NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Jarak Menjadi Senjata

Kota kecil itu bernama San Raffaele.

Tidak ada yang istimewa darinya—deretan bangunan dua lantai, toko roti tua di sudut jalan, dan stasiun kereta yang lebih sering sepi daripada ramai. Tepat karena itulah Carmela memilihnya. Tempat seperti ini tidak menyimpan sejarah, tidak menarik perhatian, dan tidak punya ingatan tentang siapa pun.

Ia berjalan pelan di trotoar basah, mantel cokelatnya sedikit kebesaran, rambutnya diikat rendah. Tidak ada perhiasan. Tidak ada tas mahal. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia pernah hidup dalam dunia Matteo.

Ia tampak seperti perempuan biasa.

Dan justru itu yang membuatnya rapuh.

Di kamar hotel, Carmela duduk di tepi ranjang, membuka ponsel murah yang ia beli dengan uang tunai. Tidak ada kontak tersimpan. Tidak ada aplikasi terenkripsi. Hanya satu nomor yang ia hafal di luar kepala—nomor Matteo.

Ia tidak menekannya.

Bukan karena tidak rindu.

Tapi karena ia tahu, satu panggilan bisa menarik semua bahaya kembali ke arahnya.

Ia menghela napas panjang, berdiri, lalu membuka jendela. Udara pagi masuk bersama aroma kopi dari kafe di bawah. Untuk sesaat, hidup terasa… normal.

Dan itu membuatnya lengah.

Matteo tidak tidur sejak Carmela pergi.

Ia duduk di ruang kerja rumah aman, peta digital terbuka di layar, titik-titik bergerak perlahan. Tidak ada sinyal dari Carmela—dan itu berarti ia melakukannya dengan benar. Terlalu benar.

“Kau tidak bisa melindungi orang yang menghilang sepenuhnya,” kata Ricardo, berdiri di belakangnya.

“Aku bisa,” jawab Matteo tanpa menoleh. “Aku hanya harus berpikir lebih kotor.”

Ricardo terdiam. “Marco menghubungiku.”

Matteo menegang. “Apa katanya?”

“Ada pergerakan kecil. Orang-orang Lorenzo menyebar, bukan mendekat. Seperti… berburu tanpa peta.”

Matteo menutup mata sejenak. “Dia tahu Carmela pergi.”

“Belum tentu tahu ke mana,” kata Ricardo. “Tapi Lorenzo tidak butuh alamat. Dia butuh kesalahan.”

Matteo membuka mata. “Dan Carmela sedang belajar hidup sendiri.”

Ricardo menatapnya tajam. “Itu yang membuatnya berbahaya—dan terancam.”

Di San Raffaele, Carmela mulai bekerja paruh waktu di toko buku kecil dekat alun-alun. Pemiliknya, seorang perempuan tua bernama Signora Lucia, tidak banyak bertanya. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Semua orang punya alasan untuk diam.”

Carmela menyukai tempat itu. Bau kertas tua. Rak kayu. Jam dinding yang berdetak terlalu keras.

Ia hampir merasa aman.

Hampir.

Suatu sore, saat ia menyusun buku di rak bawah, seseorang berdiri terlalu lama di lorong yang sama. Carmela bisa merasakannya—keheningan yang tidak wajar.

Ia bangkit pelan, menoleh.

Seorang pria muda, jaket hitam, rambut rapi. Wajahnya netral. Terlalu netral.

“Maaf,” katanya. “Apakah kau tahu di mana bagian sejarah lokal?”

“Rak ketiga,” jawab Carmela singkat.

Pria itu tersenyum tipis. “Terima kasih.”

Ia pergi. Tapi sesuatu tertinggal—perasaan seperti disentuh tanpa disentuh.

Malam itu, Carmela mengunci pintu kamarnya dua kali.

Matteo menerima kabar pertama dari jalur tidak langsung.

Sebuah foto.

Bukan foto Carmela—tapi toko buku. Sudut jalan. Jam yang tergantung di dinding.

Pesan singkat menyertainya:

Kota kecil. Pilihan cerdas. Tapi tidak cukup.

Matteo menghancurkan gelas di tangannya.

“Dia sudah dekat,” kata Ricardo pelan.

Matteo berdiri. “Siapkan mobil.”

“Matteo—”

“Aku tidak akan menunggu sampai dia menjadi pesan berikutnya.”

Carmela mulai menyadari pola.

Orang yang sama di kafe. Mobil abu-abu yang parkir terlalu sering di seberang hotel. Tatapan singkat yang cepat dialihkan.

Ia tidak panik.

Ia mengamati.

Dan dalam keheningan itu, ia mengerti satu hal dengan jelas:

Ia tidak sendirian—dan ini bukan kebetulan.

Malam itu, ia menulis pesan. Bukan untuk Matteo.

Untuk dirinya sendiri.

Jika aku harus lari lagi, aku akan tahu caranya.

Jika aku harus bertahan, aku tidak akan menunggu diselamatkan.

Ia menyimpan kertas itu di tasnya.

Pertemuan terjadi tanpa rencana.

Di toko buku, menjelang tutup, pria berjaket hitam kembali. Kali ini tidak berpura-pura mencari buku.

“Kau pergi terlalu jauh untuk seseorang yang ingin sendirian,” katanya pelan.

Carmela menegang, tapi tidak mundur. “Aku tidak mengenalmu.”

“Tidak perlu,” jawabnya. “Aku hanya utusan.”

“Lorenzo?” tanya Carmela.

Pria itu tersenyum. “Dia ingin memastikan kau baik-baik saja.”

“Bilang padanya,” kata Carmela, suaranya tenang meski jantungnya berdebar, “aku tidak miliknya. Juga bukan Matteo.”

“Semua orang adalah milik seseorang,” balas pria itu. “Tinggal soal kapan.”

Ia pergi, meninggalkan lonceng pintu berdenting pelan.

Carmela tahu: waktunya hampir habis.

Matteo memasuki kota itu tengah malam.

Ia tidak langsung mencari Carmela. Ia mencari bayangan lebih dulu. Mobil abu-abu. Pria berjaket hitam. Jejak kecil yang ditinggalkan orang yang terlalu percaya diri.

Teleponnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

“Aku melihatnya,” suara di seberang berkata. “Dia kuat. Lebih dari yang kau kira.”

“Di mana dia?” tanya Matteo dingin.

“Terlalu dekat dengan bahaya,” jawab suara itu. “Dan terlalu jauh darimu.”

Telepon terputus.

Matteo mengepalkan tangan.

Di kamar hotel, Carmela duduk di lantai, tas di sampingnya, sepatu sudah terpakai. Ia tidak tahu Matteo sudah di kota. Ia hanya tahu satu hal:

Ia tidak akan menunggu pintu didobrak.

Ketukan terdengar.

Satu.

Dua.

Carmela berdiri perlahan, mendekat, napas tertahan.

“Carmela,” suara itu berkata dari balik pintu.

Ia membeku.

Bukan suara asing.

Bukan suara utusan.

Suara yang ia kenal lebih dari siapa pun.

“Matteo?”

“Buka pintunya,” katanya pelan. “Sebelum mereka sadar aku sudah di sini.”

Air mata menggenang—bukan karena lemah, tapi karena akhirnya.

Carmela membuka pintu.

Dan untuk sepersekian detik, dunia berhenti bergerak.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!