tendanya dan
mengunci bagian resletinnya, kemudian berjalan mendekat ke arah Arana yang kini
tengah membungkus tubuhnya dengan selimut. Dan ikut merebahkan tubuhnya di
sampin Arana, Steven pun berkata.
“Bagi selimutnya Ara.” Steven menarik pelan selimut yang
tengah Arana gunakan.
Arana yang mendengar ucapan Steven yang memintanya untuk
berbagi selimut berkata, “Awas ya Steve jangan macam-macam.”
“Aku tidak akan macam-macam sayang.” Melingkarkan tangannya
di perut Arana karna posisi Arana saat ini membelakanginya “Cuman satu macam
yang akan aku lakukan.”
Steven memeluk erat tubuh Arana dari belakan ketika ia
selesai mengatakan itu, Arana yang merasa hangat di peluk oleh suaminya
berbalik badan dan ikut memeluk erat tubuh Steven.
Steven merasakan sesuatu yang hebat ketika Arana membalas
pelukannya, Steven merasakan seperti ada sesuatu yang tengah mendorong dirinya
untuk melakukan sesuatu.
Mungkin karna terbawa suasana, atau merasa dingin atau
pengaruh minuman yang baru saja ia minum, manun ke adaan Steven saat ini seratus
persen sadar, tidak terpengaruh minuman. Yang jelasnya Steven tidak tau apa
itu.
Steven mengecup lembut dahi Arana sangat lama, dan Arana
yang belum tertidur merasa sangat nyaman dengan kecupan lembut Steven.
Steven melepas kecupannya dan itu membuat Arana mengdongak
melihat ke arahnya, Arana pun berkata.
“Kamu kenapa Stev?” berkata pelan dan lembut, tidak seperti
tadi yang berkata judes.
“Maaf, Ara, kalau kamu tidak suka mendengar ucapanku yang
akan aku katakan ini, terlebih dahulu aku meminta maaf dan semoga kamu tidak
marah ketika mendengarnya.”
Steven sengaja mengatakan itu, karna ia takut setelah ia
mengatakan yang di inginkannya Arana akan marah terhadpanya dan oleh sebab itu
Steven meminta maaf terlebih dahulu.
“Minta maaf?” bingun melihat sikap Steven “Memangnya kamu
ingin mengatakan apa Stev?” mendongak melihat wajah Steven yang kini tengah
melihatnya juga, dan bahkan saat ini napas Steven terasa jelas di hidung Arana.
“Katakan saja Stev, yang ingin kamu katakan. Aku akan
mendengarkannya” tersenyum “Dan tidak akan marah jika itu masih bisa di maafkan
atau di maklumi.”
Steven yang mendengar semua kata yang keluar dari dari dalam
mulut Arana, merasa ragu dengan apa yang akan ia katakan, rasa takut mulai
menyelimuti hatinya, takut jika Arana marah dan membencinya.
Tampa berkata apapun Steven kembali memeluk tubuh Arana
dengan sangat erat, Steven merasa sangat takut jika Arana pergi meninggalkannya
setelah mendengar apa yang di inginkannya.
“Katakan Stev? Apa yang kamu inginkan?...”
ika widya
alhasil skrg menderita hati dah 🤪🤪
aq dah baca sinopsis, MW mau ralat dikit ya Thor🤭
usia kuliah S1 itu kalo dari tamat SMA itu rata2 18-22 tahun. kl udah 23 berarti mahasiswa abadi 😂