Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.
Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...
Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan
Sepekan berlalu sejak hari dimana rapat penting BEM terlaksana, aku tidak lagi bertemu dengan Elisia, kiranya dia sedang apa?, apakh baik-baik saja?. Namun tak lama kubuang jauh-jauh pemikiran tersebut, kubelokkan sepeda motor Ninja R3 ke supermarket dekat kampus, taulah pasti aku ingin membeli ciri khas para kaum laki-laki yaitu rokok.
Tatkala memasuki supermarket kedua mataku mengerling mencari barang yang ingin kubeli, namun malah berbalik arah menuju area snack, aku tertarik dengan snack chocolate crunchy, saat akan mengambilnya spontan mataku menyipit mencoba memastikan siapa yang berada di hadapanku ini, seorang perempuan dengan surai coklat digelung tengah membelakangiku.
“Kak boleh minta tolong ambilkan snack jagung diatas”. Ucap perempuan itu usai berbalik badan tapi tak melihat siapa yang ia suruh, aku menahan senyumku yang seakan meronta untuk terbit.
“Panjang umur sekali, aku bisa bertemu dengannya disini padahal baru saja tadi kupikirkan”. Batinku sembari mengambil snack jagung yang ia maksud.
“Ini untukmu nona Elisia”. Ucapku tanpa sadar sembari bertekuk lutut, masih kuingat ia spontan mematung dan menoleh ke arahku secara perlahan.
Ka-kamu”. Mulutnya terbuka tak percaya.
“Halo”. Aku menyandarkan tanganku dirak sembari menyugar rambutku kebelakang, berkali-kali aku mengedipkan sebelah mata. “Laki-laki sulit ditebak”. Gumamnya yang terdengar samar-samar olehku. Dia membalikkan badan dan melenggang pergi dari hadapanku, ia juga tidak menerima snack jagung tadi. Sial, aku membuntutinya kemanapun ia melangkah di setiap sudut supermarket.
“Kamu gak ada kerjaan yang mengikutiku”. Geram Elisia, ia menatapku nyalang dengan sepasang mata biru itu.
“Entahlah”. Aku menggidikkan bahu tanpa sedikitpun rasa bersalah.
“Lebih baik kamu urusi pacarmu itu, dasar buaya cap kadal”. Timpalnya dengan nada mencibir.
“Pacar?”. Aku mengikis jarak wajahku dengan wajah Elisia sampai tersisa lima senti meter, kutatap kedua netranya dalam-dalam.
“A-anu, perempuan maba anggota BEM”. Gelagapnya sembari mengalihkan pandangan ke segala arah. “Kamu cemburu”. Tepat, menusuk sekali ucapanku sampai membuat Elisia berbalik seraya menepuk jidatnya berulang kali.
Entah ada perasaan apa yang sulit dijelaskan muncul di diriku, aku mengulum bibirku sebab menahan senyum.
“Yah, this is me”. Aku mengepal tangan dengan penuh semangat seolah aku berhasil mendapatkan sesuatu. Namun apa maksud perasaan ini, maka aku akan membuktikannya sekali lagi sampai aku memutuskannya.
Aku menyusuri supermarket lagi hanya untuk mencari keberadaan Elisia.
***
Lima menit sudah berlalu aku mengendap-endap menatap Elisia yang tengah berbelanja dengan seorang pria, tampan sih. Tapi menurutku masih tampan aku, padahal kukira dia sendirian, aku mengepal kuat tanganku, mataku mulai berkedut, melihat mereka saja aku ingin marah apalagi saat Si Pria itu merangkul pundak Elisia. Ada apa denganku, ini seperti bukan Kaisar Pradipta Bumantara, Si Kuda Hitam yang menawan. Aish, aku hiperbola pada diriku sendiri.
‘EHEM’
Sontak Elisia dan Si Pria tersebut menoleh ke arahku yang tiba-tiba saja muncul dari balik rak supermarket.
“Bodoh, untuk apa kau muncul Kaisar, ceroboh sekali”. Aku merutuki diriku sendiri dalam hati.
“Halo salam kenal”. Ujarku sembari menjabat tangan secara paksa Si Pria diiringi senyum yang sulit diartikan.
“Kak, kau itu sangat tidak jelas”. Cerca Elisia yang tampak sudah sangat kesal, Si Pria menatapku heran.
“Isia dia siapa?”. Mendengar pria itu bertanya dengan menyebut panggilan kecil membuatku kesal.
“Entah, manusia aneh”. Timpal Elisia seadanya. Aku bisa menyimpulkan dengan sangat tepat, kalau ternyata diriku tidak hanya tertarik padanya melainkan telah tumbuh perasaan suka yang sejatinya tak diundang.
Aku menormalkan emosiku usai menyimpulkan perasaanku yang tak karuan ini, kemudian aku mendekat ke Elisia, dia mundur beberapa langkah untuk menjauh dariku. Detik berikutnya pria itu menahan bahuku sambil berkata. “Jangan ganggu dia”. Aku berdecak dan melirik sinis pria yang membuatku kesal alias perasaan cemburu akan kedekatannya, aku menepis tangannya.
“Aku tidak berurusan denganmu”. Dinginku diiringi atmosfer yang mulai tegang, aku mendekat ke telinga Elisia kemudian berbisik. “Wait for me, I'm broken because of you”. Bisikku.
Aku tidak peduli Elisia akan berpikir seperti apa, yang pasti semua yang kuinginkan, dan kukehendaki harus tercapai. Egois, memang, tapi mau bagaimana lagi, This is my style, this is my character.
Usai kejadian yang takkan permah kulupakan, aku melajukan lagi motor Nimja R3, bodohnya aku lupa membeli rokok yang kuinginkan, terlalu terbawa oleh Elisia sampai melupakan tujuan awalku ke supermarket, sudahlah lebih baik aku pulang saja.
Sesampainya di mansion aku secara naluri langsung melangkah menuju camp pelatihan, kedua mataku menyapu pandangan di camp pelatihan. Tujuanku hanya satu yaitu anggota intel mansion Pradipta, tidak ada yang mengetahui identitas mereka kecuali keluarga Pradipta sendiri.
“Oculto”. Panggilku pada salah satu anggota intel yang tengah mengenakan kaos hitam dengan wajah yang ditutup masker disertai kaca mata dan slayer merah.
“Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku” Ucapku to the point, tanpa ada kata basa-basi lainnya.
“Dengan senang hati”.
“Cari tahu tentang dia”. Aku menunjukkan foto Elisia di ponsel saat berada di Jerman.
“Elisia, Maldiv’s International University, fakultas hukum”. Imbuhku terkait biodata Elisia yang ku ketahui. “Oke”. Singkatnya, setelah itu ia langsung pergi. Terkadang aku penasaran dengan isi pikiran para intel, mengapa mereka bisa se-kaku itu?.
“Kaisar”. Suara yang sangat kukenali, siapa lagi kalau bukan Arianne, dia tengah memakai Earmuff, sepertinya ia usai berlatih menembak. Sebenarnya aku sedikit kesal dengan Arianne sebab dia, Elisia enggan berinteraksi denganku.
“Kalau tidak ada perlu, jangan panggil aku”. Kemudian aku melenggang pergi karena pikirku lebih baik menyelesaikan masalah daripada menanggapinya.