Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Setelah pengakuan Arga yang mengejutkan tentang penyekapan Jefry, suasana di rumah Sintia perlahan-lahan mulai mendingin, meski sisa-sisa ketegangan masih menggantung di udara. Arga menepati janjinya. Ia segera menghubungi Sagara untuk membereskan semua "kekacauan" legal yang ia buat. Jefry dipindahkan kembali ke tangan pihak berwajib dengan bukti-bukti tambahan yang jauh lebih memberatkan, memastikan pria itu mendekam di balik jeruji besi untuk waktu yang sangat lama.
Sore itu, langit berwarna jingga kemerahan saat Arga duduk di teras belakang rumah Sintia. Sintia keluar membawa dua cangkir teh hangat, langkahnya masih sedikit ragu, namun sorot matanya sudah tidak sekosong beberapa hari lalu.
Sintia meletakkan cangkir itu di meja kecil di depan Arga. "Tehnya, Ga."
Arga mendongak. Wajahnya yang kaku dan tegas tampak sedikit lelah. Ia tidak langsung meminum tehnya, melainkan meraih tangan Sintia dan menuntunnya untuk duduk di kursi sebelah.
"Makasih," ucap Arga pendek. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah taman yang mulai gelap. "Jefry sudah dipindahkan pagi tadi. Sagara bilang vonisnya kemungkinan besar akan bertambah karena bukti penggelapan dana papanya juga ikut terseret. Mereka berdua nggak akan bisa menyentuh kamu lagi."
Sintia menghela napas panjang, bahunya yang selama ini tegang akhirnya merosot rileks. "Terima kasih, Arga. Dan makasih karena kamu mau dengerin aku untuk nggak pakai cara kekerasan lagi. Aku... aku beneran takut kalau kamu berubah jadi orang yang nggak aku kenali."
Arga terdiam cukup lama. Ia memijat pangkal hidungnya, kebiasaan yang sering ia lakukan saat sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. "Aku hanya nggak tahan, Sin. Tiap kali aku lihat kamu gemetar karena dia, rasanya logikaku mati. Aku cuma pengen dia ngerasain sakit yang sama—atau bahkan lebih."
"Tapi itu nggak akan nyembuhin trauma aku, Ga," potong Sintia lembut. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Arga yang besar dan kasar. "Melihat kamu tetap jadi Arga yang aku kenal, itu yang bikin aku sembuh. Bukan melihat Jefry berdarah-darah di tangan kamu."
Beberapa minggu berlalu sejak kejadian itu. Arga menjadi jauh lebih protektif, namun dengan cara yang lebih sehat. Ia tidak lagi menyembunyikan sesuatu. Setiap kali ada perkembangan tentang kasus Jefry, ia akan memberitahu Sintia dengan bahasa yang sangat hati-hati agar tidak memicu trauma gadis itu.
Suatu pagi, Arga menjemput Sintia. Ini adalah pertama kalinya Sintia bersedia keluar rumah untuk sekadar jalan-jalan di taman kota, setelah sekian lama mengurung diri.
"Kamu siap?" tanya Arga saat mereka berada di dalam mobil.
Sintia mengangguk pelan, meski tangannya meremas sabuk pengaman. Arga menyadarinya. Tanpa banyak bicara, pria yang dikenal kaku itu meraih tangan Sintia dan mengecup punggung tangannya singkat—sebuah gestur romantis yang jarang ia tunjukkan namun sangat berarti.
"Ada aku. Kalau kamu merasa nggak nyaman sedikit saja, kita langsung pulang," tegas Arga.
Di taman, mereka berjalan berdampingan. Arga berjalan di sisi luar, seolah menjadi perisai hidup bagi Sintia dari orang-orang yang berlalu-lalang. Saat ada seorang pria asing yang berjalan agak cepat ke arah mereka, Sintia refleks bersembunyi di balik lengan Arga. Dengan sigap, Arga merangkul bahu Sintia, memberikan tatapan tajam dan dingin pada pria asing tersebut sampai orang itu menjauh.
"Jangan lihat orang lain. Lihat aku aja," bisik Arga, berusaha menenangkan detak jantung Sintia yang mulai kencang.
Mereka akhirnya duduk di sebuah bangku di bawah pohon besar yang rindang. Sintia mulai merasa lebih tenang. Ia melihat anak-anak kecil berlarian, sesuatu yang selama ini hanya bisa ia lihat dari balik jendela kamar.
"Ga, kamu nggak nyesel?" tanya Sintia tiba-tiba.
Arga menoleh, dahinya berkerut. "Nyesel kenapa?"
"Ngejagain aku yang... rusak kayak gini? Kamu harus ngadepin kambuh aku, ketakutan aku, bahkan kamu hampir masuk masalah hukum gara-gara aku."
Arga menghela napas kasar. Ia memutar tubuhnya agar menghadap Sintia sepenuhnya. Wajahnya yang kaku itu kini melunak, menatap Sintia dengan intensitas yang dalam.
"Sin, dengerin aku. Kamu nggak rusak. Kamu cuma terluka. Dan tugas aku bukan cuma buat nyembuhin luka itu, tapi buat pastiin nggak ada orang lain yang bisa bikin luka baru di diri kamu," ucap Arga dengan suara rendah namun penuh keyakinan. "Kalau aku harus nunggu sepuluh atau dua puluh tahun sampai kamu bener-bener pulih, aku bakal nunggu."
Sintia merasakan matanya memanas. "Kenapa kamu bisa seyakin itu sama aku?"
Arga terdiam sejenak, lalu ia menyelipkan helai rambut Sintia ke belakang telinga. "Karena nggak ada orang lain yang bisa bikin Arga yang 'kaku' ini peduli sampai segininya selain kamu. Jadi, jangan tanya kenapa. Cukup tahu kalau aku di sini."
Sintia tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arga, menghirup aroma parfum Arga yang menenangkan—bukan lagi bau darah yang sempat menghantuinya. Di bawah naungan pohon itu, Sintia sadar bahwa meski dunianya sempat hancur karena Jefry, Arga adalah orang yang dengan sabar memunguti kepingan-kepingan itu dan menyusunnya kembali, satu per satu.