WARNING!!! BIJAKLAH MEMBACA!!! NOVEL 21+!!! JIKA TIDAK SUKA SKIP SAJA . MARI SALING MEMPERMUDAH URUSAN ORANG LAIN MAKA HIDUP ANDA PASTI JUGA AKAN DI MUDAHKAN OLEH TUHAN.
Laura Elsabeth Queen tidak menduga ia akan bertemu kembali dengan Zafran Volkofrich mantan kekasihnya, di acara ulang tahun teman sekelas mereka, 10 tahun yang lalu mereka berpisah dengan tidak damai, orang tua Laura menentang keras hubungan mereka karena Zafran pria miskin. Zafran masih sakit hati pada Laura dan ingin membalas dendam.
Di sisi lain Laura mengetahui rahasia kedua orang tuanya setelah mereka meninggal, dan kini beban berat berada di pundak Laura.
Sedangkan Zafran pria miskin itu kini telah berubah menjadi penguasa dunia bisnis.
Bagaimana kisahnya yuk baca kelanjutannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-EPISODE 34-
Kapal yang membawa Laura masih mengapung di tengah samudra, Ramon masih terus memaksa Laura.
Suara helikopter yang kian mendekat tidak mempengaruhi Ramon, suara tersebut nampak samar karena tenggelam oleh suara angin dan air laut malam.
Zafran melihat kapal yang membawa Laura dan meminta pada Edward untuk menurunkannya di atas kapal tersebut.
"Tenang Zafran, Laura akan baik-baik saja."
Kata Edward menenangkan.
"Beruntung masih keburu, Laura maafkan aku."
Kata Zafran dalam hati.
Ketika helikopter sudah berada di atas kapal dan menyorotkan lampu penerang ke arah mereka, Ramon sadar bahwa sudah banyak kapal pula mengepungnya, ia terkejut kenapa sampai seheboh ini.
"RAMOONNN!!!!"
Teriak Zafran, dengan cepat pria itu menuruni helikopter menggunakan tali.
Baling-baling helikopter membuat pusaran angin yang kencang hingga membuat kapal sedikit bergoyang dan air bergejolak.
Ramon hendak pergi namun pikirannya kacau, tidak tahu harus bagaimana. Zafran dengan cepat meraih APAR( Alat Pemadam Kebakaran Ringan ) yang ada di deck kapal dan memukul Ramon menggunakan alat tersebut di bagian kepalanya, kemudian dengan kalap Zafran membabi buta memukuli tubuh dan wajah Ramon di sudut deck kapal.
Terlihat Edward sudah turun dari helikopter dan membawakan selimut untuk Laura yang ia ambil dari dalam ruangan kapal. Edward memapah Laura dan menjaga nya agar tetap aman. Mereka melihat bagaimana dengan buasnya Zafran melampiaskan amarahnya, memukul dan terus menghajar Ramon.
Zafran kemudian mematahkan tangan Ramon hingga berbunyi "krekk" . Dan Laura menutup wajahnya dari balik punggung Edward
"Seharusnya kau tahu akibatnya, jika kedua tangan lancangmu menyentuhnya."
Kata Zafran datar.
Ramon sudah di penuhi darah yang berasal dari wajah dan juga kepalanya, dan tubuh Ramon sudah mulai terkulai lemah.
"Ke-kenapa... Kau..."
Ramon ingin bertanya kenapa Zafran sampai harus bertindak seperti ini namun Ramon bahkan tidak mampu mengucapkannya karena kondisi tubuhnya yang sudah hancur karena pukulan-pukulan Zafran.
"Bahkan jika itu sahabatku sendiri, dia juga akan mengalami hal seperti ini."
Kata Zafran memberi peringatan.
Terlihat Luwis yang berdiri di atas kapalnya menyaksikan semua kejadian itu.
"Buang dia ke laut lepas, biarkan membusuk dan mati, negara tidak akan mempermasalahkan nya jika di luar kekuasaan teritorialnya."
Kata Zafran pada Edward dan membawa Laura ke kapal yang lain bersama para pengawal Zafran.
Kapal yang membawa Laura kembali ke Resort, Zafran terus memeluk Laura. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada Zafran.
Suasana hening dan hanya suara kapal yang terdengar, para pengawal berpakaian serba hitam berdiri diluar ruangan kapal untuk berjaga.
Sesampainya di Resort Philip serta Jane sudah menunggu, Jane penuh dengan kecemasan ia mondar mandir tak karuan.
Zafran menggendong Laura yang masih terbalut selimut, gadis itu lelah dan tertidur.
Melihat itu Jane dengan cepat mendatangi Zafran.
"Astaga apa saja yang telah ia alami."
Jane menutup mulut nya dengan kedua tangannya merasa iba.
"Tolong bantu Laura membersihkan badan dan mengganti pakaiannya dengan hati-hati, aku rasa dia akan mengalami syock untuk beberapa hari ke depan."
Kata Zafran.
"Baiklah."
Kata Jane mengangguk dengan cepat.
Setelah Laura berada di kamar Jane, Zafran kemudian menghubungi Stark.
"Dimana dia."
Tanya Zafran.
"Saya membawa Nona Gaby pulang tuan, dan masih mengurungnya di ruang bawah tanah markas utama sedangkan Nona Bertha di temukan overdosis obat penenang."
"Jangan biarkan dia pergi."
Perintah Zafran dan kemudian menutup ponselnya.
***
Mentari pagi bersinar pertanda malam telah berlalu, bukit yang berdiri kokoh dan agung sempat menutupi sinarnya namun kini sinar itu mulai menyembul dan memancar.
Semalaman Zafran berjaga di samping Laura, dan kini ia tertidur di sofa besar tepat di samping ranjang Laura.
"Tidaakkk!!!"
Teriak Laura dengan spontan gadis itu terduduk dan mengagetkan Zafran, seketika pria itu terjaga dari tidurnya yang baru beberapa menit yang lalu.
"Tidak apa-apa, kau aman."
Kata Zafran menenangkan dan memeluk gadis itu, sembari membelai kepala Laura.
"Dia tidak akan datang lagi kan..."
Tanya Laura pada Zafran dengan mata sendu.
"Tidak akan, dia sudah mati."
Kata Zafran.
"Kita pulang hari ini, dan untuk sementara waktu kau harus tinggal di Mansion bersamaku."
Kata Zafran.
"Aku akan menjagamu... Apa kau mengerti?"
Imbuh Zafran lagi.
Laura hanya mengangguk dan menurut, ia tidak punya pilihan lain, selain menuruti Zafran, ia tidak memiliki tempat berlindung, hidup sendiri di penginapan dalam kondisi sekarang tidak akan membuatnya tenang.
Pukul 12 siang Laura dan Zafran sudah berada di dalam pesawat, Philip dan juga Jane mengantar mereka ke bandara pribadi. Pesawat jet Zafran sudah menderu dan siap terbang.
Terlihat Jane melambaikan tangannya pada Laura, gadis itu juga membalas lambaian tangan Jane.
Pesawat terbang mengudara, meninggalkan memori yang membekas di hati Laura, semua kenangan dan semua kejadian terekam menjadi satu di dalam otak nya.
Laura memandangi pemandangan yang tak asing baginya, pesta ulang tahu Philip, bermain di pantai dengan Jane, laut yang telah ia kelilingi dengan kapal pesiar, hubungan yang naik turun bersama Zafran, dan juga tragedi paling buruk yang menimpanya, baru beberapa hari namun tempat itu telah memberikan banyak kejadian dalam hidupnya.
Zafran menggenggam tangan Laura yang sedang melihat pemandangam dari jendelanya.
"Kau sudah aman Laura, jangan takut."
Kata Zafran, kemudian mencium tangan Laura dengan lembut
"Aku bersyukur kau bisa kembali pulang bersama ku, sesaat yang lalu ketika kau menghilang kehidupanku seolah runtuh, dan sekarang aku tahu bagaimana perasaanku padamu."
"Maafkan aku, telah menyusahkan mu dan membuatmu bingung, aku mencintaimu, dan kamu akan menjadi wanita satu-satunya yang ada di sampingku.".
Kata Zafran mengakui perasaannya.
"Apa maksud mu Zafran."
Tanya Laura.
"Aku masih sangat mencintaimu, perasaanku masih sama seperti dulu ketika kita berpacaran, dan mungkin sekarang jauh lebih besar."
"Aku..."
Laura bingung, karena kondisi yang baru saja ia alami.
"Tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan menunggumu."
Zafran membelai kepala Laura dengan lembut.
Pesawat telah sampai di landasan pribadi Zafran, mobil berjejer sudah memenuhi bandara menjemput mereka.
"Apa kau kuat berjalan sendiri, atau perlu aku menggendongmu?"
Tanya Zafran memastikan kondisi Laura.
"Aku akan berjalan sendiri."
Jawab Laura.
Iring-iringan mobil dan jalan yang sudah di blokade membuat perjalanan tak membutuhkan waktu yang lama.
Laura sudah tiba di mansion milik Zafran.
"Kenapa berbeda dari sebelumnya?"
Tanya Laura, seingatnya ia pernah berada di rumah Zafran tapi bangunan yang ada di depan matanya berbeda dengan yang ada di ingatannya.
"Kau akan tinggal di sini, Mansion ini adalah impian kita saat masih berpacaran, apa kau ingat desain yang kita gambar bersama? Aku membangunnya persis seperti itu."
Tanya Zafran.
"Desain itu...?"
Kata Laura memandang pada Zafran, ia tak percaya Zafran masih mengingatnya.
"Ayo masuklah."
Pintu terbuka lebar, dan para pelayan telah menyambut mereka.
Laura takjub dengan pemandangan itu.
"Ini luar biasa..."
Kata Laura.
"Apakah benar ini desain yang kita gambar bersama."
Laura menutup mulutnya tak percaya.
"Ayo ke ruang baca."
Ajak Zafran menarik Laura dan membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya.
"Aku tahu kau sangat suka membaca, semua sudah ku siapkan untukmu."
"Astaga semua buku-buku ini."
Laura berjalan dan memegang buku-buku yang berjajar dan tertata rapi di rak besar dengan jemari-jemari lentiknya.
"Apakah kau juga membuat ruangan itu..."
Kata Laura bertanya dengan malu-malu.
.
.
.
~bersambung~