apa jadinya jika seorang santri pondok pesantren diharuskan bersekolah disekolah umum. annasya semenjak ayahnya meninggal dia harus menikah muda kemudian pindah sekolah ke sekolah umum.
araf abinaya diusianya yg masih 18 tahun dia harus menikah dengan seorang gadis anak dari sahabat ayahnya. akankah cinta berpihak pada mereka? akankah annasya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rulinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Fariz melihat tante leni ibu araf berjalan menyusuri lorong dengan santai, dia pun menghampiri leni yang didampingi suaminya om bayu.
"Tante leni, om bayu" sapa fariz sambil mencium punggung tangan mereka.
"loh fariz kamu kok disini?" tanya leni
"i.. iya tante, saya yang antar nasya sama araf ke sini. tante sendiri udah tau kalau nasya di.. sini?" tanya fariz ragu
Leni tersenyum dan menjawab, "iya tadi tante udah janjian sama nasya ketemuan di rumah sakit mau periksa kandungan nasya"
"berarti tante belum tau kondisi nasya" batin fariz
"ada apa riz?" tanya bayu yang melihat aneh pada fariz
Fariz menoleh pada bayu, "om... tante... nasya masuk ugd" ujar fariz pelan hampir tak ada suara
"apa?" suara mereka serempak terkejut mendengar jawaban fariz
"kami duluan riz" leni dan bayu berlari ke arah ugd. fariz hanya bisa menatap kepergian mereka
***
Leni dan bayu berlari ke arah ugd dengan wajah panik luar biasa. Tak terasa leni mengucurkan airmata, "pi apa yang terjadi sama nasya pi" gumam leni sambil berlari. Bayu tidak menanggapi dia terus berlari sambil menggandeng tangan istrinya.
Saat hampir sampai di ugd dia melihat araf duduk sendiri di bangku sambil meremas kepalanya. Dia tampak kacau dengan wajah babak belur dan baju penuh darah. Leni dan bayu uang melihatnya shock bukan main.
Araf berdiri melihat kedua orang tuanya berdiri didepannya, "apa yang terjadi raf? ya Allah..." suara leni tercekat karena melihat kondisi anaknya. Bayu mengelus pundak istrinya yang sudah terisak.
"maafkan araf mi.... araf ga bisa jaga nasya dengan baik" tangis araf sambil memeluk kaki ibunya. Leni mengangkat bahu araf kemudian bertanya, "ada apa?"
Bayu menuntun istrinya untuk duduk, diikuti araf. Araf menunduk dan menceritakan kejadian yang dialaminya dengan nasya. Leni menatap pada suaminya, "pi cari tau siapa yang berbuat ini pi masukkan mereka ke penjara pi. mami ga terima" isak mami setelah mendengar penjelasan araf
"iya... iya... nanti biar papi yang urus" ujar bayu pada leni yang masih terus menangis.
Fariz datang dengan membawa air minum diserahkannya pada araf. Araf menenggak botol air mineral itu, "masih belum keluar ya raf dokternya?" tanya fariz yang dijawab gelengan oleh araf.
"Lebih baik lu obatin dulu luka lu raf" saran fariz yang melihat wajah araf penuh lebam dan darah kering disudut bibir dan pelipisnya. Araf hanya menggeleng, sedang leni menatap pada araf, "ada mami nak kamu jangan khawatir"
"Araf mau disini sampai dokter keluar mi" ujar araf keras kepala.
Tidak lama kemudian dokter keluar saat melihat leni dan bayu dokter itu menyapa, "nyonya, tuan anda disini..."
Bayu leni dan araf juga fariz berdiri menghampiri dokter itu, "gimana keadaan menantuku danu?" tanya mami yang terlihat sangat khawatir.
"Bayinya sudah ga ada detaknya, pendarahannya hebat hingga janin berada di mulut rahim. Kami... tidak bisa menyelamatkan janinnya" ucap dokter danu penuh penyesalan. Leni langsung menangis histeris, Araf langsung terduduk dengan wajah sedih. Fariz menenangkan araf. Bayu menahan bahu istrinya, "terus keadaan nasya sendiri?" tanya bayu dengan sorot mata penuh tanya.
"Nasya koma karena tuan" ujar dokter danu lagu menjawab pertanyaan bayu.
Leni seketika tambah histeris dan pingsan, sedang araf menangis dalam diam dipelukan fariz, "riz .... ini semua salah gue kenapa harus nasya yang jadi korban" suara araf terdengar parau dipelukan fariz.
Leni dibawa ke ruang rawat disana sudah ada zaki dan hana yang menungguinya. Saat membuka mata dia bertanya, "zaki dimana araf sama papi?"
Zaki menepuk pelan telapak tangan leni, "papi smaa araf lagi ke kantor polisi mi melaporkan kejadian ini" Leni bangkit perlahan hendak duduk dibantu hana.
"terima kasih sayang (menatal pada hana yang diangguki hana) zaki... apa nasya udah sadar?" tanya leni pada putranya.
"belum mi, dia sekarang sedang dirawat di ruang icu" ucap zaki menjelaskan.
Leni menangis, "maafkan aku maryam aku kecolongan menjaga nasya" isak leni.
Hana mendekat, "mi... musibah seperti ini ga ada yang mau semua udah takdir Allah. Aku yakin mami udah menjaga nasya dengan sangat baik"
Leni menatap pada hana, "terima kasih nak, bersyukurnya mami kelak kamu akan jadi menantu mami. Terima kasih" hana tersenyum dan mengangguk.
Tidak berapa lama pintu kamar terbuka terlihat araf dan bayu masuk. Leni melihat ke arah keduanya, "bagaimana pi?" tanya leni
Bayu suduk sisamping istrinya, sedang zaki, hana dan araf duduk di sofa. Araf menghela nafas panjang kemudian dia bangkit hendak pergi. Zaki yang melihat bertanya, "mau kemana lo?"
"kamar nasya bang" jawab araf pergi diiringi tatapan leni dan zaki.
"pi..." panggil leni meminta penjelasan pada suaminya.
"hmmmhh.... namanya vano dia memang sangat mwmbenci araf karena banyak hal" ucap bayu mwmulai cerita, "awalnya dia ingin melecehkan nasya agar araf terpukul tapi nasya ga keluar dari mobil makanya araf habis dipukuli vano dan teman-temannya. Tapj mungkin nasya ga tahan liat araf sudah tergelatak masih dikeroyok dia pun keluar jadilah nasya ditampar hingga terhuyung dan pendarahan. Beruntungnya sebelum nasya keluar dia menghubungi daffa jadinya daffa, fariz dan yang lainnya datang menolong" Bayu bercerita panjang lebar.
"dan... kamu tau siapa vano?" lanjut bayu menatap istrinya yang dijawab gelengan istrinya, "Dia adalah Arvano gunawan. Anak dari Jeffry gunawan ketua tim pengacara perusahaan kita" jawab bayu mami dan zaki terkejut
"Apa papi ga salah?" tanya zaki pada bayu
"Tadi saat papi memanggil jefri untuk menyelesaikan masalah araf dia terkejut mendapati anaknya ada didalam jeruji besi"
"apa dia akan membela anaknya? atau anak kita pi?" tanya mami
"Papi akan memberi kesempatan untuk dia mebela putranya, papi akan pakai jasa pengacara lain. Biar bagaimana pun anaknya juga butuh didampingi pengacara" ujar bayu menjawab ucapan istrinya.
"terus papi mau pakai siapa?" tanya zaki bingung karena yang dia tau jeffry adalah pengacara handal diindonesia yang sudah bekerja sangat lama untuk mereka zaki ragu ada yang bisa mengalahkan jeffry. Karena dia sangat tau bagaimana kompetennya jeffry setiap menyelesaikan kasus. Tidaka ada kasus yang tidak bisa diselesaikannya.
"papi akan memakai jasa pengacara perusahaan nasya" ujar papi
"papi yakin akan menang melawan jeffry?" tanya zaki ragh
"justru papi sangay yakin dengan kualitas mereka yang jauh diatas jeffry" jawab bayu dengan senyum meyakinkan. Zaki, leni dan hana hanya mengangguk.
"kalian belum kenal dengan mahesa dia bukanlah orang yang mau memakai sembarang orang untuk dia percaya" batin bayu sambil memeluk istrinya
mau belikan rumah utk kamu.
tapi kama Erika masih merayu2 Araf.
dasar perempuan nga punya harga diri