NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Apartemen itu terletak di lantai tiga sebuah bangunan lama yang catnya sudah mulai mengelupas, tempat di mana bau lembap dan debu menjadi penghuni tetap. Kenzie membuka kunci sandi pintunya, mendorong pintu yang berat itu dan segera menguncinya kembali dari dalam. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, membiarkan kegelapan ruangan menyelimutinya sejenak. Hanya ada cahaya remang-remang dari lampu jalan yang menembus celah gorden tipis, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji penjara di lantai.

Napasnya yang semula tertahan kini keluar dalam satu embusan panjang yang berat. Keheningan apartemen ini adalah satu-satunya hal yang tidak pernah mengkhianatinya selama berabad-abad. Di sini, ia tidak perlu tersenyum, tidak perlu berpura-pura menjadi remaja kikuk dan tidak perlu menyembunyikan tatapan matanya yang sudah terlalu tua untuk tubuh ini.

Langkah kakinya terseret pelan menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan. Kenzie menyalakan lampu neon yang berkedip beberapa kali sebelum memancarkan cahaya putih pucat yang menyakitkan mata. Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya. Tangannya perlahan terangkat, menyentuh perban kasa yang tadi ia pasang dengan terburu-buru di UKS. Dengan satu tarikan lembut, ia melepaskan plester medis itu.

Kulitnya yang tertutup kasa kini terekspos. Luka itu, yang masih terbuka tetapi sudah tidak ada darah yang mengalir dari sana sudah pasti akan hilang esok. Keningnya akan kembali mulus, porselen tanpa cacat seolah-olah ujung keramik tajam di sekolah tadi hanyalah akan menjadi mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.

Kenzie mengusap area itu dengan ujung jarinya. Dingin dan kenyal. Sel-sel tubuhnya akan menyelesaikan tugas mereka dengan efisiensi yang mengerikan malam ini saat ia tertidur, sebuah simfoni pemulihan yang bekerja dalam sunyi, menghapus jejak trauma fisik hanya dalam hitungan jam.

"Besok aku harus memakai plester." bisiknya pada keheningan. "Aku harus berpura-pura lukanya masih ada, lalu perlahan menggantinya dengan plester yang lebih kecil dan menunggu seminggu sebelum membiarkannya terbuka. Prosedur standar."

Kenzie tertawa kecil, tawa yang terdengar hampa. Ironis sekali, ia menghabiskan keabadiannya hanya untuk merencanakan bagaimana cara berpura-pura terluka, berpura-pura sakit dan berpura-pura menua. Kehidupan adalah sebuah panggung sandiwara di mana ia adalah aktor utamanya, sekaligus satu-satunya penonton yang tahu bahwa naskahnya tidak pernah berakhir.

Kenzie membasuh wajahnya dengan air dingin. Saat air menerpa kulitnya, pikirannya kembali pada sosok Julian.

Ada sesuatu pada pemuda itu yang menolak untuk pergi dari ingatannya. Bukan hanya karena Julian tahu siapa dirinya, tapi karena ada semacam frekuensi yang sama. Getaran yang diberikan Julian tadi Kenzie tidak tahu apa itu, tapi ia dapat merasakannya. Sensasi dingin yang merambat, otoritas yang begitu lampau dan cara Julian menatap darahnya seperti seorang kolektor seni yang menemukan karya yang sudah lama hilang.

"Siapa kau sebenarnya, Julian?" gumamnya.

Kenzie mencoba memeras memorinya. Selama empat ratus tahun ke belakang, ia teringat sesuatu. Di kehidupan awal sebelum Kenzie berkelana, ia pernah ikut Ibunya menghadiri perta dansa di istana Prancis. Wajah-wajah orang yang hadir di sana lewat seperti slide film yang rusak di kepalanya.

Di sana, di sudut ruangan yang remang, ia melihat seorang pria berdiri tegak, tidak bicara pada siapa pun, namun semua orang seolah memberikan jalan padanya. Pria itu memiliki aura yang sama dengan Julian, tenang, berat dan tak tersentuh. Namun saat itu Kenzie terlalu takut untuk mendekat.

Apakah mungkin itu dia? Ataukah itu hanya imajinasinya yang mencoba mencari kawan di tengah kesepian yang tak berujung?

Kenzie melangkah keluar dari kamar mandi dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang keras. Ia menatap langit-langit dan perlahan, wajah ibunya muncul dalam benaknya.

"Ibu..."

Kenzie ingat tangan ibunya yang hangat namun gemetar saat membelai rambutnya di malam terakhir mereka bersama. Ibunya, seorang wanita yang hancur oleh waktu sementara anaknya tetap sama. Ibunya memberikan hadiah keabadian ini melalui sebuah bisikan yang entah kenapa Kenzie tidak bisa ingat apa yang terjadi di hari itu.

"Jangan biarkan mereka mengambil darahmu, Kenzie." suara ibunya seolah bergema di ruangan itu.

"Darahmu mulai sekarang adalah kunci. Jika mereka tahu kau bisa memberikan keabadian tanpa rasa sakit, mereka akan merobek jantungmu hanya untuk setetes darah darinya. Bersembunyilah. Jadilah bayangan. Karena di dunia manusia, hal-hal indah yang tak pernah layu akan selalu berakhir di dalam sangkar."

Kenzie memejamkan mata. Ia bisa merasakan denyut jantungnya sendiri, terasa stabil dan abadi. Ia menyadari bahwa pertemuan dengan Julian di koridor dan insiden di UKS telah mengubah segalanya. Kabut di Arcandale tidak lagi cukup tebal untuk menyembunyikannya.

Kenzie menarik selimutnya erat-erat. Malam ini, ia tidak akan bermimpi tentang masa lalu. Ia akan bermimpi tentang bagaimana cara menghilang kembali. Namun, jauh di lubuk hatinya, Kenzie tahu bahwa pelariannya kali ini tidak akan semudah biasanya. Karena untuk pertama kali dalam empat ratus tahun, ada seseorang yang bisa melihat jiwanya, bukan hanya wajah cantiknya.

Dan orang itu adalah Julian Klein.

...•••...

Julian melangkah masuk ke rumah kecilnya yang terletak di pinggiran kota, tempat di mana waktu seolah merambat lebih lambat daripada di pusat kota yang bising. Aroma kayu tua dan lavender menyambutnya, namun kali ini ada satu aroma yang menempel di indranya, sebuah anomali yang menolak pergi, aroma darah Kenzie.

Julian berjalan menuju ruang kerjanya, sebuah ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh anak-anaknya, bahkan Elena saja jarang masuk ke sana jika tidak mendesak. Di dinding ruangan itu, rak-rak buku menjulang hingga ke langit-langit, berisi catatan-catatan dalam bahasa yang sudah lama telah punah. Julian duduk di kursi kulitnya yang sudah retak, lalu menarik sebuah laci rahasia di bawah meja besarnya.

Di tangannya kini terdapat sebuah kotak kayu cendana. Saat ia membukanya, tumpukan foto dan lukisan kecil dari berbagai zaman tersusun rapi. Julian mengambil sebuah foto yang sudah menguning, sebuah daguerreotype dari pertengahan abad ke-19.

Dalam foto itu, Julian berdiri di depan sebuah kastel di pegunungan Alpen. Julian tampak persis sama dengan sosok yang tadi sore mencetak angka di lapangan basket. Namun, di sampingnya berdiri seorang wanita dengan gaun beludru hitam yang megah dan seorang anak laki-laki kecil, Dereck. Itu adalah foto keluarga dari masa ketika Julian masih mencoba percaya bahwa ia bisa hidup normal dengan identitas yang menetap.

Matanya beralih ke sebuah lukisan sketsa kecil yang terselip di antara foto-foto itu. Sketsa itu di lukis olehnya pada tahun 1624. Menampilkan sebuah pemandangan pasar pernak-pernik di zaman kuno. Di lukisan itu terdapat sebuah objek seorang gadis yang sedang memilih gelang antik dari satu stand di ujung barat pasar. Gadis itu membelakanginya, Julian baru sadar bahwa ia pernah melukis gadis itu dengan sedetail itu, padahal ia tidak merasa mengenalnya.

Julian mengusap permukaan lukisan itu. Entah kenapa, pikirannya kembali teringat pada Kenzie. Selama seribu tahun lebih hidup sebagai Aethern, Julian jarang merasa terkejut. Namun, kedatangan Kenzie adalah teka-teki yang terasa berbahaya. Jika dugaannya benar, bahwa Kenzie adalah manusia yang berhenti menua, tetapi bukan seorang Aethern, maka dia adalah apa yang disebut dalam legenda kuno kaumnya sebagai The Constant. Makhluk yang memiliki sel stasis sempurna tanpa membutuhkan energi Aether.

Julian bangkit dan berjalan menuju jendela, menatap kabut yang menyelimuti hutan pinus di belakang rumahnya. Ia tahu bahwa keberadaan Kenzie di sekolah yang sama dengannya adalah sebuah bencana yang menunggu untuk terjadi. Stefanny pasti sudah mengetahui keberadaan sang The Constant itu. Wanita itu tidak akan diam saja untuk bisa mendapatkan Kenzie. Dan, satu-satunya senjata yang bisa Stefanny pakai adalah Lyana.

Lyana, putri keduanya yang malang adalah Aethern yang cacat. Dia haus akan kehidupan karena sel-selnya bocor. Dan darah Kenzie, Julian bisa merasakannya tadi di UKS. Darah itu tidak hanya mengandung kehidupan, darah itu adalah keabadian yang terasa sangat murni. Jika Lyana mencium aroma itu, dia tidak akan berhenti sampai dia menguras habis setiap tetes dari nadi Kenzie.

"Aku harus menjauhkannya dari jangkauan mereka." bisik Julian pada kegelapan.

Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka sedikit. Elena berdiri di sana, terbatuk kecil sambil memegang kusen pintu. Wajahnya yang keriput tampak pucat di bawah sinar lampu koridor.

"Julian? Kau belum tidur? Aku merasa kau membawa sesuatu yang berat pulang bersamamu hari ini." tanya Elena dengan suara serak.

Julian segera menyimpan foto itu dan menghampiri istrinya. Ia memegang tangan Elena yang gemetar, merasakan detak jantung wanita itu yang semakin lemah. "Hanya masalah sekolah, Elena. Tidurlah, aku akan segera menyusul."

Namun, saat ia menuntun Elena kembali ke kamar, pikiran Julian tetap tertuju pada tetesan darah di UKS tadi. Julian tahu ia telah menghapusnya, tapi ia juga tahu bahwa di dunia ini, rahasia sehebat apa pun akan selalu meninggalkan jejak bagi mereka yang tahu cara mencarinya.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!