Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dia?
Kedua Ibu dan anak saat ini berada di kamar. Norma baru saja selesai memberikan obat pada Nuri.
"Mak, Nuri ke luar ya. Tadi Nek Syam mengajak Nuri nonton televisi" ucap gadis kecil ini, Norma mengangguk seraya memasukkan baju Nuri ke dalam almari anak.
"Nuri senang betul Mak, akhirnya bisa nonton televisi. Kalau di rumah Nek Mariah tak di beri izin nonton, kerjaan Nek kebayan itu hanya menonton Hindia, sambil mulutnya tidak berhenti marah-marah" ucapnya lagi.
Norma menghentikan kerjaannya, menoleh ke anaknya dengan heran sekaligus sedikit terkejut.
"Nuri, tidak baik bicara begitu! Emang nya anak mamak mendapat ucapan begitu dari mana?" tanya Norma membelai rambut putrinya.
"Kemarin Etek Dawiyah mengatakan seperti itu, tapi memang betulan Nek Mariah jika marah seperti nenek kebayan." ujarnya.
"Hust! Lain kali tanya dulu pada mamak, tidak boleh bicara sembarang, nanti jatuhnya dosa, apa lagi terhadap orang yang lebih tua. Ya nak?!" memberi pengertian, nasihat pada anak beranjak remaja.
"Siap Mak ku! Nuri izin keluar dulu. Dah Mamak sayang" Nuri mengecup singkat pipi Norma, berbalik, berlari kecil keluar kamar.
Norma menggelengkan kepala, tersenyum melihat tingkah sang putri.
Tak lama pekerjaannya selesai. Norma beranjak, menuju pintu, lalu keluar berkumpul dengan putrinya.
Buk Syam datang dari dapur menuju ruang televisi sambil membawa minuman susu hangat, dua cangkir teh dan cemilan.
"Silahkan di minum Buk Norma, Kakak Nuri" Iya menaruhkan nampan di atas meja. Sedangkan Norma duduk di kasur bulu, Nuri berbaring di pangkuan sang ibu sambil memeluk boneka.
"Terima kasih Nek. Wah, Alhamdulillah ya Mak, di rumah baru ini Nuri bisa merasakan makanan enak dan minum nya juga." ucap Nuri, bangun mendekati meja, meraih gelas susu lalu meneguk gelas susu.
"Ini juga ada bolu Dam. Biasa cuma makan di acara pernikahan saja kan Mak?!" Nuri menatap Norma.
"Iya sayangnya mamak, Alhamdulillah rezeki dari Allah, kita wajib mensyukurinya" ujar Norma mengusap sudut bibir Nuri yang ada bekas susu.
"Kalau macam tu makan dengan sepuasnya, nanti ku jika kak Nuri mau lagi, besok Nek Syam bikin kan" selanya menatap hangat.
.
Sekitar pukul 09:30 malam, Nuri telah tidur. Norma membopong tubuh kecil itu masuk kedalam kamar. Lalu membaringkan putrinya dengan hati-hati agar tidak terganggu tidurnya, lalu menyelimutinya. Setelahnya Nuri kembali menuju ruang televisi.
"Ibuk tak langsung tidur?" ucap Buk Syam mencoba mengakrabkan diri.
"Belum Mak Cik. Jika Mak cik sudah mengantuk tidur saja duluan." Norma meneguk pelan teh hangat.
Lalu dirinya mengambil ponsel baru pemberian Syakir yang di titipkan pada Prakoso.
"Mak Cik, saya keluar sebentar mau menghubungi keluarga saya" ucap Norma di angguki Buk Syam.
.
Norma duduk di kursi teras hunian simple elegan itu. Membuka ponsel, memasuki nomor Daria lalu menghubungi nya.
Tut.....
"Siapa ini?" tanya Daria tanpa mengucap salam.
"Assalamualaikum Ria. Ini kak Norma, apa bisa kakak bicara dengan Ibuk sebentar?" tanya Norma.
"Ibuk sedang melihat organ tunggal di acara sunatan Cucu Wiyah. Oh iya Kak Norma, Nuri kan sudah berangsur membaik. Uang pengobatan juga di dapat juga berkat dari kemurahan hati Ibuk memberi jalan keluar. Bisakah kau memberinya setengah? Uang itu akan di gunakan untuk menebus tanah kita, lalu sisanya untuk perbaikan rumah" ucap Daria panjang lebar, iya berjalan menuju jendela, bersandar di sisi jendela.
Norma menghela nafas panjang. Adik iparnya sedikitpun tidak bertanya keadaan Nuri, keponakannya. Pun juga tidak bertanya kenapa dirinya dan Nuri tidak pulang ke rumah, yang di tanya hanya masalah uang.
"Iya Ria, kakak faham. Kakak juga berencana untuk menemui Ibuk, kamu dan bapak saat keadaan Nuri sudah lebih baik." balas Norma.
"Tak perlu bersusah payah kesini, biar aku dan Ibuk yang menyusul kesana, itung-itung berbuat kebaikan sekali lagi menolong kak Norma. Kirim saja alamatnya" ucap Daria sok perhatian.
"Nanti kak sharelok"
Hem
Tuttttt
.
Daria mematikan sambungan dengan tidak sopan nya. Dirinya berjalan menuju ranjang, lalu berbaring asalan.
"Eh? Kak Norma ada ponsel baru? Wah wah sudah mulai tampak belangnya ipar ku itu. Awalnya jual mahal, tapi ujung-ujungnya mulai menguras uang si Syakir itu" gumamnya Daria tersenyum miring.
Ting..
Notifikasi masuk. Daria menggeser lalu membuka pesan dari aplikasi hijau.
"Ha?! Ini kan di wilayah perkotaan? Perumahan lumayan mewah, biar betul? Apa mata ku rabun?" Daria mengucek matanya.
"Ah biarkan saja menikmati hidup menjadi orang kaya, tapi apa gunanya jika berdampingan dengan pria tua, jelek lagi" kekeh Daria menepis rasa iri nya.
Tak lama Darman dan Mariah pulang dari menonton organ tunggal.
Mendengar pintu ruang tamu di buka, Daria beranjak menuju keluar kamar.
"Buk, besok batalkan dulu acara senamnya." ucap Daria seraya mendudukkan tubuhnya ke sofa.
"Lah kenapa pula? Bisa hilang muka ku ini karena malu, sedangkan aku yang memberi ide dengan ibu-ibu gang RW ini." Mariah tak terima.
"Alah, batalkan dulu. Memangnya ibuk tak mau ikut dengan ku menemui Norma, mengambil uang hak kita dari menantu kesayangan Ibuk tu?" Daria Menaik turunkan alisnya.
"Kenapa pula harus kita yang menemui nya? Biarkan lah wanita bodoh dan putri kurang waras nya itu yang mendatangi kita!" ucap Mariah memiringkan sebelah bibirnya.
Daria menghela nafas panjang, beranjak lalu duduk di sebelah ibunya.
"Buk, kita itu harus main pintar. Jangan terlalu kelihatan sekali kita memanfaatkan wanita itu. Aku juga penasaran bagaimana tempat tinggal baru wanita bodoh itu" balas Daria.
"Kau ini memang putri Ibuk yang luar biasa" Mariah memeluk bahu sang anak.
"Siapa dulu!! Dariawati!" ucapnya jumawa.
"Ya sudah, ibuk sudah ngantuk" Mariah beranjak menuju kamarnya.
.
*******
.
Sementara di negara lain
Seorang wanita sedang menikmati masa liburannya akhir pekan.
Saat akan memesan Taxi, tak sengaja matanya melihat dua orang berbeda jenis berpelukan mesra layaknya sepasang kekasih.
"Kok mirip seseorang ya?" gumamnya memicingkan mata.
"Eh kenapa pula jadi berbahasa Indonesia raya aku ini?" kekehnya seraya menutup mulut.
Wanita ini segera mengambil ponsel dari dalam tas, lalu mengeluarkan ponsel, mengarahkan kamera ke objek pasangan tersebut. Setelah mendapatkan hasil yang baik, segera dirinya menyimpan kembali ponselnya.
"Hem, kasian betul dirimu Nor. Kamu di kampung di jadikan babu oleh ipar serta mertuamu, lelaki sundal ni asik sekali dengan perempuan jalang!" gumamnya geram.
"Tapi siapa betina jalang tu?" ucapnya, mata terus melihat ke pasangan yang wanita nya terlihat dari belakang.
"Norma ini malah tak punya ponsel pula Dia, seharusnya dia perlu mengetahui kelakuan Dajjal lakinya sialan ini!"
.