Kim Jane Soo gadis liar yang hendak dijual Paman tirinya berhasil kabur meski dengan luka di tubuhnya.
Ia berlari dan tidak sengaja melihat sebuah mobil milik CEO dari perusahaan TIG Entertaiment yang sangat berpengaruh di Asia, bernama Ji Ahn Yoo.
CEO dingin itu menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya. Karena pertama berjumpa CEO itu jatuh cinta melihat Kim Jane Soo, ia menahan wanita ini dengan segala macam cara agar tetap berada di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maomao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Aku tidak menyangka setelah beberapa menit Ahn Yoo menutup panggilanku, dia datang ke rumah dan mecariku.
"Jane Soo!" teriak Ahn Yoo yang baru saja masuk ke dalam kamarku.
Aku tidak tahu sama sekali kapan dia kembali, aku tidak mendengar suara mesin mobilnya masuk.
"Ahn Yoo? Kapan kamu pulang?" tanyaku dengan mulut ternganga.
"Dasar penipu," umpat Ahn Yoo.
"Pe-Penipu? Kapan aku menipumu?" tanyaku lagi yang tidak tahu kenapa dia menyebutku penipu.
Ahn Yoo sepertinya marah denganku, jelas terlihat dari raut wajahnya. Dia pergi begitu saja dengan membanting pintuku dengan keras.
"Apa dia benar-benar marah?" gumamku kebingungan.
Mungkin aku memang sudah sangat keterlaluan sudah menipunya tadi lewat telepon. Aku jadi merasa bersalah dengan Ahn Yoo. Dia bahkan pulang cepat dari pekerjaan karena aku.
Untuk menebus kesalahanku ini, lebih baik aku meminta maaf saja kepada Ahn Yoo. Kalau dia tidak mau bicara denganku, akan kupaksa sampai mau.
Aku menghampiri Ahn Yoo yang sedang berada di kamarnya. Aku mengetuk pintu dan memanggil namanya.
"Ahn Yoo!"
Tidak ada sahutan dari dia, mungkin masih marah. Aku mencoba sekali lagi.
"Ahn Yoo!"
Bahkan yang kedua kali dia tidak menyahutku, itu artinya dia benar-benar marah padaku.
Aku memberanikan diri untuk langsung masuk saja, resiko dipikirkan setelah berbuat saja.
Setelah aku masuk ke dalam kamarnya, dia tidak ada di dalam, di luar juga tidak ada. Jadi aku menelponnya untuk menanyakan keberadaannya sekarang.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi." Ahn Yoo menolak panggilanku.
Aku terus menerus menelponnya, tapi tidak satu pun yang diangkat.
"Kalau kali ini kamu tidak angkat, aku akan membunuhmu, dasar tukang amuk!" gerutuku dengan suara menggertak.
Aku menelpon Ahn Yoo untuk terakhir kalinya. Dan kali ini dia menerima panggilannya.
"Ahn Yoo," sapaku lewat telepon.
"Apa kau akan membunuhku?" Suara Ahn Yoo terdengar dari telepon dan sangat dekat denganku. Seperti dia sedang berada di ruangan yang sama denganku. Asal suaranya ada di dalam lemari miliknya, pintu menuju ruangan rahasia Ahn Yoo.
Aku langsung membuka lemari itu meski tanganku sedikit bergetar, tapi aku lebih penasaran lagi apa Ahn Yoo ada di sana.
Ketika pintu lemari ini terbuka, memang benar dia ada di sini. Artinya dari tadi dia mengetahui gerak-gerikku selama ada di kamarnya, terutama saat aku menggerutuinya.
"Ahn-Ahn Yoo," sapaku dengan gugup.
"Ada apa?" jawab Ahn Yoo ketus. Dia seperti sedang marah, dan tidak mau berbicara denganku.
"Kamu benar-benar marah denganku?" tanyaku dengan nada seperti anak-anak yang merengek.
"Tidak," jawabnya singkat dengan mata bergulir ke samping.
"Tapi matamu mengatakan iya," sahutku menggodanya.
"Aku sedang malas meladenimu," ujar Ahn Yoo ketus.
"Kalau begitu lebih baik aku pergi saja, aku takut kamu semakin tidak suka denganku," kataku dengan suara seperti sedang kecewa.
Aku berbalik dan pergi meninggalkan Ahn Yoo.
"Minta maaf pun kau tidak berniat," sindir Ahn Yoo kepadaku.
Aku berhenti dan membalikkan badan ke arahnya.
"Minta maaf seribu kali pun kamu pasti tidak memaafkan aku, buktinya kamu tidak angkat panggilanku, semuanya ditolak," tukasku dengan suara memelas.
"Sudahlah, kau memang begitu," kata Ahn Yoo seperti sedang merajuk.
Semakin hari Ahn Yoo seperti anak-anak saja. Tingkahnya berubah drastis, bahkan sekarang dia lebih susah dimengerti dari pada sebelumnya. Dia juga lebih manja dari pada dulu sewaktu pertama berjumpa dengannya.
"Baiklah, aku minta maaf," kataku sambil menghela napas.
"Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kau mengatakan kalau kau mencintaiku," ucap Ahn Yoo dengan serius kali ini, dia seperti sedang tidak bermain-main.
"Ke-Kenapa harus itu? Bukannya masih banyak kaliamat yang lain," kataku untuk mengelak dari syarat gila yang dikatakan Ahn Yoo barusan.
"Kenapa susah sekali mengatakannya. Kalau kau tidak punya perasaan padaku, kau tidak akan mempermasalahkannya."
Masalahnya aku memiliki rasa untukmu, hanya saja setiap rasa itu tumbuh, aku selalu menguburnya dalam-dalam. Aku takut kalau akhirnya aku yang akan kecewa. Aku tidak sanggup kalau mencintai orang yang terlalu sempurna untukku.
"Tidak, tidak sama sekali. Aku berani mengatakannya," kataku yang pura-pura tidak tertantang sama sekali.
Jantungku sudah berdetak kencang saat sedang berduaan dengan Ahn Yoo di sini, dan sekarang dia malah menyuruhku untuk mengatakan kalau aku mencintainya. Rasanya seperti akan mati mendadak karena terkena serangan jantung.
"Aku ... aku ... aku," kataku dengan gugup karena belum bisa bernapas dengan tenang.
"Cepat katakan, kalau tidak mau aku tidak memaafkan mu," paksa Ahn Yoo.
"Tunggu dulu, jangan disesak. Jantungku masih berdegup kencang, aku masih belum bisa bernapas dengan normal," tukasku kepada Ahn Yoo.
"Kenapa harus sesulit itu? Kalau kau memang tidak menyukaiku pasti akan mudah saja, dan jantungmu tidak akan berdegup," kata Ahn Yoo memancingku.
"Iya iya, tapi kenapa harus kalimat itu?" Aku mencoba memperlambat waktu agar tidak perlu mengatakan kalau aku mencintai Ahn Yoo.
"Hanya ingin saja," jawab Ahn Yoo datar.
Maklum saja kalau Ahn Yoo menjawab pertanyaanku dengan singkat dan menyebalkan, dia selalu ingin mempermainkanku dan menguji kesabaranku. Untung saja aku sudah berniat untuk minta maaf menebu kesalahanku ke sini, kalau tidak aku tidak akan sudi mengikuti permintaan bodoh ini.
"Aku mencintaimu," ungkapku sambil memeramkan mata.
"Sekali lagi," pancing Ahn Yoo.
"Aku mencintaimu," jawabku sekali lagi sambil menunduk.
"Siapa?"
"Ahn Yoo," tukasku.
"Kalau tidak bicara dengan jelas, aku tetap tidak memaafkanmu," ancam Ahn Yoo usil.
Aku menarik napas dan mengeluarkannya dengan luas, kemudian memberanikan diri untuk mengatakannya dengan tulus.
"Aku mencintaimu, Ahn Yoo."
Ahn Yoo tersenyum simpul ketika mendengar kalimat gila itu. Aku seperti sedang menembak hati seorang laki-laki terlebih dahulu.
"Aku juga mencintaimu," balas Ahn Yoo dengan ekspresi serius dan tulus mengatakannya.
Rasanya ingin dikubur hidup-hidup sekarang, aku sangat bahagia mendengar dia mengatakan itu. Aku tidak sanggup lagi berdiri di sini berhadap-hadapan dengannya. Kalau terus begitu, aku memang akan mati karena serangan jantung.
"Baiklah, aku ... aku ... maksudku kamu sudah memaafkanku, 'kan?" sambungku gugup.
"Tidak," hela Ahn Yoo yang terlihat tidak puas.
"Apa kamu belum puas dengan ungkapanku tadi?"
"Kau tidak tulus mengungkakan perasaan mu tadi," decak Ahn Yoo.
"Aku ... aku tulus mengatakannya," sahutku dengan nada yang semakin rendah.
"Apa buktinya?" Sambung Ahn Yoo.
Aku tidak tahu Ahn Yoo ini sedang memancingku atau memang benar-benar kecewa denganku. Aku ingin sekali mengatakan kalau aku memang benar mencintai Ahn Yoo, tapi aku tidak sanggup harus mengungkapkannya.
"Apa kau sedang mempermainkan ku?" tanyaku mencurigainya.
"Aku menyukaimu," kata Ahn Yoo tidak jelas.
Dia berjalan ke arahku dan memegang wajahku dan langsung mencium bibirku.
Next ya, ditunggu kelanjutannya.
salam dari TMA
hadir dari imagine& writter