Damian yang mulai menutup diri setelah memilih pergi dari rumah. tiba-tiba mengetahui bahwa ayahnya telah “membeli” seorang pengantin untuk merawatnya. Gadis pengantin tersebut bernama Elia yang merupakan siswinya di sekolah. Elia muncul di depan pintunya, dan menyatakan bahwa Dia dikirim oleh ayah Damian untuk menjadi pengantinnya.
Elia terpaksa menerima takdirnya sebagai istri yang tak di inginkan oleh Damian, demi membantu orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Toma.
"Namaku adalah Elia. aku disini untuk menjadi pengantinmu." ~Elia
"Aku adalah Gurumu." ~Damian
Menjadi seorang pengantin 18 tahun untuk gurunya sendiri, apakah Elia mampu mencairkan jiwa gunung es suaminya?
ig : unchiha.sanskeh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta yang Kekal di Hati
Begitulah semua kejadian kemarin berlalu, kami menjalankan kehidupan seperti biasanya. terakhir Donny menelpon ku sekadar memberi tahu bahwa sudah ada rapat umum sekolah yang membahas tentang bullying, meskipun memang tidak menyebutkan secara langsung korban. tetapi, paling tidak aku tak merasakan hal janggal lagi pada Elia. semua sepertinya berjalan baik-baik saja.
hari ini, kami jalan bersama, merayakan cinta dengan berbagai cara agar cinta kami tetap kekal. selain itu, juga untuk mengusir hari-hari berat kemarin agar terganti dengan kebahagiaan dan cinta. cinta menjadi sumber energi dan inspirasi baginya untuk belajar dan berbakti, dan menjadi tenaga baru bagiku untuk bekerja mengendalikan kerajaan tani ku di ladang.
Suatu kali, ketika kami sedang duduk bersama di beranda, belajar tambahan dan menikmati kopi dan ubi bakar. dia, Elia yang cantik dan manis, sibuk menyimak penjelasan dari ku tentang pelajaran sejarah.
"Akhir-akhir ini ku perhatikan kamu gemar merajut," aku membuka percakapan. "Sedang ada tugas prakarya dan kerajinan, ya?"
"Tidak, bukan." jawabnya tersenyum.
"Kegemaran?"
"Hmm...bisa di katakan begitu, tapi lebih tepatnya aku ingin membuatkan sarung tangan untuk pak Damian." ujarnya sambil mengupas kulit ubi. "Pak Damian sudah satu bulan bekerja di ladang, tapi tangannya di biarkan telanjang saat mencangkul."
dia diam sejenak lalu meletakkan ubi tadi kembali ke piring dan meraih tanganku, menampakkan telapaknya.
"Lihat! sampai lecet begini, pak Damian tidak pernah kerja berat. jadi mungkin belum paham. ayah dulu seorang buruh tani juga, dan setiap bekerja ayah selalu pakai sarung tangan untuk melindungi tangannya. karena itu, aku buatkan juga untuk pak Damian."
aku duduk terdiam, menyimak kata-katanya, sambil menikmati kecantikan hatinya yang menggetarkanku. angin sore berembus, mengirim hawa sejuk. mataku fokus menerawang jauh dalam dirinya, seakan tak ingin beralih dan ingin mencari-cari lebih dalam diriku di dalam singgasana hatinya.
"Buruh Tani?" tanyaku.
"Tepat sekali."
"Ayah hanya pekerja, dia tak punya ladang sendiri. ayah di upah untuk menggali, menanam dan memanen di kebun orang lain."
langit sore terasa begitu teduh dengan awan putih menggantung. sementara matahari mulai tergelincir ke arah barat, menuju tempat istirahatnya. di dekat beranda, pada pohon ketapang yang rimbun, mataku menangkap satu atau dua daun yang menua oleh musim dan cuaca, di kelilingi rimbunan daun yang hijau sepenuhnya. daun itu seperti kamu, Elia : jiwamu begitu matang untuk usiamu yang masih demikian muda dan hijau. dan orang tuamu adalah pohonnya, yang menempa mu dan memberikan kamu pengajaran tentang kerasnya kehidupan.
"Kamu masih seorang siswi, tapi rupanya diam-diam juga menyimpan pemahaman soal lingkungan pribadimu."
"Dalam kehidupan itu, ilmu memang penting. tapi dalam keadaan tertentu, memahami praktik bisa jauh lebih berguna. Ayah yang mengajarkan." dia berhenti sejenak untuk menikmati air putih yang sudah ia siapkan. aku memandangnya dengan saksama, layaknya pengagum.
"Keduanya sama-sama penting, karena itu ada yang namanya ujian praktik dan ujian soal." Sergahku, "Tapi, berpandangan seperti tadi juga tidak masalah. asal kamu mampu menyeimbangkan pengetahuan."
dia tersenyum. kemudian mengambil sesuatu dari balik badannya, rupanya Elia telah mempersiapkan sarung tangan yang di maksudkan. hanya saja, itu masih belum selesai sepenuhnya.
"Aku takut kekecilan, jadi mau coba tes sedikit sebelum menyudahinya." katanya memasangkan sarung itu di telapak tanganku.
"Muat?! Syukurlah."
dia sumringah dengan wajah teduhnya, berlawanan kontras dengan cahaya matahari yang tenggelam. sebagai suaminya, aku merasa sangat bangga dapat menikahi gadis yang memiliki hati besar sepertinya.
kemudian, kami saling memandang dan tersipu-sipu. aku beranjak dari tempat duduk dan menghampiri bunga mawar putih yang mulai berkembang lagi tak jauh dari pohon ketapang. ku petik bunga itu dan ku serahkan kepadanya. dia membalas pemberianku dengan ciuman lembut di pipi, selembut angin dan seindah wajahnya. lalu, kami pun saling berpelukan layaknya dua kutub magnet yang berlawanan, saling tarik menarik dan gak terpisahkan.
"Pak Damian, Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Sesuatu yang baik atau buruk?"
"Sepertinya keduanya," jawabnya, tersenyum kaku.
aku bergumam sambil menatap wajahnya lekat-lekat.
"Baik, karena ujian sudah dekat dan tujuan kita untuk lulus semakin dekat pula. Buruk, karena iuran ujian praktek sudah mulai di tagih, pak."
kemudian ku alihkan pandanganku. hampa dan perih. kini, aku tak berani memberitahunya bahwa aku sudah tak punya simpanan uang, sedangkan panen masih sangat jauh dari harapan.
Ku hela nafas panjang untuk sedikit melepas beban pikiran.
"Tentu, Elia. aku akan menyiapkan uang itu secepatnya, aku sudah memporsikan ini semua."
"Sebenarnya, aku juga sudah menabung untuk uang ujian, karena aku tak ingin menyusahkan pak Damian. hanya saja, uang itu sedikit sedikit terpakai untuk kebutuhan sehari-hari dan sekarang tidak bersisa."
aku mengernyitkan dahi, "Maksudnya?"
"Maaf, aku tidak izin terlebih dahulu dengan pak Damian. sebab kalau bapak tahu pasti tidak akan membolehkan. aku bekerja jadi perajut syal di rumah produksi bibi Ami untuk menghasilkan uang, paling tidak bisa mengurangi beban pak Damian."
aku terdiam, bisu tanpa kata. hatiku seakan teriris oleh sembilu. begitu menyakitkan namun juga menyentuh. betapa aku tak jemu-jemu untuk mengagumi sosok Elia. sudah lama sekali, perlengkapan dapur mulai menipis, dan Elia mengganti itu dengan uang tabungannya untuk ujian.
"Pak Damian, marah?" ujarnya dengan mimik wajah khawatir.
"Tidak Padamu, tapi pada diriku sendiri." ku peluk lagi dia, "Maafkan aku," aku mengelus-elus punggungnya dengan hangat, sementara dia mulai terisak. terharu.