"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Apek dan Siasat
Gudang rempah Kediaman Jati Jajar kini tidak lagi terlihat seperti kapal pecah yang dihantam badai. Jalur setapak di tengah ruangan memungkinkan cahaya matahari menyelinap lebih dalam, menerangi tumpukan karung goni yang sudah berjejer rapi sesuai jenisnya.
Rosie berjalan mondar-mandir dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam menyisir setiap sudut bangunan kayu itu seolah dia sedang melakukan inspeksi mendadak dari kantor pusat Jakarta.
Langkah Rosie terhenti di pojok paling belakang, tempat di mana sirkulasi udara terasa paling berat dan lembap. Dia mengendus udara, lalu keningnya berkerut dalam.
Ada aroma tajam yang merusak wangi dominan cengkeh dan kayu manis. Aroma apek yang sangat akrab di telinga para manajer logistik.
"Wira! Jaka! Ke sini sebentar!" teriak Rosie tanpa menoleh.
Dua pria berotot itu langsung berlari menghampiri, kain penutup hidung yang baru saja mereka pasang tadi tampak sedikit miring karena terburu-buru. Mereka segera membungkuk dalam di depan Rosie.
"Iya, Nona? Apa ada karung yang perlu dipindah lagi?" tanya Jaka dengan napas yang sedikit tidak teratur.
Rosie tidak menjawab. Dia berjongkok di dekat tumpukan karung kapulaga yang diletakkan langsung menyentuh dinding kayu yang sedikit berlumut. Dengan gerakan cepat, dia menarik salah satu ujung karung.
"Lihat ini," ucap Rosie sambil menunjuk bercak-bercak putih keabu-abuan yang menyelimuti permukaan goni.
Mbok Sum yang sejak tadi mengikuti dari belakang ikut menunduk. "Itu hanya bercak biasa, Nona. Biasanya kami hanya menjemurnya sebentar jika cuaca sedang panas."
"Bercak biasa katamu, Mbok?" Rosie berdiri, wajahnya menunjukkan ketidaksenangan yang nyata. "Ini jamur! Kalau satu karung udah kena begini, spora jamurnya bisa terbang ke mana-mana dan merusak seluruh stok di gudang ini. Ini namanya kegagalan Quality Control!"
Wira dan Jaka hanya saling pandang, mencoba mencerna istilah asing yang keluar dari mulut majikan mereka.
"Dengar ya semuanya," ucap Rosie memulai ceramahnya, tangannya bergerak lincah menunjuk ke arah celah-celah dinding bambu yang tertutup rapat oleh tumpukan barang. "Kalian tahu kenapa sengketa rempah sering terjadi? Karena kualitas barang kita menurun saat disimpan. Udara di sini terlalu basah. Kelembapannya terlalu tinggi!"
"Apa maksudnya, Nona?" tanya Mbok Sum dengan nada ragu.
"Artinya udaranya mengandung terlalu banyak air, Mbok. Karena kalian menumpuk karung-karung ini langsung menempel ke dinding dan lantai tanah, air dari tanah dan dinding meresap ke dalam rempah," jelas Rosie sesederhana mungkin. "Jaka, Wira, cari potongan kayu atau bambu besar. Buat alas di bawah setiap tumpukan karung. Jangan biarkan goni ini menyentuh tanah secara langsung. Dan Mbok Sum, pastikan jendela di atas sana selalu dibuka lebar saat matahari sedang terik agar udara segar masuk dan mengusir hawa basah ini."
Mbok Sum tertegun mendengar penjelasan terperinci itu. Dia memandangi Rosie dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam hatinya, Mbok Sum mulai merasa bahwa Kirana Merah yang ada di depannya ini bukanlah Merah yang sedang kehilangan kewarasan.
Tidak mungkin orang gila bisa memikirkan tentang aliran udara dan kerusakan barang dengan begitu logis.
Sepertinya Nona Merah tidak gila, batin Mbok Sum sambil memperhatikan Rosie yang kini sedang mencatat sesuatu di bukunya dengan sangat serius. Dia pasti sedang kerasukan roh pintar dari leluhur Trajuningrat. Roh ahli dagang yang turun untuk menyelamatkan bisnis keluarga.
Sementara itu, tidak jauh dari pintu gudang, di balik pilar kayu besar yang menopang atap emperan, dua sosok sedang berdiri mematung. Putih Sekar berdiri dengan tangan tertaut di depan perut, sementara Melati berada tepat di belakangnya.
Putih memperhatikan setiap gerak-gerik kakaknya melalui celah sempit. Dia melihat bagaimana Rosie memberikan perintah dengan tegas, bagaimana para pekerja gudang menatap Merah dengan rasa hormat yang bercampur takut, dan bagaimana gudang yang biasanya dia bersihkan dengan susah payah kini tertata sangat rapi tanpa campur tangannya.
Ada rasa tidak nyaman yang merayap di hati Putih. Selama ini, posisinya di Kediaman Jati Jajar adalah sebagai 'anak yang rajin dan berbakti' kontras dengan Merah yang dianggap 'manja dan tidak berguna'.
Namun sekarang, Merah justru lebih sibuk di gudang daripada di depan cermin bedak. Jika Merah terus seperti ini, perhatian Ayah dan Ibu Citra bisa sepenuhnya beralih pada kakaknya itu.
"Nona Putih," bisik Melati sangat pelan, membuyarkan lamunan majikannya. "Sepertinya Nona Merah sedang merencanakan sesuatu yang besar. Lihatlah cara dia mengatur orang-orang itu. Apa Nona tidak merasa aneh?"
Putih hanya diam, matanya masih terpaku pada Rosie yang sedang memarahi Wira karena salah meletakkan potongan kayu alas.
"Saya rasa, dia sengaja berpura-pura baik dan rajin agar orang-orang di sekitar dan di rumah ini berbalik membelanya, Nona," lanjut Melati dengan wajah polos tapi penuh kecurigaan. "Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika semua orang menyukai Nona Merah, maka posisi Nona akan terancam."
Putih mengembuskan napas perlahan. Dia menoleh ke arah Melati dan memberikan senyuman tipis yang terlihat sangat lembut, tapi matanya tidak memancarkan kehangatan yang sama.
"Apa yang kamu bicarakan, Melati? Justru sangat baik jika Kakak Merah menjadi orang yang lebih baik dan peduli pada rumah kita," ucap Putih dengan suara yang tenang. "Bukankah memang sudah seharusnya seperti itu? Kita adalah saudara. Jika gudang ini maju, itu akan baik untuk masa depan keluarga kita semua."
Melati mengerjapkan mata, sedikit bingung dengan reaksi santun Putih. "Tapi Nona—"
"Sudahlah. Lebih baik kita kembali ke dapur dan membantu menyiapkan minuman untuk para pekerja, mungkin ini adalah tugas besar yang dimaksud tadi malam," potong Putih halus. "Kakak Merah pasti lelah karena sudah bekerja sangat keras sejak pagi tadi."
Putih berbalik dan melangkah pergi dengan gerakan yang sangat anggun. Melati mengikutinya dengan perasaan yang masih terasa janggal. Pelayan muda itu tidak menyadari bahwa di balik punggungnya, tangan Putih sedang meremas kain jariknya sendiri dengan sangat kencang hingga buku-buku jarinya memutih.
Di dalam gudang, Rosie tiba-tiba bersin karena debu kapulaga yang beterbangan. Dia mengusap hidungnya dan kembali menatap tumpukan kayu yang sedang disusun Jaka.
"Aduh, bau apek ini bener-bener bikin pusing," gumam Rosie pada dirinya sendiri. "Setelah urusan sirkulasi udara selesai, aku harus cek timbangan petani. Aku curiga ada selisih angka antara apa yang dicatat Ayah dengan apa yang ada di dalam karung ini."
Rosie tidak tahu bahwa perubahannya telah menciptakan pusaran air yang mulai mengusik ketenangan di Kediaman Jati Jajar. Baginya, ini hanyalah cara untuk tidak mati kebosanan akibat tidak ada ponsel.
Namun bagi orang lain, ini adalah awal dari sebuah peperangan citra yang akan mengubah takdir mereka semua di kerajaan Indraloka.
"Mbok Sum!" panggil Rosie lagi.
"Saya, Nona," jawab Mbok Sum sigap.
"Tolong carikan timbangan batu yang paling besar. Besok pagi, aku mau menimbang ulang setiap karung cengkeh yang masuk hari ini. Enggak boleh ada satu gram pun yang terlewat!"
Mbok Sum membungkuk patuh, semakin yakin bahwa roh yang ada di dalam tubuh majikannya ini adalah roh yang sangat teliti dan mencintai angka-angka.
Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh
Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/