Warning!!!
21+
(DALAM TAHAP REVISI)
Sarah Fergueson, gadis berusia 16 tahun itu tak terkejut melihat tamu di rumah nya, Devano Lake, seorang pria berusia 25 tahun, sahabat sekaligus rekan kerja kakak nya itu memang sering bertamu kesana, namun apa jadi nya jika kedatangan Devano kali ini malah akan merubah hidup Sarah.
"Aku dan Sarah telah lama menjalin kasih, kami bahkan sudah bercinta, aku ingin menikahi nya sebelum dia hamil dan akan mempemalukan kalian"
Sarah hanya membuka mulut nya lebar dengan mata yg melotot sempurna, ibunya terkena serangan jantung, ayahnya begitu shock dan kakak nya sangat marah.
"Itu tidak mungkin" seru sang Kakak sembari bersiap memukul Devano, namun Devano segera menunjukan chat antara dirinya dan Sarah yg memang sangat romantis selama tiga bulan terakhir.
Devano melirik Sarah yg masih terkejut sambil ia berseringai bak iblis dan menatap Sarah penuh kemenangan. Sementara Sarah hanya bisa menyesali tindakan bodoh nya yg mengikuti tantangan sahabat nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
William kehilangan jejak mobil yg membawa Caitlin. Sambil mencari mobil itu, William melapor pada polisi dan mengirimkan lokasi nya saat ini.
Hingga William melihat mobil itu terparkir di pinggir jalan. William pun segera turun dari taksi dan berlari kesana, namun tak ada siapapun di mobil itu. William berteriak memanggil Caitlin berkali kali sambil terus menyusuri tempat itu, hingga ia mendengar suara teriakan Caitlin yg tak jauh dari sana. William berlari mencari asal suara itu, dan betapa terkejut nya ia saat melihat Caitlin hendak di lecehkan oleh beberapa orang pria. William berlari sambil mengambil sebuah besi dan menyerang salah satu pria itu.
Perkelahian yg tak seimbang pun terjadi, satu lawan empat. Namun berkat Caitlin yg juga membantu menyerang mereka, setidak nya itu memberikan celah bagi Caitlin dan William untuk melarikan diri. William dan Caitil terus berlari dari kejaran ke empat pria itu hingga mereka sampai di rel kereta bawah tanah. Karena sudah merasa tak kuat lagi berlari, William dan Caitlin bersembunyi. Kemudian William hendak menghubungi polisi lagi namun ternyata ponsel William sudah tak ada, ia yakin ponsel nya pasti terjatuh saat ia berkelahi atau saat ia lari tadi.
"Ponsel mu mana? Kita harus menghubungi polisi" William bertanya dengan suara sangat pelan agar keberadaan nya tak di ketahui.
"Mereka membuang nya tadi" jawab Caitlin juga berbisik.
"Mereka itu siapa sebenarnya? Kenapa mereka bisa menculik mu?"
"Aku juga engga tahu, tadi saat aku pulang dri perpus tiba tiba mereka membawa, seperti nya merkwa mabuk" bisik Caitlin dan tampak sekali ia sangat ketakutan. Melihat Caitlin yg ketakutan, William merangkul nya dan menenangkan nya.
"Mereka engga akan nyakiti kamu, aku di sini" ujar William tulus dan entah bagaimana hal itu bisa menenangkan Caitlin.
Mereka bersembunyi cukup lama, dan saat di kira sudah aman karena sepertinya tak ada siapapun di sekitar sana. Mereka pun pelan pelan keluar dari tempat persembunyian nya namun tiba tiba seseorang memukul William dari belakang hingga William pingsan. Caitlin berteriak histeris melihat kepala William yg banyak mengeluarkan darah. Dan kini ke empat penjahat itu benar benar melecehkan Caitlin dan Caitlin tak bisa berbuat apa apa selain menangis dan berteriak histeris.
Dan di tengah aksi bejat mereka itu, William kembali tersadar dan ia segera mencoba menolong Caitlin. Namun kekuatan William tak ada apa apa nya ketika ke empat pria itu malah mengeroyok nya dan memukuli nya secara bersamaan. Namun di saat seperti itu, William masih sempat berteriak pada Caitlin supaya Caitlin pergi, namun Caitlin tak sanggup bahkan hanya untuk berdiri. Melihat William yg terus di pukuli, Caitlin yg sudah setengah sadar mencoba menolong William namun ia mendapatkan pukulan di kepala nya. Melihat itu amarah William kembali tersulut dan di sisa tenaga nya, ia mencoba melawan mereka dan melindungi Caitlin.
Caitlin berteriak agar mereka melepaskan William namun ke empat pria itu tampak nya sudah sangat marah pada William karena William ikut campur urusan mereka apa lagi mereka benar benar mabuk dan seperti nya mereka tak akan melepaskan William dan Caitlin. Caitlin menangis histeris melihat William yg sudah tampak sekarat.
"Leave him, Please..." teriak Caitlin lagi dan ia memohon di kaki salah satu pria itu "You can do what you want, but please leave him..." pinta Caitlin dengan sangat memohon. Tapi sepertinya pria itu sudah tak berminat menikmati tubuh Caitlin lagi alhasil pria itu malah menendang Caitlin dan juga memukuli nya. Melihat itu William berusaha mencegah mereka, William memeluk Caitlin dan menjadi tameng Caitlin sehingga pukulan dan tendangan mereka harus di terima tubuh William yg sudah terluka parah. Caitlin tak bisa apa apa selain memohon agar mereka berhenti dan ia juga ia memohon pada William agar melepaskan Caitlin namun William tetap melindungi Caitlin dengan tubuhnya. Ke empat pria itu menikmati aksi bejat mereka sambil tertawa terbahak bahak.
Hingga terdengar suara sirine polisi yang mungkin mencari William karena tadi William sempat melaporkan bahwa ada penculikan. William dan Caitlin berusaha berteriak meminta tolong namun naas, untuk membungkam mulut mereka, salah satu pria itu kembali memukul kepala William dengan sangat keras yg membuat William langsung tak sadarkan diri. Caitlin kembali berteriak apa lagi tubuh William sudah penuh dengan luka dan darah dan William mendapatkan banyak sekali pukulan di kepalanya. Dan terkahir, untuk membungkam Caitlin pria itu juga memukul kepala Caitlin dengan keras pula dan Caitlin pun langsung pingsan.
.
.
.
Caitlin tersadar dan ia melihat William yg masih tak sadarkan diri, darah di tubuh nya sudah sedikit mengering dan Caitlin bertanya tanya berapa lama ia pingsan karena darah nya sendiri juga mengering. Caitlin melihat sekliling nya dan sudah tak ada siapapun di sana. Mengingat apa yg sudah terjadi dengan diri nya Caitlin hanya bisa berteriak histeris apa lagi William yg tak kunjung bangun.
Dengan tangan yg gemetar, Caitlin memeriksa denyut nadi William dan denyut nadi nya sangat lemah.
"William, bangun. Will... Oh, Tuhan.." Caitlin menangis dan ia terus mencoba membangunkan William namun hasilnya nihil.
"William bertahan lah, aku... Aku akan pergi cari bantuan. Aku janji akan segera kembali, ku mohon bertahan lah" lirih Caitlin dan ia pun memungut pakaiannya yg sudah tak berbentuk lagi dan mengenakan nya. Sebelum pergi, Caitlin memandangi wajah William yg sudah di penuhi luka luka. Caitlin kembali menangis histeris.
"Aku janji akan segera kembali, ku mohon bertahanlah sebentar saja" lirih Caitlin. Dengan langkah yg tertatih dan pandangan yg buram, juga dengan segala rasa sakit di seluruh tubuh dan hati nya, Caitlin mencoba mencari bantuan.
Hingga ia sampai di jalan raya dan ia pun menghentikan mobil polisi yg bertugas. Belum sempat Caitlin bersuara, ia sudah pingsan karena sudah tak sanggup lagi menahan segala rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Dan saat Caitlin terbangun, ia sudah berada di kamar yg serba putih dan seorang Dokter sedang menangani nya. Samar samar Caitlin mendengar Dokter itu menyebutkan nama Devano, kakak nya. Dengan susah payah, Caitlin berusaha berbicara pada Dokter itu untuk memanggil kakak nya.
Dan saat kakaknya datang, Caitlin ingin menangis dan mengadu tentang apa yg terjadi, tapi untuk mengucapkan satu kalimat pun Caitlin sangat sulit. Dan yg ia fikirkan saat ini hanyalah William, karena William mendapatkan luka yg cukup parah di kepala nya dan Caitlin takut William tak bisa di selamat kan jika terlambat di tolong, hingga hanya satu nama itu yg berhasil ia ucapkan sebelum akhirnya ia benar benar kembali kehilangan kesadaran nya. bukan hanya karena luka di tubuhnya, tapi karena luka di hati dan jiwa nya membuat Caitlin tak mampu lagi membuka mata nya.
.
.
.
"Caitlin...."
William terbangun dengan keringat di sekujur tubuhnya, ia juga gemetaran dan kepalanya terasa sangat sakit.
"Hey..." seorang tahanan tampak marah karena tidur nya terganggu dengan teriakan William.
"Teriak teriak terus... Ganggu aja" gerutu pria itu namun William tak menanggapi nya. Ia berusaha mengatur nafasnya yg tersengal, jantung nya juga berdebar sangat cepat.
"Ada apa?" seorang tahanan paruh baya menghampiri William.
"Hanya mimpi buruk..." jawab William sambil memegang kepala nya yg sakit "Ini mungkin karena pengacara ku memperlihatkan video di rel kereta. Aku phobia terhadap itu, jadi sampai terbawa mimpi. Maaf" ucap William karena semua tahanan seperti nya terganggu dengan teriakan nya kecuali tahanan paruh baya itu yg memang selalu berlaku baik pada William.
"Engga apa apa, tadi kamu menyebutkan nama seseorang. Caitlin..." ucap pria itu dan William mengernyit bingung karena ia tak merasa menyebutkan nama itu.
"Mungkin kamu salah dengar" ujar William.
"Aku mendengar nya dengan baik" pria itu meyakinkan. William pun terdiam dan mencoba mengingat mimpi nya kembali dan mencoba mengingat benarkah ia menyebutkan nama Caitlin. Namun William tak bisa mengingat apapun, sejak kecelakaan ia sering bermimpi buruk namun saat terbangun ia lupa mimpi nya.
William pun mencoba mengabaikan hal itu dan ia mencoba kembali tidur, namun ia tak bisa.
Caitlin...
William merasa tak asing dengan nama itu, William mencoba mengingat siapa yg punya nama itu namun kepala nya terasa sangat sakit seperti di hantam batu yg sangat besar.
Kemudian William teringat dengan Dokter nya dulu yg meminta William agar tak memaksakan diri untuk mengingat sesuatu atau kepala nya akan sangat sakit. Dan William membenarkan hal itu, setiap kali ia mencoba mengingat sesuatu di masa lalu nya, kepala William menjadi sangat sakit.
.
.
.
Devano mengepalkan tangannya setelah membaca email yg baru saja ia terima.
Benar, lima tahun yg lalu ke empat pria yg sedang mabuk menyerang seorang pria Indonesia di rel kereta bawah tanah dan kejadian itu bertepatan dengan hari hilang nya Caitlin. Namun sayangnya ke empat pria itu berhasil melarikan diri ke luar negeri sebelum polisi menangkap nya dan masih menjadi buron hingga sekarang dan sangat sulit mengindentifikasi mereka karena hanya William yg tahu wajah mereka namun William malah hilang ingatan. Dan tentu berita itu tak di kaitkan dengan kasus Caitlin karena Devano sendiri yg meminta kasus Caitlin di tutup dan identitas Caitlin di rahasiakan.
Dan memang benar, William di rawat di salah satu rumah sakit terbesar di London selama lima bulan dalam keadaan koma. Namun di bulan ke enam William berhasil sadar dan di bawa pulang ke Indonesia kemudian di rawat di Indonesia.
"Sial..." Devano melempar laptop nya hingga hancur. Sekarang ia merasa sangat bodoh karena berfikir begitu sempit dan yg ia fikirkan hanya membalas dendam dan membalas dendam.
Seandainya saat itu Devano mau membuka kasus Caitlin dan mengusut nya, mungkin pelaku yg sebenarnya sudah tertangkap sekarang dan Devano tak akan terjebak dalam kebencian dan amarah yg salah alamat selama lima tahun ini. Lima tahun, dan itu bukan waktu yg sebentar.
Tak hanya itu, sekarang ia malah sama bajingan nya dengan ke empat penjahat itu karena Devano telah menghancurkan sebuah keluarga yg tak tahu apa apa. Menghancurkan pria yg mencoba menolong adik nya, bahkan ia membuat seorang gadis polos seperti Sarah mendapatkan julukan anak koruptor dan adik penjahat kelamin.
"Sial... Sial..."
***▫️▫️▫️
Tbc***...