Di saat Arumi mengalami kesulitan karena ibunya sakit keras, Rina - sang ibu tiri menawarinya uang dalam jumlah besar. Dengan syarat, Arumi harus bersedia tidur dengan calon suami kakak kembarnya.
Tujuh tahun berlalu, seorang anak lelaki berusia enam tahun hadir. Aqeel Elvano, bocah dengan kecerdasan yang luar biasa di bidang kesehatan.
Bagaimanakah nasib Arumi? Dan siapakah Aqeel Elvano? Hanya bisa kamu temukan jawabannya ketika membaca kisah dasyat ini. Happy reading....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebingungan Fauzan
"Berani kau menyentuhnya, akan ku buat kau menanggung akibatnya!" Ulang David mengancam Fauzan.
Fauzan yang mendengar suara dingin khas David langsung mengkerut seperti krupuk yang terkena air.
"Apa hubungannya denganmu? Kenapa kau marah? Lagi pula sejak kapan, ibu negara dan pak David bisa suka dengan anak nakal seperti ini?" tanya Fauzan dengan gaya tengilnya.
"Tutup mulutmu!" Seru Yolanda dan David bersamaan. Tak terima saat anak kecil kesayangan mereka dikatai tengil.
"Om, sepertinya nyawamu akan tamat. Segeralah meminta maaf, sebelum mamah Lulu jadi janda," bisik Aqeel pada Fauzan.
"Memangnya kenapa?" Ujar Fauzan masih tak mengerti.
"Karena lelaki di depan om itu adalah ayahku."
Fauzan tampak syok dengan bibir terbuka beberapa senti. Walau wajah keduanya hampir mirip, tetapi kapan Alena hamil? Atau jangan... Jangan.
David menyorot Fauzan tajam saat laki-laki itu hanya diam menatap dirinya.
Fauzan melempar senyum kikuknya antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Aqeel. Namun, dilihat dari cara David melindungi anak itu, sepertinya benar, tapi bukankah Alena belum pernah hamil? Argumen itu membuat Fauzan heran. Selain itu pernikahan mereka juga tersembunyi dari publik. Kenapa sekarang David mengklaim anak itu di hadapan umum? Meski tidak banyak orang yang berada di kamar itu, tetapi ada Lulu di sana.
Kerutan di dahi Fauzan semakin kentara. Ia masih tak habis pikir. Seingatnya akhir-akhir ini David pun sudah pisah ranjang. Ditambah mengalami banyak masalah baru-baru ini. Jadi, bagimana mereka membuat anak? dan anaknya sebesar Aqeel. Apa ada teknologi pembuatan anak?
Eh tunggu. Fauzan tampak berpikir sebentar. Ibu dari anak itu adalah Lulu! Bagaimana bisa ayah itu adalah David?
"Kau jangan bercanda. Aku tahu mereka membelamu karena kau sudah menyelamatkan ibu negara," Ketus Fauzan berbisik tepat di telinga Aqeel agar hanya bocah itu yang mendengarnya. Tak mungkin orang tuanya menjodohkannya dengan istri orang bukan?
"Aku serius. Jika kau tak percaya, tanyakan saja padanya, "jawab Aqeel kesal.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya David saat melihat keduanya justru asyik sendiri.
Deritan suara pintu terbuka membuat mereka menoleh serempak. Pintu yang kini terbuka lebar menampilkan sosok Alena yang kini memaksakan bibirnya agar menyunggingkan senyuman. 'Sial kenapa mereka berkumpul di sini,' Batin Alena memutar kepalanya jengah, terlebih dia harus memainkan peranannya yang sok baik dihadapan banyak orang.
"Bunda kembali," ucap Alena segera memasang mimik wajah senormal mungkin saat semua mata tertuju padanya.
"Bunda?" Ulang Fauzan yang masih bingung dengan keadaan. Bukankah tadi anak itu memanggil Lulu mamah? Dan lagi, nada suara itu lembut sekali.
"Tadi saya belum sempat mengenalkan diri. Saya Arumi, ibu dari Aqeel." Tutur Alena mendekati Aqeel, dan mengisyaratkan agar Fauzan menyingkir dari sisi kanan Aqeel.
Fauzan sadar akan isyarat itu, kini ia mendekat ke sisi Lulu.
"Maaf, saya rasa ini sudah malam dan Aqeel butuh istirahat. Bisakah semua pergi?" Alena mencoba untuk tak berlama-lama dengan orang-orang yang dekat dengannya. Ia takut tidak bisa menghadapi situasi ini. Lebih baik mengusir dengan cara halus.
"Bun. Aqeel belum ingin istirahat, Aqeel masih ingin berbicara dengan mamah, ayah David, om Fauzan dan ...."
"Aku nenekmu." Sahut Yolanda dengan bangganya.
"Nenek?"
"Iya, sayang. Aku ini ibu dari ayahmu."
"Benarkah?" Aqeel tidak percaya jika ia memiliki seorang nenek, "Bun. Apa benar itu?" tanya Aqeel pada bundanya untuk memastikan.
"Bunda juga tidak tahu sayang. Semua orang mengakui diri mereka masing-masing. Namun, jika David adalah ayahmu mungkin saja ibu itu benar jika beliau adalah nenekmu." Tutur Alena, lembut. Ini adalah kesempatan untuknya untuk memberikan kesan baik pada David dan Yolanda.
'Alena, aku tidak menyangka kau bisa bersikap lembut seperti ini. Namun, aku meminta maaf. Besok mungkin adalah hari terakhir mu untuk memerankan peran ini.' Batin David menatap Alena.
"Baiklah, benar kata Arumi. Aqeel butuh istirahat." Ujar David, ia pun mendekat ke sisi Aqeel mengusap lembut rambutnya. "Istirahatlah, ayah akan memberikan kejutan untukmu besok."
"Tapi, Yah .... " Kalimat Aqeel terpotong saat merasakan nyeri di paha sampingnya.
"Kenapa sayang?" Tanya David heran.
Aqeel menggeleng pelan saat melihat tatapan tajam dari bundanya.
"Tidak ada ayah," Sahut Aqeel lesu. Ia tak menyangka bundanya kini berani bermain tangan.
Alena tampak puas saat berhasil membungkan Aqeel. Terlebih saat anak itu diam menurut.
David tersenyum lembut. "Ayah pergi dulu ya," Pamit David mengecup singkat dahi Aqeel. Ia masih memiliki urusan yang harus ia selesaikan.
Anak itu langsung memeluk David. Tak ingin David pergi. "Ayah, kenapa ayah tidak menginap di sini untuk menemaniku? " Tanya Aqeel penuh harap. Ia kini merasa tak nyaman berada satu ruangan dengan bundanya.
"Maaf, sayang. Ayah ada urusan," Tutur David merasa tak enak saat merasakan pelukan erat di pinggangnya.
"Tapi ayah janji, sehabis ini ayah akan selalu bersamamu," Ujar David berusaha menghibur Aqeel.
Aqeel mendongakkan kepalanya menatap David. Mencari keseriusan di mata ayahnya. "Ayah janji?" Ulang Aqeel sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
David terkekeh pelan melihat Aqeel yang tampak menggemaskan di matanya. Tidak ada lagi tatapan dingin dari anak itu, yang ada hanyalah sikap manja seperti anak-anak seusianya.
"Janji." David menautkan jari kelingkingnya. Membuat Aqeel tersenyum cerah.
"Ayo kita keluar," ajak David menatap ke sekelilingnya.
Yolanda menganggukan kepalanya. Ia pun membalik badannya dan keluar dari ruangan itu.
Fauzan masih setia di tempatnya. Ia masih tak mengerti dengan situasi yang terjadi.
"Bisakah kau jelaskan padaku apa maksud semua ini?" tanya Fauzan memegang lengan Lulu.
"Ckk apa lagi yang perlu dijelaskan?" Ucap Lulu malas menanggapi Fauzan. Cerita hidupnya yang penuh drama tak akan habis diceritakan dalam sejam. Sedangkan tubuhnya sudah lelah, ia ingin istirahat.
Ia melambaikan tangannya, menyuruh Fauzan pergi.
"Tapi aku butuh penjelasan dari semua ini. Bagaimana anak itu memanggilmu mamah? Apa David suamimu? Dan siapa dia? Arumi? Dia juga mengaku ibu Aqeel," Cecar Fauzan panjang lebar.
Lulu menghentak kakinya kesal. Namun, belum sempat ia menyahuti ucapan Fauzan. David sudah lebih dulu menarik kerah baju belakang Fauzan. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sudah bosan bekerja denganku?" Ucap David sebelum Fauzan sempat protes.
Lulu tertawa pelan. Tampak puas kalau melihat Fauzan yang cemberut sebal ditarik paksa oleh David.
"Malam ini aku tidur di sini, menemani Aqeel," ucap Lulu. Tak mau mendengarkan jawaban dari Alena ia pun segera merebahkan diri disisi Aqeel.
***
Arumi mengutatkan diri di depan cermin besar yang berada dalam toilet rumah sakit. Ia menyakinkan dirinya lagi yang ingin menemui Aqeel. Kabar Aqeel yang sudah sadar, membuat ia tak kuasa untuk tidak menemui sang anak.
Arumi membaca lagi pesan chat yang Lulu kirimkan. Pesan yang berisi bila Alena tengah pergi keluar untuk mencari sarapan sehingga ia memiliki waktu sebentar untuk bisa menjenguk Aqeel.
Arumi menarik napas dalam-dalam. Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Aqeel. Ia tak mau menyia-nyiakakan kesempatannya.
Arumi pelan-pelan memutar knop pintu. Senyumannya mengembang lebar saat melihat Aqeel yang tengah membaca buku kesayangannya.
"Hai sayang," Sapa Arumi perlahan mendekati Aqeel.
Aqeel tampak acuh dengan kedatangan Arumi.
Arumi melirik sekilas pada atas nakas. Dilihatnya sarapan Aqeel yang masih utuh. "Kenapa kau tidak makan?" tanya Arumi langsung mengambil makanan itu.
Aqeel menggeleng pelan. Ia tak berselera makan. Ia tak sabar menunggu David yang akan menjemputnya.
"Anak pintar, makan ya. Biar cepat sembuh, jika kau tak makan dan gak sembuh-sembuh, nanti Bunda tidak bisa memberikan ancaman pada mama Lulu untuk dijadikan perkedel." Bujuk Arumi menangkup pipi Aqeel.
Aqeel sontak mengalihkan pandangannya menatap Arumi, sudah lama ia tak mendengar kata itu.
"Ayo, makan." Ujar Arumi menyodorkan satu suapan.
Aqeel seperti tersihir dengan kelembutan Arumi. Tanpa sadar ia membuka mulutnya.
Tepat saat itu juga, Alena datang dengan raut wajah marah menatap Arumi.