"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam Diam Membantu
Dira bukan tipe perempuan kejam yang tega diam melihat ketidakadilan. Apalagi melihat tatapan sendu Erlangga. Hati nurani Dira langsung terketuk, dia tergelitik untuk menyelidiki Mirna.
"Untung nomer ketiga Detektif sudah aku save di ponsel baruku. Dua minggu, semoga cukup waktu untuk memberi kejutan bagi Mirna." Gumam Dira tersenyum penuh misterius.
Membiarkan para tukang membangun pagar, dan Bu Wati di dapur. Dira mengunci pintu di kamarnya.
"Halo Pak... Maaf mengganggu Anda. Begini, saya punya tugas baru. Dan harus selesai sebelum 14 hari dari sekarang." Ucap Dira.
"Tugas apa Nona Dira?" Tanya Detektif yang waktu itu membongkar kedok Ambar dan Tuan Wardhana.
"Anda tentu sudah tahu jika sekarang saya pindah tempat tinggal? Masalah ini berasal dari Desa yang saya tinggali, apa bisa Bapak membantu?" Tanya Dira ragu.
"Bisa Nona, saya akan datang besok ke tempat tinggal Anda." Ucap Detektif bernama Firman Maulana.
Keesokan harinya, Firman benar-benar datang bersama dengan rekan seprofesinya.
Dengan mobil mewah mereka memasuki halaman rumah Dira yang berantakan. Kehadiran Firman dan rekannya tentu menarik perhatian warga yang penasaran. Terutama Bu Ningsih yang langsung menatap curiga dengan tamu Dira.
Firman adalah seorang Detektif Independent, bekerja atas permintaan dari klien. Firman masih muda, sekitar 35 tahun dengan tubuh tinggi tegap.
Rekan Firman bernama Bagas Wijayanto, tapi usianya jauh lebih tua. Mereka mempunyai keahlian yang saling melengkapi satu dengan yang lain.
"Silahkan masuk Pak Firman dan Pak Bagas." Ucap Dira ramah.
"Terima kasih Nona Dira." Ucap Pak Firman langsung disanggah Dira.
"Panggil nama saja Pak Firman. Jangan terlalu sungkan." Ucap Dira.
"Sebentar saya buatkan minum dulu." Ucap Dira lalu ke dapur.
"Bu Wati, bisa tolong buatkan tiga cangkir kopi." Pinta Dira saat melihat Bu Wati masih ada di dapurnya sedang memasak.
"Bisa Mbak. Itu mereka berdua siapa?" Tanya Bu Wati kepo.
"Teman dari Jakarta, ada sedikit urusan, Bu." Jawab Dira seadanya.
Bu Wati diam, tidak ingin terlalu ikut campur urusan Dira.
Setelah kopi diletakkan oleh Bu Wati, pembicaraan ketiganya mulai serius. Suara Dira sedikit berbisik-bisik, karena dia tahu dinding kayunya punya telinga yang siap menyebarkan berita yang didengarnya hari ini.
"Saya curiga, ada yang tidak beres dengan Dia." Ucap Dira.
"Baiklah, saya rasa informasi ini sudah cukup untuk memberi kami jalan mencari seluk beluk Dia. Anda tenang saja, keberadaan kami tidak akan terdeteksi sebagai Detektif. Kami akan menyamar." Ucap Firman.
"Terima kasih, nanti saya transfer bayarannya di muka." Ucap Dira.
"Baik, kalau begitu kami permisi. Untuk sementara kami akan tinggal di Hotel yang ada di Kabupaten Kulon Progo." Ucap Firman.
Setelah para Detektif itu pulang, Dira kembali dengan segala kesibukannya. Sedangkan Bu Ningsih yang kepo, mencari informasi dari beberapa tukang.
"Siapa tadi? Apa dia suaminya? Atau justru Dira ini simpanannya? Pantas sembunyi di Desa kita. Mungkin takut dilabrak Istri SAH."
Spekulasi ngawur dari Bu Ningsih menjadi berkembang di kalangan warga. Apalagi setelah tahu jika Dira adalah seorang janda baru cerai.
"Berarti dia datang ke Desa kita, sengaja ingin menyembunyikan diri."
"Wah tidak bisa dibiarkan sih."
"Tapi Dira itu orangnya royal, karena ada dia aku jadi bisa makan enak setiap hari."
"Iya benar, mau simpanan kek. Mau janda, apa urusan kita. Yang penting dia tidak berzina di rumah peninggalan Mbah Wingit. Dan kalau aku lihat, Mbak Dira ini orang baik Bu. Tidak seperti yang Njenengan pikirkan." Ucap Bu Wati membela Dira di depan Bu Ningsih dan warga pada saat arisan RT.
"Tapi, itu artinya kita membiarkan tanah kita dijadikan tempat mesum. Nanti malah kita kena bala." Bu Ningsih masih kekeh dengan pendapatnya, supaya Warga mengusir Dira.
"Sampun Bu Ningsih, mboten usah ngurusi Mbak Dira terus-terusan. Sak niki sing penting niku, mantenane Mirna kaleh Erlangga sukses." Ucap Bu Wati bermaksud mengingatkan.
"Iyo yo... Yo wes, njenengan kabeh mulai sesok kudu nyinom nok omahku. Ewangi aku masak." Ucap Bu Ningsih seperti memerintah.
Benar-benar tidak punya etika, tidak meminta tolong dengan dopan. Tapi justru menyuruh seperti Juragan. Dan beruntung para warga maklum, jika Bu Ningsih punya sindrom wong sugeh anyaran atau OKB.
Firman dan Bagas bergerak cepat, dalam waktu 24 jam sudah menemukan beberapa titik kelemahan Mirna.
"Mbak Dira, kami ijin mau ke Jogjakarta untuk mencari bukti. Ada indikasi ijazah Mirna palsu. Jika informasi yang kami dapatkan nyata, maka Mirna bisa terjerat kasus pemalsuan dokumen penting yang mempunyai sanksi berat." Ucap Firman.
"Baik, Pak Firman lakukan saja. Saya tunggu kabar baik lainnya." Ucap Mirna dari sambungan telepon.
"Hah... hanya perawat abal-abal, mau mengalahkan mantan CEO sepertiku." Gumam Dira sambil tertawa geli.
Hari ini adalah hari ketiga tukang membangun pagar mengelilingi rumahnya. Baru dapat separo, karena memang panjang tanah Dira puluhan meter.
Sementara itu cuaca mendung semakin terlihat di wajah seorang Erlangga. Tidak ada senyuman yang terlihat, sejak malam penolakan dari Dira. Bahkan di kantor pun Erlangga bersikap dingin dan datar yang membuat para rekan kerjanya bingung.
Sebagian orang sudah tahu, jika semua itu berkaitan dengan kabar pernikahannya yang tinggal menghitung hari.
Perjodohan paksa dengan alasan balas budi yang tidak masuk akal. Tapi warga mana berani membantu. Karena sebagian penduduk Desa Jatimulyo, mereka masih mencari penghasilan dari kebun teh milik Juragan Karsa.
"Dira... Aku masih sangat berharap, kamu akan berubah pikiran lalu datang untuk menggagalkan acara pernikahanku." Gumam Erlangga mulai kehilangan logikanya.
Mana mungkin Dira datang merusak acara pernikahan Erlangga yang tidak punya hubungan apa pun dengannya. Hanya sebatas kenalan masa lalu, lantas menjatuhkan harga dirinya. Konyol!
Erlangga, kamu boleh gila tapi jangan bawa-bawa Dira juga. Kamu tidak lupa kan, jika Dira bukan perempuan yang sembrono. Dia itu wanita penuh perhitungan.
Sepuluh hari, bagaikan menunggu vonis. Erlangga tidak pernah lagi tersenyum, setiap hari hanya mengurung diri. Membuat Juragan Karsa mengeluarkan tanduknya.
"Angga... Keluar kamu dari kamar!" Teriak Juragan Karsa dari depan kamar diikuti oleh Bu Ningsih.
Cekleekkk...
"Ada apa Ayah?" Tanya Erlangga dengan wajah kusut, rambut dan jenggot panjang tidak terurus.
"Apa-apaan kamu ini, Angga! Pernikahanmu sebentar lagi, tapi sikapmu semakin keterlaluan." Ucap Bu Ningsih.
"Maaf Bu, tapi pernikahan ini memang bukan keinginanku. Aku tidak pernah mencintai Mirna." Ucap Erlangga.
PLAK
"Beraninya kamu bicara cinta. Yang penting hidup kamu terjamin. Memangnya kalau bukan Mirna, siapa yang kamu harapkan jadi istrimu?"
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪