Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Bertemu sebagai musuh berakhir di pelaminan.
Kisah perjodohan untuk mempererat hubungan kedua keluarga.
Janganlah terlalu mencintai, siapa tau menjadi musuh.
Jangan terlalu membenci, mana tau jadi cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Adit meletakkan ponselnya dan melanjutkan kerjanya.
Setelah sekian lama berkutat di depan laptop. Kemudian Adit melirik jam di lengannya.
"Sudah waktunya pulang" ucap Adit mematikan laptopnya. Ia beranjak pergi dan melihat Shofi masih tertidur di sofa. Adit hanya menyunggingkan bibirnya dan beranjak pergi meninggalkan ruangnya.
-----
Tari yang sudah dari tadi siap hendak pulang namun tertunda karena ia harus menunggu Shofi.
"Ini anak kemana sih? Kenapa jam segini masih belum turun" ucap Tari kesal sembari melirik jam di tangannya.
"Eh! Kenapa gue gak kepikiran dari tadi. Mending gue telpon aja" ucap Tari tersenyum lalu mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Shofi.
*Di ruang Adit.
Drrrttt...
Shofi masih tertidur, namun suara ponselnya membangunkannya. Ia membuka matanya perlahan-lahan dan mengangkat telpon dari Tari.
"Hmm" suara Shofi masih serak. Maklum saja, ia baru saja bangun tidur.
"Lo dimana? Gue hampir berjamur disini karena nungguin lo yang begitu lemot" cerocos Tari kesal.
Shofi mengucek matanya kemudian ia melirik jam di tangannya.
"Hah? Udah jam 5 lewat? Kenapa gak ada yang bangunin gue" pekik Shofi kaget dan langsung mematikan laptopnya.
"Haa.. Lo keasikan tidur-tiduran disana sedangkan lo biarkan gue nunggu lo disini sampai berjamur. Hmm hebat banget lo, sekarang lo cepat turun" cerocos Tari kesal.
"Maaf! Jangan marah-marah! Gue turun sekarang" Shofi langsung membereskan mejanya dan mengambil tasnya kemudian keluar dari ruang Adit. Disana ada beberapa karyawan Adit yang cengengesan melihat wajah Shofi. Entah kenapa yang jelas Shofi tidak menyadari wajahnya telah dibuat aneh oleh Adit.
"Kenapa mereka cengengesan gak jelas? Ah biarin aja deh, mending gue langsung temui Tari. Bisa ngamuk-ngamuk dia kalau gue kelamaan" bathin Shofi mempercepat langkahnya menuju lift.
-----
Pintu lift terbuka, Tari mengernyit keningnya melihat Shofi yang begitu sibuk dengan tasnya.
"Lo cariin apa?" tanya Tari berjalan masuk dan berdiri di samping Shofi.
"Gue cariin flashdisk gue, tapi gak ada" ucap Shofi terus mencarinya ke seluruh slot tasnya.
"Mau gue bantuin?" ujar Tari kasihan melihat Shofi yang dari tadi sibuk merogoh tasnya.
"Gak usah, ni udah ketemu" ucap Shofi mengambil flashdisk nya dan menunjukkan pada Tari.
"Hahaha..." Tari tertawa terbahak-bahak melihat wajah Shofi begitu cemong.
"Lo kenapa ketawain gue?" tanya Shofi bingung.
"Noh! Lo lihat wajah lo!" Tari memutar wajah Shofi ke arah dinding lift.
"Haaaaa... Muka gue!" teriak histeris Shofi langsung menghapus kasar coretan di wajahnya.
"Hahaha.. Seluruh lift bisa lo gunain buat ngaca tapi lo bisa bisa telele gini" ucap Tari meledeki Shofi.
"Diam lo!" Shofi mengambil tisu basah di dalam tasnya dan menghapus coretan di wajahnya sampai bersih.
Semenjak pintu lift terbuka Shofi sibuk mencari flashdisk di dalam tasnya sehingga ia tidak menyadari wajahnya telah cemong karena hasil karya Adit.
"Siapa sih yang jahil gini sama lo" tanya Tari bingung.
"Si rubah" ucap Shofi kesal.
"Rubah?" tanya Tari bingung.
"Hmm.. Adit" ucap Shofi melas.
"Hahaha.. Kreatif juga Pak Adit bisa ngelukis wajah lo mirip kucing" ucap Tari cengengesan.
"Terima kasih." ucap Shofi cemberut.
"Hahaha... jangan cemberut gini dong, Fi! Senyum-senyum" ucap Tari menarik kedua pipi Shofi agar terlihat tersenyum.
"Udah cukup! Gue lagi bad mood" ucap Shofi menepis tangan Tari.
"Jangan cemberut gitu dong" ucap Tari membujuk Shofi.
Shofi tidak menghiraukan Tari dan langsung berjalan saat pintu lift terbuka.
"Shofi tungguin gue" ucap Tari mengejar Shofi.
"Gue bener-bener kesal kesal kesal sama si rubah licik itu, Tar" pekik Shofi kesal sambil mempercepat langkahnya.
"Halah ngapain juga lo kesal sama dia, toh dia bakal jadi suami lo juga" ucap Tari tersenyum sambil terus mengejar Shofi.
"Pokoknya gue harus balas dia" ucap Shofi menggepal tangannya.
"Ok..ok.. Lo boleh balas dia tapi jangan lampiasin ke gue dong! Gue udah capek ngejar lo" ucap Tari berhenti karena ngosngosan.
"Baru jalan sebentar aja capek, seharusnya gue yang capek" ucap Shofi berhenti dan menatap Tari.
"Lo capek apanya? Dari tadi toh gue yang ngejar-ngejar lo" ketus Tari kesal.
"Gue capek hati, Tar. Gua gak bakal tenang kalau belum bisa balas tu anak" pekik Shofi kesal.
"Terserah lo lah" ucap Tari kembali berjalan.
-----
*Di kediaman Adit.
Setelah mandi dan memakai baju santai, Adit mengambil ponsel di nakasnya untuk mengecek email masuk.
Setelah membaca beberapa email yang masuk, jari jemari Adit membuka galeri ponselnya dan melihat beberapa foto Shofi dengan wajah seperti kucing karena ulahnya.
Adit dengan isengnya langsung mengirimkan foto itu ke Shofi.
"Hahaha rasain lo" Adit tertawa puas dengan apa yang dilakukannya terhadap Shofi.
-----
*Di kediaman Shofi.
Shofi yang baru sampai di rumahnya langsung menuju ke kamarnya. Ia letakkan tasnya secara sembarangan dan segera ke kamar mandi.
"Gue butuh mandi ni, hadeehhh... Gerah banget gue" ucap Shofi sembari berjalan ke kamar mandi. Setelah mandi Shofi keluar dengan memakai handuk kimono dan lilitan handuk di kepalanya. Ia merasa tubuhnya sangat nyaman ketika sudah mandi.
Drrrttt..drrrttt.. Suara pesan pada ponsel Shofi.
"Siapa sih?" ucap Shofi sembari mengambil ponsel di dalam tasnya.
"Rubah? Ngapain dia ngirim pesan ke gue?" ucap Shofi bingung dengan jarinya berusaha membuka pesan yang di kirim Adit.
"Rubah....!" pekik Shofi melihat foto dirinya yang sedang tertidur dengan wajahnya bekas coretan Adit.
"Gak bisa gini, gue harus telpon ni anak, dia harus hapus foto gue" ucap Shofi menggertakkan giginya, ia menjadi sangat panas, padahal baru saja mandi, tapi hanya karena gambar itu membuatnya benar-benar panas dan kesal. Ingin rasa ia mencakar-cakar wajah Adit. Shofi langsung menghubungi Adit.
*Kediaman Adit.
Adit merebahkan tubuhnya ia masih betah tertawa bahagia menikmati pemandangan yang sangat ingat dipandangnya.
"Nah, dia telpon juga" ucap Adit cengengesan melihat Shofi menghubunginya.
"Halo kucing" ledek Adit.
"Woi.. Lo hapus gak foto gue" pekik Shofi kesal berapi-api.
*Duh, kayaknya jari gue kelu deh" ucap Adit santai.
"Jangan banyak alasan, lo hapus gak, atau" ucapan Shofi terpotong karena iya harus memikirkan cara yang ampuh untuk mengancam Adit.
"Atau apa?" tanya Adit mengernyit keningnya.
"Atau lo bakal menyesal" ucap Shofi spontan. Ia masih belum memikirkan bagaimana cara untuk membalas Adit.
"Hmm.. Oh Iya? Tapi kalo di pikir-pikir coretan gue bagus juga di wajah lo" ucap Adit tersenyum bahagia.
"Rubah...! Awas aja pembalasan gue" pekik Shofi kesal dan langsung mematikannya dan melempar ponselnya ke kasur.
"Uuhhh... Rubah licik, jelek, awas lo ya. Uhh.. Geram banget gue lihat lo" pekik Shofi kesal sambil menggepalkan kedua tangannya.
"Shofi! Cepat putarkan otak lo! Lo harus bisa balas perbuatan Adit" gerutu Shofi mondar-mandir memikirkan cara yang ampuh untuk membalas perbuatan Adit.
Setelah berpikir keras cara untuk membalas Adit kini bibir Shofi tersenyum licik, ini menandakan bahwa ia telah menemukan cara yang terbaik untuk membalasnya.
Sedangkan Adit tertawa bahagia karena berhasil membuat Shofi marah-marah.
"Hahaha gue puas.. puas banget udah bikin lo ilfeel. Dan apa? Lo mau bikin gue nyesel? Oh no! yang ada lo yang gue bikin kesel" bathin Adit tersenyum bahagia. Ia sangat puas karena rencananya sukses.