NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30 - Warisan yang Harus Disembunyikan

-~-Warisan yang Harus Disembunyikan

Asean tidak langsung bicara.

Ia duduk di kursi kayu tua di ruang arsip itu, seolah ruangan tersebut bukan milik seorang marquis, melainkan bengkel kecil tempat ia dulu mengajari Moren memegang pedang untuk pertama kali.

Arthur berdiri, cincin Moren masih di genggamannya.

“Jika aku kehilangan nama Moren,” kata Arthur akhirnya, “lalu apa yang tersisa dariku?”

Asean tersenyum tipis senyum orang yang sudah lama berhenti berharap dunia bersikap adil.

“Yang tersisa,” katanya pelan, “adalah pilihan.”

Ia menunjuk cincin itu.

“Keluarga Moren dulu tidak selalu dikenal sebagai marquis. Ada masa ketika nama itu tidak tercatat di daftar bangsawan mana pun.”

Arthur mengangkat pandangan.

“Moren tidak jatuh,” lanjut Asean. “Ia dipindahkan.”

Toxen, yang sejak tadi diam di pintu, akhirnya bicara. “Dipindahkan… ke mana?”

“Ke titik buta sistem,” jawab Asean. “Tempat di mana seseorang bisa memberi tanpa harus memerintah.”

Arthur terdiam.

Ia mulai memahami perlahan, tidak nyaman bahwa kehancuran keluarganya bukan akibat kegagalan, melainkan konsekuensi logis dari kebaikan yang tidak mau tunduk pada struktur kekuasaan.

Keesokan harinya, pasukan Kekaisaran mengumumkan “penataan ulang administratif”.

Bahasanya rapi. Terlalu rapi.

Beberapa bangsawan kecil di sekitar Florence mulai menjauh.

Beberapa pelayan lama dipindahkan.

Dan yang paling menyakitkan beberapa rakyat mulai ragu.

“Kalau Kekaisaran turun tangan,” bisik mereka, “berarti memang ada yang salah.”

Arthur mendengar semua itu.

Ia tidak marah.

Ia mencatat.

Di malam hari, Lucien mendatanginya.

“Aku ingin ikut bersamamu,” katanya tiba-tiba.

Arthur menoleh. “Ke mana?”

Lucien menghela napas. “Ke jalan yang ayahmu pilih. Ke jalan yang membuat orang lain takut.”

Arthur menatapnya lama.

“Kau tahu,” kata Arthur, “jalan itu tidak menjanjikan kemenangan.”

Lucien tersenyum pahit. “Aku tidak mencari kemenangan.”

Sementara itu, di sisi lain Tirpen, Duke New Gate menerima laporan terbaru.

“Florence tidak melawan Kekaisaran,” kata penasihatnya.

New Gate memukul meja. “Itu lebih berbahaya.”

Ia menoleh ke Duke Polein. “Jika Arthur dibiarkan hidup… dia akan menjadi sesuatu yang tidak bisa kita hadapi dengan pasukan.”

Polein tampak gelisah. “Kau berbicara tentang simbol.”

“Tidak,” jawab New Gate dingin. “Aku bicara tentang contoh.”

Ia mengeluarkan peta. Menunjuk satu wilayah kecil, tidak strategis, hampir terlupakan.

“Di sinilah Moren dulu memulai bantuan pertamanya,” katanya. “Dan di sinilah kita akan mulai membakar harapan.”

Di Florence, Arthur berdiri di depan cermin sederhana.

Untuk pertama kalinya sejak kecil, ia melepas lambang resmi keluarga Moren dari bajunya.

Toxen menatapnya. “Apakah ini keputusanmu?”

Arthur mengangguk. “Mulai hari ini, aku bukan penerus marquis.”

Ia mengikat ulang jubahnya tanpa lambang.

“Aku hanya seseorang yang membawa warisan yang belum selesai.”

Asean menutup mata sejenak, seperti sedang berdoa.

“Kalau begitu,” katanya, “aku akan mengajarimu bukan cara menang perang…

melainkan cara bertahan dari sejarah.”

Di luar benteng, hujan mulai turun.

Bukan deras.

Bukan badai.

Hanya cukup untuk membuat tanah licin.

Cukup untuk membuat langkah berikutnya… sulit ditarik kembali.

Seorang utusan rahasia tiba tengah malam, membawa pesan singkat yang ditulis dengan tinta pudar:

> Wilayah yang pernah dibantu Moren diserang.

Bukan oleh Duke. Bukan oleh Kekaisaran.

Tapi oleh seseorang yang tahu persis bagaimana Moren bekerja.

Arthur menutup pesan itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa:

musuhnya benar-benar mengenal ayahnya.

-~-Musuh yang Belajar dari Kebaikan

Wilayah itu bernama Raviel.

Tidak besar. Tidak kaya.

Hanya tanah subur dengan sungai kecil yang dulu pernah diselamatkan Moren dari pajak berlipat dan perebutan lahan oleh bangsawan tetangga.

Arthur tiba saat matahari baru naik.

Asap tipis masih menggantung di udara. Rumah-rumah kayu hangus setengah. Tidak hancur total cukup rusak untuk membuat orang takut, tapi masih berdiri agar penderitaan bisa dilihat.

“Ini bukan penyerangan,” gumam Toxen. “Ini peringatan.”

Arthur turun dari kudanya. Tanah di bawah sepatu botnya lembap oleh hujan semalam… dan sesuatu yang lebih pekat.

Darah.

Seorang pria tua mengenali Arthur dan berlutut terlalu cepat, terlalu refleks.

“Jangan,” kata Arthur, menahan bahunya. “Aku datang untuk mendengar, bukan disembah.”

Pria itu gemetar. “Mereka datang malam hari… tidak mengambil emas… hanya membakar lumbung kami.”

Arthur menegang.

“Dan mereka berkata,” lanjut pria itu pelan, “ini harga dari menerima kebaikan yang salah.”

Arthur menutup mata sesaat.

Moren pernah berkata:

Orang jahat tidak membenci kebaikan. Mereka membencinya ketika kebaikan itu tidak bisa mereka kendalikan.

Di salah satu rumah yang masih utuh, Arthur menemukan tanda yang membuat dadanya menegang.

Sebuah pola api di dinding dibuat dengan sengaja.

Asean berdiri lama di depannya.

“Ini bukan gaya Duke,” katanya. “Bukan New Gate. Bukan Polein.”

Arthur sudah tahu jawabannya.

“Seseorang dari enam,” katanya lirih. “Atau… murid mereka.”

Toxen menoleh tajam. “Clorfin?”

Arthur menggeleng. “Tidak. Ini terlalu rapi.”

Ia menyentuh bekas arang itu.

“Vastorci,” bisiknya.

Malamnya, Arthur duduk bersama warga Raviel. Tidak memberi janji. Tidak memberi perintah.

Ia hanya mendengarkan.

Dan dari cerita-cerita kecil itu, satu pola muncul jelas:

Musuh-musuhnya tidak menyerang secara frontal.

Mereka menghancurkan jejak Moren satu per satu, agar orang lupa bahwa kebaikan pernah datang tanpa harga.

“Kalau aku melindungi kalian lagi,” kata Arthur akhirnya, “mereka akan kembali.”

Seorang wanita muda mengangkat kepala. “Kalau begitu… jangan lindungi kami.”

Arthur menatapnya.

“Ajari kami,” lanjut wanita itu, suaranya bergetar tapi tegas, “cara bertahan sendiri. Seperti dulu Moren lakukan.”

Arthur terdiam lama.

Di situlah ia mengerti:

ini bukan tentang mempertahankan wilayah ini tentang mewariskan keberanian tanpa ketergantungan.

Jauh di tempat lain, Vastorci menerima laporan.

“Arthur Moren turun langsung ke Raviel.”

Vastorci tersenyum tipis. “Bagus.”

Ia menatap peta.

“Anak itu mulai mengerti,” katanya. “Sekarang kita lihat… apakah dia cukup kejam untuk bertahan.”

Seseorang bertanya ragu, “Apakah kita terlalu jauh?”

Vastorci menoleh. Matanya dingin.

“Moren kalah karena terlalu baik,” katanya.

“Kita akan lihat apakah anaknya cukup kejam untuk tidak mengulanginya.”

Di Fireloren, Isabel berdiri di balkon kamarnya, memandangi langit malam.

Ia memegang surat Arthur pendek, tanpa keluhan.

Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Aku berjalan di jalan Ayah.

Isabel menutup mata.

“Jalan itu… selalu sepi,” bisiknya.

Di belakangnya, Hendry tua, punggungnya semakin bungkuk berkata pelan:

“Tapi tidak pernah kosong, Nyonya.”

Isabel menoleh.

Hendry menunduk hormat, lalu menyerahkan sebuah benda kecil yang selama ini ia simpan.

Sebuah medali tua.

“Sudah waktunya,” kata Hendry. “Arthur harus tahu… bahwa ia tidak berjalan sendirian.”

Di Raviel, seorang anak kecil mendekati Arthur dan menyerahkan sebuah batu kecil.

“Ada orang suruh aku kasih ini,” katanya.

Arthur membukanya.

Di dalamnya, terukir simbol yang hanya ia lihat sekali sebelumnya simbol milik seseorang yang seharusnya sudah mati.

Arthur menatap malam.

“Morvist…” bisiknya.

Dan untuk pertama kalinya, Arthur menyadari:

perang ini bukan lagi tentang siapa yang menyerang…

tapi tentang siapa yang masih hidup di bayang-bayang.

1
MARDONI
Merinding waktu ayah Arthur tiba-tiba berkata, “Sialann!? Bagaimana bisa mereka…” sebelum pintunya tertutup 😭🔥 Dari suasana hangat penuh tawa pas Norvist main sama Arthur, tiba-tiba berubah jadi tegang banget dalam hitungan detik. Arthur yang kecil itu cuma bisa berdiri bingung dengan kegelisahan yang belum ia pahami, dan aku ngerasa kayak ada badai besar yang lagi disiapin buat keluarganya 🥺 Hendry yang berusaha nenangin dengan menyebut Raja Arthur juga bikin hati hangat sekaligus was-was, karena rasanya kalimat itu bukan cuma penghiburan… tapi pertanda kalau perjalanan Arthur bakal jauh lebih besar dari yang dia bayangkan sekarang.
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: keren kak udah langsung nangkep gimana alur kedepannya 🗿🔥
total 1 replies
izmie kim
kehadiran anak seperti pelita yang tidak pernah padam
izmie kim
raja ARTUR
♡✿⁠Almi_Wahy
semangat terus thorr, cerita nya bagus....
cimownim
Tuan Muda Artur😍
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: /Drool//Drool/
total 1 replies
putrijawa
sedari kecil instingnya udh kuat
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: hehehe😄
total 1 replies
Indira Mr
belum tentu mereka jahat Arthur.
Indira Mr
Ayah dan anak..??
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: iya, bayangin tinggal 20 tahun bersama, walaupun gak ada ikatan darah pasti serasa ayah dan anak/Tongue/
total 1 replies
Indira Mr
king Arthur nama yg bagus 👍🥰
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: makasih, memang terinspirasi dari nama raja Arthur
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ 🟢 𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡
sukses selalu untuk semua karyanya kak
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
21 nama yang sangat ...🗿
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!