Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Raya terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia menarik Lili lebih rapat ke dalam pelukannya, seolah-olah dekapan itu bisa menjadi benteng terakhir untuk melindungi rahasia besar yang baru saja bocor. Ketenangan yang coba ia bangun selama bertahun-tahun hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
"Lili, masuk ke kamar sekarang." perintah Raya dengan suara yang berusaha keras agar tidak bergetar.
"Tapi, Bu..."
"Masuk, Lili! Sekarang!" nada suara Raya meninggi, membuat Lili tersentak dan segera berlari masuk ke kamar dengan wajah sedih dan ketakutan.
Begitu pintu kamar tertutup, sunyi yang mencekam menyelimuti ruangan. Leo masih berdiri mematung, matanya merah menahan badai emosi yang berkecamuk. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga Raya terdesak ke arah dinding kayu yang dingin.
"Cuci darah, Raya? Anak sekecil itu harus cuci darah?" desis Leo. Suaranya bukan lagi penuh keangkuhan, melainkan penuh penderitaan yang nyata. "Sejak kapan? Apa yang terjadi pada ginjalnya?"
Raya memalingkan wajah, enggan menatap mata pria yang dulu menghancurkan hidupnya itu. "Itu bukan urusanmu, Leo."
"Bukan urusanku?!" Leo memukul dinding di samping kepala Raya dengan kepalan tangannya, membuat wanita itu terlonjak. "Dia anakku! Darah dagingku! Bagaimana bisa kamu menyembunyikan penderitaannya dariku sementara aku hidup dalam kemewahan tanpa tahu putriku bertarung nyawa setiap hari?"
Raya tertawa sinis, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan di tengah kesunyian rumah kayu itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menggantung di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja.
"Beraninya kamu berkata seperti itu..." desis Raya dengan suara bergetar karena amarah yang memuncak.
Ia menatap Leo dengan tatapan menghunus, seolah ingin menguliti setiap inci pria di depannya. "Beraninya kamu mengatakan Lili adalah darah dagingmu setelah semua yang kamu lakukan padaku? Apa kau lupa kenapa aku menjadi seperti ini? Apa kau lupa peristiwa apa yang membuat Lili ada di dunia ini?"
Suara Raya mengeras, emosinya meledak seperti bendungan yang runtuh. "Dan sekarang... sekarang kau ingin berperan sebagai ayah yang baik?"
"KAU DATANG, BERLUTUT, DAN MEMOHON SEOLAH KAU LAH YANG PALING MENDERITA DI SINI!" teriak Raya. Ia menerjang maju, tangannya mengguncang tubuh Leo dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tangisnya pecah, membanjiri wajahnya yang selama ini selalu ia pasang sekuat karang.
Leo tidak melawan. Ia hanya mematung, membiarkan dirinya terombang-ambing oleh kemarahan Raya. Tubuhnya yang besar dan tegap terasa kosong, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari raganya. Matanya yang biasanya tajam, dingin, dan penuh kendali, kini perlahan meredup, kehilangan kilaunya saat menatap wajah Raya yang memerah dan basah oleh air mata.
Ia melihat kehancuran yang ia ciptakan sendiri. Kemarahan yang tadi sempat menyelimuti dirinya saat mengetahui kondisi Lili, kini menguap tak berbekas, menyisakan seorang pria yang merasa kerdil di hadapan penderitaan wanita yang pernah ia sakiti.
"Maaf..." ucap Leo lirih.
Sebelum Raya sempat membalas, tangan besar Leo terulur, menarik tubuh kecil itu masuk ke dalam dekapannya. Raya memberontak, memukul dada Leo dan berusaha melepaskan diri dari aroma parfum mahal yang kini terasa menyesakkan.
"Maafkan aku," ucap Leo lagi, suaranya parau. Ia tidak melepas pukulan itu, justru semakin mempererat pelukannya, membiarkan tubuh Raya yang gemetar bersandar pada dadanya yang bidang.
"Lepaskan aku, dasar brengsek!" maki Raya dalam dekapan Leo. Namun, semakin ia memaki, semakin erat Leo menjaganya agar tidak jatuh.
"Maaf," bisik Leo sekali lagi di telinga Raya, sebuah kata yang terasa sangat terlambat namun penuh dengan penyesalan yang dalam.
Tangis Raya akhirnya pecah sejadi-jadinya. Ia sudah tidak punya lagi tenaga untuk memberontak. Dengan tubuh yang hanya setinggi dada Leo, Raya terisak hebat. Ia menenggelamkan wajahnya di kemeja Leo, membiarkan kain mahal itu basah oleh air mata penderitaannya selama bertahun-tahun.
"Ini salahku..." gumam Raya di sela tangisnya yang sesenggukan. "Ini semua salahku. Lili menjadi seperti itu karena aku tidak bisa menjaganya dengan benar..."
Rasa bersalah yang selama ini ia pikul sendiri sebagai ibu tunggal akhirnya tumpah. Ia menyalahkan dirinya atas setiap jarum suntik yang menembus kulit Lili, atas setiap jam yang mereka habiskan di ruang cuci darah yang dingin.
"Tidak... Jangan menyalahkan dirimu," bisik Leo, sambil mengusap punggung Raya dengan tangan yang sedikit gemetar. Hatinya hancur melihat wanita yang dulu ia sia-siakan kini hancur di pelukannya.
"Aku yang bersalah. Tapi aku janji, aku akan cari dokter terbaik untuk menyembuhkan Lili. Aku tidak akan membiarkan dia menderita lagi, Raya. Aku janji."