NovelToon NovelToon
Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:69.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mirna Samsiyah

Hidayah itu milik Allah, jika Dia telah berkehendak memberikan hidayah pada seseorang maka siapapun tidak dapat mencegahnya.

Termasuk pada Atalie—gadis chindo tersebut tidak pernah mengira bahwa berawal dari iseng ikut kajian Ustadz Umar dapat membawanya menemukan hidayah untuk memeluk Islam.

"Mas Umar, bantu aku, selama ini kamu udah banyak bantu aku tanpa diminta."

"Bantu apa?"

"Bantu aku bersyahadat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar merdu dari sudut musholla. Meski setengah mengantuk tapi Umar tetap melafalkan bacaan Al-Qur'an dengan fasih seolah lidahnya telah terbiasa. Bacaan Umar disimak oleh Zaid yang duduk tepat di hadapannya.

Di luar langit sudah gelap, gerimis terdengar semakin deras disertai gemuruh petir. Pondok mulai sepi karena semua santri sedang beristirahat tapi tidak dengan dua laki-laki di sudut musholla itu. Zaid sedang menguji hafalan Al-Qur'an Umar yang dilakukan sejak ba'da magrib tadi. Umar harus melafalkan 30 juz Al-Qur'an tanpa henti dan mungkin itu harus akan selesai esok hari. Umar merasa Zaid sedang menghukumnya dengan dalih menguji hafalan. Namun bagi Umar ini adalah hukuman yang menyenangkan walaupun ia harus melupakan soal kasur dan selimut malam ini.

Terakhir kali Umar membaca 30 juz Al-Qur'an tanpa henti saat dirinya berusia 12 tahun dimana semangatnya untuk menghafal Al-Qur'an masih membara. Namun ternyata mempertahankan hafalan itu lebih sulit dibandingkan ketika menghafalnya.

Zaid memejamkan mata tapi Umar tahu abah nya tidak tidur dan masih menyimak bacaannya. Umar berpikir apakah setelah ini Zaid akan memaafkannya dan memberinya izin untuk melamar Aisyah. Meskipun lamaran itu juga belum tentu diterima. Namun Umar masih ingat ucapan Aisyah tadi pagi. Gadis itu mau asal menikah dengan Umar. Apakah Aisyah bercanda? tapi tidak terlihat tanda-tanda kebohongan di wajahnya.

Umar bertekad untuk menemui Aisyah lagi di kampus walaupun besok ia tidak memiliki jadwal mengajar disana. Ia juga tidak tahu apakah Aisyah akan pergi ke kampus. Tapi bukankah jika Allah hendak mempersatukan sepasang manusia maka Dia akan menggerakkan hati keduanya. Umar tidak seharusnya merisaukan hal-hal seperti itu karena ia sudah menemukan Aisyah dalam sepertiga malamnya.

Ayam berkokok bersahut-sahutan menandakan fajar akan segera tiba. Suara ayam itu seolah memberi semangat pada Umar dan ia tidak boleh menyerah. Hujan sudah sepenuhnya reda setelah turun semalaman.

Lantai satu masjid seketika penuh oleh santri yang hendak melaksanakan shalat tahajjud. Setelahnya mereka murojaah bersama-sama dipimpin oleh Khalid.

Tanpa sadar banyak santri menyaksikan Umar yang tengah fokus melantunkan surat Al-Hadid.

"Kalian juga boleh menyimak bacaan Gus Umar." Ucap Khalid pada mereka.

Umar melirik Khalid tajam, kenapa mereka harus ikut menyimak bacaannya. Umar merasa terbebani dan jadi gugup. Maklum Umar jarang berinteraksi dengan mereka jika dibandingkan Khalid. Umar harus ekstra konsentrasi agar tidak ada satu pun bacaan yang salah. Umar bisa menjadi contoh tidak baik jika ada bacaan yang kurang tepat.

Para santri dibuat kagum oleh bacaan indah Umar walaupun mereka sering mendengarnya saat Umar menjadi imam shalat. Suara yang akan membuat santri putri terkagum-kagum. Sudah bukan rahasia lagi jika putra kyai apalagi yang belum menikah menjadi idola para santri putri. Terutama Umar yang katanya menjadi sosok sulit dijangkau di kalangan para santri.

Umar dan Zaid berhenti sejenak memasuki waktu shubuh. Salah satu santri mengumandangkan adzan yang terdengar ke seluruh penjuru pesantren. Tidak ada lagi santri yang masih bergumul dengan selimut, mereka bergegas ke kamar mandi dan berbondong-bondong pergi ke masjid memenuhi panggilan Allah.

Umar menyelesaikan juz 30 dengan cepat karena ia harus mengantar ummi nya ke masjid untuk kajian shubuh.

"Mau langsung nganter Ummi, nggak tidur dulu?" Khalid menyusul Umar keluar masjid.

"Iya Mas, kalau tidur malah nggak akan bangun sampai dhuhur nanti." Umar sudah mencuci muka sekali lagi barusan tapi ia tetap mengantuk.

Maryam sudah menunggu di depan rumah ketika Umar kembali dari masjid.

"Katanya Ali yang mau antar Ummi." Maryam bingung melihat Umar masuk rumah buru-buru lalu kembali dengan membawa kunci motor.

"Ummi, Ali belum punya SIM."

Maryam duduk di jok motor Umar, setelah menyalakan mesin, motor bergerak keluar melewati jalan yang tidak terlalu lebar di antara pemukiman warga lain. Umar mengendarai motornya dengan kecepatan rendah, ia harus berhati-hati karena jalanan licin bekas hujan semalam.

"Kamu dihukum Abah?"

"Ummi juga merasa itu hukuman?" Umar tidak salah bahwa Zaid memang sedang menghukumnya dengan membuatnya terjaga semalaman. "Tapi lumayan Ummi, Umar jadi bisa menguji hafalan."

"Itulah kamu harus berjuang sebelum mendapatkan apa yang kamu mau."

"Belum lagi menghadapi Papa dan Mama nya Aisyah, mereka juga belum tentu mau menikahkan Aisyah dengan Umar."

"Tapi setidaknya kamu sudah berusaha, apapun hasilnya pasrahkan saja sama Allah."

Umar berhenti di halaman masjid yang sudah ramai oleh jamaah wanita. Kajian Maryam selalu ramai oleh para wanita yang juga berasal dari daerah lain.

"Ini mobil Aisyah?" Umar bergumam sendiri melihat mobil Aisyah juga terparkir di halaman masjid tapi ia belum siap untuk menemui gadis itu. Umar sudah berencana menemuinya di kampus. Meski begitu Umar tetap bercermin di spion motor, dari wajahnya ia memang terlihat sangat mengantuk. Aisyah mungkin akan mengejek Umar seperti cucian belum disetrika lagi. Umar terkekeh mengingat Aisyah yang selalu berterus terang.

"Assalamualaikum Ummi!"

Umar berdiri kaku di tempatnya mendengar suara Aisyah tepat di belakangnya. Ia memejamkan mata dan menahan napas berharap Aisyah tidak mempedulikannya kali ini. Tidak, bisa saja itu orang lain yang memiliki suara mirip Aisyah.

"Waalaikumussalam, Aisyah."

Umar tersenyum getir, ternyata telinganya sudah mengenali suara Aisyah.

"Ummi, saya kangen sekali sama Ummi."

Umar tidak berani menoleh, semoga Aisyah dan Maryam segera masuk ke masjid.

"Akhirnya kamu datang ke kajian Ummi, Masya Allah kamu makin cantik."

Aisyah menggeleng, "Ummi lebih cantik, saya sudah lihat sendiri." Bisiknya.

Umar mengembuskan napas panjang, harusnya ia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan padanya. Niat baik tidak boleh ditunda-tunda.

"Mari masuk." Ajak Maryam.

"Mari Ummi." Aisyah melangkah bersama Maryam menuju masjid.

"Aisyah!"

Langkah Aisyah terhenti menoleh ke sumber suara, "Mas Umar?" Ia tidak tahu jika dari tadi ada Umar disitu. Aisyah memang tidak memperhatikan sekitar.

"Temui dia, sepertinya ada hal penting yang mau dibicarakan dengan mu." Pinta Maryam.

"Baik Ummi." Aisyah melepaskan gandengannya di lengan Maryam lalu melangkah menghampiri Umar.

Aisyah mendadak gugup, hal penting apa yang bisa Umar bicarakan dengannya. Mereka bukanlah teman akrab bahkan sangat jarang bertemu meskipun dulu sempat tinggal di tempat yang sama.

Jarak mereka kian dekat tapi langkah Aisyah melambat, seperti ada beban di kakinya yang membuatnya sulit berjalan. Wajah Umar terlihat sendu dan lelah walaupun senyum terukir indah disana. Hanya Aisyah yang berani menatap wajah Umar lama, saat ini ia tengah mengagumi karya Tuhan di hadapannya.

Aisyah tidak tahu alasannya gugup tapi sekarang jantungnya berdegup kencang, ia memegangi dadanya seolah takut jantungnya melompat keluar walaupun itu tidak mungkin terjadi.

Umar berusaha menenangkan diri, ia meyakinkan dirinya sekali lagi bahwa Aisyah sendiri yang mengatakan bersedia menikah dengannya. Jangan bilang kemarin Aisyah hanya bercanda. Hal seperti itu tidak patut menjadi bahan candaan.

"Awas!" Umar berseru melihat sebuah motor melintas cukup dekat samping Aisyah. Karena jarak mereka cukup jauh, Umar tidak bisa melindungi Aisyah dengan tubuhnya. Sadarlah dunia nyata tidak seindah di film.

"Ah chī shǐ!" Aisyah memekik, umpatan keluar dari mulutnya ketika ban motor melintasi genangan air hingga mengenai gamisnya.

"Maaf Mbak, saya nggak sengaja." Pengemudi motor itu segera turun dan meminta maaf pada Aisyah, ia tidak melihat ada genangan air disitu karena langit masih agak gelap.

"Shén jīng bìng, genangan segede ini kamu nggak lihat?"

"Iya saya nggak lihat, maaf sekali lagi."

Aisyah mendengus kesal, apakah dengan maaf maka semua masalah bisa selesai. Sekarang gamisnya basah padahal ia harus segera masuk ke masjid. Ia tidak punya waktu lagi untuk kembali ke rumah dan ganti baju karena bisa ketinggalan materi.

"Sudahlah Aisyah." Umar menghampiri Aisyah untuk menghentikannya, hanya ia yang mengerti ucapan Aisyah barusan. "Nggak baik bicara seperti itu." Lirihnya mencoba menasehati Aisyah.

Aisyah menggigit lidahnya agar berhenti mengumpat, itu adalah kebiasaan yang sulit dihilangkan. Aisyah bisa saja berhenti mengkonsumsi makanan non halal karena ada banyak jenis makanan halal yang enak. Ia bisa mengenakan jilbab setiap kali keluar rumah karena itu membuatnya nyaman. Namun mengumpat sudah menjadi teman karib nya.

"Tahan amarahmu, dia nggak sengaja dan sudah minta maaf."

"Maaf ya Mbak." Ujar perempuan yang juga hendak menghadiri kajian Maryam itu.

"Udah nggak apa-apa." Aisyah mengibaskan tangannya agar perempuan itu segera pergi. Aisyah mengusap gamisnya yang sudah basah dan kotor. "Kamu tahu ini pertama kalinya aku ke kajiannya Ummi Maryam setelah aku bersyahadat?" Wajah Aisyah memerah menahan amarah.

"Saya nggak tahu."

"Jadi kamu mau ngomong apa?" Aisyah mengalihkan pembicaraan, ia tidak lupa jika Umar memanggilnya barusan. Jika Umar tidak melakukan itu mungkin sekarang Aisyah sudah berada di dalam masjid bersama jamaah lain. Kenapa juga Aisyah harus menghampiri Umar, apalagi yang ia harapkan? Umar sudah akan menikah dengan Hilya. Aisyah harusnya membuang jauh-jauh harapannya pada Umar dan mengikhlaskannya seperti yang Felix lakukan padanya.

"Hm?" Alis Umar terangkat, ia hampir lupa soal itu karena terlalu kaget mendengar umpatan Aisyah untuk kesekian kalinya.

"Ummi bilang ada sesuatu penting yang mau kamu omongin." Aisyah menatap Umar serius.

Umar sudah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan pada Aisyah bahwa ia ingin menjalin hubungan serius dengan gadis itu, tapi semua itu runtuh seketika akibat kejadian barusan. Sekarang Umar harus bersusah payah mengumpulkannya lagi.

"Aisyah, kamu bilang mau menikah asal dengan saya."

"Oh itu—" Aisyah menunduk mengambil beberapa lembar tisu di dalam tas dan mengusap gamisnya yang basah walaupun itu tidak membantu sama sekali. Aisyah mengatakan itu secara tiba-tiba kemarin dan ia tidak mau membahasnya lagi.

"Aku akan melakukannya."

"Apa?" Aisyah melirik Umar sekilas, ia tidak mengerti kalimat itu. Umar selalu bicara sepatah-sepatah yang membuat Aisyah bingung.

"Mari menikah."

Tisu di tangan Aisyah terjatuh, ia mengangkat wajah menatap Umar tak percaya. Aisyah tidak mengerti mengapa Umar mengajaknya menikah padahal lelaki itu hendak menikah dengan Hilya.

"Kamu gila?"

Umar bengong melihat reaksi Aisyah, kenapa ia justru dikatai gila. Umar membayangkan senyum akan terukir di wajah cantik Aisyah setelah mendengar lamarannya meski momen saat ini jauh dari kata romantis. Namun tetap saja Umar tidak mau melihat reaksi seperti itu. Apakah Aisyah tidak tahu ini sulit bagi Umar untuk mengatakan hal seperti itu.

"Kamu mau jadiin aku istri kedua?"

Kening Umar mengkerut, kenapa Aisyah berpikir ia akan menjadikannya istri kedua, memangnya ia sudah menikah? tidak kan.

"Aku tahu kamu ganteng, pinter, sholeh dan populer tapi bukan berarti kamu bisa jadiin aku istri kedua!" Aisyah bersuara dengan lantang, untungnya tidak ada orang lain disitu. Semuanya sudah masuk ke masjid.

"Tunggu Aisyah, apa maksudmu istri kedua?"

"Kamu mau nikah sama Hilya kan, setelah itu kamu mau nikah sama aku? enggak Mas, aku emang jatuh cinta sama kamu tapi aku bisa belajar lupain perasaan ini."

Umar tidak bisa menahan senyum, jadi Aisyah juga jatuh cinta padanya. Umar ingin tahu sejak kapan Aisyah jatuh cinta padanya.

Aisyah tidak mengerti kenapa Umar tersenyum tapi situasi mereka saat ini bukanlah momen yang pas untuk membuatnya tersenyum.

"Kamu mungkin belum dengar soal ini tapi aku membatalkan lamaranku pada Hilya karena kamu, aku ingin menikahi mu jadi jawab aku sekarang."

Sepasang mata Aisyah melebar, mulutnya sedikit terbuka saking terkejutnya. Aisyah kembali memegangi dadanya, bagaimana jika jantungnya benar-benar melompat keluar, ia harus memungutnya kembali.

"Aisyah." Panggil Umar sekali lagi, Aisyah benar-benar pandai memainkan peranannya. "Aku bisa melihat jawabannya di wajah mu."

"Apa yang kamu lihat?" Tanya Aisyah terbata.

"Kamu bersedia menikah denganku."

"Kamu pandai menebak." Aisyah segera masuk ke mobilnya untuk menyembunyikan diri. Perasannya campur aduk antara senang, tak percaya dan malu. Aisyah sering mendengar cowok-cowok yang mengungkapkan perasaan padanya tapi Umar tidak seperti itu, Umar mengajaknya menikah. Aisyah ingin berteriak saking senangnya tapi ia buru-buru menutup mulutnya. Wajah Aisyah yang tadinya merah padam karena marah kini merona merah.

"Kenapa Ayana nggak bilang kalau lamaran mereka batal." Aisyah menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas. Ia bingung antara memegangi dadanya atau pipinya.

Aisyah mengintip dari jendela yang kacanya diturunkan sedikit, Umar masih berdiri disitu dengan senyum manisnya. Apalagi saat terkena sinar matahari yang muncul malu-malu di ufuk timur, Umar semakin terlihat tampan.

"Aku akan menemui orangtuamu nanti bersama Abah dan Ummi."

Aisyah hanya menjawabnya dengan anggukan agar tak terlalu kentara bahwa saat ini ia amat sangat senang. Mobil Aisyah berputar dan keluar dari halaman masjid.

Umar: Kenapa wajah mu memerah Aisyah?

Aisyah: Itu karena panas matahari

Umar: Saya tahu kamu bohong

Aisyah: Pura-pura nggak tahu aja.

1
Lina Siti
Luar biasa
Rahmi Ami
bagus
Bundanya Abhipraya
udh baca sampe cerita anaknya daniel br tau cerita ini pokoke capcus baca maraton
Nina
kalo baca cerita yang pasangan suami istri belum di kasih keturunan,kadang tuh suka inget ke diri sendiri
Nina
di balik itu semua pasti ada hikmah nya
☝ℕ𝕦𝕟𝕦𝕥𒈒⃟ʟʙᴄ
semoga aisyah cepat hamil, jadi ikutan sedihh dehh
Immha Gadlys
alhmdulilah akhirnya yg di tggu2
✿⃝⭕🌼Ohti
ikut sedih
Nina
enak loh jantung pisang kalo di olah,bisa di sayur sama santan,di bikin bakwan,bisa di pepes,enak deh pokoknya
Nina
seharus nya Nelly bicara dulu baik baik jangan asal ngambil aja,belum tentu kan orang yg kita ambil uang nya orang yg gak punya kesulitan
Nina
ujian dalam kehidupan itu gak pernah gak ada,pasti selalu ada,itu lah cara Allah supaya kita bisa sabar, ikhlas,kuat,Allah tau yg terbaik buat kita
Nina
semangat terus Aisyah dalam segala hal apapun
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
aku banget ini kaak mirna.. 😭
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ: Aaamiin Ya Allah.. 🤲🤲
total 2 replies
Anis Hasan
lanjut semoga aisyah selalu bahagia dan istikomah
Nina
rutinitas kehidupan sehari2
Nina
dalam rumah tangga harus ada yggg saling mengalah,Yang satu api yg satunya jadi air
Nina
selalu banyak cobaan di rumah tangga,entah itu dari saudara,orang tua,kerabat,teman
Nina
semangat Aisyah,jangan sedih
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
salah satu obat mujarab ketika jadi istri itu, bagaimanapun rasanya sakit hati, sesesak apapun dadamu ketika dikecewakan.. harus bisa dan wajib diutarakan. biar g mengakibatkan penyakit datang bermunculan..
semangat terus kak Atali🥰
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ
kasian aisyahh, jd ikutan nyesek berada diposisi aisyah🥲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!