Di semesta tanpa akhir, tempat miliaran ras tak berujung hidup berdampingan, berdiri banyak kekuatan tertinggi yang menguasai aliran reinkarnasi, berbicara langsung dengan Dao Agung, dan menekan seluruh era tanpa batas. Di antara semua kekuatan itu, hanya beberapa yang benar-benar mengguncang seluruh multisemesta.
Rumah Ilahi Ungu, sebuah kekuatan misterius dengan aura tak terbandingkan, hanya dengan sedikit gerakan saja mampu membuat tak terhitung banyaknya semesta bergetar ketakutan.
Keluarga Gu, keluarga kuno yang menyimpan rahasia tabu paling menakutkan. Mereka mengendalikan rahasia yang menekan seluruh era, dari masa lalu hingga masa depan.
Sekte Pedang Wuji, penguasa Dao Pedang tertinggi. Sekali pedang mereka terhunus, surga dan neraka tak terhitung jumlahnya gemetar dan bertekuk lutut.
dan anak muda bernama lu feng memiliki peradaban yang mengguncang seluruh multisemesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wusan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua dewi yang sangat mengharukan
Lu Feng akhirnya tiba di dekat lokasi itu.
Ia melihat pegunungan mengelilingi area tersebut, dan di dalam gunung di depannya terdapat sebuah ruang kosong alami.
Ia merasakan dua aura jelas di depan.
“Ohh… itu mereka.”
Lu Feng segera masuk ke dalam dan mulai mencari sumber aura itu.
Saat ia melangkah lebih dalam, tubuhnya tiba-tiba terhenti.
Matanya melebar karena terkejut.
Di hadapannya, tampak dua tubuh giok yang lembut dan harum.
Kulit mereka putih bersinar, lekuk tubuhnya indah, montok, dan memukau.
Kaki giok panjang mereka saling menekan, seolah menahan sesuatu.
Wajah keduanya semerah darah, napas mereka berat, seperti terkena obat aneh.
Seluruh tubuh mereka terekspos tanpa sehelai kain pun.
Lu Feng langsung mimisan.
“Astaga… kenapa bisa begini?”
Ia bingung, tidak mengerti mengapa dua wanita secantik ini berada di tempat terpencil dalam keadaan telanjang.
Ia buru-buru mengusap hidungnya, lalu melangkah mendekat dengan ragu.
Salah satu wanita berambut perak.
Wajahnya indah tak tertandingi, bibir merah ceri memancarkan pesona dewasa yang kuat.
Dada putihnya terangkat jelas, tubuhnya montok dan menggoda, aura di sekitarnya terasa menekan.
Saat merasakan seseorang mendekat, wanita itu membuka mata.
Dalam sekejap, tangannya yang indah mencengkeram leher Lu Feng.
“Siapa kamu?”
Lu Feng tercengang.
Cengkeramannya kuat luar biasa, dan dari tubuh wanita itu terpancar aura mengerikan.
“Hei—tenang dulu! Aku baru saja melihat kalian jatuh dari langit!”
Suara Lu Feng terdengar terbata-bata.
“Tahan dulu, Kakak Youyou.”
Sebuah suara lembut terdengar.
Nada suaranya menggoda, seperti rubah yang mampu melunakkan hati siapa pun.
Seorang wanita berambut hitam panjang melangkah mendekat.
Tubuhnya telanjang, ramping, penuh pesona.
Setiap gerakannya memancarkan daya tarik alami.
Wajahnya indah, bibir merah lembut, tatapannya penuh kecerdikan.
Ia mendekat ke arah Lu Feng yang masih dicekik.
“Dia hanya di alam Pemurnian Qi, Kakak Youyou.”
Wanita berambut perak, Bai Youyou, menyipitkan mata.
Ia merasakan aura Lu Feng dan memastikan kata-kata itu benar.
Tangannya pun dilepaskan.
Namun tatapannya tetap dingin.
“Tapi dia sudah melihat tubuh kita. Dia seharusnya mati.”
Nada suaranya penuh amarah tertahan, seolah kepolosannya telah ternodai.
Wanita berambut hitam menatap Lu Feng dengan senyum menawan.
Senyum itu membuat Lu Feng terdiam tanpa sadar.
Lu Feng buru-buru menenangkan diri.
Di dalam hatinya, ia memperingatkan diri sendiri.
“Tenang… wanita ini berbahaya.”
“Adik kecil, siapa namamu?” tanya wanita berambut hitam itu dengan lembut.
“Namaku Lu Feng,” jawabnya jujur.
“Aku tersedot ke tempat ini. Aku datang karena melihat kalian jatuh dari langit. Siapa kalian?”
Wanita itu tersenyum semakin dalam.
“Namaku Su Meiyao. Panggil saja Kakak Meiyao.”
Senyumnya penuh godaan alami.
Bai Youyou berdiri di samping, melipat tangan, menatap Lu Feng dengan dingin lalu mendengus ringan.
“Bai Youyou.”
Lu Feng tertegun.
Nama mereka terdengar indah, sama seperti penampilan mereka.
Namun menyadari keadaan mereka yang masih telanjang, wajahnya memerah.
“Kalian… sebaiknya berpakaian dulu.”
“Heh,” Bai Youyou mencibir dingin.
“Kau sudah melihat semuanya, tapi sekarang malu? Tadi matamu hampir menerkam kami. Untuk apa ditutupi lagi?”
Nada suaranya dingin namun manis, penuh ketidakpuasan.
Su Meiyao juga menatap Lu Feng dengan ekspresi rumit.
“Ah… anak ini masih di alam Pemurnian Qi.”
Su Meiyao menatap anak ini dengan seksama.
Di dalam hatinya, ia mulai menilai.
“Bakatnya pasti biasa saja.”
Sudut bibirnya perlahan terangkat, senyum licik muncul di wajahnya.
“Aduh…”
Ia mendesah pelan, suaranya manis dan menggoda.
“Kakak sudah terluka. Kami diserang makhluk jahat sampai menjadi seperti ini,” ucapnya lirih.
“Adik kecil… apakah kamu punya obat penyembuhan?”
Tangannya perlahan naik ke kepala, lalu turun menyentuh dadanya dengan gerakan menggoda.
Ia membungkuk sedikit, tubuhnya semakin dekat.
Lu Feng menelan ludah.
Tubuh telanjang wanita itu mendekat, aroma harum seperti bunga melati menyelimuti indra penciumannya.
Su Meiyao bahkan mendekapnya.
Lu Feng merasakan kelembutan seperti sutra.
Tubuh itu hangat, lembut, dan terlalu dekat.
“Sialan… vixen ini menggoda aku.”
Ia mengumpat dalam hati.
Dada indah yang mengkilau itu menyentuh lengannya, membuat Lu Feng merasakan kelembutan yang sulit diabaikan.
Namun ia tetap menenangkan diri.
“Aku tidak punya obat penyembuhan,” jawab Lu Feng dengan tenang.
Ia mengatakan yang sebenarnya.
Ia bahkan tidak memiliki cincin penyimpanan, bagaimana mungkin ia menyimpan obat.
Su Meiyao tidak langsung percaya.
Ia melirik ke arah Bai Youyou yang hanya mendengus ringan.
Dengan tatapan licik, Su Meiyao kembali menatap Lu Feng.
Bai Youyou menyadari isyarat itu, merasa malas, lalu memutar matanya.
Namun Su Meiyao terus mendesaknya.
Bai Youyou menghela napas.
“Ahh…”
Suara merdunya terdengar seperti alunan musik.
Bai Youyou memegang kepalanya dan berpura-pura terhuyung lalu jatuh.
“Kakak!”
Su Meiyao segera memeluknya, wajahnya berubah panik.
Air mata langsung mengalir.
“Kakak, penyakit lamamu kambuh lagi? Kumohon jangan mati…”
“Huhuhu…”
Tangisnya terdengar sedih.
“Adik kecil, tolong bantu kami…”
Ia menatap Lu Feng dengan mata yang menggoda sekaligus memohon.
Ekspresinya menyedihkan, menyentuh, namun tetap memancarkan pesona menggoda.
Lu Feng merasa serba salah.
“Aduh…”
Ia berpikir cepat.
Pikirannya langsung membuka pemindaian sejauh satu juta mil, mencari keberadaan obat.
“Hah… ketemu.”
Ia menemukan ginseng emas di dekat pepohonan besar, sekitar sepuluh ribu mil dari lokasi ini.
Lubang hitam muncul di telapak tangan kanan Lu Feng.
Ia memasukkan tangannya ke dalam.
Di tempat yang berjarak sepuluh ribu mil itu, pepohonan rindang sebenarnya adalah makhluk hidup yang menjaga ginseng emas tersebut.
Mereka tidak menyadari apa pun.
Sebuah lubang hitam tiba-tiba terbuka tepat di atas ginseng emas.
Sebuah tangan muncul dan mencabutnya begitu saja.
Lubang hitam pun menutup.
Beberapa saat kemudian, pepohonan penjaga itu merasakan kejanggalan.
Mereka menyadari ginseng emas telah lenyap.
“Siapa yang mencurinya diam-diam?”
Amarah mereka meledak.
Seluruh hutan dibalik hingga ribuan mil untuk mencari pelaku.
Sementara itu, Lu Feng sudah memegang ginseng emas di tangannya.
“Nah, ini.”
Mata Su Meiyao langsung berbinar.
Ia tersenyum puas dan mendengus manis.
Tangan gioknya dengan cepat meraih ginseng emas itu.
Bai Youyou juga “tersadar” dari kepura-puraannya.
Pemandangan itu membuat Lu Feng tercengang.
Akhirnya ia mengerti.
“Semakin cantik seorang wanita… semakin licik hatinya.”
“Terima kasih, adik kecil. Kami akan memurnikannya sebentar,”
kata Su Meiyao dengan nada manis.
Ia dan Bai Youyou lalu duduk berhadapan, ginseng emas diletakkan di tengah mereka.
Keduanya mulai memurnikannya secara bersamaan.
Qi esensi dari ginseng emas perlahan keluar, berkilau keemasan, lalu diserap ke dalam tubuh Bai Youyou dan Su Meiyao.
Luka-luka mereka mulai pulih dengan cepat.
Namun, seiring berjalannya waktu, keadaan menjadi aneh.
Tubuh lembut mereka semakin memerah.
Napas menjadi lebih berat.
Aura di sekitar mereka bergetar, bercampur antara energi penyembuhan dan hasrat yang tak wajar.
Su Meiyao tiba-tiba membuka mata.
Wajahnya tercengang.
“Astaga… ginseng ini…”
Ia menyadari sesuatu yang salah.
“Ini ginseng sepuluh ribu tahun.”
Nada suaranya berubah.
“Energinya terlalu kuat… dan ini berlawanan dengan energi yin kami.”
Bai Youyou juga membuka mata.
Tatapannya langsung mengarah ke Lu Feng, penuh amarah.
Ia berdiri dengan wajah dingin.
“Kau sengaja mempermainkan kami, kan?”
Aura marahnya melonjak, seolah ingin mencabik Lu Feng saat itu juga.
Lu Feng mengangkat kedua tangannya, ekspresinya polos.
“Eh, mana ada aku mempermainkan kalian?”
“Dari awal aku sudah bilang aku tidak punya obat penyembuhan.”
Ia menatap mereka dengan tenang.
“Lagipula, ginseng itu baru saja kuambil dari puluhan ribu mil jauhnya,”
“waktu kau pura-pura pingsan.”
Lu Feng mengangkat bahu, seolah sama sekali tidak bersalah.
“Kau—!”
Bai Youyou menggertakkan gigi.
Tinju kecilnya mengepal, ingin menghantam wajah anak itu.
Su Meiyao juga ikut terdiam.
Matanya menyipit, jelas terlihat kesal.
“Anak ini…”
Baru kali ini ia merasa dipermainkan oleh seorang pria.