Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Di ruang studio itu, udara rasanya berat. Adam entah sudah ke berapa kali menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke dinding kaca. Matanya terus mengikuti gerak tubuh Kiandra yang berdiri di depan kamera, berganti pose sesuai arahan fotografer. Lampu-lampu sorot menyorot tubuh istrinya tanpa ampun, membuat lekuk yang selama ini hanya dia nikmati jadi santapan banyak pasang mata.
Jujur saja, dada Adam panas. Ada rasa bangga, tapi jauh lebih besar rasa tidak relanya. Kiandra itu istrinya, miliknya. Bukan untuk dinikmati tatapan pria-pria asing yang senyumnya kadang terlalu lebar, matanya terlalu lama singgah.
Adam tahu betul tipe laki-laki seperti itu, hidung belang berkedok profesional. Dan yang bikin dia makin kesal, dia sadar betul betapa munafiknya kaum pria termasuk dirinya sendiri. Istri sendiri tak boleh dilirik orang, tapi mata ini dulu juga sering iseng menikmati tubuh perempuan lain.
Adam mengusap wajahnya kasar. Hatinya berantakan. Setiap kali kamera berbunyi klik, rahangnya mengeras. Saat Kiandra sedikit memiringkan tubuh, rambutnya tergerai, Adam refleks mengepalkan tangan. Ada cemburu yang tak bisa disangkal, ada takut kehilangan, ada juga ego laki-laki yang terinjak.
“Pose berikutnya, nyonya Kiandra. Bahunya sedikit turun, dagunya naik dikit,” ujar fotografer dengan nada antusias.
Adam tak tahan lagi. Kakinya melangkah maju, langkahnya cepat dan tegas. Semua orang belum sempat bereaksi saat suaranya memecah ruangan.
“Cukup!” serunya lantang.
Klik kamera terhenti. Musik latar dimatikan.
Semua kepala menoleh ke arahnya. Kiandra yang tadi fokus ke kamera langsung menurunkan tangannya, alisnya berkerut bingung. Beberapa kru saling pandang, jelas tak paham apa yang baru saja terjadi.
“Tapi, Tuan, pemotretannya belum selesai. Masih ada beberapa season lagi,” kata fotografer itu, mencoba tetap profesional walau raut wajahnya jelas kaget.
Adam mendekat, tatapannya dingin. “Hari ini sudah cukup. Kalian bisa lanjut besok.”
Nada suaranya tak membuka ruang bantahan. Ruangan kembali sunyi, hanya terdengar dengusan napas orang-orang yang tertahan. Beberapa kru mulai membereskan alat, meski dengan ekspresi ragu.
Kiandra melangkah turun dari set, mendekati Adam. “kamu kenapa sih?” suaranya ditahan, tapi Adam bisa dengar nada kesal di sana.
Adam menoleh, menatap istrinya lama. Ada banyak hal ingin dia katakan, tapi semuanya terasa kusut. “Aku nggak suka,” jawabnya akhirnya, singkat tapi berat.
“Nggak suka apa? Ini pekerjaanku, Kita sudah sepakat dari awal.” balas Kiandra, menahan emosi
Adam menghela napas lagi, kali ini lebih dalam. “Aku tahu. Tapi melihat mereka menatap kamu seperti itu… aku nggak bisa.”
Kiandra terdiam sejenak. Tatapannya melunak, tapi gengsi masih bertahan. “Kamu kira aku nggak sadar ditatap kayak apa? Aku sudah biasa. Ini dunia aku. Sudah dari dulu aku menjadi model”
Adam menunduk, mengusap tengkuknya. “Mungkin aku egois. Tapi kamu istriku.”
Kiandra menatapnya lama, lalu berbalik mengambil jubah tipis dan menyampirkannya ke tubuhnya. “Kita lanjutkan pembicaraan ini di ruangan mu” katanya pelan.
Adam mengangguk. Di dalam dadanya, cemburu dan rasa bersalah masih saling bertabrakan. Dia tahu, mencintai Kiandra berarti menerima dunianya. Tapi hari itu, dia belum siap sepenuhnya. Itu mengapa saat menikah dengannya, Adam meminta sang istri untuk berhenti menjadi model, dia tidak rela semua pria melihat lekuk tubuh istrinya itu.
Adam tetap menggenggam tangan Kiandra, membawanya masuk ke ruangannya yang biasanya terasa dingin dan penuh perhitungan. Begitu pintu tertutup, suasana menjadi berbeda. Sunyi, hanya ada mereka berdua dan udara yang terasa berat oleh perasaan yang belum selesai.
Adam merangkul tubuh istrinya, seolah takut Kiandra akan menjauh kalau dia melepasnya. Dengan kedua tangannya, dia menangkup wajah Kiandra, memaksa istrinya menatap lurus ke arah matanya. Tatapan Adam serius, nyaris memohon.
“Kita cari model lain aja buat gantiin Nayla, Aku nggak suka kalau ada pria lain yang lihat tubuhmu.” ucapnya pelan tapi tegas.
Kiandra mendengus kecil. Bola matanya berputar malas, jelas menunjukkan rasa kesalnya yang belum reda. “Lucu ya kamu,” balasnya sinis. “Kamu nggak suka tubuhku dilihat pria lain, tapi kamu sendiri suka melihat tubuh wanita lain. Bahkan sampai disentuh.”
Ucapan itu seperti tamparan buat Adam. Tangannya yang tadi menangkup wajah Kiandra perlahan turun. Dia menghela napas panjang, napas yang terdengar berat dan penuh penyesalan. Adam memalingkan wajahnya sebentar, seolah mencari kata-kata yang tepat, lalu kembali menatap istrinya.
“Sayang… maafin aku. Aku salah, aku bener-bener janji, aku nggak akan selingkuh lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu.” katanya dengan suara lebih lirih.
Kiandra tidak langsung menjawab. Dia membuang wajahnya ke arah lain, menatap dinding kosong di hadapannya. Dadanya terasa sesak, bukan karena dia nggak mau memaafkan, tapi karena hatinya masih sakit. Dia sudah berusaha keras membuka pintu maaf untuk suaminya, tapi bayangan Adam bersama Nayla terus muncul tanpa diundang. Sentuhan itu, tatapan itu, semua berputar-putar di kepalanya seperti luka yang belum sempat mengering.
“Kamu pikir semudah itu?” ucap Kiandra akhirnya, suaranya bergetar tipis. “Aku capek pura-pura kuat, Adam. Aku capek bilang ke diri sendiri kalau semuanya bakal baik-baik aja.”
Adam melangkah lebih dekat, ragu-ragu, lalu memeluk Kiandra dari belakang. Pelukannya tidak seerat biasanya, seolah dia takut istrinya akan menolak. “Aku tahu aku sudah menyakiti kamu banget,” katanya pelan di dekat telinga Kiandra. “Aku nggak minta kamu lupa sekarang. Aku cuma minta satu kesempatan buat buktikan kalau aku masih layak jadi suamimu.”
Kiandra memejamkan mata. Hatinya berperang antara rasa cinta yang belum mati dan luka yang masih perih. Dia tidak mendorong Adam, tapi juga tidak membalas pelukan itu. Diamnya Kiandra bukan tanda setuju, tapi juga bukan penolakan.
Di ruangan itu, mereka berdiri tanpa banyak suara. Udara terasa berat, seolah ikut menekan dada keduanya. Adam sibuk dengan pikirannya sendiri, penyesalan yang tak henti-hentinya berputar di kepala.
Kiandra berdiri di hadapannya, wajahnya tenang tapi matanya menyimpan luka yang belum benar-benar kering. Tidak ada lagi kata-kata manis, tidak ada janji untuk masa depan. Hanya waktu yang akan menjawab, apakah perasaan yang tersisa masih cukup kuat untuk dipertahankan, atau justru akan runtuh perlahan oleh bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui.
Keheningan itu akhirnya pecah ketika Kiandra membuka suara. Nada bicaranya datar, tapi ada tekad kuat di sana.
“Kalau begitu biarkan aku menjadi model lagi,” ucapnya tanpa ragu.
Adam menoleh, menatap istrinya dengan wajah terkejut. Kiandra mengangkat dagunya sedikit, seolah ingin menunjukkan kalau keputusan itu sudah bulat. Dulu dia rela berhenti dari dunia yang dia cintai demi rumah tangga, demi Adam. Tawaran demi tawaran dia tolak, karier yang susah payah dia bangun dilepas begitu saja. Tapi balasannya justru pengkhianatan. Suaminya memilih berselingkuh diam-diam, merusak kepercayaan yang sudah dia jaga mati-matian.
Sekarang, Kiandra lelah terus mengalah. Dia ingin berdiri di kakinya sendiri lagi, menata ulang hidup dan kariernya. Semua kesempatan yang dulu dia abaikan, akan dia ambil kembali. Bukan sekadar untuk membuktikan pada Adam, tapi juga pada dirinya sendiri. Dia ingin berada di posisi yang jauh lebih tinggi, membuat dirinya tak lagi bisa disejajarkan dengan wanita yang telah merusak rumah tangganya.
Adam terdiam cukup lama. Dadanya naik turun, lalu dia menghela napas dalam-dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat. Ada rasa bersalah bercampur takut kehilangan yang jelas terlihat di wajahnya.
“Baiklah, tapi aku tidak akan mengijinkan mu pakai pakaian seksi untuk pemotretan nanti.” akhirnya dia bicara, suaranya pelan tapi tegas.
Kiandra menatap Adam. Bibirnya melengkung tipis, entah itu senyum sinis atau hanya ekspresi lelah. Dia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
Tak lama Pandu masuk kedalam ruangan Adam.
"Maaf tuan, nyonya, saya mengganggu kalian berdua. Saya kesini hanya ingin memberitahu, bahwa nyonya Ina sedang berada di rumah nona Nayla. Dia membawa excavator" ucap Pandu.
"APA?" Adam terkejut, dia menatap istrinya yang terlihat santai.
"Jangan berani-berani menghentikannya" ucap Kiandra penuh peringatan.
kejam ya tapi si nayla nya aja nggak niat berubah
dijauhkan dari nayla dan nayla2 yg lain 😅😅😅
apapun niat nayla semoga gagal
atau haris bakal berubah jd mucikari??😅😅😅
atau cerita ini akan segera tamat??