Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Dunia Mengecil
Carmela berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Setiap langkah terasa seperti merobek sesuatu di dalam dadanya. Hutan masih basah oleh hujan semalam, tanah lengket di sepatu, udara dingin menggigit kulit. Ia menggenggam kunci dan secarik kertas di saku jaketnya—rencana Matteo—seolah benda-benda kecil itu bisa menggantikan kehadiran laki-laki yang baru saja ia tinggalkan.
Jangan improvisasi.
Kalimat itu berulang di kepalanya.
Ia keluar ke jalan raya kecil tepat saat langit memucat. Tidak ada mobil. Tidak ada orang. Dunia seperti mengecil menjadi lorong panjang yang memaksanya terus maju. Carmela menahan napas, mengangkat tangan saat sebuah truk tua akhirnya melintas.
Supirnya lelaki setengah baya, wajahnya lelah. “Ke kota?” tanyanya singkat.
Carmela mengangguk. “Ya.”
Ia naik tanpa banyak bicara. Mesin truk bergetar, menelan jarak. Di kaca spion, Carmela melihat pantulan dirinya sendiri—wajah pucat, mata merah, bibir pecah-pecah. Ia tampak seperti orang lain. Atau mungkin… dirinya yang sebenarnya.
Di sisi lain kota, Matteo berlari.
Ia tahu mereka akan datang. Tidak sekarang—sebentar lagi. Orang-orang yang terbiasa menarik benang dari balik layar tidak suka dipermalukan. Mereka tidak akan menyerang dengan gaduh. Mereka akan menunggu sampai ia lengah.
Matteo masuk ke gedung parkir tua, menaiki tangga darurat dua anak tangga sekaligus. Ponselnya bergetar—satu pesan masuk.
Rafa:
Kamu membuat banyak orang tidak bisa tidur.
Matteo mengetik singkat.
Matteo:
Itu tujuan kebohongan: membuat orang lupa tidur nyenyak.
Ia mematikan ponsel, melepaskan baterai, lalu membuangnya ke tong sampah lantai tiga. Ia berganti jaket, mengenakan topi, mengubah cara berjalan. Bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang mengajarkannya satu hal: bertahan adalah seni menyamarkan diri.
Keluar dari gedung parkir, Matteo menyusuri gang sempit. Ia berhenti di sebuah kios kopi kecil yang baru buka. Memesan secangkir hitam tanpa gula. Menyesapnya pelan, mengamati.
Dua pria berdiri terlalu lama di seberang jalan. Terlalu rapi untuk pagi yang basah. Matteo tahu tanda-tandanya.
Ia meninggalkan cangkir setengah penuh dan berbelok ke lorong lain.
Carmela turun di terminal kecil menjelang siang. Ia mengikuti instruksi di kertas: ganti ponsel, bayar tunai, jangan lama di satu tempat. Ia membeli ponsel murah, kartu prabayar, dan jaket lain. Rambutnya ia ikat berbeda. Kacamata hitam menutupi separuh wajah.
Ia bukan pengecut, katanya pada diri sendiri. Ia hanya… bertahan.
Di kafe sepi dekat terminal, Carmela membuka berita. Judul-judul mulai bermunculan—dokumen bocor, jaringan elite, penyelidikan internal. Komentar publik terbelah: ada yang marah, ada yang meremehkan, ada yang menyangkal mentah-mentah.
Carmela menutup layar. Di balik hiruk-pikuk itu, ia tahu harga yang akan dibayar tidak kecil.
Ponsel barunya bergetar. Nomor tak dikenal.
Ia hampir tidak mengangkatnya. Tapi sesuatu—insting, mungkin—membuatnya menjawab.
“Halo?”
Suara di seberang perempuan. Tenang. Terlalu tenang. “Carmela. Kamu aman?”
Carmela menegang. “Siapa ini?”
“Nama tidak penting,” jawabnya. “Aku tahu kamu bersama Matteo semalam.”
Jantung Carmela berdentum. “Kalau kamu tahu itu, kamu juga tahu aku tidak akan menjawab.”
Tawa kecil. “Justru karena itu aku menelepon. Aku di pihak yang sama.”
“Tidak ada pihak yang sama,” kata Carmela. “Hanya kepentingan.”
“Pintar,” sahutnya. “Dengar. Ada kebocoran lanjutan yang akan terjadi. Seseorang mencoba mengubah narasi dan menjadikan Matteo kambing hitam tunggal.”
Carmela menelan ludah. “Apa maumu?”
“Bertemu,” jawabnya. “Satu jam. Tempat umum.”
Carmela terdiam lama. Wajah Matteo terlintas—cara ia menatap saat fajar. Jangan improvisasi.
“Aku tidak bisa,” kata Carmela akhirnya.
“Kalau begitu,” suara itu mengeras tipis, “Matteo akan sendirian.”
Telepon terputus.
Carmela memejamkan mata. Dunia mengecil lagi.
Matteo bersembunyi di apartemen sewaan lantai enam. Jendela ditutup, tirai dirapatkan. Ia membersihkan luka kecil di lengan—goresan lama yang terbuka lagi saat melompati pagar. Pikirannya tidak berhenti bekerja.
Mereka akan mencoba memisahkan cerita dari orangnya. Membuat publik percaya satu nama bersalah, sementara jaringan tetap utuh. Itu selalu caranya.
Ketukan halus terdengar di pintu.
Matteo membeku.
Satu ketukan lagi—ritmenya dikenal.
Ia membuka sedikit.
Lorenzo berdiri di sana.
“Masuk,” kata Matteo singkat.
Lorenzo menutup pintu, menghela napas panjang. “Kota ini panas.”
“Selalu,” jawab Matteo.
“Kamu benar,” lanjut Lorenzo. “Mereka bergerak cepat.”
Matteo menatapnya tajam. “Dan kamu datang untuk apa?”
“Untuk mengingatkan,” kata Lorenzo. “Ada nama yang mulai disebut-sebut. Bukan kamu.”
Matteo mengerut. “Siapa?”
Lorenzo ragu sepersekian detik. “Carmela.”
Kata itu jatuh seperti kaca.
“Itu tidak mungkin,” kata Matteo dingin.
“Justru itu,” jawab Lorenzo. “Mereka akan bilang dia penghubung. Wajah bersih. Simpati publik.”
Matteo meremas handuk di tangannya. “Aku tidak akan membiarkan—”
“Kamu tidak di posisi menentukan,” potong Lorenzo. “Dengar. Ada satu cara mengalihkan.”
Matteo menatapnya. “Katakan.”
“Serahkan satu berkas tambahan,” kata Lorenzo. “Yang cukup besar untuk membuat mereka saling menyerang.”
Matteo terdiam. “Itu berarti ada korban lain.”
“Sudah ada,” sahut Lorenzo pelan.
Keheningan membentang.
“Aku butuh waktu,” kata Matteo akhirnya.
“Kamu tidak punya,” jawab Lorenzo. “Malam ini.”
Carmela duduk di bangku taman yang ramai. Anak-anak berlari, penjual balon tertawa. Kontras itu membuat kepalanya pening. Ia memandangi kertas rencana Matteo. Titik temu aman. Waktu. Kode.
Telepon bergetar lagi—nomor yang sama.
“Baik,” kata Carmela sebelum suara itu bicara. “Satu jam. Tempat umum.”
Lokasi dikirim: galeri kecil dekat sungai.
Carmela berjalan menyusuri tepi air. Ia masuk ke galeri—ruangan putih dengan foto-foto hitam-putih. Seorang perempuan berdiri di tengah, rambut pendek, pakaian sederhana.
“Kamu Carmela,” katanya tanpa bertanya.
“Dan kamu?”
“Panggil aku Mira,” jawabnya. “Aku bekerja di balik layar. Kadang untuk media. Kadang untuk orang-orang yang bosan dibohongi.”
“Apa yang kamu tahu tentang Matteo?” tanya Carmela.
“Cukup,” kata Mira. “Dan aku tahu mereka ingin memecah kalian.”
“Lalu?”
“Ada berkas tambahan,” kata Mira. “Kalau itu keluar, fokus berpindah. Matteo aman. Kamu aman.”
“Dari mana asalnya?”
Mira menatap foto di dinding. “Dari seseorang yang kamu percayai.”
Carmela merasakan dingin menjalar. “Lorenzo.”
Mira tidak menyangkal.
“Ini perang kotor,” kata Carmela. “Aku tidak mau menjadi bagian dari kebohongan lain.”
Mira menoleh. “Kadang kebenaran perlu pelindung. Pilihannya sederhana: satu kebohongan untuk menghentikan seribu kebohongan… atau idealisme yang mengorbankan orang yang kamu cintai.”
Carmela menutup mata. Detik berlalu.
“Aku tidak bisa memutuskan sendirian,” katanya.
“Kamu sudah sendirian,” jawab Mira lembut.
Matteo berdiri di atap gedung saat senja. Kota berkilau dingin. Ia mengeluarkan flash drive cadangan—yang tidak pernah ia ceritakan pada Carmela. Asuransi terakhir. Ia tahu risikonya.
Ponsel sekali pakainya menyala—pesan dari nomor asing.
Mira:
Dia ragu.
Matteo menutup mata. Tentu saja.
Ia membalas singkat.
Matteo:
Jangan tekan dia.
Mira:
Waktu kita sempit.
Matteo menatap matahari yang tenggelam. “Aku akan menanggungnya,” gumamnya.
Ia mengirim satu paket berkas—dipilih dengan hati-hati. Cukup untuk memicu konflik internal. Tidak cukup untuk menenggelamkan yang tak bersalah.
Begitu terkirim, sirene terdengar di kejauhan.
Matteo tersenyum pahit. “Datanglah.”
Carmela berdiri di tepi sungai, memandang arus yang tak peduli. Teleponnya bergetar—berita baru. Judul besar. Nama-nama besar saling menyangkal. Fokus berpindah.
Ia menghela napas lega bercampur takut. Apakah ini menyelamatkan… atau hanya menunda?
Pesan masuk dari nomor tak dikenal—kode Matteo. Satu kata.
HIDUP.
Air mata Carmela jatuh. Ia membalas dengan dua kata.
AKU TUNGGU.
Di kejauhan, lampu kota menyala satu per satu. Dunia masih kejam. Tapi malam ini, mereka masih bernapas.
Dan itu—untuk sekarang—cukup.