"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26. membeli aset.
Alangkah kagetnya Amelia sampai di rumah budenya melihat ibu dan bapaknya sudah duduk santai di teras rumah.
"Bapak ibu!"teriaknya histeris sambil berlari kecil memeluk ibu dan bapaknya.
"Bapak dan Ibu tidak bilang kalau mau main ke rumah Bude." Kasim menatap Amelia dengan tatapan dingin.
Amelia merasa aneh dengan tatapan Bapaknya.
"Ngapain kamu buang-buang waktu menghadiri pesta pernikahan laki-laki tidak tahu diri itu?" Kasim sangat kecewa karena Amelia nekat menghadiri pernikahan Rudi.
"Amelia hanya ingin menunjukkan pada mereka. Bahwa kehidupan Amelia lebih baik dari sebelumnya. Dan pernikahan Rudi tidak membuat Lia frustasi dan tidak pengaruh apa-apa dengan hidup Lia. Hanya itu tujuannya pak tidak ada maksud lain." Amelia membela diri dia tidak mau disalahkan.
Kasim laki-laki yang tegas dan tidak suka jika perintahnya dilanggar.
"Bapak sudah..Kita baru bertemu dengan Amelia, hampir 1 tahun kita tidak bertemu dengan anak kita. Bukannya senang melihat anaknya dalam keadaan sehat dan hidupnya lebih baik.. malah mengajak anaknya berdebat, aneh memang Bapak." Aisyah menatap suaminya kesal. Mood-nya tiba-tiba berantakan dibuat oleh suaminya.
Suasana di rumah Bude Gendis menjadi kaku tiba-tiba. Lia merasa asing dengan sikap Bapaknya yang ketus. Tidak seperti biasanya bapaknya seperti itu.
Amelia sedikit syok melihat sikap bapaknya yang tidak bersahabat dengannya.
"Tidak usah diperpanjang, yang meminta Amelia itu hadir di pernikahan mantan suaminya adalah aku.. Tidak ada salahnya toh? Lia hadir di pernikahan mantan suaminya, dia perginya tidak sendiri Kasih dan Astina." Kasim diam ia lebih memilih menyeruput kopinya wajahnya tetap kaku dan dingin.
"Bapak hanya tidak ingin kamu disakitin dan dipermalukan oleh keluarga tidak tahu diri itu. Bapak tidak ikhlas dan tidak terima kamu disakiti, Rudi itu berhutang dengan bapak Ia tidak mengembalikan mu secara baik-baik dengan bapak. Awas aja kalau bertemu di jalan Bapak patahkan lehernya. Kali ini Bapak Maafkan, awas aja kalau Bapak dengar kamu masih akrab dengan keluarga sialan itu, dapat coret kamu dari kartu keluarga."Aisyah dan Gendis menggelengkan kepala, mendengar ucapan penuh ancaman yang terlontar dari bibir Kasim..
"Maaf Pak! Lia tidak tahu kalau bapak tidak suka Lia hadir di pernikahan Rudi.."Gendis memberikan isyarat kepada Amelia untuk berganti pakaian dengan pakaian santai.
Kasih sudah pulang ke rumahnya, sementara Astina mungkin sudah sampai di rumah matikannya yaitu Reza Raharja.
"Maafkan Bapakmu ya nduk. Tidak ada maksud apa-apa, Bapakmu hanya tidak mau kamu tersakiti. Cara orang tua menyayangi anak berbeda-beda, kamu akan menikah dengan laki-laki yang tepat dan memiliki anak. Bagaimana rasanya kamu menyayangi anakmu, dan betapa sakitnya hatimu saat anakmu disakiti orang lain. Bapak hanya tidak mau kamu sakit." Aisyah menyusul Lia yang masuk kedalam kamar..
"Tidak apa-apa Bu. Lia tidak sakit hati, tidak pun marah. Justru Lia sangat bahagia memiliki bapak yang sangat perhatian dan sayang seperti bapak." Lia berusaha menghibur diri ia tahu bapak nya keras dan tidak mau di tentang.
Lia tahu bapaknya kesal dengan Rudi yang telah menyakitinya.
" Tidak usah bersedih, bapakmu tidak ada maksud apa-apa. Ia hanya tidak mau kamu terluka.
Malam hari Lia dan keluarga Kumpul keluarga.Lia sangat menyayangkan Kenapa kedua adiknya tidak ikut serta.
"Seharusnya Bapak dan Ibu mengajak Anita dan Dita ikut serta.Biar tambah seru." Ucap Lia.
"Bapak Mau mengajak adikmu, tapi mereka sedang ulangan. Sementara Ibu tidak sabar ingin bertemu denganmu. Kalau kamu kangen dengan adikmu, suruh mereka menyusul, setelah selesai ulangan kan libur."Kasim suasana hatinya kini membaik ia tidak lagi marah ataupun kesal dengan putri sulungnya.
"Lia!! Kamu kenapa menangis-nangis darah menyaksikan pernikahan mantan suamimu yang super mewah. Kalau kamu ingin pernikahan mewah seperti mantan suami, menikahlah denganku kamu bisa membalas sakit hatimu pada mantan suamimu dengan pernikahan yang super mewah." Lia mengucap matanya berkali-kali, ia membaca ulang pesan yang dikirim oleh Reza. Yang nyata-nyata isinya fitnah sekali.
"Fitnah bener dia? Siapa yang nangis-nangis menyaksikan pernikahan mantan suami..ihhh.. ngelantur sepertinya bos? Atau salah makan?"gumam Lia dalam hati.
"Bapak fitnah banget! Siapa yang menangis darah sih? Tanya dong Astina saya orang paling happy menyaksikan pernikahan mantan." Reza tersenyum membaca pesan balasan dari Lia.
Reza yang dulu kaku dan jutek terhadap semua orang. Semenjak bertemu dengan Amelia hatinya mendadak hangat dan ia seperti memiliki tujuan hidup.
Reza memang benar-benar terpukul dikhianati oleh intan istrinya. Reza sangat mencintai intan apapun yang diinginkan intan akan dikabulkan oleh Reza.
"Dihh..! Dibaca doang kayak koran chatting-an aku, benar-benar menguji kesabaran memiliki bos yang plin-plan."gerutu Amelia.
Ia meneruskan kegiatan menulis cerbung. Hari ini ia belum update sehingga diprotes oleh para pembacanya.
Setelah selesai menulis,, Lia mengerjakan tugas kampusnya. Bulan ini sudah mulai aktif lagi di kampus yang baru, Lia melanjutkan kuliahnya dan mengambil kelas khusus karyawan.
Khusus hari Sabtu sampai malam minggu Lia menghabiskan waktu di kampus..
Hari ini kampus libur karena sudah selesai ujian semester.
Karena tidak mendapatkan balasan dari atasannya yaitu Reza. Menulis pun sudah, tugas kampus pun udah ia kerjakan.lia menemui Bapak dan ibunya yang sedang ngobrol Santai.
"Mumpung Bapak dan Ibu ada di sini, besok kita tanyakan pada Pak Lurah tanah yang di sebelah rumah Bude jadi dijual atau tidak? Kalau jadi Lia ingin membelinya."Kasim dan Aisyah saling tatap tak percaya deh apa yang mereka dengar.
Aisyah menelan Salivanya, pembeli tanah bukan uang yang sedikit. Ia mengira putrinya sudah menghalu.
"Semenjak menjadi penulis, kamu kenapa menghalu seperti itu? Beli tanah tidak seperti membeli satu kaleng kerupuk, kamu harus memiliki uang yang sangat banyak untuk membeli sebidang tanah. Apalagi tanah di ibukota seperti ini, walaupun kalian tinggal di pinggir dan kota. Harga tanah sudah menjulang tinggi karena dekat dengan kawasan industri." Sahut Aisyah ia tidak mau membiarkan anaknya hanyut dalam khayalannya.
Gendis menatap kesal Aisyah sang adik ipar,yang meragukan kemampuan Lia untuk membeli tanah.
"Siapa yang menghalu Aisyah? Anakmu memang ingin beli tanah, Lia punya uang banyak. Kalian pikir Lia miskin." Protes Gendis dengan nada sangat kesal.
"Uang dari menulis cerbung dan menulis naskah untuk film layar lebar terkumpul banyak Bu. Aku bakal bisa beli mobil dan rumah, jika aku mau . Aku ingin membuat rumah bersebelahan dengan Bude. Supaya hari Tuanya tidak kesepian."Gendis menahan bulir kristal itu terjun bebas dari kelopak matanya. Gendis sangat terharu sekali mendengar ucapan Lia yang memikirkan dan mengkhawatirkan dirinya.
Walaupun tidak memiliki anak kandung dari rahimnya, tapi ia memiliki keponakan rasa anak kandung.
"Kalau memang tanah di sebelah Bude ingin dijual? Telepon saja terlebih dahulu tanyakan mengenai tanah itu pada Pak Lurah, dijual atau tidak?" Lia mengangguk setuju, semua sudah lia persiapkan nomor telepon Pak Lurah sudah ia kantongi.
" Iya Pak !Lia sudah punya nomor telepon Pak Lurah. bapak saja yang menelpon Pak Lurah, sebagai pembeli. Lebih bagus dan pantas bapak yang komunikasi dengan Pak Lurah. lebih pantas daripada Lia yang komunikasi langsung dengan Pak Lurah, takut ada fitnah dengan status yang lihat sandang."Lia memang selalu minder dengan statusnya, yang selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang.
Dan selalu diremehkan oleh semua orang. Orang akan selalu berpikir janda muda seperti Lia adalah ancaman bagi ibu-ibu.
"Berikan nomornya pada bapak, biar bapak yang mengurusi masalah jual beli tanah. Yang penting kamu ada uang, urusan negoisasi serahkan.pada bapak."karena yang melancarkan semuanya uang jika ingin membeli sesuatu.
Lia memberikan nomor handphone Pak Lurah pada bapaknya.ia pun mengisi pulsa bapaknya, supaya lancar berkomunikasi dengan Pak Lurah.
"Mbak Gendis yakin, jika tanah di sebelah rumah Mbak Gendis milik Pak Lurah? Dan akan dijual?"kasim memastikan lagi pada Mbakyu-nya Bawah tanah itu milik Pak Lurah dan akan dijual.
Gendis menjawab dengan anggukan.
" Tanah itu akan dijual paak lurah jika harga cocok. Pak lurah mau membangunkan klinik bersalin untuk anak bungsunya. Antara dua pilihan sih jika tanah itu tidak dijual. Pak Lurah yang ingin membeli rumah ini dan rumahnya mahmudah. Untuk dibangun klinik, berhubung kami tidak mau menjual rumah, terpaksa Pak Lurah menjual rumahnya untuk dibelikan tanah di tempat yang lain." Kasim mengaguk.
" Berapa 1 meter katanya Mbak? "
"Satu juta harga pasaran tanah di kampung ini bagian dalam. Itu ada 200 meter. Mbak akan tanyakan sama Pak Lurah, atau kita berdua ke rumah Pak Lurah untuk menanyakan tanah tersebut. Beliau lagi butuh uang untuk pembangunan klinik anaknya." Amelia berdoa semoga proses pemberian tanah tidak ribet.
Dan digunakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala urusannya untuk membeli tanah hari ini.
"Ya sudah kita temui Pak Lurah, mudah-mudahan tidak ribet urusannya." Gendis dan Kasim bersiap-siap menuju rumah Pak Lurah. Ingin menanyakan Tanah tersebut.
Singkat cerita mereka telah sampai di rumah Pak lurah.
"Sudah lama Dis? Ada keperluan apa "tanya laki-laki yang usianya sekitar 70 tahun itu. Walaupun sudah tua Pak Lurah masih energik..
"Mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu istirahatnya bapak. Menindaklanjuti pembicaraan bulan lalu,jika tanah di sebelah rumah saya mau Bapak jual. Keponakan dan adik saya ingin membelinya Pak jika harganya cocok." Jawab Gendis, Pak Lurah manggut-manggut.
"Iya, Tanah itu mau saya jual.. Seperti yang saya katakan kemarin harga per meternya satu juta. Untuk surat menyurat kita bagi dua penjual dan pembeli. Tetapi saya tidak mau dicicil Dis. Kamu tahu saya jual tanah untuk menambahi modal membangun klinik bersalin."jelas Pak Lurah, Gendis menatap Kasim adiknya.
"Apa tidak bisa dikurang 1 meternya Pak 800 ribu per meter."sahut Kasim.
Pak Lurah tampak Sedang berpikir.
"Kalau serius ingin membeli tanah itu, dan dananya sudah ada. 900.000 per meter, tidak boleh ditawar lagi. Surat-menyurat biayanya ditanggung oleh pembeli dan penjual masing-masing 50%. Kita mengeluarkan uang untuk surat-menyurat di notaris saja. Kalau akte jual beli yang melibatkan perangkat desa tidak usah bayar itu urusan saya." Kasim mengangguk.
"Baik Pak saya setuju. Pembayarannya cash apa di transfer? "Tanya Kasim.
"Kalau bisa cash, saya kasih waktu besok atau lusa untuk pengambilannya di bank. Kalau setuju saya akan meminta perangkat desa untuk membuat surat jual belinya."Imbuh pak Lurah
Lalu kakak beradik itu pulang ke rumahnya dengan hati yang bahagia.