Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. Benteng Yang Mulai Runtuh
.
Riko mengira, kekecewaan di malam pertamanya hanyalah pengecualian. Ia berharap, Laras akan kembali seperti biasanya di malam-malam berikutnya. Ia berharap, Laras akan menyambutnya dengan cinta dan kehangatan, bukan dengan penolakan dan alasan.
Namun, harapan itu tak pernah terwujud.
Malam-malam berikutnya, Riko selalu tidur di sofa. Laras selalu menolak ajakannya untuk tidur bersama, selalu memberikan alasan yang sama. Lelah, tidak enak badan, sedang banyak pikiran, atau belum ingin punya anak. Namun demi cinta, Riko selalu mencoba memaklumi.
*
Mentari pagi mulai meninggi, jam menunjukkan pukul sembilan. Riko dengan langkah gontai, memasuki rumah mewah keluarga Darmawan. Semalam suntuk ia tidak tidur karena tugasnya yang sebagai penjaga keamanan. Lalu di pagi hari harus ikut membongkar kala ada muatan datang. Pikirannya hanya satu, segera beristirahat dan merebahkan diri di kasur empuk kamarnya bersama Laras.
Namun, impian itu seolah sirna begitu saja.
Baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama menuju kamarnya bersama Laras di lantai atas, suara nyaring Ratna, ibu mertuanya, memecah keheningan pagi.
"Riko! Tunggu sebentar!"
Riko menghela napas panjang lalu berbalik dan menghampiri Ratna, yang berdiri angkuh di ruang tengah.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Riko sopan pada ibu mertua yang tak ingin dipanggil ibu olehnya.
Ratna menatap Riko dengan tatapan merendahkan. "Kamu bersihkan kolam ikan di belakang rumah," perintah Ratna tanpa basa-basi, seolah Riko adalah seorang pembantu.
Riko menelan ludah. "Kolam ikan? Tapi, Nyonya, saya baru saja pulang kerja dan sangat lelah. Bisakah saya melakukannya nanti saja?" tanyanya dengan suara lirih, berharap ada sedikit pengertian.
"Kamu mau membantah perintah saya? Kolam ikan itu sudah sangat kotor dan berlumut!" bentak Ratna dengan nada yang tidak sabar, tanpa sedikit pun empati. "Kerjakan sekarang atau pergi dari rumah ini!"
Riko hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat di sisi tubuhnya. Ia merasa diperlakukan tidak adil.
Tiba-tiba, Laras muncul dari dalam kamar dan menghampiri mereka. "Ada apa ini, Ma? Mengapa Mama membentak Riko?" tanya Laras dengan nada yang dibuat-buat khawatir, namun tatapannya dingin dan tanpa emosi.
Ratna memutar bola matanya. "Aku hanya menyuruh Riko membersihkan kolam ikan. Memangnya salah? Jangan pernah mencoba membelanya! Atau Mama paksa kalian bercerai!" Mata Ratna melotot tajam.
Laras menoleh ke arah Riko dengan tatapan memohon maaf. "Maaf ya, Sayang," bisiknya, menyentuh lengan Riko dengan lembut. "Aku tak bisa membela kamu. Aku tidak berani melawan Mama. Aku cinta sama kamu, tidak ingin dipaksa bercerai. Kamu jangan marah ya?" Laras menunjukkan wajah bersalah yang begitu piawai sehingga membuat orang iba padanya.
Riko menatap wajah Laras. Ia ingin sekali mengatakan bahwa ia lelah dan ingin istirahat. Namun, ia tidak tega melihat Laras bersedih. Ia selalu luluh dengan tatapan dan kata-kata manisnya.
"Tidak apa-apa, Laras," jawab Riko dengan suara yang dipaksakan tegar. "Aku akan membersihkan kolam ikan itu.”
“Makasih, ya, Sayang.” Laras mengecup sekilas pipi Riko, membuat wajah pria itu merona.
"Aku akan ganti baju lalu membersihkan kolam,” ucap Riko lalu pergi setelah membeli pipi Laras.
Setelah Riko pergi, Laras mengusap bibirnya dengan kasar. Lalu menghempaskan tubuh di samping mamanya.
“Ahh, ada gunanya juga kamu membawa orang miskin itu ke rumah kita, Sayang," ucap Ratna. "Kita jadi menghemat biaya pelayan.
Riko yang sama sekali tak menyadari, satu dari pekerja di rumah itu sudah dipecat setelah kedatangannya.
*
Dan begitulah kehidupan Riko di rumah mewah itu terus berlanjut. Hari demi hari, ia menjalani rutinitas yang sama: bekerja keras di toko elektronik, pulang dengan tubuh remuk redam, lalu melakukan perintah Ratna yang tak ada habisnya. Ia bagaikan pembantu tak bergaji di rumah megah tersebut, mengurus segala keperluan keluarga Darmawan tanpa mendapatkan sedikit pun rasa hormat atau penghargaan.
Laras, yang seharusnya menjadi sandaran dan pelipur lara, justru semakin menjauh. Ia lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah dengan teman-temannya.
Bagas kini semakin sombong dan angkuh dengan jabatan barunya sebagai perwira polisi.
Ratna dan Heri semakin tak segan memerintah Riko. Mereka memperlakukannya seperti pesuruh pribadi, menyuruhnya melakukan berbagai pekerjaan yang tidak pantas, mulai dari mencuci mobil, membersihkan kebun, bahkan membersihkan kamar mandi.
Riko ingin sekali membantah, meluapkan semua kekesalan dan amarah yang selama ini ia pendam. Ia ingin berteriak, bahwa ia juga manusia yang punya harga diri dan pantas diperlakukan dengan baik. Namun, setiap kali ia melihat wajah sendu Laras, hatinya langsung mencair. Ia tidak tega membuat Laras bersedih.
Kejadian paling parah adalah ketika setahun kemudian keluarga Darmawan mengadakan pesta besar untuk merayakan kenaikan jabatan Bagas. Rumah mewah itu dipenuhi oleh para tamu undangan yang berasal dari kalangan atas. Mereka semua mengenakan pakaian mewah dan perhiasan yang berkilauan.
Ratna dan Heri memerintahkan Riko untuk melayani para tamu. Riko dengan hati yang berat, terpaksa menuruti perintah mereka. Ia mengenakan seragam pelayan yang sudah disiapkan dan mulai berkeliling, menawarkan minuman dan makanan kepada para tamu.
Para tamu menatap Riko dengan tatapan merendahkan. Mereka menganggapnya hanya sebagai pelayan biasa, tanpa mengetahui bahwa ia adalah menantu dari keluarga Darmawan.
Beberapa tamu bahkan bersikap kasar dan merendahkannya. Mereka memanggilnya dengan sebutan "Hei, pelayan!" Dan memerintah seenak hati. "Cepat ambilkan minumanku!".
Riko hanya bisa menelan ludah dan tersenyum pahit. Ia merasa sangat terhina dan malu. Ia ingin sekali memberontak, namun tidak bisa. Ia hanya seorang menantu yang tak diperkenalkan di hadapan publik.
Saat sedang melayani seorang tamu wanita yang sombong dan cerewet, tiba-tiba Bagas menghampirinya.
"Riko cepat ambilkan aku segelas wiski!" perintah Bagas dengan nada yang angkuh.
Riko menatap Bagas dengan tatapan yang penuh amarah. Ia ingin sekali mengatakan pada semua orang, bahwa apa yang saat ini disandang Bagas adalah berkat kemurahan hatinya, namun ia kembali teringat dengan wajah Laras.
"Baik, Tuan Muda Bagas," jawab Riko dengan suara yang tertahan.
Ia berbalik dan berjalan menuju bar untuk mengambil wiski pesanan Bagas. Saat sedang menuangkan wiski ke dalam gelas, tiba-tiba air matanya menetes. Ia tidak tahan lagi dengan semua ini. Ia merasa seperti orang yang tidak berharga, diperlakukan seperti budak.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Laras sedang tertawa senang bersama teman-temannya. Sama sekali tak menoleh pada dirinya.
Awalnya, Riko mencoba menelan semua pahitnya kehidupan di rumah mewah itu. Ia berpegang teguh pada satu keyakinan: asalkan Laras tetap berada di sisinya, ia bisa menghadapi semua perlakuan buruk yang ia terima. Tak masalah jika Ratna merendahkannya, tak masalah jika Bagas memperlakukannya seperti pesuruh, tak masalah jika semua mata memandangnya sebelah mata. Asalkan Laras mencintainya dan menghargainya, semua pengorbanan itu akan sepadan.
Namun, semakin lama, keyakinan itu semakin goyah.
Lalu datanglah badai yang menghantam pertahanannya. Sebuah berita di media online, dengan judul yang provokatif: "Laras Ayu Darmawan Kepergok Mesra dengan Aktor Pendatang Baru!".
Foto-foto mesra Laras dengan seorang pria tampan, yang belakangan diketahui sebagai seorang aktor yang sedang naik daun, tersebar luas di internet.
Hati Riko hancur berkeping-keping. Ia merasa dikhianati, dipermainkan, dan dibodohi. Ia harus bicara dengan Laras dan mempertanyakan kebenaran berita itu.
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄