Seorang presdir tampan pemilik gedung raksasa yang bernama Samuel, rela membesarkan seorang anak yang imut, lucu dan menggemaskan yang bernama Kenzo itu sendirian, dia memang anak yang nakal dan bandel namun sebenarnya dia anak jenius, puluhan baby sister sudah mengundurkan diri karena tidak sanggup melayani bocah yang sering dipanggil Yoyo itu.
Sehingga suatu hari ada anak magang yang bernama Rinjani, karena kesalahannya dia terpaksa menjadi baby sister demi kelangsungan magangnya di perusahaan itu.
Hingga seiring berjalannya waktu tumbuh benih-benih cinta diantara mereka.
Akankah Kenzo setuju?
Akankah mereka bisa bahagia selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Jiwa menolak, tapi tubuh menerima
...Happy Reading...
Jodoh adalah seseorang yang menemani kita di hari ini, esok dan nanti. Menyegerakan menikah adalah perbuatan baik. Namun semua tidak semudah mengucapkannya, dibutuhkan keikhlasan dan kesabaran bagi mereka yang belum menemukan jodohnya. Kadang kala banyak orang merasa lelah mencari dan menunggu jodoh. Padahal ada banyak hal yang bisa dipersiapkan, yaitu melalui doa dan ikhtiar.
Untuk mendapatkan jodoh yang baik, kita juga harus memantaskan diri menjadi pribadi yang sepadan. Sebab ada istilah, jodoh adalah cerminan diri. Namun semua itu memang tidak mudah, perjuangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi perjuangan Samuel untuk mendapatkan hati Rinjani.
" MOMMY..?"
Sontak semua kepala menoleh kearah suara anak kecil yang mereka sebut sebagai Tuan Muda itu, semua orang mengenal siapa itu Yoyo.
" Ya salaaaamm.."
" Kedua orang itu sungguh tidak pernah mengizinkanku untuk bisa hidup dengan tenang.
" Arrrgghhh!" Ingin sekali Jani melampiaskan semua kekesalannya, tapi dengan apa dan siapa?
" Mommy ayok kita makan."
" Daddy.. opsshh!" Yoyo menutup mulutnya, hampir saja dia keceplosan lagi.
" Hehe... Yoyo sudah lapar ini." Yoyo tersenyum ceria didalam gendongan Nisa.
" Sssttttt..."
" Gimana tuh Jan?"
" Jadi saudaraan nggak sama pak Samuel nih?"
" Hihihi.." Si biang gosip langsung melakukan serangan awal.
" Jadi bini nya lebih yahutt kali jan, milyader dadakan, hehe?"
" Yaa.. jadi bini kan masuk itungan saudaraan juga sob !"
" Saudara apaan?"
" Saudaraan dalam selimut, hahahaha.."
" Fuuuuuhhh..." Jani hanya bisa meniup rambutnya yang menjuntai kedepan, otaknya seakan buntu untuk mencari alasan lain, lebih baik dia segera pergi dari sana dari pada semakin panas kupingnya mendengar umpatan terang-terangan dari rekan satu divisinya.
" Terserah kalian saja, sudah pening kepalaku!" Jani langsung melangkah maju dan mengambil Yoyo dalam gendongan Nisa.
" Mbak Nisa.."
" Kenapa harus bawa Yoyo kesana?" Jani langsung berbisik ditelinga Nisa yang berjalan disampingnya.
" Kan mbak bisa datang sendirian, dan bicara empat mata denganku."
" Mau gimana lagi."
" Pak Samuel yang menyuruhku, aku bisa apa?" Nisa hanya bisa menggedikkan bahunya masa bodoh saja, apapun perintah presdirnya dia hanya bisa menjalankannya saja, tanpa bisa protes apalagi menolaknya.
" Astajim mbak.. mbak.."
" Gosip panas yang tadi pagi saja belum reda, lha ini sudah mbak tambahin lagi."
" RUWET.. RUWET.." Ingin rasanya dia menghantukkan kepalanya ke dinding agar lupa ingatan, agar dia bisa lari dari kenyataan, tapi dia juga ingin wisuda tepat pada waktunya, jadi keinginanya itu akhirnya terbang melayang tertiup angin kencang dalam angan-angan belaka.
" Sabar aja."
" Semua pasti akan indah pada waktunya!"
" Hwaiting!" Nisa langsung melambaikan tangannya saat sudah sampai diruangannya.
" Boro-boro indah mbak."
" Mau bernafas bebas aja susah!" Jani berhenti sejenak untuk memandang Nisa yang terlihat santai itu.
" Apa perlu aku belikan tabung oksigen?"
" Atau.. mau aku suruh pak Samuel ngasih nafas buatan saja?" Nisa malah membuat suasana hati Jani semakin panas saja.
" FIXS.."
" Mbak Nisa ngeselin!"
" Aku doakan jodoh mbak Nisa lebih gilak dari pada pak Sam!" Jani malah jadi menyumpahi orang.
" Kak Jani?"
" Daddy is not Crazy, right?" Yoyo tidak terima jika ayahnya dibilang gila.
" Opshh.."
" Maksud kakak, pacar mbak Nisa yang gila, hehe.."
Padahal bapakmu itu gilanya lebih parah!
" Owh iya, kenapa tadi Yoyo panggil kakak Mommy?
" Terus sekarang kak Jani lagi?" Jani bertanya sambil meneruskan perjalanan ke dalam ruangan Samuel.
" Daddy yang nyuruh, hihi."
" Tapi jangan bilang-bilang ya?"
" Nanti Yoyo kena marah." Yoyo berbicara dengan polosnya, Yoyo sudah nggak bisa lagi berbohong dengan Jani.
" Buuuaaaappaaakmuuuuuu itu memanglah!" Umpat Jani karena terlalu kesal sambil masuk kedalam ruangan Samuel.
" Heh... kalian sudah datang."
" Kenapa lama sekali?"
" Harus naik angkutan umum ya sampai sini." Karena Samuel terbiasa ditunggu bukan menunggu, jadi menunggu sebentar saja sudah seperti sewulan rasanya.
" Astaga.."
" Baru juga beberapa menit, sudah dibilang lama."
" Liat saja nanti, akan aku cari cara untuk sembunyi darimu." Umpat Jani lirih.
" Kamu ngomong apa?"
" Komat kamit kayak dukun saja!"
" Hmm... tidak, ayo kita berangkat."
" Aku juga tiba-tiba mendadak lapar." Jani pura-pura mengusap perutnya.
" Okey Honey.." Samuel tersenyum dan langsung mendahului Jani keluar ruangannya.
" Apa pak?" Jani menajamkan pendengarannya sekali lagi.
" Okey.. Jani."
" Kenapa sih?"
" Memangnya kamu mengharapkan aku ngomong apa?" Selalu saja dia berkata seolah tanpa beban.
" Ah enggak.."
" Kupingku kali, jarang di menipedi." Ucap Jani ngasal.
" Janiii..."
" Tumben datang ke kantor?"
" Ini laporan buat tugas luu."
" Tadi aku datang kerumah, kata simbok kamu kekantor, jadi aku balik lagi kesini deh." Niar terlihat kepanasan, karena diluar cuaca matahari memang cukup terik.
" Hehe... sory Niar."
" Aku lupa kasih tau kamu tadi." Jani menerima laporan itu.
" Cek dulu gih?"
" Ada yang kurang enggak?"
" Owh iya.."
" Pak Sam.. ajak Niar sekalian makan siang ya?"
" Aku harus cek materi tugas kampus juga ini." Jani langsung menoleh kearah Samuel yang sedang memperhatikan mereka.
" Sssstttt... Jani nggak usah!"
" Lagian masih jam berapa udah mau makan siang aja." Niar berbisik ditelinga Jani.
" Hmm... okey, tidak masalah."
" Nih.. gendong Yoyo sampai mobil." Samuel langsung mengoper Yoyo kedalam gendongan Niar.
" Tuh kan.." Niar melotot serta mengeratkan giginya kearah Jani, namun tetap menerima Yoyo dan menggendongnya.
" Hehe.."
" Sory, ada yang harus gw bicarain sama elu." Ucap Jani tanpa suara.
" Ayok sayang.." Samuel dengan santainya merangkul bahu Jani dan menyandarkan kepalanya dikepala Jani sambil berjalan.
" Errrgghhh.. dasar Jani kebangetan, gw suruh ikut buat jadi babysitter."
" Karena mereka mau mesra-mesraan berdua."
" Pahit.. pahit..!" Niar mengepalkan tangannya keudara, ingin sekali rasanya dia meninju kepala dua orang yang berjalan didepannya itu.
" Sabar saja kak!"
" Kata kak Jani, Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar." Yoyo menempelkan kepalanya dibahu Niar.
" Woaaahh..."
" Ini bocah memang limited edition."
" Okey Yoyo sayang, sabarnya kakak seluas samudera dan setinggi gunung Rinjani peak itu.
" Kak Jani..!"
" Kakak dikatain Peak sama kak Niar!" Ucap Yoyo mengadu.
" Hah.. Peak?" Jani menoleh walau tetap sambil jalan.
" Nggak papa, kami memang duo Peak Yo! haha.." Jani sama sekali tidak marah, sudah biasa mereka saling membully.
Sesampainya disebuah restoran mewah, Jani langsung menarik tangan Niar untuk mengikutinya.
" Pak kami ke toilet sebentar ya?" Jani ingin sekali membuat rencana agar bisa menjaga jarak dari Samuel.
" Kamu mau pesan apa?"
" Terserah bapak saja."
" Apa yang bapak suka, saya juga suka, hehe.." Jani asal ngomong saja, yang penting biar cepet dan segera pergi dari sana.
" Good.. memang harus begitu kalau mau jadi calon istri yang baik." Samuel langsung tersenyum dan membuka buku menu.
" Sak karepmu pak." Jani langsung menarik lengan Niar.
" Ada apa sih?"
" Kenapa mesti buru-buru." Niar langsung memukul tangan Jani.
" Karena satu menit buat dia, sudah seperti menunggu satu hari."
" Gini nih... bantuin gw Niar."
" Elu ada planning nggak?"
" Biar gw bisa lolos dari cengkraman pak Samuel."
" Dia tuh udah dapat babysitternya Yoyo tauk!"
" Benarkah?"
" Yeeesssss... kita bebas tugas dong sekarang soal Yoyo."
" Itu dia masalahnya."
" Nggak lihat apa, dia tetep mantengin gw terus."
" Kalau mbak Nisa nggak bilang juga nggak tahu aku, kalau sudah ada babysitternya tu si bocil.
" Dia kayaknya sengaja deh nggak ngasih tahu aku, biar aku tetap tidur disana."
" Gilak ya.."
" Sebegitu cintanya dia sama elu."
" Sampai dia bela-belain gitu?"
" Luar biasa kamu Jan, pake jampi-jampi dari dukun mana luu!" Niar malah seolah kagum melihat Jani yang bisa menakhlukan pria arrogant seperti Samuel itu.
" Jampi-jampi gundulmu itu!" Jani langsung menoyor kepala Niar.
" Gw ngrasa sesak tau Niar."
" Kesana nggak boleh, pergi sebentar aja udah dicariin."
" Rasanya gw pengen pergi jauuuhhh gitu."
" Biar cuma beberapa hari."
" Gw pengen bebas kayak dulu lagi Niar." Jani menekuk wajahnya, seolah Samuel menjadi beban berat dipundaknya.
" Emang elu bener-bener nggak punya perasaan lain gitu sama presdir?" Niar melihat wajah Jani yang terlihat lelah.
" Enggak tahu!"
" Kayaknya sih biasa aja, cuma kadang-kadang kalau dia nglakuin hal yang ekstream ke gw.."
" Yaaah... biasalah ya, kalau cuma ser-seran bentaran doang."
" Itu hal yang wajar, karena kita berhadapan dengan lawan jenis."
" Wuidiih.."
" Emang hal ekstrim apa yang dia lakuin ke elu?"
" Apa ada yang lebih wow dari pada dikekepin?" Niar semakin tertarik dengan cerita Jani, bahkan dia langsung duduk disamping wastafel agar lebih konsentrasi dalam mendengarkan curhatan Jani.
" Dia pernah ci um gw." Ucap Jani ragu.
" Woaaaaahhh.."
" Berapa kali?" Mata Niar langsung melotot.
" Dua kali."
" Warrrbyasaaahhh."
" Gimana sensasinya cuy?"
" Sensasi apaan sih?"
" Orang dia maksa!"
" Ciiihh... jangan bilang dia maksa tapi kamu juga menikmatinya ya!"
" Jangan naif deh luu?"
" Nggak mungkin biasa saja setelah berciu man dengan seorang pria tampan seperti dia.
" Yaa pas kejadian ya.. emang gituh?"
" Tapi setelahnya gw biasa aja sama dia."
" Apa mungkin karena dia terlalu ngeselin ya?"
" Gituh gimana?"
" Yang jelas ngomongnya, kalau perlu yang mendetail."
" Biar gw bisa ngasih solusi yang akurat sob!" Padahal dia cuma penasaran aja, bagaimana sosok lain presdir yang terkenal 'garang' itu.
" Ya gimana ngomongnya?"
" Ya Enak.. eeh... gimana ya.."
" Ya selayaknya kalau orang ciu man aja sih!"
" Kayak elu nggak pernah kissing aja!"
" Bahahahaha.."
" Enak luu bilang, dasar luu.. sok jual mahal, tapi menikmati juga!" Niar gantian menoyor kening Jani.
" Sia lann luu, katanya mau ngasih solusi."
" Malah cuma ngledekin gw aja bisanya!"
" Hmm.. gini deh."
" Kalau perasaannya si bos sih kayaknya sudah nggak diragukan lagi deh sama elu!"
" Dia itu sudah terang-terangan suka sama elu."
" Kayaknya tinggal bagaimana buktiin perasaan luu sama dia."
" Nggak mungkin kalau kamu langsung tidak ada rasa."
" Soalnya aku lihat kamu tidak pernah menolaknya."
" Kissing aja nyampe dua kali, luu doyan apa demen sebenarnya." Niar tersenyum miring mendengarnya.
" Ya tapi kan dia maksa awalnya."
" Aku juga selalu menolaknya, sering aku dorong juga setelahnya.
" Awalnya... namun setelahnya kamu menikmati juga, hahaha."
" Setelah sadar baru kamu mendorongnya."
" Itu artinya jiwa mu seakan berontak, tapi tubuhmu menerimanya."
" Emang hidup luu tuh, nggak pernah singkron Jan, antara satu dan yang lainnya.
" Udah deh... nggak usah ngledek terus."
" Apa solusinya, cepatlah berfikir!"
" Kamu pura-pura ada tugas kampus aja diluar kota."
" Seminggu gitu." Niar akhirnya menemukan ide yang terlintas begitu saja di minda nya.
" Seminggu?"
" Haiyah.. boro-boro seminggu!"
" Baru lima belas menit gw ninggalin dia keruang divisi, udah nyuruh Yoyo manggil gw."
" Ini seminggu.. mustahil cuy!" Jani langsung melengos, menahan kesal saat mengingatnya.
" Yaaah.. berat hidup luu!"
" Yaudah deh, sehari juga nggak masalah, yang penting elu nggak lihat dia deh."
" Biar kamu tahu, kamu merasa kehilangan atau tidak."
" Dan gw bakal kenalin temen cowok gw ke elu."
" Kalau luu bisa lupa sama pak Sam, berarti luh emang nggak ada perasaan sama sekali sama dia."
" Gimana, kebetulan cowok gw pulang hari ini." Niar memang sudah punya, namun dia serasa nggak punya cowok karena dia LDR an dengan cowoknya, setiap tiga bulan sekali baru cowoknya bisa pulang.
" Jadi besok kita doubel date aja gimana?"
" Temen cowok gw banyak, dia kerjanya di kantor pertambangan, jadi rata-rata cowok semua."
" Mantep nggak tuh?" Niar langsung merangkul bahu Jani yang sudah terlihat manggut-manggut itu.
" Karena nggak ada cara lain yaa mau gimana lagi?"
" Ngikut aja gw lah."
" Tapi jangan yang ngeri-ngeri amat ya cowoknya."
" Jangan yang nepsong an."
" Males gw kalau ditempel-tempelin terus!"
" Cukup pak Sam aja yang nempelin gw terus kayak prangko itu!"
" Yaelah..."
" Baru bahas cowok lain, luu udah langsung ingat pak Sam aja."
" Kayak begono luu bilang nggak ada perasaan!"
" Munak luu...!" Niar langsung mendorong bahu Jani perlahan.
" Diiih.."
" Gw cuma kasih saran doang, ntar cowok luu bawain temennya yang bucin."
" Bisa tambah lagi beban hidup gw!"
" Angel.. angel..!"
" Ya udah sih, yang penting ganteng aja cukup!"
" Orang niatnya cuma buat pembuktian perasaan doang kan?"
" Bukan pake hati beneran."
" Nah.. nah.. nah.."
" Tuh kan beneran, lihat siapa yang telpon gw?" Jani menunjukkan panggilan dilayar ponselnya.
" Bos Killer?"
" Siapa?"
" Pak Sam yaa? hahaha..."
" Memang cocok dia dikasih nama bos killer sih."
" Ya udah sono, luu samperin, gw kebelet juga nih!"
" Oke.."
" Lu nyusul ya entar."
" Gw kesana duluan, takut beneran ngamuk dia nanti."
" Bisa diputar giling ini restoran." Jani langsung segera pergi keluar duluan.
Setelah beberapa saat, Niar akhirnya selesai buang hajatnya dan segera keluar dari kamar mandi, saat dia berjalan keluar sambil mengecek ponselnya, ternyata ada notif chat masuk dari kekasihnya.
" Wuiih... pucuk dicinta, chat dari kekasih tiba nih." Niar langsung senyum-senyum sambil membalas chat dari cowoknya tanpa melihat-lihat jalan didepannya.
Braaaaaaakkk!
" Aww... panas." Teriak pria itu langsung mengibaskan bajunya yang terkena tumpahan kopi yang dia bawa.
" Mampus gw." Karena terlalu bahagia dia tidak melihat kanan kiri dan ternyata sikunya menyenggol seseorang yang tengah membawa kopi panas yang sedang melintas.
" Heeeiiiiiii..."
" Kalau jalan lihat-lihat bisa nggak!"
" Mata itu dipakai, bukan hanya untuk melihat gawai luu yang tidak seberapa itu harganya!"
" Lihat nih... baju gw kotor!"
" Mana panas banget lagi." Teriak pria itu sambil terus mengumpat Niar.
" Haish.."
" Dari pada gw buat masalah lagi, mending gw cari aman sajalah."
" Ntar kayak tragedi penjegalan Yoyo lagi."
" Bisa panjang urusannya!" Niar langsung mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang dua ratus ribu.
" Hehe... maaf pak, nggak sengaja kesenggol tadi."
" Ini buat ganti kopi sama baju bapak." Niar menyelipkan uang disaku jas pria itu.
" Bye!" Niar langsung berjalan setengah berlari meninggalkan pria itu yang langsung tercengang melihat punggung Niar yang pergi menjauh darinya.
" APA?"
" Dua ratus ribu?"
" Dasar cewek kutu kupret!"
" Dia fikir jas dokterku ini murahan apa?"
" Berapa ratus juta nyokap bokap gw menghabiskan hartanya sampai aku bisa memakai jas kebanggaanku ini."
" Sia lan.."
" Pengen banget rasanya gw ajak baku hantam dia dikasur!"
" Lah... kok malah jadi dikasur sih!" Dia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba jadi gatal.
" Au ah!" Dia langsung balik kanan menuju toilet pria, sambil mengeluarkan puluhan umpatan untuk Niar.
Dan pria yang memiliki kadar emosi tingkat tinggi itu tidak lain dan tidak bukan adalah Dr. Marvin Abimanyu SpKJ.
Perkara 'JODOH', terkadang kamu sering lupa akan konsepnya. Bahwa, itu diatas kendali Sang Pencipta. Biarkan semesta bekerja sebagaimana mestinya. Tugas kita, hanya menanti dan memantaskan diri untuk lebih baik lagi.
... "Jodoh selalu tahu ke hati mana ia harus melangkah dan berpulang, karena setiap yang mencari pasti menemukan, setiap yang menanti pasti akan ditemukan."...
Dan yang sudah berbagi jempol dan hadiahnya, semoga yang belom dapat Jodoh segera dipertemukan, dan yang sudah punya Jodoh dikekalkan sampai akhir hayat, amin🥰
kaget aku tuh....he he he